Pulang sekolah, Layla tak menyangka meliha seragam pak polisi sudah lengkap dengan peluit di mulutnya, sedang berjaga di perempatan yang biasa ia lewati. Gadis itu merutuk karena lupa membawa helm, ia tergesa-gesa berangkat tadi karena sempat tertidur setelah sholat subuh. Kalau ayahnya tau ia lupa membawa helm, habislah ia dimarahi
"Nes, ada polisi didepan" tak lupa ia memberitau Nessi karena sudah pasti sahabatnya itu tak membawa helm
"Kalau gitu aku lewat gang sini, nanti langsung nyambung belakang rumahku" Nessi menunjuk gang kecil disebelah kiri jalan
"Kamu lurus terus La, nanti ada gang sakura namanya disana, kamu masuk terus lurus jangan belok-belok, kamu nanti sampai di jalan raya deket rumah sakit Bramadja" Layla yang memang kurang tau arah gang disini mengangguk saja mengikuti arahan Nessi. Ia berbalik arah bersama para siswa lain dengan berbagai alasan, entah tak menggunakan helm, flat kendaraan mati, dan banyak alasan lainnya. Ia hanya berharap polisi tidak mengejar mereka
Gang itu mungkin hanya selebar satu setengah meter, hanya muat untuk dua kendaraan itupun harus ekstra berhati-hati, Layla mengingat ucapan Nessi tadi, terus lurus, hingga saat melihat jalan raya diujung sana ia bisa lebih mempercepat laju kendaraannya. Hal tak terduga terjadi, sebuah moge tanpa aba-aba langsung masuk gang, Layla berusaha menepi tapi terlambat,tabrakan di gang sempit itu tak dapat di elakkan lagi
"Aduh"
Laki-laki itu langsung membuka helm yang full face yang menutup wajahnya, melihat perempuan berseragam putih abu yang baru saja ditabraknya
"Sorry" laki-laki itu mengulurkan tangannya, namun tak dibalas oleh Layla, ia berdiri sendiri dan membersihkan rok abunya yang sedikit kotor
"Lain kali hati-hati kak, nggak bisa apa pelan-pelan bawa motor, minimal klakson gitu sebagai apa-apa" ucapnya kesal
"Kamu juga kenapa nggak klakson" balas laki-laki itu
"Aku udah mau pencet, tiba-tiba motor kakak masuk"
"Yaudah aku tanggung jawab, ayo aku bawa ke rumah sakit" balas laki-laki itu
Layla melihat penampilan laki-laki didepannya, jaket kulit, celana hitam, sabuk rantai dan tak lupa mogenya yang masih terjatuh, ia pikir untuk apa laki-laki seperti ini lewat gang sempit?
"Nggak perlu aku nggak apa-apa" balasnya kesal, hari yang terik, menghindari polisi, sekarang malah tabrakan dengan laki-laki asing, Layla tak habis pikir dengan apa yang menimpanya sekarang
"Tapi aku kenapa-napa" Layla mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan laki-laki itu, padahal yang jatuh adalah dirinya, kenapa laki-laki itu yang terluka?
"Jangan asal ngomong, kakak nggak kenapa-napa tuh"
"Disini terluka" laki-laki itu menunjuk dadanya
"Apasih kak? Kakak nggak jatuh tadi padahal" semakin kesal saja Layla melihat tampang laki-laki itu yang merasa tersakiti
"Hati saya hilang" Layla jadi bergidik mendengarnya, ia pikir laki-laki didepannya saat ini sudah tak waras
"Terus? Kalau hilang kerumah sakit, suruh dokter ganti yang baru" walau kesal ia masih saja membalas ucapan laki-laki itu
"lagian mana ada orang hidup kalau nggak punya hati" gumamnya pelan
"Kamu yang ngambil, jadi kamu harus tanggung jawab" Layla membuka mulutnya tak percaya, laki-laki didepan dengan penampilan serba hitam ini menggoda dirinya?
"Nggak jelas banget kak, saya harus segera pulang sekarang, bisa minggir nggak?!" karena kesal ditambah gerahnya panas matahari, suaranya naik lebih tinggi
"Kamu tanggung jawab dulu"
"TOLONG ADA OM-OM" Layla berteriak karena kesal, mereka di area terbilang padat penduduk, sepanjang gang dan kiri kanannya adalah rumah
"Kenapa dek?" Seorang pria baruh baya keluar dari rumah disamping, dengan sarung coklat kotak-kotak dan baju tanpa lengan
"Tolong pak, dia mau nyulik saya" laki-laki itu gelagapan, bisa-bisa ia habis dipukuli disini
"Maaf pak, hanya salah paham. Saya pikir dia adik saya tadi" Layla menutup mulutnya mendengar jawaban tak masuk akal laki-laki itu
"Rumah sakit deket dari sini mas, tolong periksa matanya dulu" Layla hampir terbahak mendengar jawaban pria paruh baya itu, suara pelan dan lembut tapi ucapannya menusuk sampai jantung
Dengan terpaksa laki-laki itu mengangguk, Layla sudah naik kemotornya, tak lupa mengucap terima kasih pada pria paruh baya tadi
"Nama aku Qais, ingat lagi saat kita bertemu nanti" ucap laki-laki pelan saat Layla melewatinya
Layla tak peduli, ia mengedikkan bahunya acuh, dan berjalan membawa motornya melewati Qais. Dalam hati ia berdo'a semoga tidak dipertemukan dengan laki-laki itu atau sejenisnya lagi. Tapi diantara takdir dan do'a, mana yang akan terjadi? Mereka tak tau takdir sudah menggaris masa depan tak terduga untuk dua orang itu
.
"Kalian udah mutusin mau lanjut kuliah dimana?" Naufal menghampiri dua anaknya yang duduk dibangku belakang rumah, dua anak itu memandang langit malam yang dipenuhi hiasan bintang indah dengan pikiran yang entah melayang kemana
"Sudah" jawab keduanya hampir kompak
"Kita mutusin buat kuliah dikampus yang sama, dimana tempat bunda dan ayah dulu"
"Kenapa?"
"Pengen aja, itu juga kampus terbaik di kota ini"
"Nggak pengen keluar kota?" Tanya Naufal, ia menatap rembulan yang bersinar sangat cerah malam ini
"Nggak, kita disini aja, nggak perlu jauh-jauh"
"Bukan karena ayahkan alasannya?" Naufal menatap kedua anaknya yang saling pandang satu sama lain
"Bukan, tapi karena kita memang pengen disini" jawab Bilal yang diangguki Layla, mereka tak ingin membuat Naufal merasa terbebani karena masalah ini. Lagi pula memang benar, mereka sudah merencanakan kuliah dikota ini
"Ayah rindu bunda nggak?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Layla
"Pasti, setiap malam ayah rindu"
"Bunda, cinta sejati ayah ya berarti?"
"Kenapa tanya gitu?"
"Kadang orang yang sudah menikah dan pernah hidup bahagia bersama bisa berpisah, apa artinya mereka bukan cinta sejati walau sudah dipertemukan dengan pasangan halalnya?" Layla mengingat cerita Nessi, orang tuanya berpisah dan ayahnya memilih perempuan lain
"Ada alasan kuat yang menjadi syarat utama cinta sejati"
"Apa itu?" Tanya Bilal, ia juga tertarik dengan pembahasan ini
"Perjuangan" Naufal menatap bintang paling terang dilangit kala mengatakan itu
"Perjuangan yang panjang, melelahkan, perjuangan untuk bangkit, perjuangan untuk terus berharap pada yang kuasa, perjuangan untuk mendapatkan dan perjuangan untuk melepaskan"
"Kadang orang yang sudah menikah bisa berpisah karena mereka tak ingat bagaimana perjuangan mereka dulu, atau mungkin memang tanpa berjuang?"
"Cinta sejati yang sesungguhnya saat seseorang berjuang, entah dihadapan tuhan atau dihadapan seseorang yang disukainya. Cinta sejati memang kadang sulit dimengerti, cinta sejati adakalanya tak selalu bersama, saat terpisah disanalah perjuangan untuk melepaskan harus dilakukan"
Banyak Typo...🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
melia
cinta sejati akan menjadi cinta abadi..
cinta itu memberi saling mengasihi bukan tuk saling tersakiti😊😊🥰🥰
2023-02-07
4
adara
apa Naufal akan menceritakan perjuangannya mendapatkan Aqila dulu pada s kembar? bagaimana reaksi mereka nanti setelah mengetahui perjuangan orang tuanya dlu🤔🤔
2023-02-07
0