"Kenapa sih harus manjat disana?" Dua saudara itu saling tatap, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun
"Kalau jatuh terus patah tulang gimana?"
Tanya Naufal, ia tak habis pikir maksud dan tujuan mereka memanjat pohon mangga yang cukup tinggi dan berakhir jatuh karena digigit serangga
"Tapi kan nggak terjadi ayah"
"Kalau kejadian nanti nangis" ledek Yusuf
"Kak Ilal sama Kak Ila cari apasih disana?" Saudara kembar itu kembali saling tatap, mengisyaratkan siapa yang akan menjawab terlebih dahulu
"Kita nyari ketenangan" jawaban yang jujur dan tidak terlalu menyinggung
"Ketenangan apa? Ketenangan itu dicari dalam shalat"
"Ketenangan tubuh bukan ketenangan batin"
"Sudah jangan banyak alasan, selesaikan pekerjaan kalian dan setelah itu kalian boleh bermain" ucap Naufal tegas sebelum akhirnya berdiri dan naik ke lantai atas
"Kalian tau nggak? Ayah kalian lagi deket sama perempuan"
"YUSUF! SAYA DENGER KAMU NGOMONG APA"
"Becanda paman" Yusuf mengangkat dua jarinya dan menampilkan gigi putihnya. Bilal dan Layla menatap dirinya dengan tatapan malas. Laki-laki yang sudah berada disemester akhir kuliahnya itu kadang menjengkelkan jika bersama mereka
.
Hari senin, entah kenapa hari senin selalu jadi hari yang cukup menakutkan untuk sebagian orang termasuk Layla. Ia berusaha berpikir sepositif thingking mungkin kalau hari ini adalah baik-baik saja. Namun nyatanya, selalu saja ada hal tak terduga terjadi
"Ya Allah padahal sepuluh menit lagi nyampe" ia mengeluh kala motornya mogok ditengah jalan, Bilal sudah pasti sampai ke sekolah. Mereka memilih sekolah yang berbeda karena minat yang berbeda. Bilal yang suka dengan ilmu alam, mekanisme cara kerja suatu benda, hitung-hitungan, pengamatan suatu objek, memilih masuk SMA dengan jurusan IPA. Sedang Layla yang tertarik dengan dunia komputer, jaringan, coding, dan hal yang berbau teknologi memilih masuk SMK dengan jurusan TKJ
"La, kenapa berhenti disini? Bensin motormu habis?"
"Bukan, nggak tau juga mogok kenapa"
"Bengkel lima puluh meter lagi dari sini, ayo ku bantu" Layla bersyukur bisa bertemu Ammar, mereka satu sekolah namun dengan jurusan yang berbeda
"Makasih ya Mar, aku mungkin bakal telat kalau nggak ada kamu" mereka sudah sampai di area parkir sekolah, Ammar mengantar setelah membantu membawa motor itu sampai bengkel
"Kamu kayak sama siapa aja? Kita udah bareng dari kecil, jangan kayak orang baru kenal gitu"
"Bunda nanya kenapa kamu nggak pernah kerumah lagi?"
"Iya, lagi sibuk akhir-akhir ini, segala macam ujian bentar lagi mulai" Ammar terkekeh, ia bahkan lupa kalau sudah kelas dua belas dan sebentar lagi masa putih abu ini berakhir
"Bundamu pasti kangen sama bundaku, makanya nyuruh aku dateng. Dia selalu bilang aku mirip bunda"
"Dia juga rindu katanya melukis bareng"
"Sampaikan maaf untuk Bunda Renata, mungkin besok setelah ujian, insyaallah kalau tidak ada kegiatan aku pasti berkunjung" Layla melambaikan tangannya pada Ammar sebelum akhirnya menghilang dibalik koridor
.
Sinar matahari terik kian meninggi, mengucurkan keringat deras dari para siswa yang mulai berhamburan keluar kala bel sudah berbunyi nyaring
"Sumpah deh, kayaknya kabel itu punya masalah sama aku, tiap aku colokin ke port CPU nya, selalu nyetrum. Untung aku nggak punya penyakit jantung"
"Tangan kamu basah mungkin Nes" balas Layla. Mereka baru saja keluar dari lab komputer, mempraktikan materi yang akan diujikan saat UKK nanti
"Mungkin juga, entah kenapa setiap masuk lab, tanganku selalu basah kayak orang gemeteran, padahal hatiku nggak gemetar kalau liat kabel, palingan gemetar cuma liat cogan"
"Cogan mulu, ujian udah didepan mata"
"Biar semangat aja, kalau cuma liat kabel UTP aku malah pusing ngadepin ujian" Layla terkekeh mendengarnya
"La, ayo aku anterin ke bengkel, motor kamu pasti udah selesai" Ammar sepertinya sengaja menunggu diparkiran, begitu dua gadis itu kesana ia langsung menyapa Layla
"Maaf ya Mar, aku pulang bareng Nessi, sekalian kita mau beli sesuatu" Nessi yang tiba-tiba dilibatkan tentu saja terkejut, Layla menggenggam tangannya cukup keras sebagai kode agar dia diam
"Gitu ya?, kalau gitu hati-hati" Layla mengangguk, ia menghela nafasnya menatap punggung laki-laki itu yang menjauh
"Kamu nggak bilang tadi ngajak pulang bareng" pertanyaan langsung dilontarkan Nessi saat melihat ekspresi Layla
"Ntar aku teraktir es depan sekolah, lagian bengkelnya masih sejalur kok sama rumah kamu, jalan samping perempatan"
"Janji ya?"
"Janji" Layla sudah hafal sekali pencinta minuman dingin seperti Nessi apalagi di hari terik seperti ini
"Tapi kenapa nggak bareng Ammar aja?"
"Aku nggak tau ya Nes, tapi kenapa aku ngerasa kalau dia suka sama aku ya?" Nessi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Layla
"Kenapa? Aku terlalu percaya diri ya?"
"Kamu terlalu polos sayang, semua orang juga tau dari tatapan mata dia dan perhatiannya, dia suka sama kamu" Nessi menepuk bahu Layla pelan, menurutnya Layla terlalu polos untuk urusan cinta
"Bundanya dia teman dekat bundaku dulu, bisa saja itu sebatas hubungan persahabatan orang tua? Mungkin?, atau bisa jadi dia nganggap aku adiknya karena kita tumbuh besar bersama?"
"Itu lain lagi, itu hubungan orang tua kalian. Hubungan dengan dia beda"
"Tapi aku nggak suka sama dia, gimana dong?" Layla menghela nafasnya, ia sudah berjanji kemarin untuk tak jatuh cinta lagi setelah kang santri yang ditaksir memilih sapupunya. Ia hanya berjanji jantu cinta untuk siapa yang akan menjadi pemimpinnya di masa depan
"Yaudah jalanin aja dulu kayak gini, seolah kamu nggak tau apa-apa, dia juga belum ngungkapin perasaannya kan?"
"Belum, kalau udah nggak mungkin aku nebak kayak tadi"
"Tapi menurutku Ammar tampan juga"
"Tetap aja kan hati nggak bisa dipaksa? Sekalipun dia tampan, kaya harta, kaya ilmu agama, kadang hati punya spesifikasi sendiri"
"Kalau aku udah pasti langsung mau kalau paketnya komplit kayak gitu, urusan cinta belakangan"
"Yakin? Kalau dia ternyata selingkuh dibelakang kamu gimana? Kamu bisa nahan diri buat nggak sakit hati?"
"Gimana bisa sakit hati kalau kita nggak ada rasa sama dia?"
"Kamu bisa jamin walau tinggal serumah nggak bakal jatuh cinta sama dia?"
"Asalkan ada uang, cinta cuma secuil rasa yang tak berarti, hanya membuang-buang air mata dan menyakiti diri sendiri, setelah seseorang menikah kamu percaya cinta abadi itu ada? Bagiku itu sebatas rasa sesaat diawal, selanjutnya hanya tentang cara bagaimana bertahan hidup tak peduli lagi dengan urusan hati. Cinta abadi? Itu hanya dongeng"
"Aku mengerti Nes, cinta akan memiliki pengertian sendiri di orang yang berbeda, kadang itu sesuai dengan apa yang kita alami atau lihat sendiri"
"Kalau cinta abadi beneran ada, aku yakin ayahku nggak milih perempuan lain dan ninggalin aku dengan ibuku" Layla merangkul bahu sahabatnya, memang benar, cinta punya makna sendiri bagi setiap orang
"Ada. Aku percaya cinta abadi itu ada, aku bisa melihat cinta ayahku pada bunda. Cinta seorang laki-laki sejati pada perempuan yang disukainya"
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Adas Hermawan
a c amar yang selalu ngira gempano itu ayah nya. padahal mah mantan mak nya/Facepalm//Joyful/
2024-05-20
2
Gadih Hazar
aku kasih mawar untuk mu kak, semangat terus ya semoga sukses.. Jk berkenan mampir dikisahku Takdir Mempertemukan Kita yuk kak.. terimakasih kak..
2023-02-13
0
Sri Wati
lanjuttttt
2023-02-05
0