Bilal dan Layla baru saja keluar dari rumah sakit, Bilal mengenakan seragam batik nya yang berwarna sedikit abu, dan Layla masih dengan baju praktiknya yang berwarna biru tua dengan sedikit campuran warna putih. Mereka langsung kesini tanpa pulang kerumah terlebih dahulu saat Darren Naufal kecelakan. Naufal bilang luka ringan saat kepalanya diperban dengan beberapa luka jahit disana, padahal sikembar yang melihat itu sudah merinding. Mereka tak tau saja dulu seberapa seringnya ayah mereka terluka
Saudara kembar itu reflek memberhentikan langkah mereka kala para perawat mendorong brankar rumah sakit dengan tergesa, diatasnya terbaring gadis dengan rambut hitam sebahu dan tangan kiri yang menjuntai mengeluarkan darah hingga mengenai lantai rumah sakit
"Apa dia berusaha bunuh diri?" Gumam Layla, ia tak bisa menilai orang itu buruk jika memang benar itu terjadi, karena lelahnya seseorang hanya ia yang merasakan sendiri. Hanya saja, caranya memilih tak bisa dibenarkan
Sementara Bilal terdiam, ia melihat sekilas wajah gadis itu tadi, mencoba mengingatnya diantara ribuan memori dalam otaknya hingga akhirnya berhasil mengingat gadis itu. Dia gadis preman yang ia kejar beberapa hari lalu
"Dia kenapa?" Gumamannya pelan, tapi berhasil tertangkap oleh indra pendengaran Layla yang berada disebelahnya
"Kak Ilal kenal?"
"Mungkin, beberapa hari lalu kakak bertemu pencuri dan wajahnya persis seperti dia"
"Pencuri?" Layla mengulangi perkataan kakaknya, apa ia tak salah dengar gadis secantik itu menjadi pencuri?
"Kakak juga nggak begitu yakin, tapi wajahnya mirip"
"Udahlah ayo kita pulang, nggak usah dipikirin" walau masih agak bingung dan penasaran, Layla tetap mengikuti langkah kakaknya yang sudah berjalan terlebih dahulu ke area parkir
Bilal tak mungkin lupa gadis itu, gadis yang mendoakan sendiri orang tuanya masuk neraka. Hari ini ternyata takdir kembali menggariskan mereka berdua untuk bertemu, dalam keadaan yang jauh berbeda dari sebelumnya
"Apa itu memang benar dia? Kenapa dia melakukan hal itu?" Pertanyaan itu bersarang dalam kepala Bilal kala melihat goresan di tangan kirinya, biasanya kebanyakan remaja yang melakukan itu adalah mereka yang mengalami depresi atau rasa lelah yang sudah tak sanggup mereka tahan
"Beban hidup apa yang dia alami?"
"KAK ILAL!" Suara teriakan Layla membuyarkan lamunannya, remaja laki-laki itu menoleh kebelakang, rupanya rumah mereka sudah lewat. Terlalu asyik melamun sampai ia tak sadar akan hal itu
"Ngelamunin apasih? Gadis tadi ya? Atau jangan-jangan Kak Ilal udah punya pacar?" Tuduh Layla karena melihat kelakuan aneh kakaknya
"Mana ada, kakak lagi mikirin rumus integral" alibi Bilal mengaitkan rumus dalam matematika
"Bohong itu dosa loh"
"Terlalu kepo itu juga dosa" balas Bilal
"Kayak Kak Ilal nggak gitu aja" tak mau berdebat lebih penjang lagi Bilal memilih mengedikkan bahunya acuh dan masuk kedalam rumah setelah melepas sepatu
.
Sore harinya saat matahari terlihat perlahan menuju barat, Bilal dan Layla disibukkan dengan kegiatan bersih-bersih karena Naufal mendadak menghubungi kalau ada tamu yang datang. Tak lupa mereka meminta bantuan Yusuf dan Zara tanpa harus mengajak Vio atau Anisa, kebetulan juga dua anak itu sedang tak ada dirumah
"Siapa sih tamunya sampai harus bersih-bersih kayak gini? Padahal biasanya kan udah nggak perlu dibersihin lagi" gerutu Layla saat membersihkan sofa dengan penyedot debu
"Kerjain aja nggak usah kebanyakan ngeluh" timpal Bilal, ia bahkan terpaksa mencuci piring karena tangan Layla yang sedikit tergores dan sakit terkena sabun cucian
"Kita harusnya nggak dateng kesini kalau cuma bersih-bersih Ra" Keluh Yusuf saat menyapu lantai putih yang hanya terlihat sedikit berdebu
"Kerjainnya jangan banyak ngeluh, kalau kayak gini terus gimana bisa selesai?" Omel Zara pada sepupunya yang mengeluh sejak tadi
Berbeda dengan anak-anaknya yang dirumah, Naufal masih dirumah sakit untuk melakukan negosiasi dengan dokter agar diperbolehkan pulang. Hanya luka kecil seperti ini tak seharusnya dibawa kerumah sakit menurutnya
"Bapak harus pulih dulu" ucap perawat laki-laki itu kekeh
"Tapi saya sudah nggak papa, ini hanya luka kecil saja dan kenapa sampai harus menghabiskan dua kantung infus?" Ia sedikit keberatan saat diinfus hanya karena dinyatakan sedikit syok. Menurutnya minum air saja sedikit sudah cukup
"Saya akan memanggil dokter untuk menanyakan ini" jawab perawat tersebut keluar dari pintu
"Katakan biar istri saya saja yang merawat saya dirumah" mendadak ia terdiam setelah mengatakan itu, ia lupa kalau kini ia hanya sendiri tanpa kekasih hati yang menemani. Ingatannya berputar kala dulu dimana ia terluka dan Aqila yang akan mengobati, dimana mereka dipertemukan saat Aqila seringkali menangis, seolah Naufal memang ditakdirkan menjadi pelangi yang datang setelah hujan itu
Naufal bangkit dari duduknya, ia melihat kantung infus yang mulai kosong dan mencabut sendiri benda itu dari tangannya. Administrasinya sudah diurus oleh si penanrak yang ternyata merasa bersalah dan bertanggung jawab walau Naufal sudah mengatakan tidak apa-apa, orang itu tetap kekeh dengan pendiriannya. Ia meminta maaf berkali-kali karena baru belajar mengendarai mobil dan salah menginjak rem
Perawat yang baru kembali membawa dokter yang tak lain Darren tercengang kala Naufal sudah tidak ada disana
"Tadi pasien masih disana pak"
"Biarkan saja, dia pasti sudah baik-baik saja" perawat tercengang mendengar jawaban Darren yang terkesan biasa saja. Sebenarnya ini bukan tugasnya, ia dokter bedah yang menangani operasi. Tapi kebetulan sekali ia ingin menjenguk Naufal sebelum pulang kerumah dan berpapasan dengan perawat yang ia lihat menjaga Naufal dari tadi. Perawat itu dengan senang hati mengantar walau Darren tidak meminta
Naufal mengendarai motornya yang masih terparkir dihalaman rumah sakit, hanya sedikit pecah pada lampu depan, ia akan menggantinya nanti. Setelah keluar dengan berusaha mengendap, ia menuju mushola rumah sakit dan melaksanakan sholat ashar disana
Mengendarai motor dengan kecepatan sedang, Naufal menikmati tiupan angin sore dan mentari yang tak lagi sepanas siang tadi. Ia berjalan menuju area jalan pepohonan yang cukup sepi kemudian akhirnya memarkirkan motor di tempat yang banyak dikunjungi orang pada hari tertentu
"Assalamu'alaikum istriku" lututnya jatuh bersimpuh didepan tanah yang sedikit menggunung, bunga-bunga kering masih nampak bertaburan disana
"Aku datang kembali, padahal aku baru datang beberapa hari yang lalu"
"Kau pasti sedang tertawa disana melihatku seperti ini Qil, tapi hanya didepanmu aku akan menunjukkan sifat seperti ini, biarkan anak-anak hanya mengetahui ayah mereka bahagia. Aku memang bahagia saat melihat mereka tapi hatiku tak pernah bohong kalau aku akan lebih bahagia kalau kau masih ada disini"
"Kau juga pasti sudah bosan mendengarku mengatakan ini, tapi aku mencintaimu untuk selamanya Qil"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Sri Wulandari
Bikin nangis sj thour.... jd k ingat kisah cinta mereka berdua g k bayang sprti ap rasa sedih & rindu yg terpendam Naufal sm aqila walaupun dia terlihat kuat & tegar d dpn anak-anaknya jg klrgnya 😭😭😭😭😭
2025-02-07
0
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
Sampai kesini jg aQ nangis adeiii😭
2024-09-01
2
rina wati
di dunia nyata jg ada, contohnya pak habibie
2024-04-08
0