Tak terasa ujian sudah didepan mata, sebagin besar siswa mulai nampak serius untuk belajar, bahkan ada yang membawa buku kemana-mana, entah memang belajar atau sebagai formalitas agar terlihat sebagai siswa rajin. Namun ada juga yang terlihat santai saja, siswa seperti ini memiliki beberapa kemungkinan, sudah belajar jauh-jauh hari, mengandalkan contekan, sudah pasrah dengan nilai atau beberapa kemungkinan lain yang ia pikirkan dalam otaknya
"Semoga aja besok soalnya mudah-mudah La, aku nggak mau ngecewain ibuku kalau nilaiku jelek"
"Kalau udah belajar nggak perlu takut Nes, serahin aja sama Allah, asalkan kita udah usaha"
"Masalahnya La, aku udah belajar. Tapi entah kenapa aku nggak yakin materi yang aku baca masuk atau enggak ke kepala" Nessi menutup wajahnya dengan buku karena frustasi
"Saran aku udah dicoba?" Tanya Layla tanpa menatap kearah sahabatnya, ia membalik lembar demi lembar buku dihadapannya untuk melihat materi-materi yang kemungkinan akan keluar saat ujian nanti
"Yang mana? Yang bangun tengah malam selesai tahajud?" Layla mengangguk mengiyakan, sebelumnya ia memang menyarankan waktu itu untuk belajar
"Yang ada La, selesai sholat aku malah langsung tidur diatas sajadah, tiba-tiba aja udah lewat adzan subuh"
"Selesai subuh juga bisa"
"Selesai subuh entah kenapa aku ngerasa tiba-tiba banyak nyamuk, gigitannya buat aku pengen sembunyi dalam selimut terus, alhasil ketiduran lagi" jawab Nessi dengan cengirannya yang membuat Layla menggeleng
"Senyamanmu aja kalau gitu Nes, waktu kapan aja bisa digunakan buat belajar, tapi kebanyakan aku sering dengar ya itu waktu sepertiga malam dan selesai subuh karena saat itu adalah waktu terbaik kerja otak. Selain itu otak memiliki daya ingat yang tinggi dan bekerja lebih keras dari waktu biasa"
"Kalau gitu aku juga mau coba" Nessi dan Layla mendongak menatap Ammar yang tiba-tiba sudah berdiri didepan mereka
"Memangnya kamu dengar kita ngomong apa?" Tanya Nessi yang dibalas anggukan oleh laki-laki itu
"Denger, aku sejak tadi dibelakang kalian"
"Dasar penguntit" cibir Nessi namun tak ditanggapi laki-laki itu
"Ila, Bilal ada ngomong apa-apa nggak?" Layla sedikit mengernyit mendengar pertanyaan Ammar, tapi kemudian dia menggeleng. Sesaat kemudian ia langsung terdiam karena teringat Bilal pernah mengatakan kalau Ammar suka padanya
"Syukurlah"
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau ngomong sesuatu, tapi bukan sekarang nanti aja" tanpa mengatakan apa-apa lagi, laki-laki itu pergi begitu saja
"Dia kayaknya mau ngomong suka sama kamu La" Nessi menutup bukunya, ia menopang siku dengan sebelah tangannya
"Aku harus jawab apa Nes? Aku masih nggak kepikiran urusan kayak gini" Layla ikut menutup bukunya, bagaimana bisa fokus belajar jika pikirannya sudah tak lagi pada buku itu
"Bilang aja belum siap, kalau dia nunggu artinya mungkin bisa dipertimbangkan, kalau udah sama yang lain ya udah lepas aja"
"Kalau aku suka sama yang lain gimana?" Gumamnya kecil namun masih bisa terdengar Nessi yang duduk disebelahnya
"Memangnya kamu suka orang lain?"
"Andai Nes, andai ternyata aku suka sama orang lain" Layla mengulang kalimatnya dengan menekan kata 'andai'
"Bilang aja sama Ammar, kalau hati kamu udah sama yang lain"
"Kalau dia kecewa gimana?"
"Itu urusan dia, hak dia mau kecewa atau enggak, asalkan kamu juga nggak ngasih janji diawal" Layla menganggukan kepalanya seolah mengerti. Ia menarik nafas panjang dengan kasar, inilah alasan ia ribet berhubungan dengan hati
"Oh iya La, besok sepulang sekolah kita pergi ke Universitas Cakrawala, buat nyerahin berkas pendaftaran" Layla mengangguk menanggapi, tak terasa saja dirinya sudah mulai usai dengan putih abu
Di lapangan basket Universitas Cakrawala, nampak para mahasiswi dari berbagai fakultas menggerubungi lapangan basket demi melihat idola mereka, siapa lagi jika bukan Qais Ammar Giltasa. Tak peduli seberapa jauh fakultas mereka dengan lapangan basket yang berada di depan fakultas bisnis, melihat Qais bagai sebuah kebahagiaan tersendiri untuk mereka
"QAIS"
"QAIS"
"QAIS"
Qais hanya tersenyum menanggapi itu dan membuat lawan mainnya berdecak kesal
"Kita udahan aja sampai sini, telingaku sakit denger suara fans kamu" decaknya dengan kesal
"Bilang aja kalau kamu takut"
"Besok!, di lapangan basket dekat taman kota, kita tanding kalau kamu mikir aku takut" balas laki-laki bernama Dimas yang menjadi lawan main Qais. Mereka terbilang sama-sama nakalnya hanya saja Dimas lebih suka menggoda perempuan dibanding Qais yang memegang teguh prinsipnya
"Oke, awas kalau kamu nggak dateng"
Saat Qais menepi, banyak mahasiswi mendekatinya entah memberikan sebotol ait atau mengulurkan handuk untuk mengusap keringatnya yang bercucuran. Namun Qais terkadang acuh dan menjawab sudah membawa sendiri agar tak terlalu menyakiti hati mereka
"Dia ganteng banget"
"Kamu suka dia?" Zara memegang dadanya terkejut, tiba-tiba saja Yusuf sudah berdiri dibelakangnya
"Kak Yusuf ngapain kesini? Aku masih ada kelas" jawabnya dengan memperbaiki jas putih yang ada ditubuhnya. Ia ingin menjadi dokter mengikuti jejak kedua orang tuanya. Tapi bukan dokter spesialis saraf seperti ayahnya atau spesialis onkologi seperti ibunya, ia hanya ingin jadi dokter umum dan membangun kliniinya sendiri
"Dih ge'er, yang mau jemput kamu siapa?" Yusuf mendorong kepala sepupunya pelan yang dibalas decakan gadis itu karena jilbabnya sudah tak lagi rapi
"Terus mau kesini ngapain?" Zara melipat tangan didepan dada, kegiatannya cukup terganggu karena kehadiran Yusuf
"Mau nyadari kamu dari dosa, natap dia terus sampai matanya nggak kedip, zina mata tau"
"Kak Yusuf nggak mungkin kesini cuma buat alasan itukan?"
"Makanya apa yang kakak bilang tadi, untuk menyadarkan kamu. Dari tadi ditelpon nggak diangkat-angkat" omelnya memperlihatkan daftar panggilan di benda pipih yang dipegangnya
"Kenapa? Aku sibuk" Yusuf sudah jengkel, kalau bukan karena ayahnya yang menyuruh, ia juga tak mau
"Selesai kelas langsung pulang, ada acara makan malam keluarga nanti, semua harus hadir. Jangan keluyuran mulu, awas aja kalau belum sampai rumah di jam tujuh"
"Hemmm" jika Zara bukan perempuan mungkin Yusuf sudah memberi sebuah hadiah yang tak terlupakan karena jawaban itu
"Yang suka dia banyak, tapi yang dia suka cuma satu orang, ada baiknya kita tak banyak berharap pada manusia" Yusuf ikut meletakkan tangannya di pinggir pembatas lantai dua gedung fakultas kedokteran itu. Ia menatap lapangan basket yang tadi ramai kini berangsur sepi
"Belum jelas juga siapa yang dia suka" balas Zara
"Daripada terus mengharap padanya, lebih baik kita siapkan hati dulu agar tak terjerumus terlalu dalam"
"Kakak mengingatkan kamu agar tidak terlalu berharap, rasa cinta seseorang hanya dia dan tuhan yang tau, kita tak bisa menebak seberapa dalam rasa yang dia punya untuk orang lain" lanjut Yusuf sebelum Zara sempat bicara membalasnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
adara
dengarkan apa yg yusuf katakan zara karna itu demi kebaikanmu
2023-02-20
3
melia
manut aja zara sma apa yg di bilang yusuf..krna yusuf udh tau siapa yg di sukai qais..yusuf jga ga mau nanti kamu kecewa pd ahirnya🥰🥰🥰
💪💪💪
2023-02-19
0