Syafaq atau awan kemerah-merahan di ufuk barat terlihat sebagai tanda pergantian waktu magrib menuju isya'. Rembulan muncul dengan cahayanya yang tak secerah ketika purnama dan disisi lain awan mendung juga bergerak perlahan hingga menutupi cahaya itu dengan sempurna, tiupan angin lembut membuat air dari sisa hujan sore tadi berjatuhan dari dedaunan pohon
"Kita sholat berjamaah dulu baru makan bersama, ini sudah masuk waktu isya" Devano berbicara yang diangguki semua orang yang duduk diruang tamu, jarang-jarang semuanya bisa hadir diacara seperti ini. Bahkan Gabril anak dari Regan dan Kirana yang terkenal paling jarang hadir, bisa hadir sekarang
"Jadi manusia sok sibuk banget, padahal kegiatannya cuma main bola doang" sindir Bilal pada sepupunya yang berjarak dua tahun dibawahnya itu
"Biarin, dari pada sibuk bedah tikus got" balasnya tak kalah nyinyir
"Siapa yang bedah tikus got?" Bilal tentu tak terima, yang ia bedah tikus putih bukan tikus got
"Jangan mulai ribut kalau udah mau sholat" Darren mengibaskan sajadah hingga terdengar bunyi cukup keras membuat suasana mendadak hening
"Gabril, cepat iqamah!" Perintah tegas dari Devano membuat laki-laki itu meneguk ludah dan maju perlahan. Berbekal kalimat yang sering ia dengar dari masjid akhirnya ia bisa dan tidak menjadi bual-bualan keluarganya seperti beberapa waktu lalu
Sholat Isya yang diimami Naufal dengan cukup terpaksa itu berjalan dengan lancar. Ya, cukup terpaksa karena awalnya tak enak pada yang lebih tua disana.
Acara makan malam yang dilangsungkan mendadak itu membuat suasana kediaman Papa Arya jadi ramai. Tinggal beliau yang tersisa, Mama Intan telah menyusul Aqila dua tahun lalu, Papa Radit dan istrinya meninggal di lokasi karena kecelakaan yang tidak pernah bisa diprediksi. Di umurnya yang memasuki delapan puluh tahun lebih, ia masih terlihat cukup segar, tentu juga tak lepas dari peringatan Darren terhadap makanan apa yang harus ia konsumsi, walaupun rasanya tentu tak terbilang enak
Tak ada rencana apapun jauh-jauh hari, kegiatan makan malam bersama ini resmi diumumkan pagi tadi. Biasanya seperti itu, jika direncanakan dari jauh-jauh hari kadang tidak pernah tersampaikan karena kadang ada banyak alasan dan urusan tiba-tiba, tapi justru yang mendadak seperti ini akhirnya bisa terlaksana
"Kemarin pas pulang sekolah aku liat kamu di pos Ronda sama laki-laki" Gabril menunjuk kearah Layla hingga membuat yang disana sontak menatap kearahnya
"Kamu?, Aku lebih tua panggil aku kak" balas Layla tak terima kala Gabril yang berjarak dua tahun memanggilnya seperti itu
"Tapi ibu aku lebih tua dari ibu kamu"
"Bundaku lebih tua, makanya dipanggil tuhan duluan" suara Layla melemah diakhirnya. Berusaha kuat selama bertahun-tahun, nyatanya setiap mengucap kata ibu, ada setitik campuran rasa yang timbul dihatinya. Antara sedih dan rindu yang tak bisa ia ungkapkan langsung pada si pemilik raga
"Aku nggak bermaksud..."
"Aku ngerti, aku butuh udara segar sebentar" Layla beranjak berdiri dari duduknya memotong ucapan Gabril, membuat sepupunya itu merasa tak enak hati. Sedang Bilal hanya menghela nafasnya, ia tau pasti apa yang dirasakan oleh adiknya
"Berapa kali kakak ingatkan sama kamu, kalau ada Ila jangan bahas orang tua apalagi ibu" Zevan menjewer telinga keponakannya cukup keras, sampai membuat Gabril cukup meringis karena sakit
"Disusul sana" Zara memberi kode pada Bilal sebelum para orang tua yang masih asik berbincang di ruang tamu itu mendekat dan tau apa yang terjadi
"Biarin aja, dia kayaknya butuh waktu sendiri" bukannya bermaksud abai, hanya saja kadang orang merasa lebih baik dalam kesendirian
"Aku saja" Yusuf berdiri dan berjalan menuju taman belakang. Ia melihat Layla duduk di kursi taman dengan pandangan lurus keatas. Hanya dua kemungkinan, menatap indahnya langit malam yang mendung atau menahan air mata yang jatuh. Yusuf lebih memilih percaya pada kemungkinan kedua, memangnya ada orang yang menikmati pemandangan langit malam mendung?
"Gitu aja nangis, kalau bunda tau pasti ikut sedih"
"Kak Yusuf ngomong gitu dengan percaya diri, tapi suaranya jelas sekali bergetar"
Si*l, Yusuf menutup wajahnya dan berusaha menormalkan suaranya untuk bicara. Terlalu dekat dengan bibinya sejak kecil ternyata membuat Aqila memiliki ruangan lain dihatinya
"Kak Yusuf juga rindu bunda?" Yusuf mengangguk dan menatap Layla yang menunduk. Benar dugaannya kalau ternyata perempuan itu menahan tangis dari tadi. Yusuf bisa melihat setetes air yang jatuh membasahi telapak tangannya namun segera diusap
"Rindu. Kenangan bersama kami terlalu banyak. Sulit sekali untuk dilupakan walau sudah berlalu beberapa tahun lalu"
"Memang itu tujuannya, untuk sebuah kenangan" Layla membenarkan sesuai apa yang ia dan Naufal bicarakan kemarin malam
"Terima saja kalau memang hatimu juga memilihnya"
"Maksudnya?" Layla bertanya karena tentu bingung, kalimat Yusuf agak sulit ia cerna
"Qais"
"Kak Yusuf tau?" Layla tak dapat menyembunyikan keterkejutannya tentang hal ini. Ia pikir hanya ia dan Qais yang tau
"Tau. Karena itu seperti apa yang kamu bilang, hidup ini untuk menciptakan kenangan indah yang bisa diingat memori dan menjadi cerita yang menarik dihari tua. Kalau salah memilih yang rugi kita sendiri"
"Aku cukup kenal dia, begitu banyak macam perempuan yang mendekati dia, mulai dari yang terang-terangan sampai yang hanya berani menatap dari jauh"
"Kak Yusuf tau nggak kalau Kak Zara dan..."
"Tau. Kakak ngerti kamu ada dipilihan yang sulit sekarang. Entah mungkin karena hatimu belum memilihnya atau kamu sudah yakin tapi saudaramu membuatnya terhalang"
"Keduanya" lirih Layla pelan
"Aku tak jatuh cinta padanya dan tak ingin membuat saudaraku terluka. Saat orang yang mereka dambakan dimiliki orang lain, rasanya memang sakit tapi mungkin lebih sakit lagi jika ia tau itu saudaranya sendiri"
"Karena itu sebelum jatuh terlalu dalam, aku ingin menahan hatiku tak tertarik untuk dirinya" Yusuf ikut menghela nafasnya panjang, ia sebenarnya tak berniat ikut campur dengan segala masalah Qais, tapi karena ini menyangkut sepupunya mau tak mau ia harus ikut. Entah menasihati Zara agar tak jatuh terlalu dalam atau memberitau Qais tentang hal yang harus ditanggung Layla jika bersamanya
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Sri Puryani
jd ingat aqila mewek lg thor😭😭
2024-10-27
1
" sarmila"
ikut sedih
malahan ikut jitikan air mata klu ngungkin bunda.😭😭😭😭😭
2023-12-28
2
Sri Wati
sedih inget bunda 😭😭😭
2023-02-22
0