Bab 15 : Tau

Syafaq atau awan kemerah-merahan di ufuk barat terlihat sebagai tanda pergantian waktu magrib menuju isya'. Rembulan muncul dengan cahayanya yang tak secerah ketika purnama dan disisi lain awan mendung juga bergerak perlahan hingga menutupi cahaya itu dengan sempurna, tiupan angin lembut membuat air dari sisa hujan sore tadi berjatuhan dari dedaunan pohon

"Kita sholat berjamaah dulu baru makan bersama, ini sudah masuk waktu isya" Devano berbicara yang diangguki semua orang yang duduk diruang tamu, jarang-jarang semuanya bisa hadir diacara seperti ini. Bahkan Gabril anak dari Regan dan Kirana yang terkenal paling jarang hadir, bisa hadir sekarang

"Jadi manusia sok sibuk banget, padahal kegiatannya cuma main bola doang" sindir Bilal pada sepupunya yang berjarak dua tahun dibawahnya itu

"Biarin, dari pada sibuk bedah tikus got" balasnya tak kalah nyinyir

"Siapa yang bedah tikus got?" Bilal tentu tak terima, yang ia bedah tikus putih bukan tikus got

"Jangan mulai ribut kalau udah mau sholat" Darren mengibaskan sajadah hingga terdengar bunyi cukup keras membuat suasana mendadak hening

"Gabril, cepat iqamah!" Perintah tegas dari Devano membuat laki-laki itu meneguk ludah dan maju perlahan. Berbekal kalimat yang sering ia dengar dari masjid akhirnya ia bisa dan tidak menjadi bual-bualan keluarganya seperti beberapa waktu lalu

Sholat Isya yang diimami Naufal dengan cukup terpaksa itu berjalan dengan lancar. Ya, cukup terpaksa karena awalnya tak enak pada yang lebih tua disana.

Acara makan malam yang dilangsungkan mendadak itu membuat suasana kediaman Papa Arya jadi ramai. Tinggal beliau yang tersisa, Mama Intan telah menyusul Aqila dua tahun lalu, Papa Radit dan istrinya meninggal di lokasi karena kecelakaan yang tidak pernah bisa diprediksi. Di umurnya yang memasuki delapan puluh tahun lebih, ia masih terlihat cukup segar, tentu juga tak lepas dari peringatan Darren terhadap makanan apa yang harus ia konsumsi, walaupun rasanya tentu tak terbilang enak

Tak ada rencana apapun jauh-jauh hari, kegiatan makan malam bersama ini resmi diumumkan pagi tadi. Biasanya seperti itu, jika direncanakan dari jauh-jauh hari kadang tidak pernah tersampaikan karena kadang ada banyak alasan dan urusan tiba-tiba, tapi justru yang mendadak seperti ini akhirnya bisa terlaksana

"Kemarin pas pulang sekolah aku liat kamu di pos Ronda sama laki-laki" Gabril menunjuk kearah Layla hingga membuat yang disana sontak menatap kearahnya

"Kamu?, Aku lebih tua panggil aku kak" balas Layla tak terima kala Gabril yang berjarak dua tahun memanggilnya seperti itu

"Tapi ibu aku lebih tua dari ibu kamu"

"Bundaku lebih tua, makanya dipanggil tuhan duluan" suara Layla melemah diakhirnya. Berusaha kuat selama bertahun-tahun, nyatanya setiap mengucap kata ibu, ada setitik campuran rasa yang timbul dihatinya. Antara sedih dan rindu yang tak bisa ia ungkapkan langsung pada si pemilik raga

"Aku nggak bermaksud..."

"Aku ngerti, aku butuh udara segar sebentar" Layla beranjak berdiri dari duduknya memotong ucapan Gabril, membuat sepupunya itu merasa tak enak hati. Sedang Bilal hanya menghela nafasnya, ia tau pasti apa yang dirasakan oleh adiknya

"Berapa kali kakak ingatkan sama kamu, kalau ada Ila jangan bahas orang tua apalagi ibu" Zevan menjewer telinga keponakannya cukup keras, sampai membuat Gabril cukup meringis karena sakit

"Disusul sana" Zara memberi kode pada Bilal sebelum para orang tua yang masih asik berbincang di ruang tamu itu mendekat dan tau apa yang terjadi

"Biarin aja, dia kayaknya butuh waktu sendiri" bukannya bermaksud abai, hanya saja kadang orang merasa lebih baik dalam kesendirian

"Aku saja" Yusuf berdiri dan berjalan menuju taman belakang. Ia melihat Layla duduk di kursi taman dengan pandangan lurus keatas. Hanya dua kemungkinan, menatap indahnya langit malam yang mendung atau menahan air mata yang jatuh. Yusuf lebih memilih percaya pada kemungkinan kedua, memangnya ada orang yang menikmati pemandangan langit malam mendung?

"Gitu aja nangis, kalau bunda tau pasti ikut sedih"

"Kak Yusuf ngomong gitu dengan percaya diri, tapi suaranya jelas sekali bergetar"

Si*l, Yusuf menutup wajahnya dan berusaha menormalkan suaranya untuk bicara. Terlalu dekat dengan bibinya sejak kecil ternyata membuat Aqila memiliki ruangan lain dihatinya

"Kak Yusuf juga rindu bunda?" Yusuf mengangguk dan menatap Layla yang menunduk. Benar dugaannya kalau ternyata perempuan itu menahan tangis dari tadi. Yusuf bisa melihat setetes air yang jatuh membasahi telapak tangannya namun segera diusap

"Rindu. Kenangan bersama kami terlalu banyak. Sulit sekali untuk dilupakan walau sudah berlalu beberapa tahun lalu"

"Memang itu tujuannya, untuk sebuah kenangan" Layla membenarkan sesuai apa yang ia dan Naufal bicarakan kemarin malam

"Terima saja kalau memang hatimu juga memilihnya"

"Maksudnya?" Layla bertanya karena tentu bingung, kalimat Yusuf agak sulit ia cerna

"Qais"

"Kak Yusuf tau?" Layla tak dapat menyembunyikan keterkejutannya tentang hal ini. Ia pikir hanya ia dan Qais yang tau

"Tau. Karena itu seperti apa yang kamu bilang, hidup ini untuk menciptakan kenangan indah yang bisa diingat memori dan menjadi cerita yang menarik dihari tua. Kalau salah memilih yang rugi kita sendiri"

"Aku cukup kenal dia, begitu banyak macam perempuan yang mendekati dia, mulai dari yang terang-terangan sampai yang hanya berani menatap dari jauh"

"Kak Yusuf tau nggak kalau Kak Zara dan..."

"Tau. Kakak ngerti kamu ada dipilihan yang sulit sekarang. Entah mungkin karena hatimu belum memilihnya atau kamu sudah yakin tapi saudaramu membuatnya terhalang"

"Keduanya" lirih Layla pelan

"Aku tak jatuh cinta padanya dan tak ingin membuat saudaraku terluka. Saat orang yang mereka dambakan dimiliki orang lain, rasanya memang sakit tapi mungkin lebih sakit lagi jika ia tau itu saudaranya sendiri"

"Karena itu sebelum jatuh terlalu dalam, aku ingin menahan hatiku tak tertarik untuk dirinya" Yusuf ikut menghela nafasnya panjang, ia sebenarnya tak berniat ikut campur dengan segala masalah Qais, tapi karena ini menyangkut sepupunya mau tak mau ia harus ikut. Entah menasihati Zara agar tak jatuh terlalu dalam atau memberitau Qais tentang hal yang harus ditanggung Layla jika bersamanya

.

Banyak Typo...🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Sri Puryani

Sri Puryani

jd ingat aqila mewek lg thor😭😭

2024-10-27

1

" sarmila"

" sarmila"

ikut sedih
malahan ikut jitikan air mata klu ngungkin bunda.😭😭😭😭😭

2023-12-28

2

Sri Wati

Sri Wati

sedih inget bunda 😭😭😭

2023-02-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Cinta tak seindah itu
2 Bab 2 : Dia suka ya?
3 Bab 3 : Gadis Preman
4 Bab 4 : Qais
5 Bab 5 : Terjebak Rasa
6 Bab 6 : Sepupu?
7 Bab 7 : Isabela
8 Bab 8 : Selamanya
9 Bab 9 : Kenzo dan Qais
10 Bab 10 : Curhatan Zara
11 Bab 11 : Tak ingin menyakiti
12 Bab 12 : Masih ada?
13 Bab 13 : Kisah Layla Majnun
14 Bab 14 : Hanya Satu
15 Bab 15 : Tau
16 Bab 16 : The Devils
17 Bab 17 : Cukup satu selamanya
18 Bab 18 : Tak semudah itu
19 Bab 19 : Terlahir Untuk Bermimpi
20 Bab 20 : 18 Tahun
21 Bab 21 : Selalu Terbuka
22 Bab 22 : Dendam
23 Bab 23 : Benci Dia
24 Bab 24 : Misterius
25 Bab 25 : Rencana
26 Bab 26 : Paman?
27 Bab 27 : Dendam Terbalas
28 Bab 28 : Salah Paham
29 Bab 29 : Qais dan Layla
30 Bab 30 : Kesempatan itu ada
31 Bab 31 : Yang Terbaik
32 Bab 32 : Tak Pantas
33 Bab 33 : Maaf?
34 Bab 34 : Hanya Satu
35 Bab 35 : Dibalik The Devil
36 Bab 36 : Maksudnya?
37 Bab 37 : Maaf dari Yasmin
38 Bab 38 : Siapa?
39 Bab 39 : Kunjungan Yusuf
40 Bab 40 : Rayu Tuhannya
41 Bab 41 : Rahasia
42 Bab 42 : Dibuly?
43 Bab 43 : Jalur Hukum
44 Bab 44 : Penangkapan
45 Bab 45 : CCTV?
46 Bab 46 : Ujian atau Karma
47 Bab 47 : Aku Kembalikan Putrimu
48 Bab 48 : Mungkin bukan sekarang
49 Bab 49 : Taj Mahal
50 Bab 50 : Bela dan Bilal
51 Bab 51 : Bantu Aku
52 Bab 52 : Aku pulang
53 Bab 53 : Zara dan Rio?
54 Bab 54 : Berujung Salah Paham
55 Bab 55 : Kembali
56 Bab 56 : Yang pasti, hanya satu
57 Matahari Senja
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1 : Cinta tak seindah itu
2
Bab 2 : Dia suka ya?
3
Bab 3 : Gadis Preman
4
Bab 4 : Qais
5
Bab 5 : Terjebak Rasa
6
Bab 6 : Sepupu?
7
Bab 7 : Isabela
8
Bab 8 : Selamanya
9
Bab 9 : Kenzo dan Qais
10
Bab 10 : Curhatan Zara
11
Bab 11 : Tak ingin menyakiti
12
Bab 12 : Masih ada?
13
Bab 13 : Kisah Layla Majnun
14
Bab 14 : Hanya Satu
15
Bab 15 : Tau
16
Bab 16 : The Devils
17
Bab 17 : Cukup satu selamanya
18
Bab 18 : Tak semudah itu
19
Bab 19 : Terlahir Untuk Bermimpi
20
Bab 20 : 18 Tahun
21
Bab 21 : Selalu Terbuka
22
Bab 22 : Dendam
23
Bab 23 : Benci Dia
24
Bab 24 : Misterius
25
Bab 25 : Rencana
26
Bab 26 : Paman?
27
Bab 27 : Dendam Terbalas
28
Bab 28 : Salah Paham
29
Bab 29 : Qais dan Layla
30
Bab 30 : Kesempatan itu ada
31
Bab 31 : Yang Terbaik
32
Bab 32 : Tak Pantas
33
Bab 33 : Maaf?
34
Bab 34 : Hanya Satu
35
Bab 35 : Dibalik The Devil
36
Bab 36 : Maksudnya?
37
Bab 37 : Maaf dari Yasmin
38
Bab 38 : Siapa?
39
Bab 39 : Kunjungan Yusuf
40
Bab 40 : Rayu Tuhannya
41
Bab 41 : Rahasia
42
Bab 42 : Dibuly?
43
Bab 43 : Jalur Hukum
44
Bab 44 : Penangkapan
45
Bab 45 : CCTV?
46
Bab 46 : Ujian atau Karma
47
Bab 47 : Aku Kembalikan Putrimu
48
Bab 48 : Mungkin bukan sekarang
49
Bab 49 : Taj Mahal
50
Bab 50 : Bela dan Bilal
51
Bab 51 : Bantu Aku
52
Bab 52 : Aku pulang
53
Bab 53 : Zara dan Rio?
54
Bab 54 : Berujung Salah Paham
55
Bab 55 : Kembali
56
Bab 56 : Yang pasti, hanya satu
57
Matahari Senja

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!