Rembulan yang sudah tertutup sempurna oleh awan mendung secara perlahan menitikkan air dengan jumlah tak sedikit dibeberapa titik kota. Tiupan angin cukup membuat tubuh menggigil kedinginan hingga tak ingin melepas selimut dari tubuh. Suara hujan malam ini tentu akan menjadi alunan pengantar tidur alami yang indah untuk mereka
Pertemuan keluarga yang sebatas makan malam bersama ternyata diperpanjang karena hujan yang turun begitu deras. Mereka terpaksa menginap semua di kediaman Arya Bramadja. Kamar tamu yang semula sepi dan banyak yang kosong kini mendadak terisi penuh karena kehadiran keluarga besar. Bahkan Bilal yang semula ingin tidur sendiri harus terpaksa satu kamar dengan Gabril, laki-laki yang menurutnya sangat bar-bar
"Pinggiran sedikit" Bilal jengkel melihat laki-laki itu yang terus beringsut mundur padahal dirinya sudah ditepi ranjang. Jika bergeser sedikit lagi dipastikan ia akan terjatuh
"Kamu yang sana'an" ia mendorong tubuh Gabril kembali ke posisi yang seharusnya
"Aku juga mau pakai selimut" Bilal dengan kesal menarik selimut yang hanya dipakai Gabril. Bilal hanya menghela nafasnya lelah, beruntunglah besok hari minggu setidaknya ia bisa tidur. Kalau masuk sekolah dipastikan ia akan mengantuk karena tak tidur dengan tenang akibat ulah sepupunya ini
"Kamu denger nggak tadi mereka ngomong apa?" Tanpa diketahui Yusuf dan Layla, ternyata Bilal dan Gabril keluar menyusul tadi, Bilal membantu Gabril untuk meminta maaf tapi mereka malah memdengar hal yang lain. Tepat disaat Yusuf membahas tentang Qais, setelah itu mereka langsung mundur perlahan
"Ribet banget, untung Ila nggak suka sama dia" Terdengar helaan nafas kasar dari hidung Bilal, ia menatap langit-langit kamar, entah apa yang ia pikirkan
"Bagus kalau Ila nggak suka, sebenarnya Qais itu bukan laki-laki yang baik. Kita juga harus menyadarkan Kak Zara" sambung Gabril
"Emang keliatan sih dari tampangnya" gumam Bilal yang tak terlalu terdengar oleh Gabril
"Apa?"
"Jangan liat orang dari tampilannya dulu, siapa tau dia aslinya baik" Bilal mengubah kalimat apa yang ia ucapkan tadi. Gabril yang mendengarnya sontak mendengus dan mengalihkan pandangannya yang tadi mematap Bilal kini beralih ke langit-langit kamar
"Aku nggak bakal ngomong gini kalau nggak liat langsung, kamu tau? Dia itu ketua geng motor 'The Devils'. Geng paling ditakuti dan terkenal karena kebengisan mereka"
"Bukannya ketua mereka selalu pakai topeng? Kok kamu tau?" Bilal mengerutkan ketika bertanya hal itu. Ia bukannya ikut geng motor seperti itu, hanya saja ia sering mendengar teman-temannya yang bergabung dalam anggota geng motor lain membicarakan kebengisannya. 'Iblis tanpa wajah' itu yang disematkan untuk ketua geng 'The Devils' yang selalu memakai topeng hingga wajahnya tak pernah nampak. Bahkan pernah ada cerita kalau anggota mereka saja tak pernah melihat wajah ketua mereka
"Saat bertarung dengan geng mereka, aku liat bagaimana dia begitu amarahnya saat menghajar ketua kami. Aku yang berada dibelakangnya menarik topeng yang selama ini membungkus wajah itu, tepat sekali di kegelapan malam, cahaya rembulan mengenai wajahnya hingga aku dan ketua kami bisa melihat dengan jelas" Gabril menceritakan dengan menggebu-gebu kejadian malam itu tanpa sadar akan sesuatu
"Tunggu dulu, dari tadi kamu bilang ketua kami, geng kami..."
"Kamu ikut geng motor?" Tanya Bilal langsung, ia tak langsung bertanya tadi karena ia juga baru sadar
Gabril mendadak bisu, bagaimana bisa menghindar jika kondisi seperti ini?, Tidak mungkin pura-pura tidur padahal dia baru saja berbincang
"Iya" Bilal langsung duduk dari tidurnya begitu satu kata itu terucap, rasa kantuk yang sempat datang menghampiri seperti menguap begitu saja
"Tapi jangan kasih tau siapa-siapa. Please, ini cuma rahasia kita" Gabril yang terkenal paling anti memohon akhirnya menangkupkan tangannya dengan wajah memelas didepan Bilal, hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Kalau Bilal memberitau yang lain, terutama orang tuanya, ia mungkin akan dikirim ke luar negri dan melanjutkan sekolah disana. Ia belum lancar bahasa inggris, bagaimana jika ia mati kelaparan disana? Itu yang dia pikirkan. Atau lebih buruk menurutnya kalau ia sampai dikirim ke pesantren, ia tak akan pernah bisa merasa bebas setelah itu
Bilal diam-diam tersenyum licik, akhirnya ada yang bisa ia lakukan untuk menutup kelakuan sombong Gabril yang kadang seenak jidat
"Oke, ini rahasia kita sekarang. Tapi nggak tau kalau nanti" ia sengaja memelankan suaranya diakhir
"Nama geng motor kamu apa?" Bilal mendadak kepo dengan urusan ini
"Flying Bird"
"Burung terbang?" Bilal menahan tawa, ia baru pertama kali mendengar nama geng itu, jadi kedengarannya agak lucu
"Jangan meremehkan kekuatan yang ada dalam geng kami, kalau urusan bertarung kami paling lincah" balas Gabril dengan nada sombongnya
"Oke, kalau gitu aku aduin orang tua kamu, biar dia tau kelakuan anaknya kayak gimana" Bilal tersenyum puas begitu melihat wajah Gabril yang tadi sombong sekarang malah ketakutan bercampur kesal
"Oke aku minta maaf" gumam Gabril dengan suara teramat pelan seperti orang yang tak ikhlas karena nyatanya memang seperti itu
"Tapi kamu yakin kalau dia orangnya?" Kini Bilal kembali kr pembahasan tentang sosok Qais
"Aku yakin banget itu dia"
"Setelah kalian liat wajahnya lalu bagaimana?"
"Tiba-tiba entah apa yang ia ambil dari saku bajunya, tapi ketika sadar aku sudah berada di markas dengan kepala pening" jelas Gabril, ia ingat sekali kejadian malam itu. Bisa melihat wajah ketua geng motor yang selama ini tersembunyi dan tak diketahui banyak orang cukup membuat rasa kepuasan sendiri dalam hatinya
"Rumor yang beredar kalau dia tak pernah dekat dengan perempuan itu bisa dikatakan benar. Sepertinya hanya itu sisi baik dari dalam dirinya untuk tidak mempermainkan perempuan"
"Apa dia tidak normal?" Bilal jadi bergidik membayangkannya
"Dia normal, aku jadi cukup yakin kalau sebenarnya dia memang cinta dengan Ila, dari cerita yang kita dengar tadi hanya Ila yang aku dengar satu-satunya perempuan yang ia perlakukan seperti itu"
"Tapi sayangnya kelakuan dia benar-benar seperti iblis kalau di arena tempur. Aku takut kalau Ila dengan dia, laki-laki itu akan main tangan" lanjut Gabril
Malam semakin larut, rintikan suara air hujan diluar sana masih terdengar deras. Sesekali terlihat sambaran kilat dari jendela, tak lama setelah itu suara petir menggelegar dengan hebat
Seorang laki-laki yang terduduk dipojok ruangan hanya menatap kondisi langit diluar sana dengan pandangan kosong
"Aku akan membalas dendam atas semuanya" dari apa yang matanya lihat secara langsung, dengan alami api amarah timbul dari hati dan menjalar hingga terus tumbuh menjadi benci dan dendam yang tak akan pernah bisa selesai kecuali dengan apa yang ia mau
"Nyawa kamu akan habis ditanganku. Silahkan nikmati dulu udara malam ini"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
melia
hhmmmm🤔🤔🤔 siapakah dia???
2023-02-24
1
adara
siapa dia? apa dia musuh Qais atau justru itu memang Qais yg ingin balas dendam 🤔🤔
2023-02-24
0