"Hai"
Demi apapun hari yang paling menjengkelkan bagi Layla sekarang adalah hari ini. Laki-laki yang tak pernah ingin ia temui lagi sekarang sedang duduk diatas motornya dengan pakaian serba hitam dan melambaikan tangan saat ia baru saja keluar dari gerbang sekolah
"Siapa ya?" Pura-pura tidak kenal adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh sekarang
"Kalau gitu ayo perkenalan nama aku Qais" laki-laki itu menjulurkan tangannya
"Maaf, tapi aku nggak mau" balasnya sedikit acuh, Layla hendak kembali menjalankan kendaraan roda duanya kearah jalan, tak enak rasanya dilihat oleh para siswa yang lain
"Tapi aku mau"
"Terus hubungannya sama aku apa?" balasnya kesal
"Ila, dia siapa?" Nessi yang baru keluar gerbang bertanya kala melihat sahabatnya seperti berbincang dengan laki-laki, hal yang jarang sekali ia lakukan
Layla hanya mengedikkan bahunya dan menggelengkan kepala, ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Qais
"Jadi nama kamu Ila ya?" Seolah memang baru kenal, Qais mengucapkan kalimat itu
"Kakak ada hubungan apa sama Ila?" Tanya Nessi karena rasa penasarannya yang tinggi
"Saya calon suaminya" jawaban yang membuat siapa saja mendengarnya melotot tak percaya
"Jangan ngomong sembarangan! Kita bahkan nggak saling kenal satu sama lain" balas Layla dengan suara tinggi
"Aku udah tau nama kamu dan kamu udah tau nama aku, apa itu belum namanya kenalan?" Mentari terik yang cukup panas, persiapan UKK yang membuat kepala berasap dan sekarang kelakuan Qais yang membuat kepala Layla rasanya hampir pecah
"Ila ini beneran?" Nessi bahkan percaya secepat itu
"Kenapa kamu malah percaya dia Nes?, Kamu teman aku atau bukan? Dia cuma orang gila yang nggak jelas" tak ingin memperpanjang urusan lagi, ia sudah kembali menyalakan motornya yang sempat ia matikan tadi karena takut kehabisan bensin
"Aku percaya kok"
"Minta nomor temanmu dong" Qais malah menatap kearah Nessi yang masih diam disana
"Nes, cepetan pulang!" Layla memberi peringatan kepada Nessi, kalau sampai sahabatnya itu memberitau, awas saja nanti
"Iya" Qais menatap kepergian mereka dengan menggelengkan kepalanya, entah apa yang ada didalam otak anak itu
"Nanti malam kita juga ketemu" balasnya pelan dengan sedikit seringaian yang terbit diujung bibirnya
Sementara Ammar yang melihat kejadian tadi dari jarak cukup jauh menaikkan sebelah alisnya, ia bingung siapa gerangan laki-laki yang berbincang dengan Layla saat itu
.
Menjelang kelulusan memang banyak ujian yang terjadi, entah ujian sekolah atau ujian kehidupan. Gadis yang sedang membaca buku atau lebih tepatnya berusaha membaca buku agar bisa menjawab semua soal ujian yang diadakan sebentar lagi, harus menutup telinga berkali-kali saat mendengar suara bentakan, tamparan dan teriakan dari luar
BRAKKK
PRANGGG
Gadis itu membuka pintu dengan kasar dan melempar sebuah botol kaca berwarna hijau didepan kedua orang tuanya yang bertengkar hebat. Bukan satu kali ini saja, tapi hampir setiap hari. Kedua orang itu mendadak diam melihat wajah putri mereka yang menatap kosong
"MATI AJA KALIAN! TUH UDAH AKU KASIH KACA BUAT GORES NADI MASING-MASING, AKU JUGA IKUT BIAR KITA BERTIGA BISA MASUK NERAKA SAMA-SAMA SEKALIAN PESTA SAMA SETAN DISANA!" Teriaknya dengan nada tinggi dan mata memerah, ia mengatur nafasnya yang naik turun dengan cepat
"ISABELA! APA MAKSUD KAMU BICARA GITU SAMA ORANG TUA?" Teriakannya dibalas oleh sang ayah
"Orang tua? Heh! Ternyata kalian masih sadar umur" kekehnya dengan suara sedikit serak
"MAKSUD KAMU?" Sang ibu sepertinya merasa tersinggung dengan ucapannya
"KALAU KALIAN NGERASA NGGAK COCOK SATU SAMA LAIN, CERAI AJA! KENAPA MASIH MERTAHANIN KAPAL YANG UDAH HANCUR INI?!"
"AYAH KENCAN SAMA WANITA LAIN, IBU KENCAN SAMA LAKI-LAKI LAIN, KALAU UDAH NGGAK SALING CINTA, NGGAK SALING SUKA, KENAPA MASIH BERTAHAN DAN PULANG KE KAPAL PECAH INI?"
"KALIAN MANUSIA PALING EGOIS DAN LEBIH BURUK DARIPADA BIN*TANG, BINATANG SAJA MASIH PEDULI PADA ANAKNYA, LALU KALIAN ANGGAP AKU SEBAGAI APA?"
"KALIAN PERNAH NGGAK MIKIR SETELAH KELUAR BERHARI-HARI TANPA PULANG MIKIRIN APA AKU UDAH MAKAN ATAU BELUM?, BAGAIMANA KEADAANKU? APA YANG AKU LAKUKAN? PERNAH NGGAK SIH? SEKALINYA PULANG KALIAN LANGSUNG BERANTEM TERUS, SAMPAI PERKATAAN TETANGGA UDAH AKU ANGGAP KAYAK BIASA AJA"
"KALIAN NGGAK MALU SAMA DIRI SENDIRI?"
Kedua orang tua Bela terdiam, ego mereka terlalu tinggi untuk tidak mengakui kesalahan, malah lebih memilih menyalahkan satu sama lain dan berakhir balas dendam dengan melakukan hal yang sama, sebuah perselingkuhan. Mereka tak memikirkan tentang bagaimana dulu begitu bahagianya mereka menyambut kelahiran sosok perempuan mungil berwajah cantik dikehidupan pertama pernikahan mereka
"CERAI AJA UDAH! NGGAK PERLU PIKIRIN BELA LAGI, MAU BELA MATI ATAU HIDUP DENGAN CARA APAPUN TERSERAH KALIAN, URUS DIRI SENDIRI AJA" Remaja yang masih berusia tujuh belas tahun itu mengeluarkan apa yang dari dulu dipendamnya, biasanya ia hanya akan diam saja. Ia tak tau kapan tepatnya keluarga kecil ini bisa hancur, tapi berawal dari ia memasuki kelas 6 SD dan ibunya marah-marah sambil menunjuk kearah handphone ayahnya. Setelah kejadian itu, dua orang yang dulu sempat mencintai hancur karena ego yang tinggi, tidak mau mengakui dan balas dendam dengan cara yang sama. Awal-awal Bela akan menangis setiap malam, saat ia sendiri atau menutup telinga saat tak ingin mendengar kata kotor keluar dari mulut orang tuanya ditambah perkataan tetangganya semakin merusak mimpi indah yang sempat terpatri dalam tujuannya. Ia bagai orang kehilangan arah dan tujuan, nilai disekolah bukan lagi prioritasnya karena tak ada lagi yang mengatakan kami bangga saat dirinya masuk kedalam jejeran tiga besar. Kelakuan kedua orangtuanya semakin menjadi saat seakan mereka lupa punya anak yang kadang menanti didepan pintu berharap sang ibu pulang untuk memasak atau ayah yang setidaknya memberi uang jajan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Akhirnya gadis itu melakukan cara yang salah untuk bertahan, ia menjadi pencuri kecil yang sering berkeliaran di pasar
"KENAPA DIAM? MALU? DASAR MANUSIA EGOIS" perempuan itu mengambil belahan kaca botol yang berserakan menjadi beberapa bagian dilantai, ia serahkan masing-masing pada orang tuanya dan unthk dirinya
"Ayo bunuh diri bersama jika kalian memang merasa lelah dengan hidup ini" Bela tak ragu menancapkan kaca itu pada nadi tangannya dan menarik hingga melebar, darah segar mengalir deras diiringi rasa sakit, tapi tentu tak akan pernah sebanding dengan rasa sakit pada mentalnya selama ini
"BELA" dua orang yang dianggap egois oleh anaknya sendiri itu mendekat kepada putri mereka yang terduduk lemah karena kehabisan darah
"Semoga neraka kita beda" gumamnya sebelum akhirnya menutup mata
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Sri Puryani
ya Allah bela😭
2024-10-26
1
melia
y allaaahhhh..memang ortu yg egois akhirnya berdampak k ank..
2023-02-13
1
adara
kasian Isabela dia menderita karena keegoisan orang tuanya hingga membuat dia melakukan hal yg tidak baik sebagai pencuri untuk memenuhi kebutuhannya 🥺🥺
2023-02-12
0