Bab 6 : Sepupu?

"Qais?" Layla mengulangi nama laki-laki yang disebut sepupunya, ia ingat laki-laki bernama Qais yang menabraknya kemarin

"Tapi nama Qais bukan dia sajakan?" Gumamnya sendiri

Layla menggaruk kepalanya kesal "Kenapa sih harus mikirin dia?"

"Tapi kalau itu Qais yang sama dengan disebut Kak Yasmin, apa benar dia laki-laki yang baik?" Layla jadi meragukan sikap laki-laki itu, terlebih saat teringat Qais dengan berani menggoda dirinya kemarin. Tapi Yasmin bilang laki-laki itu tidak pernah dekat dengan perempuan

"Akh, udahlah nggak penting dipikirin" gumamnya kesal. Baru saja berdiri dari kursinya, sebuah ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya

"Ila, kita bicara sebentar, ini penting" itu suara Bilal, entah kenapa saudara kembarnga itu mengetuk pintu dijam setengah sepuluh seperti ini

"Apa?"

"Kamu tau nggak laki-laki yang nuduh kita pacaran tadi sore"

"Kenapa dengan laki-laki itu?" Belum selesai masalah Qais sekarang tentang identitas laki-laki itu

"Dia mau minta maaf karena salah paham tadi. Dia anak Paman Maher dan Bibi Fadila. Katanya teman dekat ayah dulu, aku tadi ketemu sama orang tuanya"

"Terus?" Tanya Layla dengan menaikkan sebelah alisnya

"Dia minta maaf"

"Udah aku maafin" sahutnya sedikit kesal. Ia tak mau berurusan panjang dengan laki-laki

"Kak Bilal cuma mau ngomong gitu aja?" Layla melipat tangan didepan dada. Jika Bilal hanya ingin mengatakan itu, ia pastikan akan menutup pintu sekarang juga

"Satu lagi, ini tentang Amar"

"Kenapa lagi dia?"

"Dia bilang, dia suka kamu"

"APA!"

"Ilal, Ila, ada apa?" Naufal keluar dari pintu disebelah, si kembar saling pandang ternyata ayah mereka belum tidur

"Cuma masalah kecil ayah"

"Urusan hati" Naufal pernah muda, bahkan melalui pahit manisnya kehidupan asmara, remaja seperti dua anaknya pasti sedang ada dalam masalah itu. Sikembar menunduk, mereka tak bisa bohong dari pahlawan yang mendidik mereka sejak usia empat setengah tahun setelah kematian bundanya

"Siapa?" Tanya Naufal lembut, bukannya bermaksud ikut campur hanya saja melihat wajah kebingungan mereka, anaknya pasti butuh solusi

"Ammar" gumam Layla dengan suara pelan menjawab pertanyaan yang dilontarkan ayahnya

"Dia bilang apa?"

"Nggak tau"

"Kok nggak tau?" Naufal tentu mengernyitkan alisnya bingung mendengar jawaban itu

"Dia ngasih tau Kak Ilal"

"Dia bilang aku kayaknya suka sama adik kamu, tapi jangan kasih tau dia dulu" jawab Bilal

"Terus kenapa Kak Ilal ngasih tau aku?"

"Ya karena aku mau tanya, kamu juga suka nggak sama dia?"

"Kepo!"

"Jangan-jangan beneran suka lagi" gumamnya pelan yang masih bisa didengar adiknya. Layla dengan sengaja menginjak kaki kakaknya keras

"Awshh"

"Suka sama seseorang itu wajar, asal kita bisa mengontrol hati untuk tak terlalu terjerumus kedalam rasa itu" kata Naufal dengan sedikit tersenyum menatap kedua anaknya

"Jangan pernah mencintai seperti lem yang akan meninggalkan bekas dan rusak. Sewajarnya saja dan tau batasan, jangan lupa pula untuk didoakan, karena tetap yang menjadi penentu skenario adalah Allah"

"Tapi aku nggak suka sama Ammar, aku cuma nganggep dia sahabat dan saudara sejak kecil"

"Besok kalau dia ungkapin perasaannya kasih tau baik-baik"

"Ayah dulu pacaran nggak sama bunda?" Tanya Bilal, ia jadi sedikit penasaran bagaimana orang tuanya bertemu

"Nggak, pacaran haram mendekati zina"

"Berarti langsung nikah?"

"Tidak semudah itu, kami melewati banyak perjalanan panjang bahkan sempat berada diambang keputus asaan beberapa kali"

"Kok bisa?"

"Ceritanya panjang, ayah cerita besok aja. Ini udah malam" Bilal dan Layla saling pandang, apa mungkin ayah mereka sedang menghindar?

.

Ditengah pekatnya malam, udara dingin yang menusuk kulit bagai tak ada artinya untuk laki-laki berjaket kulit hitam itu, kerasnya tamparan angin laut pada wajah putihnya tak menyurutkan pandangan laki-laki itu menatap cahaya rembulan yang dipantulkan biru pekatnya air laut

"Udah selesai nih, ayo pulang" suara seseorang dibelakangnya membuyarkan lamunannya

"Udah?" Laki-laki itu melihat apa yang ada ditangan temannya dan menggelengkan kepala, mereka datang malam-malam ketempat ini untuk mencari kepiting? Qais merasa ini hal paling tidak masuk akal yang ia lakukan pada kakak tingkatnya

"Kamu mau minta nomor siapa katamu tadi? Sepupuku?" Qais menatap kakak tingkatnya itu dan menganggukan kepala

"Zara?" Yusuf bertanya, walau ia sudah yakin kalau Qais mengatakan iya

"Bukan, tapi Ila" Yusuf terdiam ditempatnya, apa ia tidak salah dengar? Apa kerasnya air laut saat ini membuat dirinya mengalami masalah pendengaran?

"Siapa?" Tanyanya lagi untuk memastikan

"Ila" balas Qais lagi dengan santai

"Apa aku tidak salah dengar? Ila? Dari mana kau mengenalnya?" Kali ini Qais yang mengernyitkan alisnya, apa Yusuf juga tidak ingat mereka pernah bertemu saat kecil?

"Pernah bertemu"

"Maaf, tapi kalau dia aku tidak bisa" Yusuf menggelengkan kepalanya. Jika Zara mungkin ia bisa mempertimbangkan, ia seumuran dengan Qais, selain itu Zara punya pemikiran yang jauh lebih dewasa dan orang tuanya yang masih utuh menyayanginya

"Kenapa?"

"Kau harus datang langsung pada ayahnya, aku tidak ingin mengecewakan bundanya yang sudah tenang disana" Yusuf kadang sedikit sendu juga kala mengingat Aqila

"Sudah tenang? Maksudnya?"

"Kau tidak tau ibunya sudah meninggal?" Qais menggelengkan kepalanya sedikit kaku, ia terkejut mendengar hal ini. Terakhir kali mereka bertemu sekitar tiga belas tahun lalu, tapi nama gadis kecil itu selalu ia ingat, gadis yang menolak cintanya karena menganggapnya anak nakal yang tidak memasukkan baju sekolah padahal semua teman perempuannya memuji dirinya tampan. Ia ingat Kenzo cukup dekat dengan keluarga mereka sejak dari panti asuhan. Sayangnya setelah pertemuan mereka hari itu, peristiwa tak terduga terjadi yang harus membuat mereka pindah kekota lain dan tak pernah bertemu lagi. Hingga setelah kelulusan masa putih abunya, Qais memutuskan kembali kekota dimana gadis kecilnya tinggal, berbekal dari satu kata nama "Ila", nama yang ia dengar dari panggilan sosok yang dipanggil bunda oleh gadis itu

"Kapan dia meninggal?"

"Sudah lama sekali, saat sikembar masih dibangku taman kanak-kanak" Qais terdiam, artinya itu belum lama setelah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan gadis kecil itu

Drettt

Getaran handphonenya membuat laki-laki itu merogoh saku jaket untuk melihat siapa yang menelponnya. Kak Kenzo, itu nama yang tertulis di kontak pemanggil

"Halo kak"

"Kamu dimana? Kakak udah pencet pintu apartemenmu berkali-kali nggak ada yang buka" terdengar suara marah dari seberang sana

"Aku lagi dilaut, bantuin temanku nangkap kepiting"

"Jangan banyak alasan kamu!, Pulang sekarang juga! Jangan harap kakak percaya sama jawaban kamu yang nggak masuk akal itu" Qais memutar bola matanya malas, kakaknya tak pernah percaya padanya sejak ia berbohong main dirumah teman padahal sedang balapan liar

"Maaf ya, ngerepotin kamu malam-malam kayak gini karena kepiting ini doang" Yusuf mengusap tengkuknya yang terasa dingin terkena angin malam

"Aku tau alasannya lebih dari ini kan?" Qais menepuk kakak tingkat yang menurutnya sedikit aneh

"Terkadang udara malam bisa membuat kita merasakan kebebasan yang tak kita dapat kala mentari bersinar, angin ini ibarat perantara rindu pada seseorang yang tak mampu tersampaikan"

"Aku pulang dulu, semoga kita tidak bertemu lagi kecuali saat aku berhasil menjadi sepupumu juga" ucap Qais yang membuat Yusuf jengkel mendengarnya, padahal ia hampir tersentuh saat mendengar kalimat sebelumnya. Sesaat kemudian ia teringat sesuatu

"Tunggu..." terlambat sudah, Qais sudah naik keatas motor dan melambaikan tangan padanya

"Darimana dia tau kalau aku sepupunya Ila?" Gumam Yusuf. Tiba-tiba tubuhnya merinding kala tak melihat satupun orang disana. Entah kenapa disaat-saat seperti itu kadang terdengar bisikan mengerikan seperti memanggil namanya, tak memperdulikan apapun lagi ia langsung menyalakan motor dan mengendarai dengan kecepatan tinggi. Bahkan melupakan kepiting yang menjadi alasan dirinya bisa ada ditempat ini bersama Qais

.

Banyak Typo...🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

melia

melia

lanjut kak othor..penasaran juga nih sma si kembar kalau ayah nya cerita ttg masa perjuangan nya dulu..qais,,masa ila ga inget sih qais dulu kecil ug pernah ngajakin nikah🤭🤭

semangat kaka

2023-02-10

1

adara

adara

lanjut ka penasaran sma reaksi s kembar jika mendengar perjuangan orang tuanya dlu agar bisa bersama

2023-02-10

0

fitriamaharani

fitriamaharani

lanjut thor terap semangat y

2023-02-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Cinta tak seindah itu
2 Bab 2 : Dia suka ya?
3 Bab 3 : Gadis Preman
4 Bab 4 : Qais
5 Bab 5 : Terjebak Rasa
6 Bab 6 : Sepupu?
7 Bab 7 : Isabela
8 Bab 8 : Selamanya
9 Bab 9 : Kenzo dan Qais
10 Bab 10 : Curhatan Zara
11 Bab 11 : Tak ingin menyakiti
12 Bab 12 : Masih ada?
13 Bab 13 : Kisah Layla Majnun
14 Bab 14 : Hanya Satu
15 Bab 15 : Tau
16 Bab 16 : The Devils
17 Bab 17 : Cukup satu selamanya
18 Bab 18 : Tak semudah itu
19 Bab 19 : Terlahir Untuk Bermimpi
20 Bab 20 : 18 Tahun
21 Bab 21 : Selalu Terbuka
22 Bab 22 : Dendam
23 Bab 23 : Benci Dia
24 Bab 24 : Misterius
25 Bab 25 : Rencana
26 Bab 26 : Paman?
27 Bab 27 : Dendam Terbalas
28 Bab 28 : Salah Paham
29 Bab 29 : Qais dan Layla
30 Bab 30 : Kesempatan itu ada
31 Bab 31 : Yang Terbaik
32 Bab 32 : Tak Pantas
33 Bab 33 : Maaf?
34 Bab 34 : Hanya Satu
35 Bab 35 : Dibalik The Devil
36 Bab 36 : Maksudnya?
37 Bab 37 : Maaf dari Yasmin
38 Bab 38 : Siapa?
39 Bab 39 : Kunjungan Yusuf
40 Bab 40 : Rayu Tuhannya
41 Bab 41 : Rahasia
42 Bab 42 : Dibuly?
43 Bab 43 : Jalur Hukum
44 Bab 44 : Penangkapan
45 Bab 45 : CCTV?
46 Bab 46 : Ujian atau Karma
47 Bab 47 : Aku Kembalikan Putrimu
48 Bab 48 : Mungkin bukan sekarang
49 Bab 49 : Taj Mahal
50 Bab 50 : Bela dan Bilal
51 Bab 51 : Bantu Aku
52 Bab 52 : Aku pulang
53 Bab 53 : Zara dan Rio?
54 Bab 54 : Berujung Salah Paham
55 Bab 55 : Kembali
56 Bab 56 : Yang pasti, hanya satu
57 Matahari Senja
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1 : Cinta tak seindah itu
2
Bab 2 : Dia suka ya?
3
Bab 3 : Gadis Preman
4
Bab 4 : Qais
5
Bab 5 : Terjebak Rasa
6
Bab 6 : Sepupu?
7
Bab 7 : Isabela
8
Bab 8 : Selamanya
9
Bab 9 : Kenzo dan Qais
10
Bab 10 : Curhatan Zara
11
Bab 11 : Tak ingin menyakiti
12
Bab 12 : Masih ada?
13
Bab 13 : Kisah Layla Majnun
14
Bab 14 : Hanya Satu
15
Bab 15 : Tau
16
Bab 16 : The Devils
17
Bab 17 : Cukup satu selamanya
18
Bab 18 : Tak semudah itu
19
Bab 19 : Terlahir Untuk Bermimpi
20
Bab 20 : 18 Tahun
21
Bab 21 : Selalu Terbuka
22
Bab 22 : Dendam
23
Bab 23 : Benci Dia
24
Bab 24 : Misterius
25
Bab 25 : Rencana
26
Bab 26 : Paman?
27
Bab 27 : Dendam Terbalas
28
Bab 28 : Salah Paham
29
Bab 29 : Qais dan Layla
30
Bab 30 : Kesempatan itu ada
31
Bab 31 : Yang Terbaik
32
Bab 32 : Tak Pantas
33
Bab 33 : Maaf?
34
Bab 34 : Hanya Satu
35
Bab 35 : Dibalik The Devil
36
Bab 36 : Maksudnya?
37
Bab 37 : Maaf dari Yasmin
38
Bab 38 : Siapa?
39
Bab 39 : Kunjungan Yusuf
40
Bab 40 : Rayu Tuhannya
41
Bab 41 : Rahasia
42
Bab 42 : Dibuly?
43
Bab 43 : Jalur Hukum
44
Bab 44 : Penangkapan
45
Bab 45 : CCTV?
46
Bab 46 : Ujian atau Karma
47
Bab 47 : Aku Kembalikan Putrimu
48
Bab 48 : Mungkin bukan sekarang
49
Bab 49 : Taj Mahal
50
Bab 50 : Bela dan Bilal
51
Bab 51 : Bantu Aku
52
Bab 52 : Aku pulang
53
Bab 53 : Zara dan Rio?
54
Bab 54 : Berujung Salah Paham
55
Bab 55 : Kembali
56
Bab 56 : Yang pasti, hanya satu
57
Matahari Senja

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!