Bab 3 : Gadis Preman

Angin berhembus dingin sore itu, awan sepertinya bersiap menumpahkan beban yang tak bisa lagi ditahannya

"Mau ujan ini kak, nggak ada libur?" Bosan, lelah, rasa malas, adalah ujian seorang penuntut ilmu

"Jangan bilang nggak mau dateng karena Zain yang milih Kak Yasmin" tuding Bilal dengan menatap tajam mata adiknya

"Jangan sebut-sebut nama dia lagi, ini nggak ada hubungannya" Layla tak suka dituduh seperti itu, ia seperti orang yang gagal move on, padahal nyatanya sedikit iya

Zain, laki-laki yang sedang menempuh kuliah semester lima dan mengajar di ponpes sebagai guru pencak silat itu berhasil membuat seorang Asma Layla Husna merasakan cinta pada pandangan pertama. Tapi seakan takdir dengan kejam menegaskan kalau mereka tak bisa bersama

"Udah, jangan banyak alasan" Layla menatap Bilal intens, kakaknya ini terlihat sangat berbeda

"Kak Bilal suka ya sama santriwati disana?" Tuduhnya

"Jangan ngomong sembarangan!, mana ada kakak kayak gitu" jawab Bilal terlihat mengelak

"Biasanya orang yang jawab ngegas kayak gini itu beneran" Layla tentu tak mau kalah, gelagat aneh kakaknya sudah cukup membuatnya curiga

"Emangnya kayak kamu yang suka sama Kak Zain?"

"Layla suka Zain?"

Mampus, dua saudara itu saling pandang, Naufal yang baru datang tak sengaja mendengar ucapan dua anaknya

"Kamu suka Zain?" Pertanyaan diulangi dengan pandangan Naufal yang lurus menatap putrinya

"Nggak ayah, cuma kagum aja" jawab Layla dengan menggelengkan kepalanya, ia tak ingin ayahnya berpikir macam-macam tentang dirinya

"Antara kagum dengan rasa suka itu sesuatu yang beda tipis nak"

"Ila tau, Ila nggak mungkin suka sama laki-laki yang udah khitbah Kak Yasmin" ucap Layla menunduk, ia membenarkan perkataan ayahnya. Kagum dan rasa suka memang sesuatu yang beda tipis, ia sekarang malah bingung, apa rasa pada Zain adalah cinta atau kagum. Ia jadi memikirkan apa arti cinta untuk dirinya sekarang, padahal kemarin ia membahas ini juga bersama Nessi

"Putri ayah sudah besar, jatuh cinta tak salah, hanya saja kadang cinta memilih hati yang kurang tepat untuk bersama"

"Ila ngerti ayah" Naufal tersenyum mendengar jawaban putrinya. Masa remaja memang tak pernah lepas dari berbagai masalah, termasuk urusan hati

"Kalian mau pergi ngaji?"

"Iya, tumben ayah udah pulang jam segini?" Bilal melihat jam di handphonenya yang masih menunjukkan pukul empat sore. Biasanya Naufal pulang jam lima atau setengah enam

"Pekerjaan udah selesai, ayah lupa ngasih tau kalau ngaji sorenya libur. Kata Paman Hasan, ada tamu dari Turki" Bilal dan Layla mengangguk, tak lama kemudian hujan deras turun, awan menumpahkan apa yang sedari tadi dikandungnya

"Untung nggak jadi pergi, bisa-bisa kejebak hujan sampai malam disana" gerutu Layla, ia menatap kakaknya yang seperti sedikit kecewa, pasti ada sesuatu yang ia nanti disana

.

Disiang yang cukup terik, masih dengan seragam putih abunya, Bilal mengejar gadis bertopi hitam dan rambutnya yang lurus terurai bebas, tertiup angin kala ia berlari

Remaja tujuh belas tahun itu melompati tembok yang hampir setara dengan tinggi tubuhnya saat digadis berbalik ditikungan. Benar saja, dibalik tembok itu ada jalan yang dilewati gadis itu. Ia terkejut dan berniat berbalik arah, tapi Bilal langsung menarik kerah belakang bajunya

"Lepasin!" Gadis itu berusaha menendang-nendang Bilal dengan kakinya

"Balikin dompetnya dulu"

"Enggak!"

"Ibu itu mau beli tas sekolah buat anaknya" gadis itu seperti tempat terdiam sejenak, kemudian akhirnya menginjak kaki Bilal keras

"Akhh" bukannya melepas belakang baju gadis itu, Bilal malah menariknya kebelakang dengan keras sampai membuat gadis itu tersungkur

"Aduh"

"Kita impas, serahin dompetnya sekarang"

"Jangan pikir bisa kabur lagi" Bilal bisa membaca gerak gerik gadis itu yang bersiap melarikan diri

"Bentar" dengan kesal gadis itu mengeluarkan dompet dari saku celananya

"Kenapa dibuka?" Bilal mengernyitkan alisnya melihat gadis itu membuka dompet yang sudah jelas bukan miliknya

"Mau ambil duit makan" Bilal langsung merebut dompet itu sebelum gadis itu sempat mengeluarkan uang dari sana

"Jangan ambil duit orang, itu haram" Bilal mengeluarkan uang berwarna hijau dari saku bajunya, uang bergambar pahlawan Indonesia Sam Ratulangi itu ia letakkan disamping gadis itu

"Haram? Kalau orang yang makan duit negara apa namanya?" Tanya gadis itu balik dengan senyuman sinis, tapi tangannya tetap memasukkan uang yang diberikan Bilal dalam sakunya

"Mencuri itu haram, makanan yang dibeli dengan uang haram dan masuk ketubuh akan menjadi darah yang terus mengalir, bagaimana caramu berdoa pada tuhan jika dalam darahmu mengalir sesuatu yang haram?"

"Itu urusanku dengan tuhan, aku masuk neraka aku yang merasakan sendiri jadi tak perlu menasihatiku seperti itu" balas gadis itu dengan acuh

"Bukan kau sendiri, tapi orang tuamu juga bisa ikut terseret akibat kelakuanmu"

"Aku ngucapin syukur yang banyak kalau gitu, bahkan jika perlu bikin acara hajatan di neraka, memangnya mereka pernah peduli?" Bilal sampai mengerjapkan matanya beberapa kali, tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu

"Lain kali jangan datang lagi pak ustadz, saya butuh uang bukan ceramah, tapi terima kasih untuk uangnya" gadis itu berdiri dengan sedikit terpincang dan langsung pergi meninggalkan Bilal yang masih tercengang dengan setiap kata pedas yang diucapkannya

Awalnya kejadiannya sepulang sekolah, di perempatan lampu merah yang cukup sepi, gadis itu berlari saat kendaraan berhenti, seorang ibu berusia sekitar empat puluh tahunan mengejar dan berteriak 'Maling'. Bilal yang melihat kejadian itu, memarkirkan motornya ditepi jalan dengan asal dan berlari mengejar gadis itu yang dengan lincah berlari melewati gang-gang sempit dirumah penduduk, sepertinya ia memang kenal sekali daerah ini

"Gadis aneh" gumamnya menggelengkan kepala, ia memilih kembali dan menyerahkan dompet ibu itu yang tak lupa mengucapkan banyak terima kasih padanya, dalam hatipun ia berdo'a seperti yang diucapkan gadis tadi, semoga mereka tidak bertemu lagi. Tapi antara do'a dan takdir, mana yang akan terjadi?

.

Banyak Typo...🙏

Buat yang mau nanya info up bisa lewat grup atau bisa lewat ig kalau author belum respon...😅🙂

Terpopuler

Comments

fitriamaharani

fitriamaharani

lanjut thor

2023-02-06

1

adara

adara

ada yg tidak beres dengan gadis "itu" sepertinya dia punya masalah dengan orang tuanya

2023-02-06

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Cinta tak seindah itu
2 Bab 2 : Dia suka ya?
3 Bab 3 : Gadis Preman
4 Bab 4 : Qais
5 Bab 5 : Terjebak Rasa
6 Bab 6 : Sepupu?
7 Bab 7 : Isabela
8 Bab 8 : Selamanya
9 Bab 9 : Kenzo dan Qais
10 Bab 10 : Curhatan Zara
11 Bab 11 : Tak ingin menyakiti
12 Bab 12 : Masih ada?
13 Bab 13 : Kisah Layla Majnun
14 Bab 14 : Hanya Satu
15 Bab 15 : Tau
16 Bab 16 : The Devils
17 Bab 17 : Cukup satu selamanya
18 Bab 18 : Tak semudah itu
19 Bab 19 : Terlahir Untuk Bermimpi
20 Bab 20 : 18 Tahun
21 Bab 21 : Selalu Terbuka
22 Bab 22 : Dendam
23 Bab 23 : Benci Dia
24 Bab 24 : Misterius
25 Bab 25 : Rencana
26 Bab 26 : Paman?
27 Bab 27 : Dendam Terbalas
28 Bab 28 : Salah Paham
29 Bab 29 : Qais dan Layla
30 Bab 30 : Kesempatan itu ada
31 Bab 31 : Yang Terbaik
32 Bab 32 : Tak Pantas
33 Bab 33 : Maaf?
34 Bab 34 : Hanya Satu
35 Bab 35 : Dibalik The Devil
36 Bab 36 : Maksudnya?
37 Bab 37 : Maaf dari Yasmin
38 Bab 38 : Siapa?
39 Bab 39 : Kunjungan Yusuf
40 Bab 40 : Rayu Tuhannya
41 Bab 41 : Rahasia
42 Bab 42 : Dibuly?
43 Bab 43 : Jalur Hukum
44 Bab 44 : Penangkapan
45 Bab 45 : CCTV?
46 Bab 46 : Ujian atau Karma
47 Bab 47 : Aku Kembalikan Putrimu
48 Bab 48 : Mungkin bukan sekarang
49 Bab 49 : Taj Mahal
50 Bab 50 : Bela dan Bilal
51 Bab 51 : Bantu Aku
52 Bab 52 : Aku pulang
53 Bab 53 : Zara dan Rio?
54 Bab 54 : Berujung Salah Paham
55 Bab 55 : Kembali
56 Bab 56 : Yang pasti, hanya satu
57 Matahari Senja
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1 : Cinta tak seindah itu
2
Bab 2 : Dia suka ya?
3
Bab 3 : Gadis Preman
4
Bab 4 : Qais
5
Bab 5 : Terjebak Rasa
6
Bab 6 : Sepupu?
7
Bab 7 : Isabela
8
Bab 8 : Selamanya
9
Bab 9 : Kenzo dan Qais
10
Bab 10 : Curhatan Zara
11
Bab 11 : Tak ingin menyakiti
12
Bab 12 : Masih ada?
13
Bab 13 : Kisah Layla Majnun
14
Bab 14 : Hanya Satu
15
Bab 15 : Tau
16
Bab 16 : The Devils
17
Bab 17 : Cukup satu selamanya
18
Bab 18 : Tak semudah itu
19
Bab 19 : Terlahir Untuk Bermimpi
20
Bab 20 : 18 Tahun
21
Bab 21 : Selalu Terbuka
22
Bab 22 : Dendam
23
Bab 23 : Benci Dia
24
Bab 24 : Misterius
25
Bab 25 : Rencana
26
Bab 26 : Paman?
27
Bab 27 : Dendam Terbalas
28
Bab 28 : Salah Paham
29
Bab 29 : Qais dan Layla
30
Bab 30 : Kesempatan itu ada
31
Bab 31 : Yang Terbaik
32
Bab 32 : Tak Pantas
33
Bab 33 : Maaf?
34
Bab 34 : Hanya Satu
35
Bab 35 : Dibalik The Devil
36
Bab 36 : Maksudnya?
37
Bab 37 : Maaf dari Yasmin
38
Bab 38 : Siapa?
39
Bab 39 : Kunjungan Yusuf
40
Bab 40 : Rayu Tuhannya
41
Bab 41 : Rahasia
42
Bab 42 : Dibuly?
43
Bab 43 : Jalur Hukum
44
Bab 44 : Penangkapan
45
Bab 45 : CCTV?
46
Bab 46 : Ujian atau Karma
47
Bab 47 : Aku Kembalikan Putrimu
48
Bab 48 : Mungkin bukan sekarang
49
Bab 49 : Taj Mahal
50
Bab 50 : Bela dan Bilal
51
Bab 51 : Bantu Aku
52
Bab 52 : Aku pulang
53
Bab 53 : Zara dan Rio?
54
Bab 54 : Berujung Salah Paham
55
Bab 55 : Kembali
56
Bab 56 : Yang pasti, hanya satu
57
Matahari Senja

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!