Bab 5 : Terjebak Rasa

"Pokoknya kakak yang bonceng kamu"

"Ini motor aku, harus aku yang didepan"

"Ila, nggak ada sejarahnya laki-laki dibonceng perempuan, apalagi aku ini kakak kamu" Bilal sudah frustasi dari tadi, seharusnya mereka sudah berangkat ke pesantren lima belas menit yang lalu, namun karena perkara motor Bilal yang tidak bisa nyala dan harus dibawa ke bengkel membuat mereka berebut tentang siapa yang harus membonceng siapa dengan motor Layla

"Kalau gitu buat sejarah pertama kali, perempuan bonceng laki-laki" Layla masih teguh dengan pendiriannya

"Kakak nggak mau, yaudah kalau kamu nggak mau, Kak Ilal telpon ayah nih"

"Tukang ngadu" Ila menyerahkan kunci motornya dengan kesal, alhasil Bilal yang harus membonceng adiknya

"Nurut gitu kenapa sih? Jadi adik perempuan yang kalem"

"Udah cepetan jalan!" Layla menepuk punggung kakaknya lumayan keras, entah kenapa kekesalannya luar biasa meningkat, apalagi teringat kejadian tadi siang saat bertemu Qais

Menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dengan kecepatan terbilang tinggi, mereka sampai didepan gerbang pesantren Nurul Iman, para santri yang melihat mereka menunduk sebagai bentuk hormat kepada cucu pemilik ponpes, dua orang itu merasa tak enak karena harus dihormati sedemikian rupa

"Pacaran itu haram sama dengan mendekati zina" suara seseorang membuat dua orang itu menoleh, Layla secara reflek melepaskan tangannya dari punggung Bilal padahal mereka saudara

"Siapa yang bilang halal? Bapak kamu?" balasnya sengit

"Ila" Bilal menutup mulut adiknya, ia heran kenapa Layla suka marah-marah dan membuat orang kesal hari ini. Setiap hari memang seperti itu, hanya saja sekarang lebih parah

"Dia yang duluan, dia yang salah" Layla tentu tak mau kalah

"Kalian berdua udah nikah?" Pertanyaan polos laki-laki itu membuat Layla sudah mengeluarkan tanduknya ingin mengamuk

"Kamu buta warna, mata plus, mata minus, mata silinder atau buta total?"

"Ila, nggak boleh ngomong kayak gitu" Bilal menarik tubuh adiknya mundur

"Maaf, tapi kami saudara" balas Bilal, ia menahan tangan adiknya yang terus memberontak

"Oowh pantas wajah kalian mirip, aku pikir kalian jodoh karena wajah yang mirip"

Gila!, Layla ingin meneriakkan kata itu didepan wajah laki-laki itu langsung

"Maaf sudah su'udzon" laki-laki itu menangkupkan tangannya didepan dada, ia mengusap tengkuknya mungkin merasa malu karena ucapannya

"Tidak apa-apa kami mengerti"

"Aku nggak...mmmp" Bilal menutup mulut adiknya sebelum masalah semakin panjang

"Maaf, kami permisi dulu" Bilal menarik tangan Layla menjauh sedang laki-laki itu masih menatap punggung mereka yang menjauh

"Kenapa sih? Harusnya laki-laki itu disemprot biar jerah"

"Kamu yang disemprot duluan!"

"Aduh" Layla mengaduh kala Bilal menggetok kepalanya

"Minimal kalem lah kalau di ponpes, kalau dirumah kamu mau berubah jadi singa, banteng, macan, harimau juga nggak masalah"

Begitulah seorang Asma Layla Husna, perempuan bar-bar yang kadang tak peka dengan kondisi

"Ila" Yasmin, sepupunya yang berjarak dua tahun diatasnya melambaikan tangan

"Kak Yasmin" Layla tersenyum membalasnya

Yasmin adalah anak kedua dari Hasan, usianya sembilan belas tahun berjarak dua tahun dari sikembar

"Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumussalam" Layla berusaha tersenyum, kadang hatinya sakit kala mengingat kejadian minggu lalu, namun Yasmin tak salah apapun dalam hal ini, yang salah adalah hatinya karena memilih kurang tepat

"Tumben kalian kesini, biasanya kalau libur ngaji nggak pernah dateng" entah sebuah sindiran atau sebuah rasa penasaran yang pasti si kembar hanya mengusap belakang tengkuk kepala mereka

"Libur lagi ya kak?" Bilal bertanya, pasalnya tak ada telpon dari ayahnya atau Paman Hasan yang menginfokan

"Tuhkan, kalian pasti nggak bakal dateng kalau tau libur"

"Mau gimana lagi? Rumah kita jauh" alasan yang paling masuk akal, alasan lainnya karena banyak tugas

"Kenapa libur? Kemarin ayah bilang ada tamu dari Turki, sekarang? Ada tamu lagi?"

"Nggak ada, cuman para santri lagi persiapan buat ujian dan para pengajar lagi siapin soal dan materi buat ujian nanti" jawab Yasmin

"Kalau gitu kayaknya kita pulang aja ya kak?, Soalnya bentar lagi kita juga ujian, liburnya pasti sampai selesai ujian kan?"

"Kurang tau juga, nanti aku tanya abi. Tapi kalian jangan pulang dulu, aku mau cerita"

"Kayaknya ini pembahasan perempuan deh, aku nggak ikut ya" Bilal pamit undur diri, sedang Layla pasrah saat kakak sepupunya menarik dirinya ketepi telaga pesantren. Ada bangku disana

"Kamu tau nggak La? Kemarin Zain datang buat ngelamar aku"

"Iya kah?" Layla pura-pura terkejut dan menutup mulut. Padahal ia ada disana saat itu, hanya saja ia tak mungkin bilang pada sepupunya apalagi sampai mengungkapkan rasa itu. Cukup ia dengan Bilal yang tau

"Iya, saat itu kamu hilang entah kemana. Tapi aku belum kasih jawaban. Aku mau sholat istikharoh dulu" suara Yasmin terdengar lirih, seperti ada beban berat dihatinya

"Kenapa? Bukannya dia laki-laki yang baik? Paman Hasan dan ayah juga kenal dekat sama dia" Layla tentu bingung perkara ini. Menurutnya sholat istikharoh itu seharusnya ada dua pilihankan? Ia pikir apa ada laki-laki lain yang melamar Yasmin?

"Aku sepertinya menyukai laki-laki lain La, dia senior ku dikampus, teman sekelas Zain" Layla menutup mulutnya, ia melihat ekspresi Yasmin yang menunduk kala mengatakan itu, mungkin sepupunya malu dan pertama kali bercerita dan itu padanya?

"Benarkah? Dia dari pesantren mana?"

"Dia bukan anak pesantren"

"Terus?"

"Aku nggak tau, aku hanya tau dia laki-laki yang baik. Walaupun penampilannya kadang urakan dan mendapat julukan si biang masalah alias badboy, dia punya hati buat nolongin aku saat dihadang penjahat ditengah jalan" Layla masih berusaha mencerna apa yang terjadi sekarang. Zain mencintai Yasmin tapi Yasmin sepertinya jatuh cinta pada laki-laki lain

"Apa laki-laki itu mencintai Kak Yasmin juga?" Itulah pertanyaan yang bersarang dalam kepalanya

"Aku nggak tau, tapi saat dikampus aku nggak pernah liat dia deket-deket sama perempuan"

"Dia kan badboy alias biang masalah seperti yang Kak Yasmin bilang, kok suka sama laki-laki kayak gitu? Padahal Kak Zain kan mungkin lebih baik?" Layla mengerti kadang cinta tak mengenal segalanya. Seperti kata orang cinta itu buta dan tuli. Tapi ini Yasmin seorang perempuan yang cocok jadi panutan sebagai muslimah sejati. Hatinya memilih orang seperti itu?

"Mungkin. Tapi kita nggak boleh menjudge orang lain dari tampilannya aja kan?"

"Iya memang. Apa menurut Kak Yasmin dia orang baik?"

"Kalau dia bukan orang baik, kenapa dia nolongin aku saat itu?"

"Apa Kak Yasmin jatuh cinta karena kejadian itu? Padahal menurutku wajar saja sebagai manusia kita saling tolong, apalagi dalam kasus seperti cerita Kak Yasmin"

"Aku nggak tau La, aku bingung dengan hatiku, makanya aku milih sholat istikharoh semoga Allah ngasih petunjuk. Tapi tetap hati nggak pernah bisa bohong kalau aku mungkin ada rasa sama dia" Layla menunduk menatap rerumputan dibawah kakinya. Ia tak bisa memberikan solusi soal ini, karena ia remaja yang tak terlalu mengerti cinta. Dibanding rasa itu, ia lebih suka melihat deretan bilangan biner dan warna pada kabel straight, aneh memang

"Kalau boleh tau siapa nama laki-laki itu?"

"Qais"

Terpopuler

Comments

Rina Yulianti

Rina Yulianti

qais adiknya kenzo dari kecil dia udah suka sama lyla

2024-03-31

3

adara

adara

keknya bakal ada cinta segitiga di antara mereka,, walaupun layla blm mencintai Qais bahkan mengenal pun blm tetap saja akan ribet karena Qais menyukai Layla di banding Yasmin

2023-02-08

0

melia

melia

😱🤦🤦mulai ribet nih urusan rupanya..baru awal nih..moga aja ga seribet ayah dn bundanya y thor😁😁😁🥰🥰🥰🥰

2023-02-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Cinta tak seindah itu
2 Bab 2 : Dia suka ya?
3 Bab 3 : Gadis Preman
4 Bab 4 : Qais
5 Bab 5 : Terjebak Rasa
6 Bab 6 : Sepupu?
7 Bab 7 : Isabela
8 Bab 8 : Selamanya
9 Bab 9 : Kenzo dan Qais
10 Bab 10 : Curhatan Zara
11 Bab 11 : Tak ingin menyakiti
12 Bab 12 : Masih ada?
13 Bab 13 : Kisah Layla Majnun
14 Bab 14 : Hanya Satu
15 Bab 15 : Tau
16 Bab 16 : The Devils
17 Bab 17 : Cukup satu selamanya
18 Bab 18 : Tak semudah itu
19 Bab 19 : Terlahir Untuk Bermimpi
20 Bab 20 : 18 Tahun
21 Bab 21 : Selalu Terbuka
22 Bab 22 : Dendam
23 Bab 23 : Benci Dia
24 Bab 24 : Misterius
25 Bab 25 : Rencana
26 Bab 26 : Paman?
27 Bab 27 : Dendam Terbalas
28 Bab 28 : Salah Paham
29 Bab 29 : Qais dan Layla
30 Bab 30 : Kesempatan itu ada
31 Bab 31 : Yang Terbaik
32 Bab 32 : Tak Pantas
33 Bab 33 : Maaf?
34 Bab 34 : Hanya Satu
35 Bab 35 : Dibalik The Devil
36 Bab 36 : Maksudnya?
37 Bab 37 : Maaf dari Yasmin
38 Bab 38 : Siapa?
39 Bab 39 : Kunjungan Yusuf
40 Bab 40 : Rayu Tuhannya
41 Bab 41 : Rahasia
42 Bab 42 : Dibuly?
43 Bab 43 : Jalur Hukum
44 Bab 44 : Penangkapan
45 Bab 45 : CCTV?
46 Bab 46 : Ujian atau Karma
47 Bab 47 : Aku Kembalikan Putrimu
48 Bab 48 : Mungkin bukan sekarang
49 Bab 49 : Taj Mahal
50 Bab 50 : Bela dan Bilal
51 Bab 51 : Bantu Aku
52 Bab 52 : Aku pulang
53 Bab 53 : Zara dan Rio?
54 Bab 54 : Berujung Salah Paham
55 Bab 55 : Kembali
56 Bab 56 : Yang pasti, hanya satu
57 Matahari Senja
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1 : Cinta tak seindah itu
2
Bab 2 : Dia suka ya?
3
Bab 3 : Gadis Preman
4
Bab 4 : Qais
5
Bab 5 : Terjebak Rasa
6
Bab 6 : Sepupu?
7
Bab 7 : Isabela
8
Bab 8 : Selamanya
9
Bab 9 : Kenzo dan Qais
10
Bab 10 : Curhatan Zara
11
Bab 11 : Tak ingin menyakiti
12
Bab 12 : Masih ada?
13
Bab 13 : Kisah Layla Majnun
14
Bab 14 : Hanya Satu
15
Bab 15 : Tau
16
Bab 16 : The Devils
17
Bab 17 : Cukup satu selamanya
18
Bab 18 : Tak semudah itu
19
Bab 19 : Terlahir Untuk Bermimpi
20
Bab 20 : 18 Tahun
21
Bab 21 : Selalu Terbuka
22
Bab 22 : Dendam
23
Bab 23 : Benci Dia
24
Bab 24 : Misterius
25
Bab 25 : Rencana
26
Bab 26 : Paman?
27
Bab 27 : Dendam Terbalas
28
Bab 28 : Salah Paham
29
Bab 29 : Qais dan Layla
30
Bab 30 : Kesempatan itu ada
31
Bab 31 : Yang Terbaik
32
Bab 32 : Tak Pantas
33
Bab 33 : Maaf?
34
Bab 34 : Hanya Satu
35
Bab 35 : Dibalik The Devil
36
Bab 36 : Maksudnya?
37
Bab 37 : Maaf dari Yasmin
38
Bab 38 : Siapa?
39
Bab 39 : Kunjungan Yusuf
40
Bab 40 : Rayu Tuhannya
41
Bab 41 : Rahasia
42
Bab 42 : Dibuly?
43
Bab 43 : Jalur Hukum
44
Bab 44 : Penangkapan
45
Bab 45 : CCTV?
46
Bab 46 : Ujian atau Karma
47
Bab 47 : Aku Kembalikan Putrimu
48
Bab 48 : Mungkin bukan sekarang
49
Bab 49 : Taj Mahal
50
Bab 50 : Bela dan Bilal
51
Bab 51 : Bantu Aku
52
Bab 52 : Aku pulang
53
Bab 53 : Zara dan Rio?
54
Bab 54 : Berujung Salah Paham
55
Bab 55 : Kembali
56
Bab 56 : Yang pasti, hanya satu
57
Matahari Senja

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!