"Apa sekarang pelangi itu masih ada walau bunda sudah pergi?" Naufal tersenyum dan membalas dengan anggukan kepala
"Kalian lupa perkataan bunda sebelum pergi? Dia bilang separuh jiwanya ada pada ayah, dan selama jiwa itu masih ada maka pelangi juga akan terus ada"
"Apa bunda dan ayah langsung memutuskan menikah setelah lulus kuliah?" Naufal tertawa getir, andaikata takdir berjalan semulus itu
"Kalian tau kenapa bunda nampak sangat kurus di foto ketika kami membelakangi senja dengan pemandangan laut sore itu?" Naufal membahas album foto yang pernah ia perlihatkan pada anak-anaknya, namun mereka tak pernah bertanya lebih lanjut
"Karena sakit?" Bilal menebak, karena itu menurutnya hal yang paling mungkin
"Dan penyakit itu yang menyebabkan ayah berpisah dengan bunda hampir lima tahun lamanya, bunda menderita kanker otak stadium 3" Bilal dan Layla sama-sama tersentak, tak pernah ada yang menceritakan ini, entah karena mereka yang tak bertanya atau memang karena kejadian itu terlalu pilu untuk diceritakan kembali
"Jadi, penyakit yang dialami bunda sebelum pergi..." gumam Bilal dengab menggelengkan kepala
"Benar, penyakit itu tumbuh kembali" Naufal mengatakan itu dengan mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia akan kembali membuka halaman lama yang telah menjadi kenangan tak terlupakan dalam hidupnya
"Saat itu kami sudah bertunangan, padahal tinggal menghitung hari lagi dan kami akan menikah, tapi kejadian yang tak terduga terjadi, ayah mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan. Saat ayah koma, bunda pergi dan berobat ke Amerika, kami tidak pernah bertemu lagi hingga lima tahun lamanya. Om Darren pernah cerita kalau bunda sempat kehilangan detak jantungnya setelah operasi selesai"
"Apa ayah mengingat bunda dalam waktu dekat"
"Saat ayah mengingat bunda, Om Rian justru bilang kalau bunda hilang ingatan akibat operasi"
"Lalu, bagaimana kalian bisa bertemu?"
"Kejadiannya tak terduga, karena tangisan Yusuf, takdir mempertemukan kami di restoran" Naufal sedikit tertawa dengan nada lirih saat mengucap itu
"Setelah serangkaian proses cukup rumit akhirnya kami bisa bersama"
"Tapi akhirnya bunda tetap pergi" lirih Layla
"Semua makhluk yang bernyawa akan mati, apa yang kita harapkan dalam hidup semu ini?, Bukankah kematian memang menjadi akhir dari kehidupan? Kalau pun bukan hari itu ia akan tetap datang di hari lain" balas Naufal seraya menghela nafasnya
"Hidup dengan manusia bukan mencari arti keabadian tapi sebuah kenangan indah, kenangan yang akan teringat sampai kita menutup mata. Dunia ini fana, hanya sementara. Ketika hati kita memilih seseorang dengan yakin dan penuh rasa cinta, maka kita perlu berdoa pada sang khalik, jika kelak dipertemukan kembali dalam surga yang sama dengannya" lanjut Naufal
"Jika kalian melihat seseorang, jangan langsung menilainya karena kita tak tau seberapa keras sebenarnya mereka berusaha untuk tetap hidup di tengah tuntutan dunia" mendengar ucapan ayahnya, Bilal teringat pada Bela. Ia cukup penasaran apa masalah hidup gadis itu sampai berusaha mengakhiri hidupnya
Layla memikirkan hal yang sama, ia jadi teringat Qais. Laki-laki yang dikenal baik oleh dua sepupunya, tapi kenapa didepannya laki-laki itu menunjukkan sikap yang berbeda?
Belasan kilometer dari sana, seorang laki-laki terdiam di balkon kamarnya, menikmati tiupan angin yang cukup untuk mengantarkan dingin pada tubuh
"Layla" gumamnya, entah kenapa ia pun tak mengerti dengan hatinya sendiri, bagaimana bisa ia terpikat oleh gadis itu padahal waktu sudah berlalu tiga belas tahun
"Aku berkali-kali mengatakan pada diriku kalau ini bukan cinta, tapi hatiku dengan tegas menolaknya karena itu aku selalu tak bisa mengendalikan ucapanku didepanmu"
"Akan ku pastikan kau menjadi pendampingku, Asma Layla Husna. Kita pasti jodoh"
Gemersik dedaunan pohon yang tertiup angin seolah mengejek kepada laki-laki itu yang terlewat percaya diri. Atas nama jodoh dia menyebut nama perempuan yang dicintainya, tapi ia lupa menyebut nama sang pencipta yang menciptakan perempuan itu. Takdir sudah menanti didepan dengan hal yang tak akan pernah ia duga sampai bisa membuatnya menyadari keberadaan Rabb-Nya yang mengatur segalanya
Layla menghela nafasnya panjang, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi matanya enggan tuk terpejam. Hatinya masih dipenuhi bayangan-bayangan ucapan Qais dan kedua sepupunya. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya kalau sampai ada pertengkaran hanya karena laki-laki bernama Qais itu.
Layla teringat sebuah cerita yang pernah ia dengar dari salah satu ustadznya di ponpes. Kisah Layla Majnun, kisah cinta tragis antara perempuan bernama Layla dan laki-laki yang bernama Qais. Kebetulan namanya persis sama dengan cerita itu
Kisah Layla Majnun, cerita sepasang kekasih yang berakhir dengan tragis. Sebuah cerita rakyat dari Persia atau sekarang dikenal dengan Iran. Kisah ini dikenal pada abad ke-9 M, tapi populer pada abad ke-12 M setelah dirangkai indah oleh seorang pujangga asal Azerbaijan dengan nama pena Nizami Ganjavi. Kisah Layla Majnun menceritakan kisah seorang pemuda bernama Qais bin Mulawwah yang jatuh cinta pada perempuan bernama Layla Al-Amiriyah.
Mereka berdua berasal dari kedua suku terhormat dengan kedudukan ayah mereka yang menjadi kepala suku. Kisah cinta mereka berawal di saat Qais dan Layla bertemu di sekolah, keduanya langsung jatuh cinta di pertemuan pertama. Qais juga dikenal akan kemampuannya membuat syair-syair yang indah. Ia menggunakan syair itu memuji dan mengagungkan Layla. Hubungan keduanya yang semakin dekat menjadi perbincangan masyarakat banyak karena status mereka yang berasal dari keluarga terhormat, berita itu akhirnya sampai di telinga Ayah Layla, ia mengambil keputusan dengan tidak lagi mengizinkan putrinya keluar rumah karena dianggap mencoreng nama baik keluarga.
Qais dan Layla terpaksa berpisah, dari sanalah Qais dikenal dengan sebutan Majnun, laki-laki yang gila karena cinta. Yang keluar dari mulutnya tak lain nama kekasih hatinya, Layla. Pernah diceritakan setelah perpisahan mereka Qais jatuh sakit, ia diperiksa tabib dan tabib menyarankan untuk melakukan proses bedah karena ternyata ada infeksi dalam tubuhnya. Qais menolak bukan karena takut tapi dengan alasan takut menyakiti Layla. Sang tabib yang mendenga itu lantas bingung dan bertanya "Bagaimana bisa menyakiti Layla? Ini adalah tubuhmu". Qais menjawab "Layla ada disetiap bagian tubuhku, bahkan mengalir diantara darahku, jika kau membedahnya maka sama artinya kau akan menyakiti Layla". Begitu luar biasanya cinta Qais untuk Layla.
Karena tak tega melihat putranya yang seperti orang gila, ayah Qays datang kerumah Layla untuk melamar. Tapi sayangnya lamarannya ditolak mentah-mentah, hal ini membuat Qais semakin sedih bahkan memutuskan untuk hidup sendiri di padang pasir
Ternyata tak hanya Qais, Layla merasakan hal yang sama. Namun ia seberani Qais untuk mengungkapkan perasaannya, apalagi terdengar dari salah satu keluarganya akan melenyapkan laki-laki itu. Ia semakin takut untuk menemui Qais
Waktu kian berlalu, Ayah Layla memutuskan menikahkan putrinya dengan seorang pria bernama Ibnu Salam. Layla yang tak ingin membawa aib untuk keluarganya menyetujui hal itu. Qais yang mendengarnya pingsan sampai berhari-hari lamanya. Namun yang Qais tak tau kalau Layla begitu menjaga kesetiaannya pada Qais walaupun ia menjalankan perannya sebagai istri yang baik.
Bertahun-tahun berlalu, orang tua Qais meninggal, selang beberapa tahun disusul suami Layla. Layla menangis tersedu saat itu bukan karena menangisi suaminya, melainkan hatinya tak kuat lagi menahan rindu pada Qais. Akhirnya ia menyerah pada kehidupan, ia tak lagi peduli pada kesehatan, ia menulis sebuah syair yang menyatakan betapa ia juga merindukan Qais. Setelahnya maut datang menjemput, sampai kematiannya ia tak pernah bisa bersama dengan Qaisnya. Qais datang ke makamnya dan menangis tersedu atas kepergian kekasihnya
"Engkau telah keluar dari kehidupan yang membingungkan ini
Dunia adalah rangkaian penghianatan dan perselisihan yang tak pernah berakhir
Disana kita akan segera bertemu dalam kebahagiaan abadi
Cinta kita akan bercampur dengan cahaya keabadian
Ya Allah dengarkanlah hambamu dengan tatapan cinta, atas namamu rengkuhlah ia dalam pelukanmu, tunjukanlah kebesaranmu pada diriku ini, pertemukanlah aku segera dengannya"
Syair terakhir yang ditulis Qais untuk kekasihnya, selang beberapa hari ia meninggal dunia dengan tubuh yang tergeletak disamping makam Layla. Jasadnya dikuburkan tepat disamping makam kekasih yang begitu ia cintai
Bagi seoarang Asma Layla Husna sendiri, kisah Layla Majnun mengajarkan bagaimana caranya latihan jatuh cinta, bukan dengan sesama manusia tapi kepada Allah SWT. Apa yang dilakukan Qais dengan mengagungkan dan menyebut nama Layla, harusnya juga bisa dilakukan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Bagaimana cinta matinya Qais sampai terus mengingat Layla juga harus diterapkan seorang hamba kepada sang khalik, karena jika sudah cinta maka yang keluar dari bibir kita hanyalah namanya. Setelah kita mencintai penciptanya maka kita juga harus mencintai apa yang berhubungan dengannya, termasuk ciptaannya. Tapi ingat, yang pertama kita cinta adalah pencipta barulah penciptanya
"Aku tak ingin mengatakan kau gila seperti kisah Layla Majnun Kak Qais, tapi aku berharap kalau memang takdir membuat kita bersatu aku tak ingin adanya perpecahan dalam keluargaku" ucap Layla menatap langit-langit kamarnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
kalea rizuky
loo meninggal kah
2024-07-13
1
피롷
bagian akhir harusnya "cintai dulu sang pencipta baru ciptaannya" thor
2023-07-07
2
melia
semoga kisah kalian gak seperti kisah layla majnun
semangat thor💪💪
2023-02-18
0