"Kak!"
Kaila berdiri di samping kakak nya, menatap pria yang terbaring lemah.
"Jika kamu hanya membicarakan hal yang tidak penting, lebih baik pergi saja"
Kaila menarik nafas, lalu melepasnya perlahan.
"Kak, kenapa sih. Kakak memilih Sela di bandingkan Sintia. Mengapa kakak menjadi bodoh, tidak tahu mana mutiara mana sampah!"
Rendi memejamkan matanya, dia sudah bisa menebak ini akan terjadi. Setiap kali berdebat, adik nya selalu saja membicarakan hal ini.
Belum sempat Rendi membalas ucapan adiknya, terdengar suara Sela dengan lantang menyanggah nya.
"Jadi maksud mu, aku ini sampah?"
"Tepat sekali, kamu hanya sampah!"
Rendi memijat batang hidungnya, kepala nya semakin terasa sakit melihat kedua nya bertengkar.
"Atas dasar apa kamu mengatakan hal itu padaku!"
"Karena kamu pantas menerima nya!"
Kaila terus membalas ucapan Sela, dia tidak mau mengalah. Di mata Kaila, Sela tak lain adalah wanita penggoda.
"Merebut calon suami adiknya di hari pernikahan nya, apa namanya kalau bukan sampah!"
Sela melotot, ingin sekali dia menampar gadis yang berumur 2 tahun di bawah nya itu. Namun, Sela berusaha untuk tetap menahan diri.
"Jaga ucap kamu yah Kaila, aku sudah cukup bersabar menghadapi mu, jangan salahkan aku jika nanti aku membuat mu menyesal!"
"Aku tidak takut, sampai kapan pun aku tidak akan pernah takut dan aku tidak akan pernah menganggap mu sebagai kakak ipar ku!"
"Kau-"
"Sudah cukup!" teriak Rendi, dia memegangi kepalanya, merasa sangat pusing setelah berteriak seperti itu.
"Kak"
"Sayang.."
Dengan serempak Kaila, dan Sela mendekati Rendi. Mereka sama sama khawatir dengan kondisi pria itu.
"Apa kalian tidak mengerti? ini rumah sakit. Tapi kalian malah membuat keributan"
"Jangan salahkan aku Ren, Salah kan adik mu!"
"Enak saja, kamu yang salah, wanita -"
"Sudah cukup, apa kalian tidak mengerti huh! aku lagi sakit, tapi kalian malah bersikap seperti anak kecil!" Teriak Rendi marah, bertepatan saat itu pintu ruangan nya terbuka.
Ceklek.
Seorang suster masuk ke dalam, ekspresi wajahnya tidak menyenangkan.
Rendi dan kedua gadis itu menatap suster itu, memperhatikan apa yang akan suster itu lakukan.
"Permisi tuan, nona, saya datang bukan untuk memeriksa anda, karena anda tahu pasti jadwal pemeriksaan kondisi anda masih panjang. "
"Lalu, apa yang membawa mu kemari?" tanya Sela.
"Saya mendapat keluhan dari pasien sebelah. Bukan hanya satu atau dua. Tapi hampir sederetan dengan ruangan anda ini mengeluh.
Mereka merasa terganggu dengan suara teriakan dan bentakan kalian. Mohon untuk memperhatikan sekeliling anda jika ingin bertengkar, karena orang orang di sekitar anda ingin beristirahat!" tutur sang suster panjang lebar.
Rendi melirik Kaila dan Sela bergantian. Seolah berkata melalui sorot matanya " Dengarkan itu!"
"Apa hanya itu?" ketus Sela lagi.
Suster mengangguk dan berlalu pergi. Dia merasa jengkel dengan keluarga pasien. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang menyebalkan seperti Sela.
"Kalian lihat, semua orang mengeluh dengan suara kalian"
"Bukan aku, tapi dia" tunjuk Sela pada Kaila.
"Enak saja, kamu tuh yang suaranya cempreng dan melengking, merusak gendang telinga!" balas Kaila tak mau di salahkan.
Rendi sudah merasa jengah dengan sikap keduanya, baru saja suster pergi setelah memberikan penjelasan sebegitu panjangnya. Kini mereka malah kembali bertengkar, meskipun dengan nada suara sedikit lebih rendah.
Sementara itu, Sintia dan Verrel tengah duduk di sebuah taman yang khusus di buatkan oleh Verrel untuk calon istri nya.
Mereka mengawasi orang orang yang sedang mendekor taman depan rumah bak istana milik Verrel.
Pesta pernikahan Sintia dan Verrel akan di lakukan di kediaman Verrel. Mereka tidak terlalu banyak mengundang orang. Hanya beberapa orang penting, dan selebihnya adalah orang orang komplek itu sendiri.
Sintia tersenyum, dia melirik Verrel yang duduk di samping nya.
"Sulit di percaya, besok kita akan menikah"
"Percayalah honey, ini nyata" balas Verrel .
Sintia tersenyum, dia mengikuti kode yang Verrel berikan agar dirinya mendekat kearahnya.
Dengan tatapan polosnya, Sintia mendekatkan wajahnya ke wajah Verrel.
"Mungkin sekarang kita belum merasakan apapun, tapi aku berjanji. Suatu hari nanti, kita akan sama sama mengungkapkan perasaan satu sama lain"
"Dan untuk saat ini, aku hanya bisa mengatakan pada mu. Bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan mu, dalam kondisi apapun. Kau adalah bagian dari hidup ku sekarang "
Verrel mengatakan dengan penuh keyakinan dan ketulusan. Dia serius dengan ucapan nya. Pantang bagi seorang Verrel Eldor mempermainkan wanita, kecuali wanita itu sendiri yang melemparkan diri pada nya.
Namun, jika dia sudah berjanji untuk setia. Maka, apapun godaan nya, Verrel tetap akan setia.
Sintia tersenyum haru, dengan keberanian yang besar. Gadis itu memeluk tubuh Verrel. Untuk pertama kali nya dia berinisiatif untuk melakukan hal ini.
"Kamu bahagia bersama ku?" tanya Verrel.
Sela mengangguk cepat dalam pelukan Verrel."Yah, tentu saja aku bahagia bersama mu. Entah mengapa, aku melihat kedamaian di mata mu"
"Benarkah ini?"
"Tentu saja, jika aku berbohong bagaimana bisa aku memutuskan untuk menikah dengan mu"
Verrel tersenyum, dia merasa berbeda ketika mendengar kalimat kalimat sederhana keluar dari mulut mungil Sintia.
Persiapan mereka hampir selesai, hanya tersisa beberapa riasan lagi. Maka semuanya akan tampak sempurna.
Dari balkon kamar nya, Widia dan Reno saling berpelukan melihat pemandangan yang indah.
"Aku merasa bahagia, melihat Verrel menemukan orang yang tepat" ujar Widia.
"Sintia adalah wanita yang tepat untuk nya, apa kamu tidak berpikir begitu sayang?" tanya Widia pada suaminya yang sejak tadi hanya diam saja.
Tidak mendengar jawaban dari sang suami, membuat Widia mendongakkan kepalanya.
"Sayang!" dengan sengaja Widia menggoyangkan lengan suaminya. Sehingga membuat Reno tersentak dari lamunan nya.
"Kamu mikirin apa sih, kenapa sejak tadi tidak menjawab atau sekedar merespon ucapan ku!" Widia mulai merajuk.
"Maaf sayang, aku tidak mendengar mu bercerita, aku-"
"Beruntung hari ini dan besok adalah hari baik Verrel dan Sintia. Kalia tidak, habis kau!" kecam Widia pergi begitu saja meninggalkan suaminya.
Reno menepuk jidat nya, jika sudah begini. Dia tidak bisa berbuat apa apa lagi selain menunggu istrinya selesai merajuk.
"Dasar wanita" dengus nya pelan, takut istri nya akan mendengarnya dan semakin merajuk.
Reno menyusul istrinya, dia akan mencoba untuk membujuk nya.
Setiba nya di bawah, salah satu pelayan menghampiri Reno.
"Tuan!" panggil pelayan itu.
Reno terkejut, dia langsung membawa pelayan itu ke tempat yang sepi. Mereka akan membicarakan hal yang serius.
Pelayan itu, bukan kah pelayan biasa. Dia anak buah Verrel yang menyamar menjadi seorang pelayan.
Semua itu di lakukan untuk mendeteksi musuh yang mungkin mencoba menyamar masuk ke dalam kompleksnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments