Bukannya mengakhiri, menarik bibirnya dari kening Arnita, Restu malah sengaja menciptakan ciu-man lebih dalam di sana. Kedua tangannya tetap bertahan di pinggir meja mesin jahit.
Lain dengan Restu yang menikmati kebersamaan kini, Arnita malah makin kacau. Masalahnya, selain sampai tidak bisa berkata-kata, Arnita juga membatu. Tubuh Arnita sama sekali tidak bisa bergerak apalagi menghindar. Barulah ketika perlahan bibir Restu turun, mengabsen di sekitar sana dengan ciu-man dan akhirnya sampai di bibir Arnita, Arnita seolah mendapatkan keajaiban untuk menghindar.
Setelah agak memundurkan wajah karena hanya itu yang bisa dilakukan, Arnita refleks menelan ludahnya. “Kita masih harus cari Lia, kan?” tanyanya benar-benar gugup tanpa berani menatap Restu yang masih ada di hadapannya. Melalui lirikan yang benar-benar kilat, ia bisa melihatnya.
Tanpa menjawab, Restu telanjur larut, terus memandangi setiap lekuk wajah Arnita khususnya bibir dan kedua mata wanita itu. Arnita memang tidak begitu cantik seperti Azelia, tapi Restu berpikir itu terjadi karena Arnita belum melakukan semacam perawatan. Iya, ... Restu membenarkan anggapannya. Sebab meski wajah Arnita masih dihiasi bekas lebam, wajah itu tetap terlihat cantik.
Yang ada, perlahan Restu mendapatkan ketenangan tersendiri hanya karena memandangi wajah Arnita. Ia menjadi betah, tak mau mengakhiri pandangannya. Sebab memandangi wajah Arnita membuatnya melupakan semua beban sekaligus masalahnya, termasuk itu mengenai Azelia yang menjadi alasan mereka sedekat sekarang. Restu sadar ketika tangan kanannya yang telah lebih dulu meletakan asal ponselnya di meja jahit, juga sengaja mengambil ponsel Arnita dan turut meletakkannya asal di meja jahit sebelah ponselnya.
Padahal di layar ponsel Arnita yang belum sempat mereka lihat, beranda fb di sana dihiasi beberapa foto Azelia dan banyak orang sebayanya. Keterangan Reuni dadakan sahabat SMA, menjadi judul dari album tersebut. Iya, album karena jumlah foto suasana kebersamaan dan dilakukan di sebuah rumah makan lesehan, dalam jumlah banyak. Dari semua foto yang ada, Azelia yang sampai ganti pakaian dari pakaian pagi tadi ketika dirinya di toko kue, terlihat sangat bahagia di sisi seorang pria berkulit sawo matang. Yang mana dari semua wanita yang ada, Azelia terlihat paling cantik, necis, sekaligus terawat.
Foto-foto acara reuni yang Azelia jalani tak hanya diambil di malam hari. Sebab beberapa di antaranya juga dilakukan di sore hari. Suasana angin kencang lengkap dengan hujan, menjadi beberapa latar foto. Dan semua itu tidak langsung diunggah oleh akun Azelia. Akun Azelia hanya ditandai.
Kemudian, Restu benar-benar melu-mat lembut bibir Arnita, membimbingnya untuk membalas seiring kedua tangannya yang juga dengan cekatan melepas setiap kaitan kancing piama lengan panjang Arnita.
“Ini yang aku takutkan kalau bareng Mas Restu apalagi kalau sampai malam-malam begini. Aku enggak mungkin bisa menolak karena aku memang enggak punya alasan untuk melakukannya. Mas Restu berhak melakukannya, *memilik*iku semaunya,” batin Arnita yang sudah langsung panas dingin. Arnita tak hanya kacau, tapi mirip orang demam.
Beberapa kali tubuh Arnita menggeliat mirip tersetrum, menahan geli yang juga bercampur dengan rasa nikmat. Rasa nikmat yang juga menjadi candu, membuat Arnita merasa ingin mendapatkannya lebih atas kesibukan Restu memilikinya. Seperti yang Arnita mau walau ia tak mengatakannya karena yang ada mulutnya bungkam seribu bahasa, Restu mengabsen setiap lekuk tubuhnya melalui ciu-man, his-sapan, bela-ian, dan kadang rema-san. Tak ada yang tidak terjamah apalagi setelah pria itu membopongnya, membawanya ke tempat tidur.
Di tempat berbeda, di tengah gerimis yang masih mengguyur malam dan membuat suasana makin dingin hingga menusuk sendi bahkan tulang, motor matic warna hitam yang membonceng Azeli menepi di depan sebuah rumah gedong tapi tidak sebagus rumah Azelia. Bahkan jika dibandingkan dengan kontrakan Arnita dan Restu tengah memadu cinta, rumah tersebut juga tidak lebih mewah.
Azelia memang sampai memakai payung, tapi nasibnya tidak jauh berbeda dari si pria yang membonceng. Termasuk meski Azelia sampai memakai jaket kulit warna hitam milik si pria yang sangat kedodoran di tubuhnya.
Pria yang bersama Azelia langsung merangkul Azelua kemudian meletakan payungnya di teras rumah yang tak luput basah. Malahan berdalih licin, si pria yang tidak lain mantan terindah Azelia, merangkulnya erat. Azelia memanfaatkan kesempatan itu untuk melam-piaskan hasratnya. Azelia sungguh tengah haus kasih sayang dari laki-laki lain, setelah Restu yang biasanya memberinya malah telah tidur bahkan membagi kehidupannya dengan Arnita. Tanpa peduli alasan keduanya akhirnya sampai di titik itu, pada kenyataannya Azelia telanjur dendam. Azelia ingin membalas Restu dengan memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Pemikiran yang tak seharusnya ada karena selain ia paham agama, Azelia juga masih resmi menjadi istri Restu.
Si pria bertubuh tinggi tapi tak setegap Restu karena perutnya saja terbilang buncit, buru-buru membuka pintu. Sudah pukul setengah sepuluh malam lebih ketika Azelia mendapati waktu di jam dinding yang menghiasi ruangan pertama di rumah tersebut. Ruangan yang juga menjadi ruang tamu sekaligus ruang keluarga di rumah yang ia kunjungi itu.
“Rumah kok sepi banget? Memangnya enggak ada yang jagain mamah kamu? Apa mereka sudah pada tidur?” tanya Azelia lirih. Niatnya mampir ke sana karena ia akan menemui mamah sang mantan yang sedang sakit. Bahkan karena di masa lalu pernah dekat, ia berniat menginap untuk ikut menjaga, ada tidaknya izin dari Restu.
“Aku lupa kalau sebenarnya mamah aku ada di rumah mbak aku yang di dekat pasar. Awalnya aku mau ajak kamu ke sana, tapi kan dari tadi hujan terus. Aku enggak mau kamu sakit, paling bentar tunggu hujannya reda, ya?” ucap si pria lembut sembari menyeka setiap air hujan di wajah Azelia menggunakan kedua tangannya. “Di rumah lagi enggak ada orang, makanya sepi.”
“Kamu perhatian banget sih ke aku?” keluh Azelia tiba-tiba yang mendadak rapuh. Azelia sampai menangis dan itu membuat si mantan makin perhatian. Perhatian yang tentu saja bukan tempatnya karena pria tersebut tahu, Azelia sudah menikah dan statusnya masih resmi sebagai istri orang.
“Sebenarnya kamu ada masalah apa? Ayo jujur, kenapa kamu sesedih ini, tapi tetap enggak cerita ke aku?” ucap si pria yang menjadi membingkai erat wajah Azelia menggunakan kedua tangannya. Ia merapatkan wajah mereka hingga nyaris tak berjarak. Kedua mata Azelia yang basah jelas mengemis kasih sayang sekaligus perlindungan bahkan, pengakuan. Ia paham.
“Memangnya kamu enggak tahu, soalnya tadi beberapa dari teman kita pas reuni juga ada yang menyinggung,” rengek Azelia, mengadu terisak-isak.
Si pria yang masih menatap lekat kedua mata Azelia, langsung menggeleng tegas. Ia menelan ludahnya dan membiarkan Azelia lanjut cerita, memasrahkan semuanya kepadanya.
“Suamiku ... suamiku ... dia sama wanita lain, ... sama Nita, ... mereka sampai diarak warga dan dinikahkan paksa, kan!”
“S-serius ...? Tega banget mereka? Baji-ngan banget sih suami kamu!”
Azelia yang sudah tidak sanggup dan air matanya makin sibuk berjatuhan, langsung memeluk erat si pria. Tentunya, si pria yang diam-diam tersenyum puas, langsung memeluk Azelia sangat erat. Ia menci-um ubun-ubun Azelia yang masih dilindungi
jilbab. Di sana benar-benar wangi. Lebih tepatnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki Azelia memang berbeda dari wanita kebanyakan di desa mereka tinggal, mengingat Azelia rajin melakukan perawatan. Sebab setelah memiliki suami orang kota sekaligus kaya yaitu Restu yang tengah Azelia keluhkan telah mendua, hidup Azelia berubah drastis tak ubahnya kehidupan seorang cinderella.
Setelah puas bercerita dan si pria pun terus menanggapi penuh perhatian, Azelia menarik dirinya secara perlahan. Azelia meminta maaf, tapi kesempatan tersebut menjadi kesempatan emas untuk si pria. Mantan terindah Azelia tersebut sengaja menarik Azelia untuk jatuh lebih dalam kepadanya. Melihat kondisi Azelia yang tampak begitu kalut, ia tak segan langsung men-cium bibir wanita cantik itu. Bibir yang juga langsung membuatnya ma-buk kepayang apalagi Azelia tak segan membalas, membuatnya makin menikmati permainan mereka. Malahan, suasana yang mendukung karena di sana juga hanya ada mereka, si pria tak segan memboyong Azelia ke kamar sebelah, persis seperti yang Restu lakukan kepada Arnita. Bedanya, hubungannya dan Azelia tanpa ikatan sementara Azelia jelas masih istri orang.
Azelia sadar apa yang ia lakukan. Malahan ia menikmati, merasa puas karena dalam sekali dayung, ia juga merasa dendamnya kepada Restu telah terbalas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Delfianti
sudah sesat agama azelia. masak orang beragama balas dendam nya dg berzina.alimnya azelia menutupi kebusukannya. 1. pas malam pertama tidak perawan
2. mau bersina.
2025-02-26
0
Nadiyah1511
keliru balas dendam mu li..lah mereka Krn d jebak..lah kamu dngn sadar berzina...atuh malu Sam kerudungmu...astagfirullah
2024-03-31
1
Eka suci
tetangga ku ada yg suaminya selingkuh bukannya si istri kenapa suaminya haus perhatian dia malah balas dendam hancur tu rumah tangga yg jadi korban anaknya, si Lia kan mantan gadis Badung yg cuma insaf di muka pencitraan
2024-03-02
0