“Sekalian beli yang banyak biar kamu enggak bolak-balik keluar,” ucap Restu yang sudah berdiri di belakang Arnita.
Arnita yang awalnya sedang merenung serius, refleks terlonjak karena kaget. Untung saja Arnita tidak sampai jatuh karena tangan kanan Restu dengan sigap menahan sebelah lengan Arnita. Selain kedua mata mereka menjadi saling bertatapan, mereka yang seketika terdiam juga sampai mendengar detak jantung satu sama lain. Iya, diposisikan layaknya sekarang dan membuat tatapan mereka saling bertatap intens, membuat jantung mereka berdetak lebih kencang.
Setelah Arnita lebih dulu mengerjap kemudian berdeham, Restu menatap bingung Arnita lantaran baginya, ia tidak sampai mengejutkan Arnita. Bahkan berbicara pun, ia melakukannya dengan lirih. Atau mungkin, efek kedatangannya yang tak Arnita sadari hingga Arnita yang telanjur fokus, langsung terkejut ketika tahu ternyata ada orang lain di sana dan itu dirinya? Pikir Restu.
“Mas kebiasaan, hobi banget bikin kaget!” kesal Arnita dengan suara lirih dan langsung menjaga jarak. Namun, Restu malah terus mengikuti. Seolah, dalam diri Arnita, ada magnet berkutub berbeda dengan kutub di magnet tubuh Restu, hingga Restu juga terus mendekat karena tertarik.
“Kita pulang sekalian. Kamu mau pilih mana saja? Butuh yang lain juga enggak, soalnya sudah ditunggu,” sergah Restu karena sepanjang mengikuti, Arnita malah terkesan sengaja terus menghindarinya. Wanita itu masih begitu canggung dan malah menjadi berbakat menjaga jarak darinya.
“Memangnya tadi, Mas datang sama siapa? Yang nunggu, ... yang tadi itu?” tanya Arnita yang akhirnya berhenti melangkah. Toh, mereka sudah ada di lorong paling belakang, sedangkan pegawai yang mengikuti juga tampak lelah.
Restu menjelaskan, dan Arnita langsung paham. Jadilah Arnita mempercepat belanjanya. Arnita memilih dua kain khusus untuknya membuat blazer yang sudah ia rancang secara khusus.
“Ini kalau dibikin paling cuma jadi satu, kan?” ucap Restu sebelum Arnita membawa bahannya ke kasir.
Arnita akan menjawab dengan tegas, tapi mendadak tertahan di tenggorokan lantaran ia tak mungkin jujur, bahwa uang yang dimiliki tidak mencukupi jika sampai membeli barang dalam jumlah banyak. Malahan, sebelum ia membalas, Restu sudah cerewet dan berdalih akan membayarkan semua belanjaan Arnita.
“Loh, kok Mas yang bayarin? Kan aku yang belanja dan lagian, ... Mas sudah kasih aku banyak banget,” keluh Arnita.
“Masa iya aku minta mas ini (pekerja toko yang mengikuti mereka), yang bayar? Yang suami kamu kan aku. Ya tentu aku yang bayar!” tegas Restu sewot.
Restu sewot dan makin cerewet, tapi di mata Arnita malah terasa menggemaskan, manis, sekaligus romantis.
“Asli Mas Restu beneran romantis, semanis ini. Namun tetap saja, efek Mas Restu bukan hanya suamiku, rasanya tetap aneh,” batin Arnita.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka sungguh satu mobil. Arnita duduk di sebelah Restu yang menyetir. Sementara di belakang ada bi Ade, sang suami dan juga sang anak yang mulai gelisah karena efek biusnya sudah habis.
“Jangankan ke istri, ke yang kerja di rumahnya saja, Mas Restu baik banget,” batin Arnita yang tak sampai tahu jika semua biaya sunat anak bi Ade, membeli pakaian bi Ade sekeluarga, juga masih Restu yang bayar. “Enggak kebayang jadi Lia yang mendadak harus berbagi suami sebaik ini. Pasti syok banget!” batin Arnita lagi yang mendadak ingat Azelia. Namun ia juga penasaran, kenapa Azelia tak sampai ikut dan malah Restu yang sibuk? Padahal harusnya jika akan membantu, Azelia lah yang sibuk, bukan Restu.
***
Untuk pertama kalinya, Arnita dan Restu tampil berdua setelah mereka menikah. Tanpa Azelia, semuanya yang ada di sana dan kebetulan sedang rewang, makin mengkhawatirkan nasib istri pertama Restu itu. Namun untuk kali ini, Arnita sungguh sudah menjalani jurus masa bodonya.
Arnita tetap duduk di sebelah Restu karena meski awalnya sudah menjaga jarak, pria itu tetap geser mendekatinya. Mereka duduk di risban ruang tamu kediaman bi Ade yang terbilang sederhana. Sebab selain berdinding bilik dan itu sudah tampak tua, beberapa di antaranya juga tampak rapuh dan sudah ditahan menggunakan kayu maupun bambu, dari luarnya.
“Mas, sudah sering ke sini?” lirih Arnita sengaja memecahkan keheningan sekaligus ketegangan. Sebab duduk hanya berdua dengan Restu dan itu dalam keadaan sepi, benar-benar membuatnya tegang. Ia sampai panas dingin dan juga berkeringat.
“Baru kali ini,” ucap Restu jujur kemudian mengentak-entakan pelan kedua kakinya yang diserang pasukan nyamuk. Mungkin efek ia memakai celana panjang warna hitam, makanya nyamuk yang suka warna gelap betah menyerang.
Jujur, ulah Restu yang tampak susah payah berusaha ramah menyesuaikan diri dengan keadaan di sana malah terasa lucu untuk seorang Arnita. Wanita yang sama sekali tidak merias wajah hingga bekas lebam yang masih tersisa di wajahnya tampak sangat jelas, menjadi sibuk menahan tawa. Arnita sampai harus memalingkan wajah dari Restu guna menyembunyikan senyumnya.
Walau anak bi Ade telah sunat, tampaknya tidak akan ada hajatan karena semacam tratag atau tenda tidak dipasang. Malahan kini, bi Ade sendiri yang mengantarkan dua gelas teh berteman kue bolu panggang yang masih panas. Yang rewang masih sibuk di belakang dan memang terdengar sibuk menyiapkan segala keperluan masak-masak untuk selamatan.
“Duh Bu Ade, maaf banget ini, ... jadi ngerepotin,” ucap Arnita yang langsung berdiri, mengambil setiap gelas kemudian ia suguhkan kepada Restu maupun dirinya. Termasuk juga sepiring bolu panggang yang harumnya sangat khas, ia sendiri yang meletakannya di meja menyisakan nampan yang tetap di tangan bi Ade.
“Sama sekali enggak ngerepotin kok, Bun. Ya sudah, monggo dicicipi. Eh, maksud saya dihabiskan. Maaf hanya ala kadarnya,” ucap bi Ade yang langsung duduk di risban satunya lagi. Tak beda dengan Arnita yang tersenyum canggung kepadanya, ia juga menjadi tersenyum canggung lantaran biasanya, meski sama-sama istri Restu, Azelia tak sampai meladeni Restu secara langsung jika sedang di tempat umum layaknya sekarang.
Sambil memberikan satu gelas teh beralas lambar kepada Restu, Arnita kembali mengucapkan terima kasih kepada bi Ade atas jamuan yang wanita itu berikan. Tak lama setelah bi Ade masuk, Arnita menyusul sambil tetap mengikutkan tas yang menghiasi pundak kanannya.
Arnita memberikan semacam pesangon kepada anak bi Ade yang tengah istirahat di amben yang ada di salah satu kamar sederhana di dalam.
“Enggak usah, Bun. Mas Restu saja sudah kasih banyak banget. Dibayarin sunat, dibeliin baju juga banyak, ... uang selamatan juga dikasih. Saya bingung balasnya gimana,” keluh bi Ade mencoba menolak pemberian Arnita.
“Rezeki jangan ditolak, Bu. Ini buat anak Ibu. Enggak tiap hari juga. Cepat sembuh yah, Mas!” ucap Arnita tetap memberikan pesangonnya kepada anak bi Ade.
“Maturnuwun banget, Bun!” ucap bi Ade berkaca-kaca saking terharunya. Kesabarannya menunggu haknya yang digantung Azelia malah berbuah manis. Ia pun segera meminta sang anak untuk menyalami tangan kanan Arnita dengan takzim sambil mengucapkan terima kasih.
Kembalinya Arnita yang tak disertai bi Ade, membuatnya memergoki sang suami tengah melahap setiap potongan kue bolu. Restu terlihat sangat kelaparan dan itu membuatnya kasihan.
“Si Lia beneran menelantarkan Mas Restu apa gimana, ya? Kok kayaknya tiap hari Mas Restu dibuat kelaparan gitu. Padahal kalau aku perhatikan, Mas Restu tipikal pemilih dan belum terbiasa dengan kehidupan rakyat kecil,” batin Arnita. Ia sengaja menunggu dan tak langsung menghampiri Restu takut kehadirannya membuat Restu malu. “Biarin Mas Restu kenyang dulu,” pikirnya.
Sekitar lima menit kemudian dan Arnita pun sampai kembali mengobrol dengan bi Ade, wanita itu baru berani menghampiri Restu. Pria itu menatapnya heran, mungkin karena kepergiannya terbilang lama.
Sepiring bolu panggang yang disuguhkan tinggal setengah kurang. Arnita sampai memberikan minuman miliknya kepada Restu karena memakan bolu sebanyak itu pasti seret. Tak lupa, ia juga mengeluarkan tisu kotak berukuran kecil dari tas di pundak kanannya kepada Restu. Ada beberapa serpihan bolu yang tertinggal di bibir berisi pria itu maupun dagunya.
“Masa separah itu?” Antara tak percaya sekaligus malu, itulah yang Restu rasakan saat ini. Ia mencoba menatap, memastikan bagian yang Arnita kabarkan dihiasi serpihan kue bolu panggang. Benar saja, istri mudanya tidak mengada-ngada.
“Masih ada, sini sebentar. Maaf ...,” ucap Arnita terpaksa membantu membersihkannya lantaran takut jika ia biarkan, malah akan membuat Restu malu.
Kenyataan kini tak hanya membuat Restu kikuk. Sebab Arnita pun melakukannya sambil menahan rasa gugup.
“Kalau urusan Mas di sini sudah beres, aku mau pulang. Aku mau masak. Mas, sudah makan belum? Kalau belum, nanti aku masak sekalian. Apa mau dibikin bekal saja?” ucap Arnita sambil duduk dan sengaja menjaga jarak, guna mencairkan suasana yang mendadak membeku akibat adegan lap bibir yang ia lakukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Memyr 67
azelia ini. ilmu agamanya benar benar cuma sampai hijab? atau malah nggak tau alasan harus berhijab, cuma ikut ikutan? badan dihijab, klakuan bebas, nggak mikir perasaan orang. egois. novel dengan tokoh wanita berhijab paling egois, yg pernah aq baca.
2024-11-02
0
Dewa Rana
kok pesangon Thor
2024-12-01
0
devaloka
jor azelia dari luar kek malaikat dalam busuk banget
2023-12-05
5