“Aku sudah tahu semuanya.” Azelia menunduk dingin dan tak sudi menatap Restu.
Sore menjelang petang, Azelia yang baru pulang langsung dimintai waktu oleh Restu. Pria yang tentu saja masih resmi menjadi suaminya itu mengajaknya berbicara empat mata. Restu yang awalnya tengah sibuk di ruang kerja pria itu, membuatkannya teh hangat terlebih dahulu sebelum mereka duduk berhadapan layaknya sekarang.
Restu menatap teduh wanita berhijab cokelat muda di hadapannya. “Kamu enggak mau mendengarkan penjelasan dariku? Kamu beneran enggak mau mendengar semuanya dariku?”
Azelia tetap menunduk dalam, menegaskan kekecewaan yang tengah ia pendam.
“Hampir enam tahun bersama, pernikahan kita sudah berjalan empat tahun, tapi selama ini kamu belum pernah bertanya, apakah aku baik-baik saja? Apakah aku bahagia?” ucap Restu yang jujur saja nelangsa karena kenyataan tersebut memang bagian dari bentuk protesnya kepada Azelia. Selama ini ia begitu memanjakan Azelia, tapi tak pernah sekalipun wanitanya itu melakukan apa yang baru saja ia keluhkan.
Kadang Restu berpikir, yang berjuang sekaligus mau rumah tangga mereka ada, hanya dirinya. Azelia dengan segala obsesinya tetap abai, terus membangun tangga menuju tingkatan lebih tinggi, hingga ia yang menjadi setiap jembatan keinginan wanita itu malah tertinggal, dan itu karena sengaja Azelia tinggal.
“Sekali-kali, coba minta aku buat cerita, Li. Bukankah selama ini, enggak ada satu pun yang enggak buat kamu?” Restu masih berucap lembut, benar-benar tulus. Begitupun dengan tatapannya kepada Azelia, walau istrinya itu sibuk menepisnya. Hingga terpikir olehnya, bahwa tanpa ia sadari, selama ini caranya mencintai Azelia malah salah.
“Malam itu pun posisinya aku baru pulang dari Jakarta. Dua hari dua malam aku enggak tidur demi beresin pekerjaan di Jakarta karena kamu mewajibkanku pulang buat kondangan ke pernikahan Nita.” Restu masih sangat sabar menunggu tanggapan berarti dari Azelia yang selama ini belum mau menatapnya. Azelia terlihat jelas kecewa kepadanya.
“Malam itu sekitar pukul sebelas apa mau dua belas malam, kan? Rasanya capek banget dan memang meriang, tapi kamu minta aku buat antar pesanan kue orang tua Nita. Pas aku tanya memang ada yang menerima soalnya sudah semalam itu, enggak paginya apa subuh-subuh saja? Kamu bilang sudah ditungguin dan hajatan di kampung orang rewangnya biasanya nyaris non-stop,” lanjut Restu. “Karenanya, aku tetap enggak menolak, demi kamu dan masa depan usaha sekaligus karier kamu.”
“Li ...,” panggil Restu masih lirih sekaligus sabar lantaran Azelia tetap abai. Padahal seabai dan seberapa pun sibuk Arnita menghindarinya, wanita yang terpaksa ia nikahi itu tak membiarkannya berjuang sendiri. Arnita ikut berjuang mengusut kasus mereka. Juga, wanita itu tak membiarkannya kelaparan dan akan selalu memasak untuknya meski Arnita juga selalu sibuk menjaga jarak darinya.
“Aku beneran masih syok, Mas! Bayangin, ... niat hati kondangan ke nikahan sahabat, eh mempelai laki-lakinya malah suamiku sendiri!” kesal Azelia berderai air mata menatap Restu. Baginya, Restu benar-benar tidak berperasaan dan tak lagi sepengertian biasanya.
Restu mengangguk-angguk. Ia paham dengan perasaan Azelia sekarang. “Kamu enggak lupa kalau awalnya, kamu yang memaksaku menikahi Nita, kan? Kamu dan Juan berlomba-lomba memojokkanku dan Nita. Ingat?”
“Please, Mas. Aku ini korban. Tolong jangan bikin aku makin kena mental! Bayangin saja, rumah tanggaku yang awalnya baik-baik saja, tapi tiba-tiba suamiku tidur dengan sahabatku sendiri!” Walau sang suami masih berucap lirih sekaligus sangat sabar, kenyataan tersebut sama sekali tidak bisa meredam emosi seorang Azelia yang telanjur kecewa.
Untuk pertama kalinya di kebersamaan mereka, Restu menitikkan air mata. Ia paham bagaimana perasaan Azelia sekarang. Kenyataan yang juga sangat ia takutkan. Juga, kenyataan yang menjadi alasan kuat untuknya melepaskannya.
“Jadi sekarang, mau kamu bagaimana? Kamu tahu aku lebih dari siapa pun. Kamu tahu aku enggak akan memaksamu bertahan jika itu hanya menyakitimu,” ucap Restu lirih lantaran suaranya tertahan di tenggorokan. Terlebih meski ia sudah berusaha tegar, semuanya tetap terasa sangat menyakitkan. Kini, ada dua pihak yang akan langsung terluka di setiap tindakan sekaligus keputusan yang ia ambil.
“Aku tahu kamu terluka. Aku tahu kamu kecewa karena aku apalagi Nita juga, Li!”
“Aku enggak mau cerai!” sergah Azelia memotong ucapan Restu. Di hadapannya, Restu masih menatapnya. Pria itu menatapnya dengan lebih intens, seolah sedang mencari celah dari pengakuannya. “Aku enggak mau cerai, Mas!”
“Kenapa? Karena kamu ingin balas dendam kepadaku apalagi Nita? Jika itu memang tujuanmu, yang ada kamu akan makin terluka, Li,” ucap Restu.
Azelia merasa tertam-par mendengarnya. Namun sedetik kemudian, ia menyeringai. “Jadi, sekarang kamu lebih percaya ke dia ketimbang aku yang sudah bersamamu enam tahun lamanya dan selama empat tahun ini, menjadi istrimu?”
“Dia ... maksud kamu, ... Nita?” tebak Restu dan hanya dibalas senyum geli oleh Azelia yang langsung bersedekap.
“Memangnya siapa lagi kalau bukan dia?” lirih Azelia yang kali ini sewot.
Restu menggeleng tak habis pikir. Ia menghela napas dalam, mengempaskan punggungnya pada sandaran kursi kayu di sana dengan pelan, kemudian mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan. Menggunakan kedua jemari tangannya, ia juga menyeka air matanya.
“Aku enggak mungkin bilang kalau sebenarnya, Arnita ngotot minta cerai. Aku juga enggak mungkin bilang aku sengaja menahan Arnita, memastikannya apakah nantinya dia benar-benar hamil kepada Lia karena ini bisa jadi bumerang hubungan kami. Semuanya tinggal menunggu waktu saja,” batin Restu.
“Dia sudah mengadu macam-macam kan?” sergah Azelia.
“Jadi, kamu benar-benar sudah pernah mengancamnya?” balas Restu kali ini berucap tegas. Di hadapannya, Azelia langsung tidak diam dan malah meliriknya sinis. Kenyataan tersebut sudah menegaskan, Azelia sudah melakukan kesalahan besar. Wanita itu mengingkari janji mereka yang akan tetap memperlakukan Arnita dengan baik.
“Jadi, sekarang mau kamu apa karena aku yakin, enggak ada wanita yang mau dipoligami? Dan aku juga sadar, seberapa pun keras aku berusaha adil, semua itu akan tetap menyakiti kalian.” Restu benar-benar memberikan pilihan, tapi Azelia tak sedikit pun memberinya pilihan bahkan saran.
“Kamu mau minta apa? Kenapa kamu enggak minta aku buat menceraikan Nita?” lanjut Restu.
“Aku hanya ingin memperjuangkan hakku, Mas!” sergah Azelia.
“Hak yang kamu maksud di sini, apa? Memangnya selama ini aku enggak kasih kamu kehidupan layak apalagi nafkah cukup?” balas Restu sungguh ingin tahu.
Lagi-lagi Azelia tidak menjawab.
Restu menghela napas dalam kemudian kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi ia duduk. Obrolan empat mata kali ini belum mendapatkan hasil karena selain Azelia tidak mau dicerai, tampaknya wanita itu masih malu untuk jujur mengungkap segala tuntutan dan Azelia maksud haknya sebagai istri Restu. Restu memang bisa saja kasar, tapi ia tidak mungkin melakukannya karena itu bisa berdampak kepada Arnita. Belum lagi, ia dan Azelia memulai semuanya dengan baik-baik. Karenanya, Restu juga ingin menyelesaikan semuanya termasuk dalam menutup hubungan mereka, dengan baik-baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Wurry
ini umur Azelia berapa ya, koq sdh bersama 6 thn dan 4 thn nikah dgn Restu, sdgkn Arnita msh umur 22 thn, usia mhsw, kalo mereka sahabatan tp umur ga sepadan/sepantar berarti bukan tmn sekolah ya, krn kalo umur sm dgn Arnita, Azelia 22 thn, tdk mungkin, masak Azelia umur 18 thn nikah sm Restu, sdg sblmnya sdh pacaran 2 thn, yg artinya 16 thn, dan diceritakan dulu di saat SMA sj sdh tdk perawan dgn pacarnya dan itu bukan Restu..
jadi asal mereka bersahabat drmn? penasaran pen tau..
2024-01-16
1
Dwi Setyaningrum
disini semua korban azelia,restu dan terutama arnita Krn yg paling dirugikan ya arnita jd MB azelia hrsnya smpean lbh bisa merangkul arnita dan terus mendampingi restu kalau km bnr2 mencintai restu jd hrs trima segala suka d dukanya dong msk hanya mau sukanya aja..istilahnya hrs legowo Krn disini azelia tahu itu bukan disengaja utk menikah lg tp dipaksa..trus mintamu apa Lia..jgn merasa menjd korban sndr lah..disini yg paling dirugikan kan arnita🤔🤪
2023-11-04
1
Sandisalbiah
Azela terluka, merasa dihianati... wajar empat thn pernikahanya tiba² di tampar kenyataan suami yg terjebak dgn sahabatnya sendiri hingga harus menikah lagi... lalu Arnita... jelas dia korban tp krn posisinya yg menyebabkan dia tetap dipersalahkan, konon lagi Restu... jika saling mengingat bahwa tidak ada yg namanya kebetulan dlm dunia ini melainkan takdir dr Allah... dan saling mencoba buat bersabar dan berserah diri kepada ketentuan - NYA.. tp balik lagi... mereka cuma manusia biasa yg kadang lebih mengutamakan emosi dr pd belajar merenunginya... dan itu manusiawi
2023-10-30
1