POV AUTHOR
Pagi itu Lidya terlihat sangat sibuk karena warungnya sudah diserbu banyak pembeli. Karena sebelumnya dia sudah tes pasar, para tetangga pun tak ragu untuk datang dan membeli dagangannya.
Sementara dirinya sibuk, bersyukur anak-anaknya dijaga oleh Bu Anna. Wanita itu menawarkan diri untuk menjaga tiga anaknya yang nyatanya memang patuh dan tidak banyak tingkah.
"Mbak, saya pesen dua dibungkus."
"Mbak saya pesen tiga dibungkus."
"Mbak saya pesen lima dibungkus."
"Mana Mbak punya saya kok lama banget."
"Mbak udah selesai, semuanya berapa?"
"Mbak, cepetan dong, saya ditungguin nih."
Lidya tampak kerepotan karena dia bekerja seorang diri. Hingga salah satu tetangganya yang memperhatikan langsung menawarkan diri untuk membantu Lidya.
Tanpa pikir panjang, Lidya pun mempersilahkan tetangganya itu untuk ikut membantunya melayani para pembeli.
Hingga dua jam kemudian, makanan sudah habis tak bersisa. Lidya mendudukkan dirinya yang begitu lelah karena berjam-jam berdiri. Berpacu dengan waktu dan kecekatan tangan yang paling menentukan.
"Alhamdulillah, semuanya habis. Makasih Mbak Laras, sudah membantu saya," ujar Lidya sambil tersenyum pada Laras, tetangganya yang berusia sekitar tiga puluh tahun.
"Sama-sama, Lid. Kita kan tetangga."
"Ini buat Mbak, diterima, ya." Lidya menyodorkan uang sebesar seratus ribu rupiah pada Laras.
"Aduh, nggak usah, Lid, saya seneng kok bantu-bantu kamu. Saya ikhlas," ucapnya seraya menolak pemberian Lidya.
"Jangan, Mbak. Kalau Mbak tolak, nanti saya yang nggak enak. Ayolah, Mbak, terima aja," ujar Lidya sedikit memaksa hingga Laras pun terpaksa menerimanya.
"Ras, kalau kamu nggak ada kegiatan di rumah mending kamu bantuin Lidya jualan aja. Kan lumayan buat ditabung," ujar Bu Anna pada Laras. Meski suami Laras adalah seorang pekerja pertambangan yang mengharuskan mereka menjalani LDM. Tentu saja uang kiriman dari suami Laras sangatlah banyak dan cukup untuknya dan kedua anaknya. Namun tidak ada salahnya jika Laras mencari kegiatan untuk mengisi waktu luang.
"Iya, Mbak, saya juga bakalan senang banget kalau mbak Laras mau bantu-bantu saya di sini."
"Ya udah, deh, mulai besok pagi saya akan bantuin kamu, Lid." Akhirnya Laras setuju untuk bekerja dengan Lidya mulai besok.
Setelah selesai beres-beres dan menghitung keuntungan hari ini, Lidya pun tersenyum senang karena keuntungan hari ini sangatlah banyak. Bahkan dia merasa menyesal kenapa tidak dari dulu saja berjualan seperti ini.
"Kalau tahu hidupku bisa semudah ini, pasti sudah dari dulu aku meminta cerai dari Mas Radit. Ah, aku sampai lupa mengabari Mbak Hera."
Lidya yang baru teringat dengan mantan kakak iparnya itu pun langsung membuka ponselnya dan mencari nama Hera di sosial media. Untunglah ketemu dan keadaannya sedang online.
Dia pun segera mengirimkan pesan pribadi pada Hera.
"Mbak Hera, apa kabar?"
[Baik, ini siapa?]
"Aku Lidya Mbak. Aku sengaja nggak pakai foto karena nggak ingin orang-orang mengenaliku."
[Hah, serius Lidya? Mana coba pap dulu.]
Lidya pun segera berfoto bersama ketiga anaknya dan mengirimkannya pada Hera.
[Astaghfirullah, jadi beneran kamu, Lid. Sini nomor hp kamu. Mbak mau telepon.]
Lidya pun segera memberikan nomor ponselnya pada Hera. Hingga tak berselang lama, masuklah sebuah panggilan dari nomor yang diduga adalah nomor Hera.
Lidya pun segera mengangkatnya. Dia sungguh tak sabar menceritakan semuanya pada Hera. Kejadian yang menimpa dirinya dan dan ketiga anaknya karena Radit berselingkuh dengan Tia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Tati st🍒🍒🍒
jangan menyesali pernikahan mu lidia,anggaplah kegagalan sebagai jalan atau pelajaran untuk lebih dewasa dan lebih baik
2023-02-06
0
Santi Eprilianti
apa ada campur tangan fikri ya ko kyanya kehidupan lidya jadi lancar banget,,
tapi bagus deh klo ada yg bantu🤭🤭🤭
2023-02-06
1
Ayas Waty
terimakasih ya mbak Hera
2023-02-06
0