Meminta Hak

Malam harinya, ketika anak-anakku sudah tertidur lelap, aku yang baru saja selesai menyetrika pakaian pun langsung menghampiri Mas Radit yang sedang bermain game di kamar kakaknya.

"Mas, aku mau bicara sebentar," ucapku sambil duduk di sampingnya.

"Ngomong yang ngomong aja tapi nggak usah dekat-dekat." Tanpa menoleh ke arahku, Mas Radit menggeser badannya menjauhiku. Sepertinya dia tidak nyaman dengan wangi tubuhku yang kurang sedap karena bercampur dengan keringat sehabis lelah menyetrika tadi.

Aku pun juga membuat jarak dengannya. Setelah memastikan bahwa ibu mertuaku sudah tidur, aku pun mulai mengutarakan isi hatiku badannya.

"Mas, aku mau mulai bulan depan kamu ngasih aku jatah bulanan," ucap Lidya dengan tatapan penuh keraguan. Meskipun dalam hatinya mengatakan bahwa ini tidak akan berhasil, namun apa salahnya mencoba?

Mas Radit yang mendengar ucapanku langsung menoleh ke arahku sekilas, lalu kembali menatap layar pipih di depannya itu.

"Jangan ngaco kamu. Sejak kapan aku menuruti ucapan kamu?" Mas Radit tertawa kecil, namun itu terlihat seperti ejekan.

"Aku juga ingin membeli kebutuhanku dan juga anak-anak kita, Mas. Logika aja, beliin deodorant buat aku aja kamu nggak mau. Sekarang kamu bisa nyium bukan aroma nggak sedap dari aku."

Mas Radit mencebikkan bibirnya sambil meletakkan ponselnya ke sampingnya. Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia kalah dalam permainan game itu.

Game yang selalu membuatnya lupa akan waktu. Bahkan tak peduli dengan keadaan sekitar.

"Udah, deh, diem. Aku masih mau sama kamu aja udah mending. Lihat dong, semua teman-teman aku istrinya itu cantik. Lah kamu? Lebih pantes jadi pembantu." Mas Radit menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan.

"Siapa, Mas? Elly istrinya Aldo? Aku dengar perawatannya sebulan aja lima juta. Vita istrinya Juna? Di rumahnya aja ada tiga pembantu. Atau si Maya istrinya Soleh? Yang tiap Minggu diajak jalan-jalan sama suaminya?" tanyaku sambil menyindir Mas Radit. Mencoba membandingkannya dengan teman-temannya yang memperlakukan istri dengan baik. Berbeda denganku yang diperlakukan sangat kejam.

"Halah, kamu kan bisa perawatan dengan bahan-bahan alami yang ada di sekitar sini. Bisa didapatkan gratis, tapi kamunya aja yang males."

"Oh, maaf, ya, Mas. Aku males banget soalnya ngerjain rumah ini dua puluh empat jam dan ngurus anak tanpa ada SATU ORANG PUN YANG MEMBANTU." Sengaja aku tekankan kalimat terakhirku agar dia sadar.

"Udahlah, kamu jangan mencari alasan. Tugas kamu di sini adalah melayani aku dan mama. Bukan ngelawan kayak gini!" Mas Radit melotot melihatku. Membuat nyaliku sedikit menciut. Aku takut kalau dia kalap dan memukuliku seperti waktu itu. Saat aku tanpa sengaja membuka ponselnya. Padahal niatku ingin menunjukkan video-video kartun kepada Nadia. Maklum saja, aku tidak punya ponsel. Tapi Mas Radit malah menyangka bahwa aku ingin memeriksa ponselnya. Memangnya ada apa di ponselnya hingga aku mengalami luka lebam di tanganku akibat pukulannya.

Andai saja tubuhku masih berbobot delapan puluh kilo seperti waktu itu, pasti aku tidak akan kalah darinya. Sekarang tubuhku mulai melemah karena kekurangan gizi dan tidak cukup istirahat. Mana bisa aku melawannya.

"Mas, okelah kalau kamu nggak mau memberi uang untuk kebutuhanku. Tapi anakmu? Nadia, Selvia, Naura. Mereka semua membutuhkan mainan yang harganya bahkan lebih murah dari harga kaos kaki kamu." Mataku berkaca-kaca saat mengatakan kalimat itu. Betapa malangnya anak-anakku yang tidak pernah mendapatkan satu mainan pun dari ayah kandungnya sendiri.

Tak jarang Nadia menangis ketika harus berebut mainan dengan temannya. Banyak sekali tetangga mengatakan bahwa aku adalah ibu yang pelit terhadap anak sendiri. Tentu saja hal itu karena mertuaku mengatakan bahwa semua gaji Mas Radit dipegang olehku. Kejam sekali, bukan?

Terpopuler

Comments

Mulianah Thalib

Mulianah Thalib

kalau aku rela mati demi anak kalau udah anak sampai e bapak nya kayak gitu buat apa punya laki cobak terlalu bodoh mental anak nya nanti yg kasihan

2023-02-11

0

Tati st🍒🍒🍒

Tati st🍒🍒🍒

udah nadia ngomong samadiamah ga bakal di tanggapi,mening kamu diemin terus,kalau napkah gadikasi ga usah ngurusin dia sama mamahnya

2023-02-01

0

Santi Eprilianti

Santi Eprilianti

sabar ya lidya itu kan pilihan kamu dulu,, nyeselkan sekarang, untung bukan calya yg nikah sama radit,,😏😏

2023-02-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!