"Memangnya kenapa kalau mereka nggak punya mainan. Mama nggak mau rumah berantakan kalau mereka memiliki mainan." Mas Radit tetap kekeuh pada aturan ratunya itu.
"Rumah ini berantakan pun kan yang bersihkan tetap aku. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan?" Aku masih ngotot ingin meminta hakku sebagai istri.
"Ya pokoknya nggak boleh! Aku nggak mau jadi anak yang durhaka! Itu dosa besar, tau, kamu!"
"Memangnya menelantarkan anak dan istri itu bukan dosa besar? Sholat aja kamu nggak pernah, Mas!" Geram sekali aku mendengar semua jawaban manusia egois satu ini.
"Kamu udah berani, ya." Mas Radit pun menjambak rambutku hingga kepalaku mendongak menatap langit-langit kamar itu.
"Heh, Dit, apa-apaan kamu!" Tiba-tiba saja ibu datang dan melerai kami. Mas Radit langsung melepaskan tangannya dari rambutku. Sakit sekali rasanya, namun tidak sesakit perasaanku saat ini.
"Kamu kenapa, sih, Dit. Kalau anak orang mati di sini, kita juga yang bakalan repot."
Ah, ternyata mama hanya mengkhawatirkan mereka, bukan aku. Tadinya aku senang karena ada yang perhatian padaku. Nyatanya keputusanku itu salah, mereka adalah orang yang tak berhati. Tak pantas diharapkan perhatiannya.
"Dia, Ma. Dia ngotot minta jatah bulanan!" Mas Radit menunjuk ku dan menoyor kepalaku. Sakit sekali rasanya, namun aku hanya bisa diam dan menangis saja.
"Apa? Udah lancang kamu, ya, meminta jatah bulanan dari anakku!" Mama juga ikut menoyor kepalaku dan menatapku dengan tajam.
"Aku hanya minta hakku sebagai istri, Ma. Percuma punya suami manajer kalau istri dan anak-anaknya nggak terurus seperti ini." Aku memberanikan diri mengemukakan pendapatku. Semoga saja mereka tidak membunuhku malam ini.
"Ya biarin, ngapain kamu dengerin kata orang! Yang penting kamu tetap ada di dalam rumah ini dan melayani kami! Itu tugas kamu!"
"Tapi aku dilahirkan ke dunia ini bukan untuk menjadi pembantu gratis di rumah kalian. Logika aja, Ma. Uang hasil sewa rumah papaku pun Mama ambil. Memangnya Mama kurang uang?"
Plakkk! Terdengar suara tamparan yang begitu keras dan juga menyakitkan. Mas Radit menamparku dengan begitu kencang hingga membuat sudut bibirku mengeluarkan darah.
"Berani banget kamu ngelawan sama mamaku, ya!" Mas Radit mencengkram kerah bajuku hingga membuat mamanya panik.
"Dit, udah, Dit, lepaskan!" Mama melerai kami lagi. Kenapa? Tentu saja karena dia takut aku mati di sini.
"Berani banget kamu ngomong kayak gitu ke mama aku. Kalau kamu sudah bosan, sebaiknya kamu tinggalkan aja rumah ini! Bawa anak-anak kamu itu!"
Aku terkejut mendengar ucapan yang seperti talak untukku.
"Mas, kamu nalak aku?" tanyaku tak percaya.
"Enggak! Radit, jangan! Udah, kamu masuk sana!" Mama mendorongku dengan kasar keluar kamar itu. Dengan berderai air mata, aku pun kembali ke kamarku.
Masih ku dengar suara mereka yang tertangkap Indra pendengaranku.
"Kamu jangan mengambil keputusan secara sepihak, dong Dit. Kalau sampai dia pergi dari rumah ini, siapa yang akan membersihkan rumah ini dan memasakkan kita?"
Ah, sudah kuduga Mama mertuaku akan berpikir seperti itu. Mana rela dia melepas babu gratis yang selama ini melayaninya dengan sangat baik.
"Ya habisnya aku bosan lihat dia, Ma. Mama bayangin aja, aku harus liat nenek-nenek dengan bau dapur tiap hari. Kenapa sih Mama nggak biarin aku cari istri baru yang lebih cantik?"
Deg, ternyata Mas Radit berpikiran untuk mencari istri lain? Apakah dia tidak berpikir mengapa aku bisa seperti ini? Aku menjadi seperti nenek-nenek karena ulahnya. Karena aku berada di tangan yang tidak tepat hingga membuatku menderita seperti ini.
"Aduh, udah, dong. Kamu jangan mikirin perempuan dulu. Kalau kamu nikah lagi, Mama nggak mau lah bagi penghasilan sama istri baru kamu. Iya kalau dia bisa seperti Lidya. Kalau enggak? Gimana?"
"Ya kan aku bisa mencari wanita karir yang juga bekerja sehingga yang Mama makin bertambah." Sepertinya Mas Radit tahu bagaimana selera mamanya.
"Udah, kamu jangan mikirin macam-macam! Awas kalau sampai kamu nikah lagi!"
Ternyata Mama tidak mempan dengan rayuan Mas Radit. Aku mencoba menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dalam keheningan malam, aku pun mencoba untuk tidur dan melupakan kejadian malam ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Mulianah Thalib
bodoh satu kata
2023-02-11
0
Santi Eprilianti
lidya, klo menurut aku ya, kamu mending pergi aja deh dari rumah itu, kamu kan bisa tinggal d rumah papa kamu, bisa nyari kerja apa ke gitu buat kebutuhan kamu sama anak" kamu, dari pada punya suami makan ati mulu,tar tambah abis tu badan,,😏😏
2023-02-01
1
Kas Gpl
si edan ga ada akhlak.....suami kek gtu mah mending ditinggalin
2023-02-01
0