Memulai Usaha

Aku telah melakukan tes pasar dengan menguji masakanku pada para tetangga baruku. Mereka mengatakan bahwa masakanku sangat enak. Bahkan katanya aku sudah bisa membuka restoran karena masakanku yang dinilai layak masuk restoran.

Aku pun langsung menyusun rencana membuka warung makan di rumah kontrakanku. Entah keberuntungan atau apa, tiba-tiba saja Bu Anna mengatakan padaku bahwa dia memiliki stelling besar khusus makanan.

Dia bilang bahwa ini bekas, namun aku melihat stelling yang baru, hanya kotor karena berdebu saja.

"Bu, ini benar barang bekas? Tapi kok kayak baru, ya?" tanyaku sambil memperhatikan stelling itu.

"Iya, Lid, ini barang bekas. Punya saudara saya yang disuruh jual karena dia udah pindah. Nggak mahal, Lid, cuma tiga ratus ribu aja," ujar Bu Anna yang membuatku menatap tak percaya. Bagaimana bisa barang ini seharga tiga ratus ribu? Kalau aku taksir, barang ini biasanya berharga di atas satu juta.

"Yang bener, Bu? Kok murah banget?" tanyaku masih penasaran.

"Iya, sodara saya ini baik banget orangnya. Karena ini dia buat sendiri, jadi dijual murah aja. Terus nanti uangnya pun disedekahkan aja ke janda atau fakir miskin."

"Oh, begitu, ya, Bu. Ya sudah, saya ambil, Bu. Ini uangnya." Aku menyerahkan uang senilai tiga ratus ribu.

"Emm, Lid, maaf, jangan tersinggung, ya. Kamu janda, ya?" tanya Bu Anna dengan wajah ragu.

"Emm, iya, Bu, tapi belum resmi," sahutku pelan.

"Ini uangnya buat kamu, ya. Maaf, jangan tersinggung. Di sini nggak ada janda. Fakir miskin juga nggak ada karena rata-rata ekonomi keluarga di sini bagus. Kamu jangan marah, ya, saya nggak bermaksud menyinggung kamu. Duh, gimana ya bilangnya. Saya takut kamu marah."

Aku tersenyum menatap Bu Anna yang sepertinya takut menyinggung hatiku. "Nggak apa-apa, Bu, saya nggak marah, kok. Saya terima uang ini." Aku pun menerima uang itu dan segera pergi. Suami dan anak Bu Anna membantu mengangkat stelling ku ke rumah. Aku pun singgah ke masjid dan memasukkan uang ke kotak infaq. Semoga saja ini awal yang baik agar usahaku menjadi berkah.

Aku pun langsung berbelanja ke pasar, membeli bahan-bahan yang aku gunakan untuk berjualan besok. Magic com besar, piring, gelas, kursi plastik, dan tenda karena teras rumah kontrakan lu tidak terlalu besar.

Sedangkan meja aku sudah meminta izin Bu Anna untuk menggunakan meja kayu yang ada di dalam rumah kontrakan. Aku juga sudah memesan spanduk untuk nama warung baruku. Warung Berkah adalah nama yang cocok untuk warung baruku. Semoga saja rezekinya sesuai namanya. Dan jika usahaku lancar, setiap hari jumatnya aku akan bersedekah nasi bungkus untuk orang-orang yang sholat Jumat. Ah, semoga saja keinginan ku itu tercapai.

Sepulang belanja, aku pun langsung mempersiapkan semua bahan dan akan mengolahnya besok. Berbagai racikan bumbu untuk menu sudah selesai. Aku pun segera tidur bersama anak-anakku.

Side story'

"Ma, mana sarapannya? Aku mau kerja nih," ucap Radit kesal saat mendapati meja makan yang masih kosong tanpa nasi dan lauk seperti biasanya. Sudah beberapa hari ini dia mendapati hal yang sama. Lebih tepatnya sejak kepergian Lidya.

"Aduh, sabar, dong. Mama baru selesai." Rani datang membawa sepiring yang berisikan telur ceplok.

"Apaan ini, Ma? Aku sarapannya pakai telor ceplok sama nasi putih?" tanya Radit semakin kesal.

"Ya gimana, dong. Mama capek habis bersih-bersih rumah. Mbak Wati nggak mau lagi bersihin rumah kita."

"Ya gimana mau betah. Setiap saat Mama marahin terus. Salah dikit langsung disembur." Radit mendengkus kesal.

"Kok kamu nyalahin Mama sih? Udah berani sama Mama? Mau jadi batu?" Kini gantian Rani yang melototin Radit.

"Ya nggak gitu, Ma. Aku cuma laper aja makanya agak sensi. Ya udah, aku makan di luar aja. Mama pesen makanan dari luar aja deh. Atau catering sama Bu Andin. Aku pergi dulu."

Radit pun segera pergi meninggalkan ibunya yang sedang berdecak kesal. Uang yang diberikan Radit sudah habis karena dia sibuk hura-hura bersama teman arisannya. Bagaimana dia bisa memesan makanan? Terpaksa dia mengambil sebuah kalung emas dan menjualnya.

Terpopuler

Comments

Nuraishah❤💚

Nuraishah❤💚

yang penting, belajar dari kesalahanmu Lidya...

2023-02-24

0

Lusiana_Oct13

Lusiana_Oct13

Hmmmmmmm jadi tanda tanya ada hubunganya sama fikri gk ya ????

2023-02-12

0

zian al abasy

zian al abasy

yng trbaik ajh dech buat lidya..hncurkn radit bsrta emakny yng songong itu..smga lidya sukses

2023-02-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!