Hari berikutnya, aku masih melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Meski kini Mas Radit semakin menjaga jarak denganku. Dia tidur di kamar kakaknya selama beberapa malam sejak pertengkaran itu.
Tak banyak yang aku lakukan juga ucapkan. Hanya menuruti kemauan mereka. Dengan begitu tidak akan ada tindak KDRT lagi darinya.
Setelah Mas Radit pergi bekerja, aku pun segera beberes rumah sambil menjaga anak-anakku. Untung saja mereka adalah anak yang patuh dan baik sehingga aku tidak terlalu repot. Nadia nyatanya bisa menjaga adik-adiknya selama aku bekerja. Entah mungkin dia sudah mulai mengerti seperti apa ibunya diperlakukan dengan buruk di rumah ini.
Mereka hanya aku dudukkan di depan televisi yang sedang menyiarkan serial kartun. Sedangkan si bungsu aku letakkan diayunan karena masih tidur.
"Kamu nanti masak yang banyak, ya," ucap mama sambil berjalan mendekatiku.
"Iya, Ma, untuk berapa orang?" tanyaku.
"Untuk kita, Hera, dan suami serta anak-anak mereka."
Mendengar nama Mbak Hera, jelas hatiku sangat senang karena aku tahu benar bagaimana watak kakak iparku itu. Dia adalah tipe orang yang penyabar dan baik. Semoga saja dengan kedatangannya di sini bisa membantu menasehati adiknya agar lebih memperhatikan istri dan anak-anaknya.
Dengan semangat akupun memasak banyak makanan untuk mereka. Tak hanya itu, aku juga membersihkan kamar Mbak Hera agar ketika dia datang dirinya merasa senang dan betah lama-lama.
Hingga siang harinya, akhirnya Mbak Vera dan suami serta anaknya pun tiba. Mereka pun datang dengan mengendarai mobil yang langsung terparkir di depan rumah.
Mama menyambut mereka dengan hal-hal. Begitu juga dengan cucu-cucunya. Aneh, mengapa Mama begitu ramah pada mereka? Namun, ketika aku melihat Mbak Hera menyerahkan sebuah amplop tebal pada Mama, akhirnya aku tahu dibalik sikap Mama yang baik. Rupanya kedatangan anak dan menantunya untuk membawakannya uang.
"Ini, Mah, ada uang buat Mama. Mas Dani menang tender. Digunain ya, Mah. Kalau bisa mama dan papa lekas umroh," ujar Mbak Hera sambil berjalan masuk dan bergandengan tangan dengan sang mama.
"Ah, kamu nggak usah ngajarin Mama deh. Uang ini mau Mama pake buat jalan-jalan dan shopping." Tak heran dengan jawaban Mama. Sholat saja dia tidak pernah.
"Ma, mana Lidya?" tanya Mbak Hera yang langsung terdengar di Indra pendengaranku.
"Aku di sini, Mbak." Aku pun lekas menyalim kakak ipar super baik itu. Begitu juga dengan Mas Dani dan juga Dio, anak mereka yang berusia enam tahun. Dia adalah anak kedua mereka. Anak yang pertama bernama Vira. Namun dia tidak ikut karena sedang fokus belajar. Maklum saja, dia sudah kelas satu sekolah menengah pertama.
Mbak Hera menatapku sangat lama. Dari tatapan matanya terlihat sebuah tatapan penuh iba. Sepertinya dia tahu bagaimana ibu dan adiknya memperlakukan aku di sini. Dia pun beralih ke anak-anakku yang memakai pakaian lusuh dan bermain mainan kunci berbentuk boneka yang sudah usang.
Aku bisa melihat tatapan matanya yang berkaca-kaca seolah merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini.
"Lid, makanan udah kamu siapin belum?" tanya Mama memecah keheningan.
"Udah, Ma, semua udah terhidang di meja makan. Kalian makan aja dulu, aku mau beberes dapur," ujarku sambil berlalu pergi ke dapur.
"Yuk, Ra, kita makan sama-sama," ajak mama.
"Iya, Ma." Mbak Hera pun mengikuti Mama menuju ke meja makan bersama suami dan anaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Ayas Waty
tp aq gk bisa berbuat apa-apa Lidya
2023-02-02
0
Santi Eprilianti
tuh kakak ipar liat tuh adik kamu memperlakukan istri sama anaknya kya gitu,Ga ada perhatian" nya ,kasihan kan mereka
2023-02-02
0
Tati st🍒🍒🍒
semoga kaka iparnya mau membantu lidia
2023-02-01
0