Namun, aku bisa melihat tatapan ketidakrelaannya ketika melihat anak-anakku tidak dipedulikan oleh mama.
Aku meneruskan pekerjaanku di dapur yang belum selesai. Masih banyak piring yang belum aku cuci. Begitu juga dengan lantai dapur yang harus aku pel.
Lima belas menit berlalu, akhirnya aku selesai melakukan tugasku. Ku lihat Mbak Hera masuk ke dapur sambil membawa piring-piring kotor bekas mereka makan.
Ku lihat dia hendak mencuci piring tersebut. Aku pun langsung menghampirinya dan melarangnya.
"Mbak, jangan, Mbak. Biar aku aja."
"Udah, nggak apa-apa, Lid, cuma dikit, kok. Lebih baik sekarang kamu mandi dulu dan pakai baju yang aku taruh di dalam kamar kamu," ucap Mbak Hera sambil tersenyum.
Aku pun langsung menurutinya dan segera ke kamar. Betapa terkejutnya aku ketika melihat banyak sekali paper bag berisikan baju-baju bagus untukku dan juga anak-anakku. Tak kusangka Mbak Hera akan memberikan baju sebanyak ini untuk kami.
Aku pun segera memandikan anak-anakku dan menggantikan mereka dengan baju yang baru. Begitu juga dengan aku yang memakai dress cantik pemberian dari Mbak Hera.
Namun, bisa ku lihat tatapan tak suka mama ketika melihat kami memakai pakaian bagus. Untung saja ukuran tubuh kami berbeda sehingga Mama tidak akan bisa merebut pakaian yang diberikan padaku. Karena sebelumnya, setiap aku mendapatkan pakaian kiriman dari papaku, pasti mama akan merebutnya karena ukurannya yang lumayan besar.
"Mbak, makasih, ya karena Mbak memberikan aku pakaian yang bagus dan mahal kayak gini," ucapku ketika kami sedang mengobrol di ruang tamu. Mama pergi ke rumah tetangga untuk memamerkan uang yang baru saja didapat. Sedangkan suaminya Hera bermain bersama anak mereka dan juga anak-anakku. Mereka juga kecepatan rezeki karena Mbak Hera juga membawa banyak mainan untuk mereka.
Aku merasa bersyukur karena Allah seolah menjawab doaku. Kini aku bisa melihat wajah anakku yang bahagia karena bisa memainkan mainan seperti teman-temannya. Ada boneka, rumah-rumahan, sampai mainan prosesi. Terlihat Mas Dani yang sangat perhatian pada anak-anak. Mungkin inilah yang membuat Mbak Hera terlihat sangat cantik dan lebih muda dari umurnya.
"Lid, gimana kabar kamu?" tanya Mbak Hera dengan tatapan sedih.
"Baik, Mbak," sahutku sambil menganggukkan kepala. Mencoba untuk tersenyum meskipun itu hanyalah paksaan belaka.
"Apakah mama dan Radit memperlakukanmu dengan buruk?" tanyanya sambil melihat bekas luka di sudut bibirku.
"Seperti yang Mbak lihat, begitulah mereka memperlakukan kami." Tak banyak yang bisa aku jabarkan, cukup Mbak Hera saja yang menilai bagaimana kami diperlakukan di sini.
"Lid, maafkan Radit, ya. Memang, diantara kami, hanya dialah yang menuruni sifat mama. Mbak tahu bagaimana kamu diperlakukan di sini. Dari fisik dan keadaan anak-anak saja Mbak bisa melihat kamu mengalami tekanan batin di sini." Mbak Hera mengusap lenganku dengan lembut.
Aku hanya diam dan tersenyum saja.
"Lid, apakah kamu masih mencintai Radit?" tanya Mbak Hera hingga membuatku mengernyitkan dahi. Mengapa dia menanyakan hal seperti ini padaku?
"Kenapa, Mbak?" Aku tak langsung menjawab pertanyaannya.
"Kalau kamu sudah nggak mencintai dia, tolong tinggalkan dia, Lid, selamatkan hidupmu dari rumah ini."
Ucapan Mbak Hera membuatku terkejut. Apakah sampai separah itu hingga kakak kandung sendiri menyuruh seorang istri untuk meninggalkan adiknya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Lusiana_Oct13
sudah lah Lid ngapain lagi km bertahan disitu kk ipar mu dah mendukung tingalkan tu rmh
2023-02-12
0
Naysila mom's arga
lidya mana mau dia takut anak2 nya gx punya ayah,,
2023-02-02
0
Ayas Waty
karena kita sama sama wanita dan tau sifat ibu n adiknya
2023-02-02
0