Aku berjalan sambil membawa koperku bersama ketiga anakku. Naura di dalam gendongan depanku, Selvia ku gendong di belakang, dan Nadia ku tuntun dengan tangan kananku. Sementara koperku ada di tangan kiriku.
Nadia terlihat merengek karena kelelahan berjalan, sedangkan aku harus ke ATM dulu untuk mencairkan uang yang diberikan Mbak Hera. Setelah aku akan segera menyetop taksi di jalan depan dan pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini.
Aku tidak mungkin tinggal di rumah papa yang telah ditempati si penyewa. Lagipula aku tak mau bertemu dengan Mas Radit dan mamanya lagi.
Air mataku berjatuhan sepanjang berjalan. Bukan, bukan karena aku berpisah dengan pria berengsek sepertinya, tapi karena aku merasa bodoh karena bertahan dengannya selama ini.
Aku telah sampai di ATM dan menarik nominal lima juta untuk ongkosku dan biaya sewa rumah serta stok untuk makan.
Aku pun menyetop taksi dan memintanya membawaku ke luar kabupaten. Untung saja ketiga anakku tidak terlalu rewel, entah mungkin mereka mengerti keadaan ibunya saat ini.
Malam ini pun aku terpaksa menginap di motel yang lumayan murah karena tak mungkin aku mencari kontrakan malam-malam begini.
Setelah menidurkan anakku, aku pun mulai memikirkan kehidupanku selanjutnya. Tidak mungkin aku hidup dengan mengharapkan uang dari Mbak Hera yang akan habis sebentar saja. Aku harus membuka usaha.
Masakanku sangat enak, dan itu sudah diakui semua orang. Sebaiknya aku mulai berjualan makanan saja setelah mendapatkan rumah kontrakan. Maka dari itu aku harus mencari kontrakan yang strategis agar orang-orang mudah menemukanku.
Keesokan harinya, aku pun membawa ketiga anakku. Setelah mendapatkan kontrakan yang strategis, aku pun langsung membayar untuk satu bulannya yaitu sebesar satu juta rupiah. Sangat murah sekali bagiku karena di dalamnya sudah terisi meskipun hanya tempat tidur, lemari, kursi, meja makan, serta alat memasak. Aku bahkan kaget ketika dia menunjukkan sebuah kulkas yang memang tersedia juga di rumah itu. Aneh, bagaimana bisa ada kontrakan semurah ini?
Aku sedikit heran pada si pemilik kontrakan yang begitu ramah dan santun padahal kami baru bertemu. Dia bahkan membantuku membawa semua barang-barang milikku sampai ke dalam rumah.
Setelah beres berbenah, aku pun memutuskan untuk pergi membeli ponsel ke counter terdekat. Lagi-lagi si pemilik kontrakan menunjukkan kebaikannya dengan menawarkan untuk menjaga anak-anakku. Karena dia seorang wanita dan kontrakannya ada dimana-mana, aku pun menitipkan Selvia dan Naura saja. Sedangkan Nadia aku ajak.
Aku pun membeli ponsel bekas dengan harga satu juta. Sudah smartphone, namun dengan kualitas yang tidak terlalu tinggi.
Setelah beres membeli ponsel, aku pun pergi berbelanja ke pasar. Membeli banyak bahan makanan mentah untuk aku stok di kulkas. Sengaja aku membeli agak banyak karena ingin tes pasar dulu pada orang-orang yang ada di sana sebelum memulai usaha baruku.
Setelah selesai berbelanja, aku pun kembali ke kontrakan. Terlibat Bu Anna, sang pemilik kontrakan sedang tertawa bersama Selvia. Sedangkan Naura masih anteng dalam gendongannya dengan mata yang masih terpejam.
Aku jadi teringat mantan ibu mertuaku. Dia tak pernah sekalipun melakukan hal itu pada cucu-cucunya. Terlibat Selvia begitu girang karena mungkin pertama kalinya dia merasakan kedekatan emosional dengan wanita yang layak dipanggil nenek itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
zian al abasy
nah ksmpatan km lidya pinter msak ..smga kdepannya mnjdi lbih baik tt💪demi ank2😭😭😭
2023-02-05
0
Nurul Iswari12
semoga lancar dan laris dagangannya,bisa bahagia walaupun tanpa suami,semangat Lidya💪👏👏
2023-02-05
0
Tati st🍒🍒🍒
semoga setelah ini lidia dikelilingi orang2 baik,kalau kamu pintermasak gunakan keahlianmu untuk merubah nasib
2023-02-05
0