‘’Aligator?’’ tanya Yagyu.
‘’Bukan. Tapi Aliskatrol,’’ kata Shika.
Ratu Rushi tersenyum kaku. Era Narunia menggunakan bahasa khusus yang hanya dimengerti oleh mereka, jadi mereka tidak tahu mengenai bahasa asing.
‘’Maksudku terima kasih,’’ kata Ratu Rushi.
Kedua pria itu mengangguk mengerti. Mereka sempat menanyakan bahasa yang digunakan Ratu Rushi tadi. Tapi, Ratu Rushi mengatakan itu hal yang tidak penting.
Setelah bangunan kayu selesai, Ratu Rushi menyuruh Yagyu dan Shika ke hutan untuk mengambil batang kayu yang cocok dijadikan meja dan kursi serta hiasan-hiasan unik.
‘’Shika, aku mengandalkanmu mengenai bahan, dan Yagyu mengenai tenaga,’’ kata Ratu Rushi
Kedua pria itu mengangguk sebelum pergi. ‘’Baik Yang Mulia!’’
Setelah kedua pengikutnya pergi, Ratu Rushi memeriksa setiap kerangka, memastikan bangunannya dipasang seperti yang ada di dalam kertas.
Semua yang lalu lalang berbisik.
‘’Aku tidak pernah melihat jenis rumah seperti itu.’’
‘’Apakah rumah itu dibangun dari semua bahan dasar kayu?’’
‘’Kalau tahu ada jenis rumah seperti itu, aku seharusnya menyuruh para pekerja membuatkan model itu untukku.’’
‘’Mm, bagaimana kalau kita merenovasi kembali rumah kita dengan gaya rumah seperti itu?’’
‘’Hei sadarlah! Itu buatan Ratu Rushi, kalau kita menirunya, dia akan menertawakan kita karena sudah menghinanya.’’
‘’Ah benar juga, padahal aku sangat suka dengan modelnya.’’
......................
Hutan
‘’Shika, kau baik-baik saja? Kondisimu tampak tidak baik,’’ kata Yagyu.
‘’Tidak, tidak, kondisiku memang selalu seperti ini. Aku rusa bagal yang penyakitan, jadi selalu merasa lemas. Tapi, meski begitu aku baik-baik saja. Mungkin karena kita lembur sampai pagi untuk menyelesaikan bangunan kayu itu, aku jadi mengantuk,’’ jawab Shika.
‘’Begitu? Ya sudah, kau istirahat saja dulu baru kita lanjutkan kembali,’’ kata Yagyu.
‘’Tapi kau juga belum pernah tidur. Kau juga istirahatlah. Kita membutuhkan tenagamu,’’ kata Shika.
‘’Bagaimana kalau Yang Mulia akan marah kepada kita? Yang Mulia pasti sangat ingin menyelesaikan rumah punah itu secepatnya,’’ kata Yagyu.
‘’Kau pikir Yang Mulia orangnya seperti itu? Percayalah, Yang Mulia tidak seperti binatang berkedok manusia itu,’’ kata Shika.
‘’Binatang berkedok manusia? Puff, tapi mereka manusia. Kenapa kau menyebutnya binatang?’’ kekeh Yagyu.
‘’Memang benar mereka manusia, tapi sifatnya yang seperti binatang. Padahal dulu tidak ada perbedaan seperti ini. Sudah, lupakan itu. Kita istirahat saja,’’ kata Shika
‘’Baiklah, sedikit istirahat mungkin tidak apa-apa,’’ kata Yagyu.
Kedua binatang itu berubah menjadi manusia dan beristirahat sejenak.
......................
Desa
Ratu Rushi tersenyum sambil menghela nafas. ‘’Mereka membangunnya dengan sangat baik. Aku tidak menyangka mereka mengerti dengan desaian yang aku gambar.’’
Setelah memastikan bangunan kayu itu kokoh, Ratu Rushi berjalan di sekitar untuk membeli beberapa perlengkapan yang dibutuhkan. Meskipun keberadaannya masih tetap kucilkan, Ratu Rushi tidak peduli sama sekali.
Setelah keliling cukup lama, Ratu Rushi kembali sambil membawa banyak belanjaan. Keringatnya sedikit keluar membuatnya menyeka menggunakan punggung tangan.
‘’Ini sudah tengah hari, kenapa mereka berdua belum kembali, ya?’’
......................
Hutan
Shika mengerutkan dahi membuatnya tersadar. Ia bangkit dan menatap manusia setengah banteng yang masih tidur di sampingnya.
Deg!
‘’Yagyu! Yagyu bangun! Ini sudah siang!’’ teriak Shika membuat Yagyu langsung bangkit.
‘’Apa?!’’ pekik Yagyu.
‘’Niatnya ingin istirahat sebentar, tapi kita malah ketiduran. Sepertinya kita akan kena marah karena Yang Mulia pasti sudah menunggu sejak tadi,’’ kata Shika.
‘’Tidak perlu menandainya! Nilai saja batang kayu yang cocok dijadikan meja dan kursi. Aku akan langsung menebangnya,’’ kata Yagyu.
Shika mengangguk dan segera menilai kualitas batang pohon sambil diikuti oleh Yagyu.
......................
Hari mulai sore, Ratu Rushi yang sudah selesai menata ruangan di dalam, berjalan keluar. Ia menatap bangunan kayu di depannya sambil menopang kedua tangannya di pinggang.
‘’Akhirnya warung makan ini selesai dibangun. Kini tersisa papan untuk nama warung makan ini beserta meja dan kursi,’’ kata Ratu Rushi.
Kepalanya menoleh ke arah jalan yang menuju ke hutan.
‘’Ini sudah sore, kenapa mereka masih belum kembali? Apakah mereka baik-baik saja?’’ tanya Ratu Rushi merasa cemas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
Bzaa
seruuu
2024-12-21
1
Defrin
Bukan Marah Tapi cemas
2023-04-18
2
Dina⏤͟͟͞R
😂😂😂gak akan marah kok ratu nya. malah cemas lagi
2023-02-25
2