Hari mulai sore. Beruntung jarak hutan dan desa tidak terlalu jauh, membuat Yagyu bisa membawa kayu-kayu yang sudah ia haluskan.
‘’Aku butuh kertas dan sesuatu yang bisa dipakai menulis,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Saya akan mencarikannya untuk Yang Mulia,’’ kata Shika.
Ratu Rushi memberikan uang koin dari perhiasan miliknya yang ditukar. Tidak lama kemudian, Shika datang membawa buku tanpa sampul, pena bulu dan tinta.
‘’Terima kasih,’’ senyum Ratu Rushi.
‘’Sama-sama Yang Mulia. Itu sudah kewajiban saya sebagai pengikut,’’ kata Shika.
Yagyu dan Shika menghampiri Ratu Rushi yang duduk sambil menulis sesuatu. Keduanya mengerutkan dahi tanda tidak mengerti.
‘’Yang Mulia sedang menggambar apa?’’ tanya Yagyu.
‘’Menggambar desain bangunan yang akan kita bangun,’’ jawab Ratu Rushi.
Setelah Ratu Rushi selesai menggambar desain serta interior di dalamnya nanti, Yagyu dan Shika membulatkan mata.
‘’Ini jenis rumah apa Yang Mulia? Selama hidup, saya belum pernah melihat jenis rumah seperti ini!’’ heboh Yagyu.
‘’Rumah punah! Jangan-jangan namanya rumah punah,’’ kata Shika.
‘’Ru-Rumah punah?’’ tanya Ratu Rushi dengan wajah bodohnya.
Shika mengangguk mantap. ‘’Benar Yang Mulia. Kami belum pernah melihat jenis rumah seperti ini, karena itulah ini tergolong langka. Seperti Dinosaurus yang sudah punah, sebagian kecil dari mereka yang masih bertahan akan dianggap langka.’’
Ratu Rushi tersenyum kaku mendengar imajinasi kedua pria itu.
Apakah tidak ada sebutan yang layak? Padahal ini hanya desain yang sedang trend di duniaku, kata Ratu Rushi dalam hati.
‘’Haa … Shika, kau pergilah beli makanan dan minuman untuk kita bertiga,’’ perintah Ratu Rushi.
Semua yang lalu lalang mengerutkan dahi melihat ketiganya sibuk membangun sesuatu. Tidak ada yang peduli sampai ketiganya masih sibuk di malam hari.
‘’Sepertinya sudah larut malam. Kita sebaiknya hentikan dulu, dan baru kita lanjutkan besok,’’ kata Ratu Rushi melihat lampu di sekitar milik warga sudah dimatikan semua.
Yagyu dan Shika menyeka keringat mereka dan meminum air dari sungai jernih di belakang. Ya, Ratu Rushi memilih tempat di dekat pinggiran sungai yang sekitarnya ramai dekat desa.
Ratu Rushi menuju ke bawah pohon yang rindang untuk tidur.
‘’Eh, Yang Mulia kenapa tidur di tempat terbuka seperti ini?’’ tanya Yagyu.
‘’Yang Mulia seharusnya menginap di perumahan di sekitar sini saja,’’ kata Shika.
Ratu Rushi tersenyum. ‘’Aku tidak bisa tidur di tempat yang nyaman, kalau kalian saja tidur di tempat yang terbuka seperti ini.’’
‘’Eh?’’ tatap kedua pria itu tidak percaya.
‘’Sudahlah. Di sini ada seekor banteng, jadi tidak ada yang akan berani melukaiku,’’ kata Ratu Rushi.
Yagyu dan Shika hanya membungkuk memberi hormat, setelah beberapa menit Ratu Rushi sudah terlelap.
Keesokan harinya…
Karena mendengar suara ribut membuat Ratu Rushi tersadar. Ia bangkit sambil mengusap kedua matanya.
Deg!
‘’Eh?!’’ pekik Ratu Rushi membuat semua menatapnya terutama Yagyu dan Shika.
‘’Yang Mulia sudah bangun? Selamat pagi Yang Mulia,’’ sapa kedua pria itu.
Ratu Rushi terbelalak melihat bangunan kayu yang ia desain telah berdiri kokoh. Pandangannya langsung beralih ke Yagyu dan Shika. ‘’Kalian berdua yang melakukannya?’’
Kedua pria itu membenarkan, dan memberitahu Ratu Rushi kalau mereka tidak bisa tidur, sehingga memilih menyelesaikan bangunan kayu tersebut sambil mengikuti petunjuk di kertas.‘’
‘’Ini masih belum sebanding, dengan kebaikan Yang Mulia yang sudah menolong kami. Jadi Yang Mulia tidak perlu ikut bekerja.’’
‘’Kalian?’’ tatap Ratu Rushi tidak percaya.
Wanita itu menghela nafas hingga akhirnya tersenyum. ‘’Arigatou(Terima kasih).’’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
Bzaa
menanam kebaikan pasti akan menuai kebaikan jg
2024-12-21
1
Oi Min
latar belakang cerita ini dimana tor??kok pake bahasa Jepang tp visual Korea
2024-10-07
0
Dina⏤͟͟͞R
😊😊demi ratu rushi. yagyu dan shika akan membelanya
2023-02-25
2