Rencana Aneh

“Kita bawa perangkat ini kepada Sari.”

Gustiano dan Adara membawa perangkat pengintai itu ke Partiasari, sementara robot yang mereka selidiki juga dibawa kepada Partiasari.

Gustiano dan Adara bertemu dengan Partiasari yang sedang membongkar isi dari sensor yang ditemukan oleh Raska.

“Ada apa?”

“Kami menemukan semacam jammer di tempat Raska menemukan robot kita....”

“Di mana Raska?” celetuk Adara yang bertanya.

“Aku tadi memintanya untuk mengawasi Hera, siapa tahu dia tiba-tiba sembuh dan menyerang balik,” jawab Partiasari.

Kemudian Gustiano menyerahkan jammer yang Adara dan Gustiano temukan kepada Partiasari untuk diperiksa.

Partiasari mengambil jammer segitiga itu dari tangan Gustiano dan mulai melihat isi dari alat itu....

“Aneh..., ini memang jammer, tetapi alat ini tidak menunjukkan data bahwa ia telah mengacak sinyal kita. Sama seperti sensor tadi telah aku bongkar..., mungkin GDR telah menonaktifkan dan menghapus seluruh data sebelum kita menemukan perangkat-perangkat ini...,” tutur Partiasari sambil mengamati perangkat itu dengan cermat

Sementara Gustiano, “Sepertinya aku tahu apa yang harus kita lakukan....”

Gustiano keluar dari ruangan tempat Partiasari membongkar perangkat. Gustiano memanggil semua prajurit untuk berkumpul di lapangan markas....

Semua prajurit berbaris dengan cepat, teratur, dan disiplin setelah mendengar perintah itu. Gustiano berjalan ke depan para prajurit dan memeriksa semua pakaian dan rompi para prajurit apakah ada yang mencurigakan....

“Adara, kamu cek juga seluruh prajurit di sini....”

Keadaan menjadi tegang karena para prajurit tidak tahu apa yang sedang terjadi. Yang mereka ketahui adalah mereka di perintahkan untuk berkumpul di lapangan. Untung saja prajurit yang berada di kota Utinida masih tergolong sedikit, jadi hal itu memudahkan Adara dan Gustiano menyelidiki dan memeriksa para prajurit.

Saat pemeriksaan terhadap para prajurit, ada seorang prajurit yang tampak gelisah dan terus mengucurkan keringat di lehernya....

Adara menyadari prajurit itu tampak gelisah, “Kenapa dia?”

Prajurit yang gelisah itu langsung berlari keluar dari barisan dan dia lari menuju gerbang markas. Mencoba untuk kabur....

“HEI! TANGKAP DIA!” Adara langsung mengejar prajurit itu sebelum dia mencapai gerbang....

Adara berhasil menangkap prajurit itu.... Tetapi prajurit yang ditangkap oleh Adara membawa berbagai macam bahan peledak di tubuhnya....

“AWAS!” Bom meledak yang membuat area sekitar gerbang hancur. Namun, beruntung sebelum bom benar-benar meledak Gustiano dengan kekuatan petirnya menarik Adara dari prajurit yang membawa bahan peledak.

“Hampir saja....” Gustiano terengah-engah setelah menyelamatkan Adara.

Partiasari keluar dari ruangan setelah mendengar ledakan, “Ada apa?!”

Partiasari dan orang-orang melihat ledakan yang dihasilkan oleh bom itu sangat besar, sampai membuat gerbang markas hancur tak bersisa dan meninggalkan lubang lingkaran yang cukup besar, bahkan mayat dari prajurit itu lenyap karena ledakan....

Singkat cerita puing-puing bekas ledakan dibersihkan, namun gerbang belum sempat untuk diperbaiki.

Tim Harphera berkumpul di sebuah ruangan dan membahas ledakan yang terjadi kemarin....

“Aku merasa bahwa ada yang janggal dengan ledakan yang terjadi kemarin....” ucap Gustiano.

Raska bertanya, “Apa yang janggal?”

Kemudian Adara menjawab Raska, “Serius Raska? kamu tidak sadar? Prajurit yang membawa bahan peledak kemarin seharusnya dia bisa meledakkan bomnya di tengah-tengah para prajurit yang sedang berkumpul, Namun entah kenapa dia malah berlari dan meledakkan bom itu di gerbang.”

“Ah yeah, memang aneh....”

“Mungkin ada yang mereka rencanakan di balik serangan itu? Bisa saja dia diperintahkan untuk menghancurkan area krusial milik kita?” balas Partiasari.

“Tapi gerbang itu bukankah tempat yang benar-benar krusial. Yah walau butuh waktu yang lebih lama untuk memperbaikinya kembali, tapi tetap saja itu bukan area yang cukup krusial dan jika pun mereka mengincar area krusial kenapa mereka tidak menyerang area komunikasi kita untuk memutuskan komunikasi ke markas di Caza.” jawab Gustiano.

“Apa yang sebenarnya mereka rencanakan....”

“Kenapa tidak tanya saja pada Hera?” celetuk Raska.

“O-oh..., benar juga, kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya....”

Mereka berempat keluar dari ruangan dan langsung menuju ke ruangan perawatan. Tempat di mana Hera sedang dirawat....

Sesampainya di ruang perawatan Hera, mereka mulai menanyakan beberapa hal pada Hera....

“Apa yang kalian inginkan?!” tanya Hera dengan raut wajah datar sambil terbaring di kasur

“Ketahuilah tempatmu..., jangan macam-macam. Kami ingin menanyakanmu beberapa hal....” jawab Gustiano dengan nada mengancam.

“Sudah kuduga pasti ini akan tiba....”

“Kemarin baru saja terjadi ledakan di gerbang markas ini. Pelaku dari peledakan itu teridentifikasi sebagai mata-mata GDR..., organisasimu. Walau kamu tidak tahu jam berapa ledakan itu terjadi karena kamu masih belum sadarkan diri, tetapi kau pasti tahu apa yang organisasimu rencanakan atas peledakan itu....” tanya Gustiano dengan mengancam.

“Jadi kau ingin tahu apa yang sebenarnya rencanakan? Aku tidak ingin menjawab....” balas Hera yang memalingkan wajahnya dari hadapan tim Harphera.

“Oh begitu? Menarik. Kita lihat seberapa tahan dirimu....” Gustiano berbalik, berjalan menuju ruangan kimia. Hera menatap Gustiano yang berjalan menuju ruangan itu, dia tahu bahwa dia akan disiksa....

Beberapa saat kemudian Gustiano kembali dengan membawa semacam cairan yang berada dalam mangkuk cairan....

“Orang-orang berkata bahwa api neraka itu berwarna hitam..., mungkin itu terlihat palsu tetapi kau akan tahu...,” Gustiano menetes beberapa tetes metanol ke cairan itu sambil menatap Hera dengan datar.

“Sari, angkat dia.”

Partiasari mengangkat Hera dengan tali birunya ke atas dalam keadaan masih terbaring.

“H-hei! Apa yang akan kalian lakukan?!” tanya Hera yang cukup panik.

“Kita lihat saja...,” Gustiano meletakkan cairan yang telah diberi metanol itu di bawah tubuh Hera dan dengan menggunakan kekuatan api milik Gustiano, dia menyalakan api hitam dari cairan itu....

Hera kepanasan di bagian bawah tubuhnya dan ditambah dia juga masih belum sembuh dari pukulan keras yang dilontarkan Adara.

Seolah tak cukup panas dengan kerasa kepala Hera masih tetap tidak ingin memberitahu informasi apapun....

Gustiano mematikan api dan menyuruh Partiasari untuk kembali menurunkan Hera ke kasur, “belum menyerah yah..., tidak apa. Karena masih banyak permainan yang menunggu untuk dimainkan untukmu...,” ucap Gustiano seolah menjadi seorang psikopat dan nada yang sangat mengancam.

“Tapi kapten, bagaimana jika dia tewas?” tanya Adara dengan khawatir.

Gustiano berbalik membalas Adara, “Tenang, dia tidak akan tewas.” Lalu Gustiano kembali berbalik menatap Hera, “Kau tahu Hera, kami tim Harphera adalah pasukan ASGU..., dan kami tidak seperti pasukan militer ADF pada umumnya yang terikat pada hukum. Selama kami patuh pada ADF pusat kami tidak akan terikat apa hukum apapun..., itu artinya kami bisa melakukan hal apa saja pada tawanan..., Termasuk menyiksa mereka.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!