“Ingat, jangan menahan diri untuk mengeluarkan kekuatan kalian.”
Tim Harphera yang dipimpin oleh Gustiano melakukan sebuah misi, yaitu misi merebut distrik Henaya yang kembali dikuasai oleh organisasi GDR.
Tim Harphera telah sampai di sisi barat kota Utinida dan mengamati kembali aktivitas militer di sana. Para pasukan GDR telah memperluas area pos militer. Bahkan, mereka juga hampir mencapai sisi barat kota Utinida.
Tim Harphera menyadari area militer pasukan GDR telah meluas hingga masuk sebagian ke sisi barat kota....
“Pos militer mereka semakin meluas, kita lakukan serangan..., Adara, kamu serang terlebih dahulu.... Aku ingin melihat caramu menghabisi mereka semua,” ucap Gustiano dengan nada yang berat dan serius.
Adara langsung menyetujui usulan Gustiano dan ia langsung pergi menuju gerbang pos militer GDR....
Setibanya di depan gerbang 7 prajurit yang menjaga gerbang tersebut melihat Adara, lalu mereka baru menyadari bahwa yang mereka lihat adalah anggota ASGU.... Tetapi, sebelum mereka benar-benar bisa bereaksi mereka sudah terlebih dahulu dihabisi oleh Adara.
“Terlambat.”
Pasukan GDR di dalam yang mendengar suara keras dari luar langsung ke luar.... Pasukan GDR membawa kendaraan tempur dan siap untuk melawan balik Adara.
“SERANG DIA!”
Pasukan GDR menyerang Adara. Tetapi, serangan mereka dapat dihindari dengan cepat walau mereka menggunakan senjata railgun yang dikenal memiliki kecepatan peluru yang sangat cepat.
Adara menyerang balik pasukan tersebut dengan menyerang energi dari peluru railgun dan memantulkannya kembali melalui pukulan Adara ke arah kendaraan tempur dan menghancurkannya, lalu membuat beberapa prajurit yang berada di sampingnya terpental akibat ledakan.
Setelah membereskan semua halangan Adara masuk ke dalam pos militer. Pasukan GDR yang melihatnya langsung menembak Adara.
Adara menghindari setiap serangan peluru dari para pasukan GDR. Tetapi, ada beberapa prajurit yang menggunakan pedang laser dan menyerang Adara dari jarak dekat. Adara melawan balik prajurit yang menggunakan pedang sembari menghindari tembakan dari yang lain. Adara kemudian berhasil merebut pedang laser dari salah satu prajurit dan menggunakannya untuk menghabisi prajurit lain yang menggunakan pedang laser.
Beruntung Adara pernah melihat Gustiano menggunakan pedang dan Adara meniru cara Gustiano menggunakan pedang. Adara menebas setiap prajurit yang berusaha menyerangnya dari dekat dengan pedang mereka, Adara juga menggunakan pedangnya untuk menangkis tembakan dari pasukan lain.
Semua prajurit yang menggunakan pedang laser telah dihabisi, setelah itu Adara berlari menuju pasukan yang menembaknya sambil menepis serangan mereka.
Adara berhasil menghabisi seluruh pasukan tersebut hingga tak bersisa.... Namun, saat Adara sedang menghela napas datang seorang wanita dari atas yang menyerangnya.
Adara menghindari serangan dadakan tersebut dan bertanya siapa dia, “Siapa kau?!”
Wanita tersebut keluar dari debu-debu dan berkata, “Aku adalah Filania Hera, aku adalah bagian dari kesatuan elit Groupe D'unité Révolutionnaire,” ucapnya dengan nada yang arogan.
“Dan kau pasti Adara..., anggota baru dari Askazh Special Guards Unit, kemampuanmu pasti di atas rata-rata yang membuatmu dapat langsung menjadi anggota ASGU. Tetapi, aku pastikan kamu tidak akan bisa kembali ke rumah hari ini...,” Wanita tersebut berkata dengan nada sombong yang berusaha untuk mengintimidasi Adara.
“Sementara aku akan mengirimmu ke tempat peristirahatan terakhir...,” balas Adara.
Wanita tersebut langsung menyerang Adara dengan membentuk sebuah tombak dari suatu energi yang kemudian tombak tersebut ia lemparkan.
Tombak itu meluncur dengan kecepatan kilat. Bahkan, Adara yang menghindari dengan tombak tersebut masih bisa terkena serangannya. Namun, Adara dapat membalikkan situasi saat ia menangkap tombak tersebut dan melemparnya balik ke Hera.
“AMBIL KEMBALI!” kata Adara sambil melemparkan tombak itu ke arah Hera.
Hera menangkap kembali tombaknya dan berkata, “Kuambil lagi...,” Hera kemudian berlari dan menyerang Adara dengan tombaknya.
Adara menangkis serangan tombak Hera dengan pedangnya dan mereka bertarung sangat sengit....
“Ouh, sepertinya wanita itu adalah anggota baru di kesatuan elit GDR..., menarik,” ucap Gustiano sambil terus mengamati pertarungan Adara dan Hera.
Partiasari bertanya apakah mereka harus membantu Adara atau tidak, “Kapten Gustiano, apakah kita harus membantunya?”
“Tidak, jangan bantu dia..., biarkan dia meningkatkan pengalaman bertarung tanpa bantuan orang lain...,” jawab Gustiano.
“Kita akan membantunya jika dia sudah benar-benar akan mengalami kekalahan atau tidak berdaya...,” sambung Gustiano.
“Hal yang sama seperti yang dulu kamu lakukan saat aku baru bergabung menjadi bagian tim...,” celetuk Raska yang mengingat masa lalunya.
Hera berhasil menyerang Adara hingga terlempar ke belakang dengan serangan yang keras dan menghancurkan pedang yang dipegang oleh Adara untuk menangkis serangan Hera.
“Hanya itu?” tanya Hera dengan seringai sambil memegang tombaknya.
Adara bangkit dengan debu di sekitarnya sambil membersihkan seragamnya dengan gaya yang elegan, “Jadi begitu caramu menyerang....”
Adara bergerak dengan cepat ke belakang Hera seolah dia sedang melakukan teleportasi, “Yeah...,” Adara meninju Hera hingga terpental jauh dan tidak dapat bangkit. Lalu Adara menghampiri Hera dan berkata, “Hanya ini saja?” Kemudian Adara memukul Hera.
Sebelum pukulan itu benar-benar mengenai Hera, Gustiano tiba dan menahan pukulan Adara dengan dua tangannya, “Sudah,” disusul dengan Raska dan Partiasari yang baru tiba di area bekas pertarungan Adara dan Hera
“Kau bilang untuk tidak menahan diri, jadi aku melakukan apa yang inginku lakukan.”
“Yah, tetapi kali ini dia akan menjadi aset penting bagi kita..., bawa dia ke markas kita,” Perintah Gustiano dengan tegas.
Setelah itu mereka membawa Hera yang tidak sadarkan diri sehabis pertarungan. Kembali ke markas, mereka tiba sambil membawa tubuh Hera yang lemas dan lemah.
Hera diantar ke ruang perawatan untuk dirawat..., “Apakah kita akan menginterogasinya?” tanya Adara setelah Hera dibawa masuk ke ruang perawatan.
“Yah, setelah dia dirawat dan kondisinya membaik aku akan menanyakannya apa yang perlu kita ketahui...,” jawab Gustiano sambil menyilangkan tangan di dada.
Raska berlari ke arah Gustiano dan Adara sambil berteriak, “Kapten! Aku menemukan sebuah sensor di salah satu robot kita!”
“Apa?! Kita dimata-matai! Serahkan sensor itu ke Partiasari untuk diidentifikasi siapa yang memasangnya!” perintah Gustiano sambil mengarahkan tangannya ke arah Partiasari berada.
Langsung Raska berlari kembali menuju Partiasari tetapi sebelum terlalu jauh Raska kembali dipanggil oleh Gustiano, “Raska! Di mana kamu menemukan sensor itu?!” tanya Gustiano dengan berteriak.
“Aku menemukan di dekat pintu belakang dan robotnya masih di sana karena aku telah menonaktifkannya!” balas Raska.
Segera Gustiano menuju area belakang markas dan saat tiba di sana mereka menemukan robot yang dimaksud oleh Raska....
“Apakah ini robot yang dimaksud Raska?” Adara mengecek robot itu menemukan satu benda berbentuk segitiga di sela-sela mesin robot.
“Apa ini?” tanya Adara dengan terheran-heran sambil menyerahkan benda itu kepada Gustiano.
“Ini semacam jammer untuk mengacaukan sistem komunikasi pada robot.” ucap Gustiano sambil memperhatikan lebih lanjut benda itu
“Berarti di markas ini adalah salah satu yang merupakan agen atau mata-mata GDR.” balas Adara.
“Yah pasti, dan kita akan mengetahuinya nanti....”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments