Distrik Henaya - Pria misterius

Gustiano, Raska, Adara berhasil menyelamatkan warga yang berjumlah 12 orang termasuk 1 orang mayat wanita.

Mereka kembali ke posko perlindungan menggunakan mobil tempur melewati semua bangunan yang telah hancur.

“Kalian telah kembali!” seru Partiasari.

semua warga keluar dari mobil tempur sementara Adara dan Raska membawa mayat wanita. Adara dan Raska mengantar mayat itu ke tempat para mayat warga...

Farahaza melihat para warga yang diselamatkan berusaha mencari temannya di antara para warga. Tetapi, dia tidak menemukan..., kemudian Farahaza melihat mayat wanita yang dibawa Adara dan Raska lalu dia langsung berlari ke arah mereka.

“Adara, Raska!” teriak Farahaza memanggil mereka berdua.

Adara dan Raska berhenti lalu menoleh ke arah Farahaza, Farahaza meminta untuk membuka penutup wajah mayat itu agar dia bisa melihat siapa dia..., setelah tandu diturunkan dan penutup wajah mayat dibuka air mata Farahaza menetes jatuh diikuti dengan dirinya yang jatuh berlutut....

“T-tidak..., G-grisea..., bagaimana bisa...,” tangis Farahaza melihat mayat temannya.

Farahaza tidak bisa menahan kesedihan melihat temannya yang telah tiada dan memeluk mayat temannya. Gustiano datang dan menenangkan Farahaza sembari mengelus punggung Farahaza yang sedang memeluk mayat temannya sambil menangis.

“Maaf telah mengecewakanmu...,” ucap Gustiano sambil mengelus punggung Farahaza.

“Bagaimana bisa...,” Farahaza masih terus menangis.

“Aku tidak melarang dirimu untuk sedih. Tetapi, banyak orang yang memiliki nasib yah sama sepertimu..., jadi kamu tidak sendirian....”

Farahaza bangun dan mengusap air matanya lalu berkata..., “Aku tahu.... Tetapi, dia sudah ku anggap lebih dari teman ataupun sahabat....”

Gustiano berdiri dan berjalan ke arah Adara dan Raska meminta mereka untuk membiarkan Farahaza sebentar, Gustiano juga memanggil Partiasari untuk menemani Farahaza mencurahkan isi hatinya....

“Adara..., aku merasa tidak nyaman dengan perasaan Farahaza, seharusnya aku bisa menyelamatkan Grisea. Tetapi, takdir selalu berkata berbeda...,” ucap Raska dengan nada pelan dan penyesalan

Gustiano menghampiri Raska dan Adara, “Jangan salahkan dirimu Raska, kau hanya tidak tahu jika yang kamu lihat itu adalah Grisea....”

“Yah, kematiannya bukanlah kesalahanmu,” sambung Adara.

Setelah beberapa saat Partiasari menghampiri Gustiano, Raska, dan Adara lalu mengabarkan bahwa dia sudah membawa Farahaza ke tempat para pengungsi. Gustiano memerintahkan Adara dan Raska untuk kembali mengantar mayat Grisea ke tempat mayat.

“Kami sangat berterima kasih kepada kalian semua, jika tidak ada kalian mungkin para warga yang tidak bisa diselamatkan akan berbeda nasibnya....”

“Bagaimana pun ini sudah menjadi tugas kami, kami akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mencari korban ataupun mayat para penduduk,” jawab Gustiano lalu menaruh pedangnya di sarung pedangnya.

Partiasari datang dan mengabarkan bahwa pasukan khusus akan datang untuk membantu melindungi para warga yang berlindung..., “Kapten, Pasukan khusus akan segera datang untuk membantu melindungi posko....”

“Bagus, setidaknya kita bisa memerintahkan mereka untuk membantu pencarian korban di kota dan distrik lainnya,” ujar Gustiano sambil menyilangkan tangannya.

“Syukurlah, ini kabar yang bagus....”

Gustiano, Partiasari, Raska, dan Adara menunggu pasukan khusus datang..., keesokan harinya 2 pesawat transportasi militer tiba membawa pasukan khusus dan mereka terdiri dari 6 regu yang berisi 12 orang prajurit.

Tim Harphera segera menuju pesawat dan menyambut pasukan khusus yang baru saja tiba...

Setelah menyambut pasukan khusus Gustiano meminta 2 di antara 6 regu tersebut untuk pergi ke distrik Jonava di sisi utara ibu kota(kota Utinida), Sementara Tim Harphera akan melakukan pencarian dan patroli di distrik Henaya.

Singkat cerita tim Harphera sampai di distrik Henaya melalui kamp GDR dan segera menyusuri jalan di distrik itu.

Dalam penyusuran tim Harphera tidak menemukan korban ataupun mayat di distrik tersebut selain puing-puing bangunan yang telah hancur...

Gustiano memerintahkan untuk semua anggota menyebar dan menjelajah area distrik perorangan..., “Baiklah semuanya, kita akan berpisah secara individu..., setidaknya ini akan mempercepat proses pencarian.”

Semua anggota berpisah, Adara menuju ke arah bawah dari distrik Henaya..., area bawah cukup gelap jadi Adara menyalakan sebuah senter di samping telinganya.

Sesuatu jatuh dan membuat Adara terkejut dan langsung melihat apa yang terjatuh..., “Apa itu?!” setelah melihatnya ternyata itu hanya sebuah kipas pendingin udara yang terjatuh karena sudah tidak kuat bergantung pada besi...

Adara lanjut berjalan dan menemukan mayat seseorang yang terjebak di puing-puing bangunan...,.kemudian Adara menandai mayat itu secara digital agar lokasinya dapat diketahui dan mayatnya dapat dipindahkan.... Namun, sebelum itu Adara mengangkat puing-puing dan memindahkan mayat itu ke tempat yang lebih aman.

Setelah memindahkan mayat dan menandai lokasi mayat Adara kembali lanjut berjalan di area yang gelap...

Perjalanan Adara dipenuhi oleh puing-puing bangunan yang telah hancur ini membuktikan seberapa brutal perang di Ganivhera.

Adara juga menemukan beberapa mayat dari pasukan GDR sekaligus menandai lokasi mereka.

Setelah berjalan sekitar kurang lebih 2 jam Adara menemukan sebuah jalan yang mengarah ke atas distrik..., setelah naik Adara melihat sebuah papan yang berkelap-kelip bertuliskan "Selamat datang di Hevana", Adara menyadari bahwa dia telah memasuki sub-distrik dari distrik Henaya.

Adara berjalan di menuju sebuah gedung dan menaiki bagian paling puncak dari gedung tersebut..., Adara melihat ke bawah dari gedung sambil menikmati angin yang bertiup.

Saat sedang melihat pemandangan kota yang telah hancur terdapat seorang pria yang memanggil Adara dari belakang dengan nada suara yang berat..., “Adara.”

Adara berbalik. Namun, tidak melihat siapapun..., Adara tidak terlalu memikirkan hal itu dan memutuskan untuk turun dari gedung...

Tetapi, saat baru turun 1 lantai terdapat seorang pria dengan jas dan jubah yang serba hitam di lantai tersebut..., “Halo? Siapa kau?” tanya Adara sambil mendekati pria itu.

Pria itu menjawab Adara dengan tangan yang dikepal di belakangnya, “Kamu tidak perlu tahu siapa aku.... Tetapi, aku tahu tentangmu.”

Adara berhenti berjalan, “Siapa kau?! Apa yang kau lakukan di sini?!” tanya balik Adara dengan tegas.

“Aku memiliki sebuah informasi untukmu..., terserah jika kamu ingin percaya atau tidak. Pasukan GDR akan mengirim bala bantuan untuk melakukan serangan beruntun ke posko perlindungan dalam 4 jam dari sekarang.”

“Apa?! Benarkah?! Bagaimana kau bisa tahu?!”

Pria misterius itu menghela napas, “Kamu tidak perlu tahu, percaya atau tidak itu adalah keputusanmu.... Tetapi, waspadalah setiap keputusan selalu memiliki dampak.... Bahkan, keputusan kecil sekalipun..., aku harap kau membuat keputusan yang tepat, selamat tinggal semoga kita bertemu lagi..., lagipula kota sudah pernah bertemu sebelumnya..., kan?” setelah mengatakan itu pria tersebut menghilang. Bahkan, Adara tidak sempat mengedipkan mata pria tersebut telah hilang....

Adara dibuat kebingungan dengan perkataan pria tersebut. Tetapi, Adara memutuskan untuk memberitahu informasi dari pria itu kepada Gustiano untuk berjaga-jaga jika serangan itu akan benar-benar terjadi...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!