"Duduklah!"
Perintah Ratih pada anaknya, Wira adalah anak satu-satunya dengan Haris, anak semata wayangnya. Wira duduk di kursi kecil seberang sofa, sedangkan Ratih duduk ditengah-tengah sofa besar berbentuk melengkung berwarna merah maroon, berpadu serasi dengan interior dinding juga furnitur lainnya di dalam ruangan tersebut.
"Wira, apa kamu berniat untuk terus bertahan bersama dengan istrimu itu hah? kapan kalian akan memberikan kami cucu, sudah tiga tahun kalian menikah, tetapi, hingga detik ini sekedar tanda-tanda pun belum pernah terlihat, jangan-jangan dia memang betulan mandul!" seru Ratih.
"Kumohon, tolong jaga ucapan Ibu, istriku tidak mandul. Kami sudah memeriksakan diri secara detail dan terperinci, dan hasilnya semuanya dalam keadaan yang sangat baik. Hanya saja, mungkin Tuhan belum berkehendak, kamipun sama merindunya dengan kehadiran si buah hati. Jadi, bersabarlah sedikit lagi Bu," sahut Wira diiringi embusan napasnya kasar.
Meskipun ibunya bertanya dengan nada seperti genderang yang menyerukan peperangan, tetapi, Wira tetap berusaha menekan nada bicaranya berada di level normal. Karena bagaimanapun juga Ratih adalah ibunya, orang tuanya, yang harus dihormatinya selayaknya anak pada wanita yang sudah melahirkannya.
Walaupun pada kenyataannya, Wira ingin sekali menggertakan giginya dan meninju apapun yang ada di sana saat ini juga ketika mendengar kata-kata mandul dilontarkan untuk istri tercintanya, akan tetapi, dia menahannya karena rasa hormatnya kepada ibunya.
"Lalu, tentang usul Ibu mengenai bayi tabung itu bagaimana? kenapa kalian tidak mencobanya, ini sudah tiga tahun Wira, Ibu sudah banyak bersabar tentang hal ini!" Terdengar nada menuntut dari ucapan Ratih.
"Almira juga pernah mengusulkannya, tapi aku tidak bersedia. Aku yakin kami masih bisa mempunyai keturunan dengan pembuahan secara alami, dan juga aku tidak mau privasi istriku terjamah lebih dalam lagi ketika proses inseminasi itu berlangsung, aku masih tidak rela Bu," desahnya pelan.
"Lagipula jika memang kami tidak ditakdirkan mempunyai keturunan, kami masih bisa mengambil anak adopsi bukan?" usul Wira.
Mata Ratih membeliak, menatap tajam pada putranya, kemarahan tampak jelas dari sudut matanya.
"Wira Aryasatya!" Apa kamu bilang? adopsi?" teriak Ratih, dengan sorot mata penuh amarah yang menyala-nyala.
"Jangan pernah sedikitpun terlintas dipikiranmu untuk mengadopsi anak sebagai penerus keturunanmu! Keluarga ini hanya akan menerima anak yang berasal dari benihmu, yang mengalir darah Aryasatya di dalamnya. Seorang anak yang tidak jelas asal usulnya, bebet serta bobotnya tidak akan pernah diakui sebagai bagian dari keluarga ini!" seru Ratih dengan napas tersengal penuh emosi.
"Aku hanya memberi solusi Bu, bukankah itu juga adalah salah satu usaha?" protes Wira.
Di saat ibu dan anak itu bersitegang, terdengar suara ketukan dari arah pintu, rupanya salah satu pelayannya yang datang, Ratih bersuara lantang memberikan perintah untuk masuk.
"Ada apa?"
"Maaf Nyonya, Tuan Haris meminta anda untuk segera turun karena seluruh keluarga besar sudah berkumpul," lapornya. Ratih mengangguk kemudian menyuruh si pelayan itu untuk pergi terlebih dahulu. Ia berdiri dan menghampiri tempat duduk Wira.
"Solusi semacam itu tidak akan pernah diterima! Jika dalam kurun waktu satu tahun ke depan istrimu masih juga tidak mengandung, maka kamu harus mengikuti kemauan ibu, entah itu bayi tabung, atau... kamu menikah lagi dengan wanita lain pilihan ibu yang lebih sehat dari istrimu untuk meneruskan garis keturunan keluarga ini dengan benar," ucapnya dingin.
Ratih menepuk-nepuk bahu putranya kemudian berlalu pergi dari ruangan itu, meninggalkan Wira yang masih terpaku di tempat duduknya seolah membeku setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Wirda Wati
Mira kurang cocok kali dg ibu mertuanya
2023-12-16
0
N I A 🌺🌻🌹
bab bab ini auto ingat tetanggaku yg baru kemaren cerai krn suami selingkuh padahal mereka menantikan buah hati setelah 14 th ehh begitu di kasi Anak sepasang si suami malah betingkah, dasar laki tak tau diri
2023-11-06
0
ana Imaa
mungkin mira tekanan batin juga kali yaa dg kelakuan mertua nya
2023-01-22
0