"Ra, kakak mau pergi ke rumah orang tuanya Mas Wira, kalau hari ini kamu mau pergi keluar, minta diantar saja sama pak Jono, jangan coba-coba pakai motor bututmu," ucap Almira disela-sela menyesap teh hijaunya.
"Wah, pantesan dandannya cantik banget, mau ketemu mertua rupanya," timpal Dara yang sedang sibuk mengunyah dengan mulut penuh makanan.
"Aku hari ini mau ngerjain tugas di rumah dosenku bareng teman-temanku, kalau pakai mobil aku gak enak sama Pak Jono nanti nungguinnya lama di sana, aku dibonceng Freya aja, boleh ya Mbak?" pintanya pada Almira.
"Pak Jononya suruh balik lagi aja kalau sudah mengantarmu sampai tujuan, saat waktunya pulang kamu kan tinggal telepon ke rumah minta di jemput lagi, daripada naik trail yang berisiknya ngelebihin kucing kebelet kawin," seru Almira tak ingin di bantah.
"Baiklah nyonya besar, saya paham." Dara mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, Mbak berangkat dulu, Mas Wira udah nungguin di mobil dari tadi." Almira beranjak dari duduknya dan mengambil tas tangan bermerek yang tergeletak di samping cangkir tehnya.
"Oke Mbak, hati-hati di jalan." Dara melambaikan tangannya dan setelah Almira meninggalkan ruangan itu dia kembali fokus pada sarapan lezatnya.
*****
Setelah menempuh satu jam perjalanan, mobil mewah berwarna hitam itu memasuki rumah berpagar kokoh dengan pohon-pohon tinggi yang berderet rapi mengelilingi sekitar bangunan, kolam bulat dengan air mancur di tengahnya menyambut kedatangan mereka saat memasuki pekarangan rumah tersebut.
Bangunan yang berdiri di atas lahan seribu meter ini adalah kediaman orang tua Wira. Almira menghela napasnya pendek-pendek saat Wira selesai memarkirkan mobilnya, ia bahkan berkali-kali memeriksa riasannya memakai cermin yang terdapat di dalam mobil. Wira meremas bahu Almira pelan untuk menenangkan, ia dapat melihat dengan jelas air muka istrinya yang tengah dirundung kegelisahan.
"Tenanglah, ayo, kita turun," ajaknya lembut. Wira mengulas senyumnya yang mampu menyejukkan hati.
"Bagaimana... bagaimana penampilanku Mas?" tanyanya gusar, Almira yang biasanya percaya diri kini tampak begitu gelisah dengan wajah sedikit memucat.
Wira memindainya dari kepala hingga Kaki, kali ini Almira memakai gaun selutut berlengan panjang berwarna biru elektrik, begitu pas membungkus lekukan tubuhnya dan semakin memancarkan warna kulit kuning langsatnya, dilengkapi sepatu berwarna krem dan tas tangan berwarna senada menyempurnakan penampilannya.
"Sangat cantik, seperti biasanya," pujinya dengan nada memuja. Almira berusaha tetap tersenyum meskipun suasana hatinya gundah luar biasa.
Mereka berdua turun dari mobil dan bergegas menuju ke taman belakang rumah di mana acara diadakan. Ketika Almira memijakan kakinya di area taman, ia menggandeng tangan Wira begitu erat seolah ingin menyerap kekuatan untuk menopang dirinya. Sebagian keluarga besar Aryasatya sudah tampak hadir di sana, ayah Wira yang melihat kedatangan anak dan menantunya langsung menghampiri dan menyambut mereka.
"Bagaimana kabar kalian Nak? lama tak jumpa," sapanya ramah. Dia adalah Haris Aryasatya, ayahnya Wira.
"Kabar kami baik Yah," sahut Wira.
"Maaf, karena sibuk dengan urusan pekerjaan, kami jadi jarang berkunjung dan menyapa." Almira menimpali.
"Yang penting kalian semua sehat dan selalu bahagia, hanya itu yang ayah inginkan," ucap pria paruh baya itu seraya mengulas senyum di wajahnya yang tak muda lagi, tetapi, usianya tidak mengurangi kharisma yang tetap terpancar dari dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
‼️n
Wah mertuanya galak euy....eh ibunya Wira kali y....
2022-12-12
0
✨️ɛ.
berisik mana ama suara2 ghoib yg kemaren didengar ama adekmu, Mir? 🤭
2022-12-10
2
Nana
yg gk suka sm Almira keknya mama Wira deh
2022-09-09
0