Pagi hari ini, matahari terbit memancarkan sinarnya menghangatkan bumi dan seisinya, menelusupkan sulur cahayanya dengan manja melalui celah-celah gorden dan ventilasi udara, menggoda dengan sedikit memaksa agar diizinkan masuk ingin menerangi kegelapan di dalam sana.
Silaunya cahaya itu mengusik tidur lelap seorang gadis cantik yang masih betah bergelung dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya, lalu terdengar bunyi bising memekakkan telinga yang berasal dari jam beker antik di nakas samping tempat tidurnya.
Kelopak matanya mulai bergerak-gerak, kemudian mengerjap dengan perlahan untuk menyesuaikan dengan cahaya yang mulai merangsek masuk di kamar itu. Ia menggeliatkan tubuhnya, masih dengan mata yang belum terbuka sempurna tangannya menggapai-gapai beker yang sudah berdering sejak tadi hingga hampir terjatuh.
Dara mematikan alarmnya, lalu menaruh kembali jam beker tersebut ke tempatnya semula. Ia bangun dan duduk menyandarkan punggungnya dengan mata yang masih terkantuk-kantuk, tangannya mengusap-usap telinganya yang terasa berdenging karena berisiknya bunyi alarm tadi. Ia menguap dan menggunakan telapak tangannya untuk menutup mulutnya, tetapi entah kenapa sudut bibirnya terasa kaku.
Dara langsung membulatkan matanya dan di detik berikutnya ia melemparkan selimut yang membungkus tubuhnya lalu meloncat dari tempat tidur. Ia berlari terbirit-birit ke kamar mandi saat menyadari bahwa ada liur yang mengering diwajahnya, efek terlalu banyak begadang mengerjakan tugas di depan laptop membuat tidurnya tak karuan.
"Haish, kenapa tidurku sungguh memalukan!" Dara mengacak rambutnya kesal dan mengomel di hadapan cermin dekat wastafel, tetapi karena waktu sarapan sebentar lagi akan tiba, ia menghentikan kegiatannya mengomeli dirinya sendiri di depan cermin dan segera beranjak membersihkan dirinya di bawah guyuran shower.
*****
Dara mematut dirinya di depan cermin, kulit pucat, rambut coklat bergelombang sepinggang dengan sedikit poni yang membuatnya makin terlihat manis, wajah mungil, mata dan hidung dengan proporsi yang pas.
Ia mengenakan celana jins dan kaos oblong longgar berwarna putih, ditambah jaket berlogo Arsenal klub sepakbola favoritnya melekat dengan pas membalut tubuh kurusnya.
Dara segera turun ke lantai bawah dengan tas ransel seukuran laptop yang terkait di bahu kirinya, ia berlari kecil sambil bersenandung, di meja makan sudah tampak kakak tersayangnya dan juga kakak iparnya.
"Selamat pagi Mbak Miraku tersayang, selamat pagi juga Kak Wira," sapanya riang. Ia menarik salah satu kursi yang berhadapan dengan Almira dan mendudukkan dirinya di sana.
"Pagi juga adikku yang cantik," sahut Mira sambil tersenyum manis.
"Cantik dari mananya, gadis kurus begitu kamu bilang cantik? sepertinya matamu bermasalah sayang," timpal Wira pada Almira sambil menaikkan alisnya dengan maksud untuk menggoda Dara.
"Hihh, Kak Wiraaaaa... justru sepertinya Kakak yang matanya rusak, aku memang kurus, tapi dosenku juga bilang kalau aku ini cantik!" serunya galak sambil mencebikkan bibirnya.
"Hei... gadis kecil, berhati-hatilah dengan dosenmu. Sepertinya dia hanya ingin merayumu, bagaimana jika dia mempunyai niat jahat padamu? mendekatimu dengan maksud terselubung. Karena sekarang ini banyak sekali kasus dengan modus seperti itu." Wira sengaja menakut-nakuti Dara, baginya adik iparnya ini memang sangat ideal untuk dijahili karena kepolosannya itu.
"Mana mungkin! Kakak jangan ngarang ya, bilang aja mau nakut-nakutin aku iya kan?" gerutunya kesal.
"Sudah, sudah, kalian ini seperti Tom and Jerry, suka sekali membuat keributan, ayo habiskan sarapannya, nanti kesiangan." Almira segera menghentikan keisengan Wira karena adiknya itu sudah mengerucutkam bibirnya hampir menyaingi paruh bebek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
valent
samaaa ,mampir lg /Smile/, kangen babang wira , sepertinya habis ini lanjut ke babang Bisma
2024-01-19
2
Umayah
kangen mampir kembali
2023-12-25
0
fiendry🇵🇸
mampir kembali
2023-10-31
0