Sementara itu, Nafa tiba di rumah dengan wajah yang bersedih, baru kali ini Ia merasakan dilema yang luar biasa, perasaan yang mulai tak menentu terhadap Dion, duda itu berhasil membuat Nafa hampir saja melupakan rencana pernikahannya dengan Rudi.
Seketika itu sang Ibu tiri dan adik tiri. Tampak terkejut melihat apa yang terjadi dengan Nafa, Anne merasa jika Kakaknya itu sedang tidak bahagia dengan rencana pernikahannya dengan Rudi. Anne pun menghampiri Nafa dan berkata. "Apa yang terjadi denganmu, Kak? Kenapa Kakak bersedih seperti itu, harusnya Kakak bahagia karena sebentar lagi Kakak akan menikah dengan Mas Rudi."
"Tidak ada, Aku tidak apa-apa. Itu hanya perasaanmu saja. Aku bahagia bahkan sangat bahagia, karena sebentar lagi Aku bisa keluar dari orang-orang toxic yang selalu mengganggu hidupku. Jadi, kamu dan Ibu bisa bebas melakukan apa saja di rumah ini, Aku sudah muak dengan kalian berdua."balas Nafa yang selama hidup sudah lelah bersama Ibu dan Adik tirinya. Dan itulah yang menyebabkan kenapa Nafa bersedia untuk menikah dengan Rudi. Ia ingin lepas dari kehidupan membosankan bersama Yolanda dan Anne. Mereka berdua seperti parasit yang tidak akan pergi sebelum mengambil semuanya dari Nafa.
Nafa tidak bisa berbuat apa-apa, karena surat-surat sertifikat rumah berada di tangan Sang Ibu tiri. Yolanda mengancam akan menjual rumah yang mereka tempati jika Nafa tidak menuruti permintaan mereka. Yaitu bekerja untuk menghidupi mereka berdua, karena Nafa masih menyayangi rumah itu. Karena rumah itu menyimpan kenangan saat sang Ayah masih hidup, semenjak Ayah kandungnya meninggal dunia, surat-surat berharga milik sang Ayah. Yolanda lah yang memegangnya. Dan itulah kenapa Nafa sudah tidak tahan lagi dan segera ingin keluar dari rumah itu saat Rudi melamarnya. Selain mereka sudah lama berpacaran. Ini juga kesempatan untuk Nafa mendapatkan kembali hak miliknya yang direnggut oleh sang Ibu tiri.
Nafa berharap jika Rudi bisa membantunya untuk mendapatkan surat-surat itu kembali dari tangan sang Ibu tiri. Maka dari itu Rudi menjanjikan sesuatu kepada Nafa, jika Nafa mau menikah dengannya. Maka, Rudi akan membantunya untuk mendapatkan surat-surat penting yang Yolanda sita dari Nafa. Karena bagaimanapun juga, Nafa tidak rela jika Ibu dan adik tirinya menguasai peninggalan Ayah kandungnya. Di mana semua itu seharusnya menjadi milik Nafa untuk kehidupannya kelak. Dan saat ini, Rudi pun hampir berhasil membawa masalah perdata itu ke jalur hukum dan secepatnya Nafa akan mendapatkan seluruh hak miliknya. Dan tentu saja Nafa tidak akan lupa dengan janjinya untuk menikah dengan Rudi.
Namun, kini dilema menghantui Nafa, antara cinta dan janji. Antara Dion dan Rudi.
Hari-hari pun berlalu, kini pernikahan mereka semakin dekat, Rudi pun semakin sering datang ke rumah Nafa. Persiapan pernikahan hampir 90 persen telah rampung, besok lusa Nafa dan Rudi akan melangsungkan akad nikah.
Rudi pun telah membayar semua hutang ganti rugi cat mobil Dion yang telah Nafa lakukan. Dan kini Nafa sudah tidak mempunyai sangkut paut dengan Dion lagi, Ia pun terbebas dari segala bentuk tekanan. Mungkin Nafa bisa terlepas dari hutang-hutang itu, tapi tidak dengan hatinya. Ia masih memikirkan Alaska dan juga Dion. Kedua orang itu tak bisa lepas begitu saja dari pikirannya.
Menjelang hari-hari Pernikahannya, Nafa lebih sering melamun. Seharusnya Ia bahagia dengan pernikahannya yang sebentar lagi akan tiba. Justru Nafa semakin larut dalam kesedihan.
Hal yang sama pun terjadi pada Dion. Pria itu tidak bisa tidur dengan nyenyak, setiap malam Ia selalu menatap ke langit dan berharap ada keajaiban. Ia pun tidak bisa memaksa Nafa untuk kembali padanya. Karena Ia tahu Nafa pasti menolaknya. Bagaimanapun juga Nafa berhak menentukan pilihannya. Ia tidak ingin memaksa Nafa untuk menemani dia dan putranya, meskipun tidak mustahil jika Dion masih sangat mengharapkan Nafa menjadi Ibu dari Alaska.
Hingga di suatu malam, dengan memandang langit yang sama, Dion merasa sangat merindukan Nafa malam itu. Nafa selalu datang dalam mimpinya, memaksa Dion untuk berbicara dengan Nafa meskipun sekedar lewat telepon seluler.
Nafa dikejutkan dengan suara ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Nafa menoleh lemas, karena malam itu pikirannya benar-benar diliputi kegundahan. Ia pun berjalan ke arah ponselnya yang sedang berdering. Spontan Nafa terkejut saat melihat ke layar ponselnya jika mantan majikannya sedang menghubungi dirinya.
"Tuan Dion! Untuk apa lagi dia meneleponku?" batin Nafa, antara senang dan bimbang. Ia senang akhirnya bisa bicara dengan Dion setelah beberapa hari mereka tidak bertemu, tentu saja Nafa tidak bisa pungkiri jika dirinya sangat merindukan duda itu. Namun, di sisi lain, kebimbangan hatinya bisa saja membuat rencana pernikahannya gagal. Dan tentu saja Ia pasti akan sangat menyakiti perasaan Rudi yang sudah membantunya untuk mendapatkan hak-hak nya yang dirampas oleh sang Ibu tiri.
"Ayo Nafa, angkat teleponnya!" seru Dion yang berharap Ia bisa berbicara dengan Nafa. Dion pun tetap bersabar untuk tidak memutus teleponnya, karena Ia tahu jika Nafa pasti ragu untuk mengangkat telepon darinya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Nafa memberanikan diri untuk mengangkat telepon dari Dion. Berharap ini adalah pembicaraan mereka yang terakhir kalinya.
"Halo!"
Sekarang Dion begitu bahagia saat mendengar suara Nafa.
"Halo Nafa! Aku tahu jika kamu pasti mengangkat teleponnya."
"Apa lagi yang Tuan inginkan dari Saya?"
"Aku kangen banget sama kamu, Nafa! Maaf Aku tidak bisa menahan rasa ini, mendengar suaramu saja Aku sangat bahagia. Katakan! Apakah kamu juga merindukanku?"
"Maaf Tuan! Tapi Saya rasa, Saya tidak merindukan Tuan. Jadi, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Nafa masih mengelaknya.
"Jangan bohongi dirimu, Nafa. Aku tahu sebenarnya kamu juga mencintaiku, bukan? Aku bisa merasakannya saat Aku mencium mu, Aku merasa jika kamu membalas ciuman itu dengan perasaan terdalam, dan Aku sangat yakin sekali jika kamu memiliki perasaan yang sama denganku." tegas Dion yang sangat yakin jika Nafa mencintainya.
"Maaf Tuan! Sepertinya itu adalah kesalahan terbesar Saya, tidak seharusnya Saya melakukan hal itu, dan Saya sangat menyesal sekali"
"Menyesal? Ayolah Nafa. Kamu akan lebih menyesal jika kamu tidak mengakui perasaan mu padaku, dan pastinya penyesalan itu akan semakin besar jika kamu tetap menikah dengan tunanganmu, karena Aku tahu jika kamu sangat mencintaiku, begitu juga Aku juga sangat mencintaimu."
Kembali, Nafa dibuat bimbang oleh Dion. Sejatinya Ia memang mencintai Dion. Namun, apalah daya, Nafa sudah terlanjur memutuskan nya.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
bucinnya Bangtan💜
jln satu²nya harus ada yg ngejebak mereka, misalnya saudara tirinya sinafa bisa aja gitu bikin jebakan antara dia dan sirudi itu
2025-02-03
0
💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.
Kau hrus kuat nafa...
2023-03-06
1
Yuliana Tunru
ayo thor kasian nafa ..buat rudi batal nikah krn sekingkuh biar dion dan alaska mendpt kasih sayang nafa..detik detik terakhir sblum pernikahanx ..atw nafa akan jd janda dulu thor..biar imbang janda dan duda
2022-12-25
0