Rebut Mama Nafa

Nafa mendongak menatap wajah sang majikan, sejenak Nafa berkedip beberapa kali saat Dion membalas tatapan matanya. Gadis itu menggenggam erat tangannya diiringi debaran jantungnya yang kian cepat. Entahlah, mungkin karena suasana hujan yang syahdu, dengan udara yang cukup dingin ditambah AC mobil, belum lagi musik romantis yang mendukung suasana kian mesra, memaksa Nafa merapatkan tubuhnya karena udara itu terasa begitu menyayat kulit. Bibir gadis itu terlihat bergetar, menggoda Dion untuk memperhatikannya.

Entah kenapa, secara refleks Dion mengusap lembut wajah sang pengasuh, hingga akhirnya perlahan Dion menyentuh bibir Nafa dengan jarinya. Bermain dan mengusapnya dengan lembut. Hingga akhirnya tanpa diduga Dion mendekati bibir itu dan mencoba mengecupnya.

'Cup'

Satu kecupan manis di bibir Nafa membuat Nafa membulatkan matanya, apa yang dilakukan oleh Dion benar-benar membuatnya terkejut, tapi anehnya Nafa tidak bisa menolak, bibirnya tak merespon saat Dion menyentuhnya, terlalu sesuatu bagi Nafa, untuk sejenak Nafa lupa jika dirinya akan menikah akhir bulan depan.

Untuk kedua kali, Dion mengecup kembali bibir Nafa, mungkin rasanya sangat manis sehingga Dion mengulanginya lagi. Tapi, kali ini Nafa memejamkan mata dan Ia pun membalas ciuman itu. Dan entahlah disaksikan hujan yang deras di malam itu, Dion dan sang pengasuh terlibat ciuman panas. Semakin lama sentuhan itu kian merambat pada leher Nafa. Gadis itu membuka matanya dan merasa jika ini dilanjutkan maka akan berakibat fatal.

Akhirnya, Nafa dengan cepat melepaskan diri dari pelukan Dion, Ia segera menjauh dari sang majikan, Nafa kembali duduk di kursinya semula. Tentu saja Dion sontak melihat Nafa yang sengaja menjauhinya. Dion menghela nafas panjang dan terlihat merremas rambutnya sendiri. Ah bagaimana bisa dirinya mencium gadis pengasuh itu.

"Maafkan Aku! Aku tidak bermaksud untuk ... ah sudahlah! Aku akan mengantarmu pulang." ucap Dion sembari melajukan mobilnya ke jalan raya. Sementara Nafa terlihat menundukkan kepalanya sembari melihat cincin pertunangan yang melingkar pada jari manisnya. Dion tanpa sengaja melihat Nafa memperhatikan cincin putih yang melingkar indah di jari manis Nafa. Pria itu sudah menduga jika cincin itu pasti cincin pertunangan Nafa dan kekasihnya.

"Apa kalian sudah berpacaran lama?" tanya Dion yang tiba-tiba. Nafa menoleh ke arah sang majikan.

"Dua tahun." jawabnya singkat.

"Hmm lama juga, jika seandainya kamu benar-benar menikah, terus bagaimana dengan Alaska? Apa yang harus Aku katakan padanya?" tanya Dion sembari terus memperhatikan arah depan.

"Tuan jangan khawatir, Saya akan sering menemui Alaska, dia tidak akan kehilangan Saya, karena Saya juga menyayangi Alaska." balas Nafa.

"Apa suamimu mengizinkan jika kamu masih bertemu dengan anakku?" seketika Nafa terdiam dan pastinya Rudi tidak mungkin mengizinkan dirinya untuk menemui Alaska.

"Saya akan berusaha membujuk Mas Rudi untuk mengizinkan Saya bertemu dengan Alaska, dan saya yakin dia pasti setuju." Nafa berusaha meyakinkan Dion untuk tidak khawatir jika Nafa lupa kepada anaknya.

"Jika dia tetap tidak mengizinkan?" tanya Dion sekali lagi.

"Emm ... itu emm ... ah sudah sampai Tuan, itu rumah saya." Nafa tidak bisa menjawabnya, Ia bingung harus berkata apa, hingga akhirnya mobil Dion semakin mendekati tempat tinggal Nafa.

"Yang mana rumahmu?"

"Yang itu, rumah yang bercat biru."

Dion pun segera menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Nafa yang sederhana, gadis itu pun beranjak untuk turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada Dion yang sudah mengantarkan nya pulang.

"Saya pulang dulu, Tuan! Terima kasih banyak sudah mau mengatakan saya pulang." pamit Nafa sembari membuka handle pintu mobil.

"Tunggu!" seru Dion sembari melihat kearah Nafa.

"Apa lagi, Tuan?"

"Kamu masih punya hutang kepadaku." jawab Dion serius.

"Oh itu, iya saya tidak akan lupa, Saya pasti akan mengembalikan secepatnya, Tuan tidak usah khawatir." jawab Nafa yang masih teringat akan hutang ganti rugi cat mobil Dion.

"Bukan itu!" spontan Dion berkata kepada Nafa dengan tatapan mata yang tajam.

"Kalau bukan itu, terus apa, Tuan?" Nafa semakin dibuat pusing dengan sikap sang duda.

"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, jika suamimu tetap tidak mengizinkan, apa kamu masih ingin bertemu dengan putraku?"

Seketika Nafa gugup dan Ia pun berusaha untuk menjawabnya. "Saya tidak tahu, Tuan! Tolong jangan tanyakan itu, Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika harus berpisah dengan Alaska, mungkin Saya pasti sangat merindukannya. Permisi!" balas Nafa yang kemudian langsung keluar dari mobil. Dion terus memperhatikan gadis itu yang sedang berlari kecil menuju ke rumahnya, hingga akhirnya ia sampai di depan rumahnya.

"Aku juga tidak bisa membayangkan jika tidak ada kamu di rumah, pasti sangat kesepian." ucap Dion lirih sembari mengusap wajahnya kasar.

Sementara itu Nafa melihat mobil Dion yang mulai melaju kembali ke jalan raya, entah kenapa dirinya merasa jika pertemuannya dengan duda satu anak itu membuat hidupnya berubah, tapi Nafa sudah telanjur mengikat hubungan dengan seorang pria bernama Rudi. Sehingga Ia tidak bisa terlalu dekat dengan pria itu.

Nafa membalikkan badannya dan mulai masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja sang Ibu tiri, Yolanda tampak menyilangkan kedua tangannya kepada Nafa sembari berkata, "Pulang juga kamu?" tanyanya sedikit ketus.

"Maafkan Nafa, Bu! Sekarang Nafa harus kerja full time, karena Nafa merawat seorang anak, jadi Nafa nggak bisa pulang setiap hari." ungkap Nafa kepada Ibu tirinya.

"Hmm bagus kalau begitu. Ngomong-ngomong siapa yang sudah mengantarkan mu pulang? Sepertinya dia orang kaya, apa jangan-jangan dia seorang Sugar Daddy? " ucap Yolanda dengan senyuman yang menyeringai.

"Hmm dia majikan Saya, Bu! Tuan Dion Mahesa, dia yang sudah memperkerjakan Saya di rumahnya." balas Nafa.

"Oh ... majikan apa majikan? Tapi Aku lihat kalian berdua begitu dekat, atau jangan-jangan kalian ...!" Yolanda sang Ibu tiri selalu saja ikut campur urusan anak tirinya itu, karena Yolanda tidak ingin melihat Nafa bahagia bersama Rudi, calon suami Nafa yang merupakan seorang pengusaha kaya raya. Yolanda ingin menikahkan Rudi dengan anaknya sendiri yaitu Anne. Nafa tidak mempedulikan perkataan sang Ibu tiri, Ia tetap pergi masuk ke dalam kamarnya.

"Hmm jangan mimpi kamu akan menikah dengan Rudi, karena Rudi pasti akan menikah dengan Anne, Aku pastikan kamu tidak akan pernah mendapatkan laki-laki yang sempurna seperti Rudi." ucap Yolanda dengan menyipitkan matanya.

*

*

*

Sementara di tempat lain, Dion sudah tiba di rumah, kepulangannya ternyata di sambut oleh sang anak, Alaska terbangun dari tidurnya, bocah kecil itu berlari menghampiri sang Daddy sambil menangis.

"Alaska!"

"Daddy! Mama ilang nggak ada di rumah, cari Mama Dadd! Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada Mama." rengek sang bocah sembari memeluk ayahnya. Dion pun memeluk putranya penuh keharuan.

"Sayang! Mama pulang sebentar kok, besok juga pasti kesini lagi, Alaska yang sabar, ya! Nanti biar Daddy yang temenin Alaska bobo." bujuk Dion kepada putranya yang terlanjur menangis.

"Alaska mau Mama tinggal di sini dan bobo bersama kita, Dadd! Ayo dong Daddy, cepat lakukan sesuatu agar Mama nggak betah tinggal di rumahnya, biar Mama tinggal di rumah kita, jadi Mamanya Alaska." Dion tersenyum mendengar ucapan dari sang anak.

"Nggak bisa sayang! Mama Nafa nggak bisa tinggal di sini, karena Mama Nafa ...!" Dion tak mampu mengatakan nya kepada sang anak, takut jika Alaska semakin bersedih.

"Mama Nafa kenapa, Dadd?"

Dion tidak menjawab pertanyaan dari sang anak, sungguh Dirinya juga tidak bisa berkata demikian, seolah dirinya juga keberatan jika Nafa menikah dengan orang lain.

"Katakan Daddy! Mama Nafa kenapa?" Alaska terus memaksa Dion untuk mengatakannya. Namun, lagi-lagi Dion tetap membisu. Hingga akhirnya Mommy Rima yang sedari tadi berdiri di belakang Alaska, mencoba untuk memberikan pengertian kepada sang cucu.

"Alaska sayang, Oma mengerti maksud Alaska, tapi Mama Nafa nggak bisa tinggal selamanya di rumah ini, Mama Nafa punya keluarga dan sebentar lagi Mama Nafa akan menikah. Jadi, Alaska harus mendoakan Mama Nafa agar bahagia." ucap Mommy Rima.

"Enggak! Alaska nggak mau mendoakan Mama Nafa menikah, Mama Nafa harus jadi Mamanya Alaska, pokonya Daddy harus rebut Mama Nafa dan bawa pulang ke rumah ini, harus! Kalau Daddy ngga bisa rebut Mama Nafa, nanti biar Alaska yang rebut dan bawa Mama untuk tinggal di rumah ini."

Mendengar ucapan dari sang anak, baik Dion maupun Mommy Rima terlihat saling menatap dan Dion pun tampak garuk-garuk kepalanya sembari cengar-cengir melihat sikap putranya yang kelewat dewasa.

...BERSAMBUNG...

Terpopuler

Comments

Dyah Oktina

Dyah Oktina

😁😁😁😁😁emang alaska bisa rebut mama dari tunangannya 🤭

2023-11-19

1

💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.

💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.

What.....😯😯😯😯

2023-03-05

1

💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.

💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.

Gx ada rudi...yg pnting udh ada dion yg lbih kya...🤪🤪🤪🤪🤪

2023-03-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!