Aku mencintaimu, Nafa

Nafa masuk ke dalam kamar, Ia merebahkan tubuhnya pada tempat tidur sederhana miliknya, sekilas bayangan tentang Dion terlintas dipikiran, sungguh Nafa tidak bisa melupakan kejadian dalam mobil itu, meskipun dirinya tak menampik jika Ia pun ikut menikmatinya. Nafa tersenyum dan sesekali menepuk jidatnya, bagaimana bisa dirinya tergoda dengan sang majikan, niatnya hanya untuk mengasuh putra Dion bukan menghibur Ayahnya.

"Tuhan! Apa yang terjadi pada diriku? Perasaan macam apa ini, tak seharusnya Aku melakukan itu, jika Mas Rudi tahu, dia pasti kecewa padaku, Aku sudah menyakitinya, maafkan aku, Mas! Seharusnya Aku menjauhi Tuan Dion. Aku sudah berjanji kepada Mas Rudi untuk setia dan menikah dengannya, Aku tidak mau menjadi munafik gara-gara bertemu dengan Tuan Dion, Aku harus bisa menjaga jarak, Aku tidak boleh terlalu dekat dengan pria itu, tidak boleh!"

Tiba-tiba saja ponsel Nafa berdering, Ia pun mengangkat teleponnya yang Ia ketahui dari Rudi, tunangannya.

"Halo, Mas!"

"Halo Nafa, bisa kita ketemu sekarang?"

"Emm bisa."

"Baiklah Aku akan ke rumahmu sekarang."

Setelah itu Nafa menutup ponselnya dan Ia pun segera mandi untuk membersihkan dirinya.

Sedangkan di rumahnya Dion dibuat bingung, sungguh dirinya juga tidak mengerti kenapa perasaan nya tak menentu saat bersama Nafa, gadis itu membuat hidupnya bersinar lagi, Nafa telah berhasil membuat Dion melupakan masa lalunya yang pahit bersama mantan istrinya.

"Perasaan macam apa ini? Apa Aku mulai mencintai gadis itu? Tapi, rasanya tidak mungkin Aku mendapatkan Nafa, gadis itu akan menikah dengan pria lain, Aku sudah terlambat. Apa Aku harus menerima kekecewaan lagi?" ucap Dion sembari berdiri menghadap langit malam itu. Mommy Rima yang melihat sang anak tengah berdiri sendirian, mencoba untuk menerka apa yang ada dalam hati anaknya.

"Kamu memikirkannya?" sontak Dion terperanjat saat mendengar suara Mommy Rima yang tiba-tiba berdiri di samping putranya.

"Mommy! Apa yang Mommy maksud?" Dion tampak masih pura-pura tidak mengerti.

"Mommy tahu, kamu mencintai gadis itu, bukan?" seketika Dion menundukkan wajahnya tatkala sang Ibu mengatakan hal itu.

"Bagaimana bisa Mommy berkata seperti itu?"

"Ayolah Dion! Mommy yang sudah melahirkanmu, Mommy tahu betul sifat dan karakter kamu, saat kamu berbicara dengan Nafa, Mommy tahu betul jika kamu terlihat begitu bahagia, mungkin kamu tidak mau orang lain mengetahuinya, tapi kamu tidak bisa membohongi Mommy, tatapan matamu kepada Nafa itu sudah sangat menunjukkan bahwa kamu menaruh perasaan kepadanya, Mommy benar, bukan?" ungkap Mommy Rima sembari menatap wajah sang anak yang penuh gundah.

"Entahlah Mommy! Dion juga banyak bingung, Nafa akan menikah dan Alaska sudah terlanjur sayang dengan gadis itu, mungkin Alaska menemukan sosok Ibu pada Nafa, dan Dion harus berbuat apa, Mommy? Dion bingung." ucap Dion sembari mengusap wajahnya kasar.

"Kamu sudah berterus terang kepadanya? Jika kamu mencintainya?" tanya sang Mommy. Dion menggelengkan kepalanya.

"Jangan ditunda-tunda, cepat katakan padanya jika kamu mencintainya, Mommy tahu Nafa akan menikah. Tapi, Mommy yakin jika gadis itu memiliki perasaan yang sama dengan kamu, hanya saja Ia terlanjur sudah bertunangan. Tapi, Nafa masih bertunangan dan itu berarti belum tentu menjadi istri, bukan?" seketika Dion tersenyum mendengar ucapan dari Mommy Rima.

"Apapun keputusan Nafa, jika kamu sudah mengatakannya, hatimu akan lebih tenang. Karena Mommy tahu cinta sejati itu akan turut bahagia jika melihat orang yang kita cintai juga bahagia, dan Mommy yakin jika Nafa juga mempunyai perasaan yang sama, hanya saja ada dinding penghalang yang sangat besar, Mommy melihat Nafa sangat menyayangi Alaska, dan bukan Alaska saja yang Ia sayangi tapi juga kamu." ungkap Mommy Rima yang memperhatikan bagaimana Nafa selama merawat cucunya, gadis itu sering memperhatikan Dion diam-diam, dan sesekali tersenyum saat melihat Dion dan Alaska bersenda gurau.

*

*

*

Sementara itu, Rudi telah tiba di rumah Nafa, kehadiran pria itu cukup mengejutkan Yolanda dan Anne, kedua wanita itu terlihat menyeringai saat Rudi datang membawa sesuatu untuk diberikan kepada calon istrinya.

"Selamat malam, Tante! Nafa nya ada?" sapa Rudi.

"Oh Nafa! Ada ... ayo masuk, ya ampun Nak Rudi ini makin lama makin cakep aja ya!" puji Yola.

"Terima kasih banyak, Tante!" balas Rudi sembari tersenyum malu, tiba-tiba saja Anne sang Adik tiri mendekati Rudi sembari bergelayut pada tangan Sang calon kakak ipar.

"Mas Rudi! Aku kangen loh sama kamu, kapan kita jalan lagi?" bisik Anne pada telinga Rudi.

"Ck ... apaan sih, lepaskan!" Rudi tampak menepis tangan Anne yang bergelayut mesra. Karena Rudi melihat Nafa yang mulai datang menemuinya. Anne pun melepaskan tangannya dan saat tahu sang kakak tiri datang menghampiri mereka.

"Sialan! Ngapain sih Mbak Nafa harus menikah dengan Mas Rudi, pokoknya Aku nggak mau jika pria yang Aku suka menikah dengan orang lain, Aku maunya Mas Rudi menjadi milikku. Harus!" batin Anne sembari menatap sinis ke arah Nafa.

"Nafa!"

"Mas Rudi!"

Rudi memeluk calon istrinya penuh kerinduan, sudah beberapa hari ini mereka jarang bertemu, padahal akhir bulan depan mereka resmi menyandang sebagai suami istri.

"Aku kangen banget sama kamu, Nafa!"

"Iya Mas! Aku juga kangen sam kamu." balas Nafa sembari membalas pelukan dari calon suaminya. Sementara itu Yolanda dan Anne melihat keduanya dengan sinis, sungguh itu adalah pemandangan yang buruk bagi mereka Ibu dan anak itu.

"Aku sudah tidak sabar lagi ingin segera menjadikanmu Istriku, dan sebentar lagi kamu akan menjadi milikku."

Nafa tersenyum mendengar Rudi mengatakan hal itu, kemudian Rudi memberikan Nafa sebuah kotak berwarna putih dan itu adalah gaun akad nikah yang akan dikenakan oleh Nafa di hari pernikahannya dengan Rudi.

"Ambil ini!" ucap Rudi sembari memberikan kotak itu kepada Nafa.

"Apa ini, Mas?"

"Gaun pengantin, Aku ingin kamu memakainya di hari bahagia kita, pasti kamu terlihat sangat cantik." seru Rudi sembari tersenyum kepada calon istrinya.

Nafa pun terlihat begitu bahagia, ternyata Rudi begitu mencintainya, sungguh jahat sekali jika dirinya harus mengkhianati Rudi dengan Dion.

"Tidak mungkin Aku mengkhianati Mas Rudi, pria ini sangat mencintaiku, Aku tidak ingin mengecewakannya. Aku harus menjauhi Tuan Dion." batin Nafa.

*

*

*

Setelah Rudi pulang, Nafa masuk ke dalam kamar dan membuka isi kotak itu, Ia dibuat tercengang dengan gaun pengantin berwarna putih bersih yang sangat cantik, matanya berkaca-kaca saat melihat gaun pengantin itu.

"Aku akan tetap menikah denganmu, Mas!" ucapnya lirih sembari memegang gaun pengantin itu. Hingga tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel miliknya yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Nafa segera mengambil ponselnya dan Ia melihat ke layar ponselnya.

"Tuan Dion? Ngapain dia nelpon?" batin Nafa. Kemudian Ia pun mengangkat teleponnya.

"Halo Tuan!"

"Halo Nafa! Emm maaf malam-malam ganggu kamu."

"Ada apa Tuan? Ada yang dapat Saya bantu?"

"Tidak, tidak ada. Hanya saja malam ini Aku tidak bisa tidur."

"Tidak bisa tidur kenapa harus ngeluh sama Saya, Tuan?"

"Ya ... karena Aku tidak bisa tidur gara-gara kamu."

"Kok gara-gara Saya? Saya nggak ngapa-ngapain Anda Tuan! Ada-ada saja."

Dion pun memberanikan diri untuk mengatakan kepada Nafa bahwa Ia mencintai pengasuh anaknya itu.

"Nafa! Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Dan ini tidak bisa ditunda-tunda lagi."

Nafa mengernyitkan dahinya dan terlihat gugup saat Dion berkata seperti itu padanya.

"A-apa yang Tuan inginkan?"

Dion mengambil nafas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk berkata jujur kepada Nafa.

"Aku mencintaimu, Nafa! Aku tahu ini tidak masuk akal, tapi Aku tidak bisa membohongi perasaanku, bahwa Aku benar-benar telah jatuh cinta kepadamu."

Seketika Nafa terasa semakin pusing antara melihat gaun pengantin yang sedang Ia pegang dan ungkapan cinta dari pria, Ayah dari bocah yang sangat Ia sayangi. Simalakama, ya ... mungkin itulah yang sedang terjadi pada Nafa. Dan Ia harus memutuskan untuk memilih yang mana. Meskipun dalam hatinya Ia juga merasakan perasaan yang sama dengan Dion.

"Aku juga mencintai Tuan. Tapi, maaf Aku tidak bisa menerimanya, Aku sudah berjanji kepada Mas Rudi untuk menikah dengannya, tidak mungkin Aku mengkhianati janjiku sendiri." batin Nafa.

"Maafkan Saya Tuan! Saya tidak bisa menerima cinta Tuan Dion, lupakan Saya Tuan, Saya hanya menganggap Tuan sebagai majikan Saya dan Ayah dari Alaska, Saya menghormati Tuan hanya sebagai orang tua Alaska tidak lebih. Terima kasih atas perhatian Anda, tapi maaf Saya tidak bisa menerima segala cinta Anda. Maafkan saya!"

...BERSAMBUNG...

Terpopuler

Comments

violet

violet

tenang Dion kalau jodoh nggak bakal kemana kok walaupun pelaminan sudah di depan mata 😁

2023-01-10

2

🌺awan's wife🌺

🌺awan's wife🌺

kayaknya Rudi punya hubungan dg Anne ya,,,,

2023-01-01

0

Rahmi Miraie

Rahmi Miraie

sabar pak dion cinta butuh perjuangan..maka dr itu fighting

2022-12-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!