Saya harus pergi

Nafa pun melonggarkan pelukan Dion dengan menggerakkan tubuhnya agar pria itu tidak terlalu erat mendekapnya. Namun, Dion tidak melepaskan begitu saja, justru Ia semakin erat mendekap tubuh sang pengasuh sehingga Nafa merasa tidak nyaman. "Aduh Tuan! Jangan kenceng-kenceng dong! Tuan mau membunuh Saya, Saya nggak bisa nafas nih." rengek Nafa yang terus berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan sang majikan.

"Kita harus totalitas untuk membujuk Alaska agar berhenti menangis, kamu diam saja nggak usah cerewet." seru Dion yang membuat Alaska menoleh ke arah mereka.

Alaska tampak mengusap air matanya dan melihat sang Daddy dan Nafa sedang berpelukan. Spontan Alaska bertepuk tangan kepada keduanya sembari berucap, "Horeeeeee Daddy dan Mama bersatu, Alaska senang banget lihatnya, jangan berpisah lagi ya Daddy!" celetuk sang bocah sembari berlari ke arah mereka berdua.

Sontak Nafa pun berusaha untuk pura-pura, Ia pun yang awalnya berontak minta dilepaskan, kini Ia pun terlihat lebih mesra dengan menyandarkan kepalanya pada dada sang majikan, demi menghibur hati anak majikannya itu. Setelah itu Ia pun berucap kepada sang bocah.

"Oh tentu saja, Sayang! Kalau begitu hapus dong air matanya, Mama nggak suka lihat Alaska bersedih, kalau Alaska bersedih Mama juga ikut bersedih."

Alaska spontan memeluk keduanya, kedua tangan bocah itu Ia rentangkan sehingga tubuh sang Ayah dan Nafa dapat Ia jangkau kedua-duanya. Alaska memeluk kaki kedua orang itu sembari memejamkan matanya. "Terima kasih ya Allah! Akhirnya Mama Nafa dan Daddy bersatu, Alaska mohon jangan pisahkan mereka lagi. Alaska sayang Daddy dan Mama Nafa."

Nafa tampak berkaca-kaca saat mendengar ucapan dari Alaska betapa hatinya sangat rapuh ketika dihadapkan pada seorang bocah yang membuat hatinya tersentuh. Sementara Dion tampak mengusap rambut sang anak. Terdengar sebuah pertanyaan yang keluar dari bibir Dion.

"Apa kamu tega jika membuat Alaska menangis lagi? Pikirkan baik-baik. Alaska sangat membutuhkanmu."

Nafa menatap wajah sang majikan yang tampak ikut berkaca-kaca, Nafa tidak bisa pungkiri jika kehadiran Dion membuat hari-harinya kian berwarna. Padahal Ia akan menikah dengan Rudi, tapi entah kenapa saat bersama Dion, Nafa merasa nyaman.

Alaska terus memeluk Dion dan Nafa, sementara itu keduanya tampak saling menatap satu sama lain, getaran-getaran halus itu semakin lama semakin besar, terasa begitu menyesakkan dada. Tatapan mereka saling beradu seolah ingin sekali mengatakan sesuatu.

"Tuan Dion! Saya minta maaf, tak seharusnya kita seperti ini."

"Aku tahu jika kamu juga mencintaiku, Nafa! Matamu tidak bisa berbohong, sinar cinta itu begitu kuat, tapi kenapa kamu tidak mengatakannya."

"Sebaiknya Aku pergi menjauh dari kalian, jika tidak maka Aku sendiri yang akan tersiksa dengan kebimbangan ini, karena hati ini mulai goyah, Aku pasti sangat bersalah kepada Mas Rudi, Aku sudah mengkhianati nya."

"Katakan Nafa, katakan jika kamu juga mencintaiku, kamu tidak bisa lari lagi dari perasaan ini, setiap detak jantungmu begitu terasa sampai ke dada."

Dion semakin mendekati Nafa, hampir saja Dion menyentuh bibir gadis itu. Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Sontak semuanya segera berlari masuk ke dalam mobil. Alaska meminta naik ke mobil bersama sang sopir, sedangkan Dion mengajak Nafa untuk masuk ke dalam mobilnya.

"Alaska! Ayo ikut Mama Nafa naik ke mobil Daddy!" titah Nafa.

"Nggak mau, Ma! Kasihan pak sopir sendiri, biar Alaska naik sama pak sopir aja. Mama sama Daddy aja, ya!" titah sang bocah sembari mendorong tubuh Nafa untuk masuk ke dalam mobil sang Ayah.

Karena hujan yang semakin deras, Nafa tidak punya pilihan lain lagi selain masuk ke dalam mobil Dion, setelah itu Alaska langsung berlari dan masuk ke dalam mobil pribadinya. Untuk sejenak Nafa terdiam saat dirinya kini duduk bersebelahan dengan sang Majikan.

Sedangkan mobil yang Alaska tumpangi sudah mulai meninggalkan mereka berdua. Alaska tampak bahagia bisa membuat Dion dan Nafa berduaan. "Yess kita berhasil, Pak! Semoga saja Mama Nafa berubah pikiran untuk tidak menikah dengan Om Rudi,"

"Iya Tuan muda, Bapak juga ikut senang." balas sang sopir.

Sementara itu Nafa pun hanya diam saat bersama dengan sang majikan dalam satu mobil, sesekali Dion melihat ke arah sang pengasuh yang terlihat rambutnya basah oleh air hujan. Spontan Dion mengusap rambut Nafa, tentu saja Nafa terkejut dan menoleh ke arah sang majikan.

"Tuan!"

"Kamu cantik sekali hari ini." puji Dion kepada sang pengasuh, sehingga membuat Nafa salah tingkah. Apalagi Dion menatap wajah Nafa begitu dalam. Hingga tiba-tiba saja terdengar suara dering telepon dari ponsel Nafa. Keduanya terkesiap, Dion kembali fokus untuk menyetir sementara Nafa tampak melihat ke layar ponsel. Ternyata sang tunangan sedang menghubunginya.

"Mas Rudi!"

Sontak Dion menoleh ke arah Nafa yang sedang menerima telepon dari tunangan nya.

"Halo, Mas!"

"Nafa! Kamu di mana?"

"Aku masih di tempat kerja."

"Besok, kamu sudah tidak usah bekerja di rumah itu lagi, Aku akan membayar semua hutang-hutangmu kepada majikanmu. Jadi, kamu tidak perlu lagi datang ke rumah mereka, pernikahan kita akan ku percepat. Mengerti!"

"Apa, Mas? Tapi Mas ... halo! Halo ...!"

Rupanya Rudi langsung memutuskan sambungan teleponnya, Nafa tampak bersedih, ternyata dirinya harus benar-benar meninggalkan rumah Dion dan juga meninggalkan Alaska.

"Kamu kenapa? Siapa yang menelepon?" tanya Dion penasaran.

"Mas Rudi, Tuan!" jawab Nafa lirih.

"Ada apa lagi?"

"Mas Rudi akan mempercepat pernikahan kami, Saya minta maaf sama Tuan, Saya tidak bisa lagi bekerja di rumah Tuan, Saya akan melunasi hutang ganti rugi mobil Tuan dengan segera, mulai besok Saya tidak akan kembali lagi ke rumah Anda. Hari ini terakhir saya bekerja sebagai pengasuh Alaska, tolong! Turunkan Saya di ujung jalan itu, biar Saya pulang sendiri. Tolong bilang kepada Alaska, Saya pasti akan datang menjenguknya, Saya akan tetap ingat kepadanya, tapi untuk menemaninya setiap hari rasanya itu tidak mungkin. Tuan bisa mencari Pengasuh pengganti Saya."

Mendengar ucapan Nafa, seketika Dion menghentikan mobilnya, membuat Nafa lega, akhirnya Dion bisa menerima keputusannya. Nafa pun segera membuka handle pintu mobil untuk dirinya keluar dari mobil sang majikan. Tapi, rupanya Dion tidak begitu saja melepaskan Nafa, Dion menahan tangan sang pengasuh dan mengunci pintu mobil secara otomatis. Spontan Nafa menoleh ke arah sang majikan, Dion menatapnya dengan tajam.

"Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku saat kamu pergi, perasaan Alaska?" seru Dion sembari menarik tangan Nafa sehingga gadis itu begitu dekat dengan sang majikan.

"Saya harus pergi, Tuan. Tolong! Jangan halangi Saya!" balas Nafa yang mulai gugup, apalagi nafas Dion terasa begitu hangat menyapu bibirnya.

Dion tidak berkata apa-apa, pria itu dengan segala kelembutannya membawa Nafa jatuh ke dalam ciuman yang pernah mereka rasakan sebelumnya. Tapi, kali ini terasa begitu memabukkan. Dion semakin dalam menikmati sentuhan masing-masing, sehingga membuat Nafa tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin sekali Nafa berontak, tapi apalah daya, cinta mengalahkan segalanya.

Hampir saja Nafa dan Dion lost kontrol, hingga tak terasa Nafa menyentuh tombol pembuka pintu otomatis mobil, pintu itu terbuka sehingga dengan cepat Nafa mendorong tubuh Dion dan segera keluar dari mobil sang majikan.

...BERSAMBUNG ...

Terpopuler

Comments

violet

violet

next

2023-01-10

1

AbhiAgam Al Kautsar

AbhiAgam Al Kautsar

pada waktunya nanti semua akan ketahuan.. dan akhir dari ketahuan walau pahit namun semua akan terasa indah pada waktunya

2022-12-24

2

Rahmi Miraie

Rahmi Miraie

yakh nafa berhasil kabur..ayo dion kejar nafa
#kalau udah kayak gini aku mendukung rencana ibu tiri nafa untuk menggagalkan pernikahan nafa dgn rudi

2022-12-23

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!