Nafa tampak tertawa kecil melihat ekspresi wajah disindir anaknya sendiri. "Ya ampun rupanya Alaska pinter banget bikin Daddy nya gondok." batin Nafa sembari mengusap lembut rambut Alaska.
Mulai saat itu Nafa pun merawat dan menyiapkan segala keperluan Alaska, dari makan dan pakaian Alaska, Nafa yang akan menanganinya. Tentu saja Alaska sangat nyaman saat Nafa bersamanya, seolah-olah anak itu mendapatkan sosok yang tepat untuk dirinya. Di balik sifat hiperaktif Alaska, ternyata anak itu sangat menurut kepada Pengasuhnya, Alaska yang kerap kali mengacak-acak kamar tidurnya, sekarang anak yang masih sekolah di TK itu, lebih memilih untuk merapikan barang-barang yang baru saja Ia mainkan.
Tentu saja itu membuat Mommy Rima sangat senang melihat perubahan sang cucu, kebiasaan Alaska yang sering mengobrak abrik dapur dengan menumpahkan tepung, gula, minyak goreng ke lantai pun perlahan mulai berkurang. Meskipun terkadang Alaska masih suka bermain di area dapur.
Hingga suatu hari, saat Nafa sedang merapikan tempat tidur putra Dion itu, tiba-tiba saja Alaska diam-diam pergi ke kamar Dion, Ia melihat sebuah botol parfum milik sang Daddy yang baru saja Ia beli dari Paris saat ada bisnis di luar negeri, parfum mahal itu Dion letakkan di atas meja kecil di dalam kamar nya. Sungguh Alaska sangat jail dan suka melakukan sesuatu yang membuat siapa darah siapa saja mendidih.
Anak itu membawa parfum yang harganya sekitar lima juta itu ke luar kamar Dion dan Ia semprotkan pada di setiap sudut ruangan.
"Hmm wangi! Waahhh Daddy pasti senang dengan bau ini yang tersebar di seluruh ruangan." ucap Alaska sembari terus menyemprotkan parfum itu dengan senang.
Alaska pun datang ke kamarnya dan melihat Nafa yang sedang merapikan bajunya untuk dimasukkan ke dalam lemari. Nafa melihat Alaska yang sedang menghampirinya.
"Alaska! Alaska dari mana saja? Hmm Alaska kok wangi sekali." Nafa merasa jika sang anak majikan tercium aroma yang begitu harum, aroma itu mengingatkan dirinya pada Dion, karena setiap Dion melewati dirinya, aroma wangi itu selalu meninggalkan jejak harum yang elegan dan sangat menenangkan.
Alaska tersenyum dan melihat sang anak asuh yang sedang membawa botol parfum mahal.
"Alaska! Itu parfum siapa? Itu pasti parfumnya Daddy, iya kan?" tanya Nafa dengan lembut. Alaska mengangguk polos, wajahnya yang tak berdosa membuat Nafa semakin gemas.
"Alaska! Itu kan punya Daddy, ayo kembalikan, nanti Daddy nyariin loh, pasti Daddy marah-marah lagi, kembalikan gih!" titah Nafa yang mencoba merayu Alaska.
"Nggak mau, Alaska pingin mainan ini, Ma!" jawab Alaska dengan polosnya.
"Itu bukan mainan Sayang! Itu parfum milik Daddy dan itu pasti harganya sangat mahal, Daddy sudah susah payah beli parfum itu tiba-tiba tahu parfumnya hilang pasti Daddy sedih." ucap Nafa yang terus membujuk Alaska untuk mengembalikan parfum milik Dion.
Alaska memperhatikan botol parfum itu dan meminta izin untuk pinjam sebentar, setelah itu Ia akan mengembalikan parfum itu ke kamar sang Daddy.
"Sebentar Ma! Aku mau pinjam dulu, nanti pasti Alaska Kembalikan sama Daddy!" ucapnya sembari tersenyum yang menunjukkan gigi Ompong nya yang lucu.
Nafa pun tersenyum dan mengangguk, "Iya! Tapi jangan lama-lama ya buat main nya, keburu Daddy pulang, nanti Daddy bisa marah." seru Nafa mengingatkan kepada anak itu.
"Iya, Ma!" Alaska pun segera keluar dari kamar nya dan bermain sebentar dengan minyak wangi keluaran desaign kenamaan kota Paris.
Hingga akhirnya Dion pulang dari kantor, Ia masuk ke dalam rumah dan tiba-tiba saja Ia mencium aroma parfum seperti miliknya yang baru saja Ia beli beberapa hari yang lalu saat dirinya berada di luar negeri saat sedang mengerjakan tugas bisnis.
Hidung Dion mengendus-endus, tentu saja Ia sangat mengenali aroma wangi yang selalu Ia pakai saat ke kantor. "Hmm seperti bau minyak wangi ku?"
Tentu saja aroma itu begitu semerbak memenuhi seluruh ruangan, bagaimana tidak Alaska menyemprotkan minyak wangi itu seolah dirinya menyemprot obat nyamuk.
"Waaahhhh keren! Pasti tidak akan ada nyamuk lagi di sini!" celoteh Alaska dengan senang, hingga tidak Ia sadari jika Dion sudah berdiri di belakang nya dengan ekspresi wajah yang sudah bisa diduga.
Alaska berjalan mundur sembari terus menyemprotkan parfum itu ke kanan dan ke kiri.
"Ciu ... ciu ... ciu ... !" suara Alaska seolah-olah menirukan bunyi tembakan dengan mulutnya.
"Alaskaaaaaaa ...!" teriak Dion sembari kedua tangannya yang berkacak pinggang kepada sang anak yang sudah bermain dengan parfum mahal miliknya.
Seketika Alaska sangat terkejut saat mendengar suara Dion yang tampak begitu marah, spontan Alaska menoleh ke belakang dan tentu saja Ia melihat wajah sang Daddy seolah-olah memiliki dua tanduk dan gigi taring yang panjang, melihat ekspresi wajah marah itu, membuat Alaska menutup kembali tutup parfum dan setelah itu dengan lugu dan tanpa dosa, Ia mengembalikan parfum itu kepada Dion.
Alaska menarik tangan Dion dan segera mengembalikan parfum itu ke tangan sang Daddy. Dengan polosnya Alaska berkata kepada sang Daddy, "Ini punya Daddy! Maaf tadi Alaska pinjam sebentar buat bunuh nyamuk, terima kasih banyak Daddy!"
Setelah mengatakan hal itu spontan Alaska segera berlari menuju ke dalam kamar, sementara itu Dion melihat ke botol parfum nya dan mendapati parfum itu tinggal separuh, "Alaskaaaaaaa!" Dion yang sudah geram langsung mengejar sang anak yang sedang berlari ke kamar nya.
"Huuwaaaa lariiiii dikejar banteng!" teriak Alaska sambil mengatakan hal itu, beberapa pelayan yang melihat itu sekilas tertawa kecil melihat tingkah konyol anak dan bapak itu.
"Hei tunggu Alaskaaaaaaa! Daddy akan menghukum mu! Tunggu kamu, ya!" Dion terus mengejar sang anak hingga akhirnya ia sampai di kamar dimana sang anak sedang bersembunyi.
Alaska tampaknya sedang bersembunyi di balik tubuh Nafa yang saat itu masih berada di dalam kamar Alaska.
"Eh eh Alaska! Kamu ngapain di sini?" Nafa pun bingung kenapa Alaska tiba-tiba bersembunyi di balik punggungnya seolah anak itu sedang bersembunyi.
"Ada monster, Ma!" jawab Alaska yang membuat Nafa mengerutkan keningnya. "Haaa ... monster?" Nafa tampak bingung mendengar ucapan dari Alaska.
Benar saja tiba-tiba Dion datang ke kamar Alaska dan melihat putranya itu sedang berada di balik punggung pengasuhnya.
"Alaska! Keluar kamu! Daddy tahu kamu sedang bersembunyi di sana." seru Dion kepada sang anak. Namun, Alaska semakin erat berpegangan pada tubuh Nafa sembari berkata, "Mama tolong Alaska, Ma! Alaska takut itu monster nya datang, menyeramkan!" ucap Alaska sembari mengintip Dion dibalik tubuh Nafa.
Nafa pun menatap wajah Dion yang terlihat kesal. Ia pun menanyakan kepada Dion apa yang terjadi pada mereka berdua. "Maaf Tuan! Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kamu tahu Alaska sudah bermain-main dengan parfum mahal milikku, kamu tahu berapa harganya, tujuh juta. Aku membelinya dengan edisi terbatas, eh nggak tahunya nih bocah udah buang-buang parfum mahal ku, dikiranya obat nyamuk semprot, sini kamu Alaska! Daddy akan menghukum mu!" seru Dion sembari berusaha menarik tangan sang anak. Tentu saja Alaska menolak dan berontak. "Nggak mau ikut Daddy, Aku takut Daddy jadi monster."
Melihat itu, Nafa pun berusaha untuk menyelesaikan masalah antara ayah dan anak dengan mendamaikan mereka berdua.
"Jangan Tuan! Saya mohon, jangan sentuh Alaska, biar Saya yang bicara kepadanya." ucap Nafa sembari menahan tangan Dion dengan tangannya, tentu saja sentuhan tangan Nafa seketika membuat Dion merasa nyaman seolah-olah dirinya menyentuh es di tengah Padang Sahara.
Dion pun berusaha untuk tenang dan sedikit menjauh dari mereka. Sementara itu Nafa menatap wajah Alaska yang sangat membuat nya ingin sekali mencubit pipinya yang gembul. Perlahan dengan senyuman, Nafa berkata kepada sang anak, "Alaska! Mama nggak suka Alaska seperti itu, apa yang Alaska lakukan itu memang tidak boleh, Sayang! Mama tadi kan udah bilang, itu bukan mainan nanti Daddy tahu pasti Daddy marah. Nah! Sekarang Daddy marah kan jika tahu kalau parfum itu buat mainan Alaska. Coba Alaska bayangin, mainan Alaska yang paling Alaska suka tiba-tiba dibuat mainan sama teman Alaska tanpa izin, gimana perasaan Alaska?"
"Marah, Ma!"
"Nah! Itu tahu ... Alaska pasti marah, kan? Kayak monster. Makanya itu kenapa Daddy juga marah. Sekarang Alaska tahu kan kalau mengambil sesuatu milik orang lain tanpa izin itu tidak boleh, apalagi itu bukan benda yang dibuat untuk mainan."
Sejenak Dion melotot kan matanya saat Nafa mengatakan monster kepada dirinya, "Sialan dikatain monster!"
"Iya Ma! Alaska yang salah!" jawab sang anak sembari menundukkan kepalanya. Nafa tersenyum dan mengangkat wajah putra Dion itu.
"Sekarang! Alaska minta maaf gih sama Daddy, kita nggak boleh marahan loh terus-terusan, nanti kita bakal dimarahin sama Tuhan, Alaska mau?"
Anak itu menggelengkan kepalanya, "Nggak mau, Ma! Baiklah Alaska akan minta maaf sama Daddy."
Alaska pun pergi menghampiri Dion dan berkata kepada pria itu sembari mencium tangan Dion.
"Daddy! Alaska minta maaf sama Daddy, Alaska udah salah mainin parfum Daddy, Daddy mau maafin Alaska, kan?"
Melihat ekspresi wajah sang anak yang polos seketika kemarahan Dion sirna, sungguh sang pengasuh Alaska sangat pintar merayu sang anak, spontan Dion memeluk putranya penuh kasih sayang.
"Iya Daddy maafkan! Lain kali jangan diulangi lagi, ya!"
"Iya Daddy! Alaska janji!"
Kembali Alaska memeluk sang Daddy, untuk sesaat Nafa melihat Kehangatan dan anak yang membuatnya tersenyum.
Dion pun menatap wajah sang pengasuh yang sedang memperhatikan mereka berdua, Dion pun tersenyum kepada Nafa seolah Ia mengucapkan terimakasih kepada Nafa bisa membuat sang anak menurut kepadanya.
Tentu saja Nafa menjadi tak nyaman dan salah tingkah saat Dion menatapnya dengan cara tatapan yang berbeda. "Kok dia lihatnya kayak gitu sih, idiiih!"
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
violet
🤭🤭🤭🤭🤭
2023-01-09
1
violet
🤣🤣🤣🤣
2023-01-09
0
Enung Samsiah
bru d liht tnpa mrah aja dah meleleh ya
2023-01-07
0