***
Hari pernikahan Wulan kini memasuki hari pertama. Orang Jawa menyebutnya hari Midodareni.
Sam tak mendapat tugas khusus, ia hanya membantu kekurangan ini-itu di belakang. Itupun bukan sebagai tugas pokok. Sudah ada orang yang lebih cakap di bidangnya.
Sedangkan Sam, ia hanya tak tau harus bantu-bantu bagaimana. Ia merasa tak enak jika hanya duduk saja tanpa melakukan apapun.
[Hari ini bisa ke wisuda, aku kan, Sam?]
Satu pesan dari Akmal membuat Sam menepuk dahinya pelan. Rupanya ia hampir melupakan janjinya.
Sam jadi ingat beberapa bulan yang lalu saat wisuda, beberapa sanak keluarga yang ikut datang dan memberikan hadiah padanya. Hanya beberapa. Apalagi teman wisudawati, sudah pasti itu jadi momentum panen kado.
"Ini berarti, Nada juga sedang di wisuda." Sam berdiri lalu mondar-mandir sembari menggulir layar pipih di tangan. "Ah, aku harus siapin buket bunga? Boneka atau apa?" gumam Sam sambil mencari-cari referensi bingkisan untuk Nada.
"Tapi, bagaimana cara aku memberikannya? Membayangkan wajah Nada yang datar membuatku tak punya nyali lebih."
"Kenapa, Mas?" tanya Revi yang sedang melintas di dekat meja prasmanan. "Aku perhatikan dari tadi diem aja, ketuk ketuk kepala. Kek' sedang bingung, kenapa sih?" todong Revi mengungkapkan apa yang ada di benaknya.
Sam segera berubah mode santai. "Nggak ada. Nggak bingung, ni bocah berlebihan, sok tahu!" Sam mendaratkan satu tangannya menepuk ujung jilbab Revi, alhasil kejahilannya menjadikan ujung jilbab itu meleyot tidak presisi lagi.
"Mas, ih!" Revi buru-buru menepuk lengan sepupunya dengan muka kesal sedangkan Sam jadi terkekeh. "Aku bukan bocah, ya! Udah kelas dua SMA, ya, Mas, kalau lupa!"
"Iya-iya," pungkas Sam dan Revi segera berlalu. Mungkin dia akan membenahi jilbabnya.
Keseruan menjahili Revi jadi terpangkas karena Wahid memanggil Sam. Ia katakan jika papanya akan sampai satu jam lagi. Hal itu membuat Sam tentu terkejut. Ia memeriksa ponselnya, namun nihil, siapa tahu papa menghubunginya tapi dia tak mendapatkan satu pesan apapun. Sang papa tidak menghubunginya sama sekali jika akan pulang.
"Sam, ini kunci mobil papamu! Kamu jemput nanti di bandara sejam lagi, ya!" Kali ini Paklik Kusno datang menghampiri Sam juga Wahid.
"Papamu nggak bilang sama kamu," terka Kusno yang tahu kebingungan Sam. Ia mendekati kakak dan keponakannya karena baru saja mendapatkan info dari Siti–sang istri dari story' WhatsApp Tantri–mama Sam.
"Iya, Paklik. Takutnya Sam yang teledor melewatkan pesan papa. Nggak taunya memang sengaja."
Baru saja Sam berhenti berbicara, telepon dari Rusno–papa Sam masuk, membuat Sam pamit untuk menerima telepon.
Kusno dan Wahid kini berbincang mengenai kesiapan midodareni dan memastikan bingkisan dan sajian catering yang sudah siap.
Dua bersaudara itu juga cukup lega karena nantinya keluarga mereka akan berkumpul secara komplit. Mereka bahkan tak menyangka jika saudaranya akan menyempatkan untuk ijin demi bisa berkumpul bersama.
*
Di tempat berbeda, Nada sedang di rias oleh MUA. Bersama Mega ia sudah antri sejak habis subuh. Dan kini tibalah pada gilirannya.
"Gila, berasa mau ijab qobul, kamu," puji Mega memandangi wajah manis Nada yang sedang di beri blus on di pipi.
Nada hanya melirik sekilas. Terlihat pasrah saat perias memasang bulu mata palsu di matanya. Berasa berat gini, ya. Nasib nggak pernah make-up berat.
Nada ingat terakhir kali ia di make-up tebal seperti ini, saat tetangga menyuruhnya menjadi pengarih manten, yaitu dua orang gadis muda yang menemani pengantin wanita.
"Bapak sama ibu kamu udah dateng, Ga?" tanya Nada pada Mega yang sedang selfi ria.
"Lagi di jalan, Beib," sahut Mega dengan bersibuk dengan ponselnya. "Bapak ibumu pakai apa ke sininya, Nad?"
"Tadi wa ibu, sih, mau sewa mobil sepertinya, ada keponakan yang mau ikut juga soalnya."
"Besti kamu yang baru juga datang?" tanya Mega lagi.
"Bubelle, maksudnya?"
"Siapa lagi."
"Ikut, tapi motoran aja dia. Dateng juga agak siangan. Nunggu jam ngajarnya habis."
"Kebaya oke, sepatu oke. Dahlah perfect!" Mega memeriksa kesiapan baju yang akan Nada kenakan. "Motor kamu taruh sini, aja, Nad. Trus kita cuss pakai mobil aku," lanjutnya.
"He'em. Ikut aja, deh," ucapnya pasrah.
"Nanti jangan langsung pulang, yah. Pulang ke rumah aku aja dulu. Mama ada syukuran soalnya."
"Nanti aku ijin ibu, dulu deh."
"Nanti aku bantuin ngomongnya, ya!"
Nada menyadari sesuatu. "Trus aku jadi nyamuk dong kalau pacar kamu dateng."
"Ya kali, masa iya aku cuekin kamu. Makanya, terima aja Adit atau Atar yang kamu ceritakan itu."
Benar saja, Mega mulai lagi meroasting Nada.
"Ngawur kamu!" Sudah habis kesabaran Nada menjadi korban roasting oleh Mega.
"Salah sendiri, ada lamaran kamu tolak. Jika kamu terima dari dulu pasti sudah ada yang menjamin kamu, kan."
Mega mengorek kembali cerita lama saat Nada baru semester dua. Nada sampai tak berani pulang karena ada tetangga yang sudah bertandang ke rumah untuk meminang Nada. Di lihat dari pekerjaan, sudah terbilang mapan. Karena sosok yang tak pernah Nada sebut namanya itu sudah memiliki satu toko bangunan di tempatnya.
"Siapa juga yang mau nikah muda." Nada sudah selesai di rias kini berdiri di depan Mega. Ia lantas menarik temannya itu ke ruang ganti di sana.
Tak lama, Nada sudah siap dengan satu stel kebaya peach dan 'jarik' model parang sebagai bawahan. Ia melirik arloji dan berbalas pesan dengan ibu yang sudah di perjalanan.
Nada dan Mega melesat dengan mobil yang di kendarai Mega ke gedung acara.
Waktu bergulir memasuki acara wisuda. Nada yang sudah berbaris sesuai bidang prodinya kini berbaur dengan ratusan wisudawan dan wisudawati.
Salah satu gedung di pusat kota menjadi tempat jalannya acara. Tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, betapa bahagianya Nada hingga di titik ini.
Hingga serangkaian acara demi acara terlewati. Kini saatnya Nada bertemu dengan kedua orangtuanya. Ada satu keponakan yang turut hadir juga.
"Sini, Kalis, fotoin Mbak!" Gadis seusia SMP itu meminta ponsel Nada dan segera membidik Nada yang berdiri diantara bapak dan ibunya.
"Alhamdulillah, selamat ya, Nak." Suara ibu membuat Nada terharu dan segera memeluk wanita berjilbab satin itu dengan sayang.
"Alhamdulillah, lega rasanya kamu bisa lulus dengan predikat cumlaude, Nada." Bapak memeluk Nada. "Bangga rasanya, anak satu-satunya bapak bisa menjaga diri dengan baik. Semoga kedepannya kamu dapat menyalurkan pendidikan yang sudah kamu dapat, ya, Nak."
Sejenak Nada terpaku akan pengakuan bapak. Ada rasa senang dan sedih mendengar penuturan cinta pertamanya itu.
Cinta yang sesungguhnya, cinta yang tulus tanpa mengharapkan balasannya. Mereka yang hanya berharap segalanya terbaik untuk kebahagiaannya. Tiada cinta setulus cintanya orang tua pada anaknya.
Ya Allah, ijinkan aku membahagiakan bapak dan ibu. Cukup aku membuat mereka kecewa berkali-kali karena membuat mereka malu. Semoga di lain kesempatan aku bisa membuatnya bahagia melebihi kebahagiaan ini.
Ibu menyeka air mata Nada dengan hati-hati.
"Takut riasannya luntur, Nduk," ujar ibu saat Nada tersenyum memandang orang yang telah mengandungnya sembilan bulan itu.
"Assalamualaikum," seru Mega pada satu keluarga yang tengah berkumpul di spot foto khusus untuk berfoto.
Mega datang bersama kedua orangtuanya. Mereka berjabat tangan sebelum berjalan bersama ke area lapang di halaman gedung.
Kedua anak mereka bak saudara selama delapan semester ini membuat dua keluarga begitu akrab.
"Nada biar ikut kita ke rumah dulu, ya, Bu. Mau ada syukuran kecil-kecilan. Bila berkenan mbok( kalimat penekanan) njnegan(sebutan kamu bahasa Jawa kromo Inggil) sekalian juga ikut ke rumah!"
Hardi menyikut istrinya dan menggeleng pelan.
"Kapan-kapan, saja ya Bu. Di samping rumah sedang ada hajatan tetangga. Nggak enak kalau di tinggal." Marni memang bicara apa adanya.
"Nah, kita bantu-bantu terus di rumah tetangga yang punya 'gawe'. Kapan giliran kita punya gawe–nya ya Bu?"
Ucapan Tami–ibu Mega sedikit menyentil Nada. Padahal Tami tak bermaksud begitu.
"Semoga saja secepatnya, ya, Bu Tami. Kita serahkan jodoh anak-anak kita pada Allah. Semoga mendapat yang terbaik untuk mereka." Itu suara Marni yang sangat tulus saat berucap demikian.
"Semoga di segerakan, ya, Bu Marni. Saya sudah pengen nimang cucu soalnya."
Ibu melirik Nada yang pura-pura tak mendengar semua pembicaraan. "Iya ya, Bu. Usia 22 tahun jika di desa itu, sudah di anggap layak. Sudah umum untuk menikah."
"Ya, begitulah kalau di desa."
Hardi dan Marni tak berlama-lama lagi di sana. Memang di tempat tetangga sedang ada acara nikahan. Jadi keduanya memutuskan untuk pulang dan berpesan pada Nada agar hati-hati saat pulang.
Sementara Sam yang tak berhenti memerhatikan Nada dan keluarganya tampak tersenyum sendu.
"Udah. Sana samperin, Sam!" Royan berbicara dengan menepuk punggungnya.
"Iya, tunjukkan kamu masih Sam yang sama." Akmal ikut mengompori.
Sam berdiri di antara dua orang yang masih mengenakan baju toga. Ia benar-benar datang untuk memberikan selamat pada kedua sahabatnya. Jika tak main-main dulu selama setahun, bisa di pastikan kedua sahabatnya itu sudah wisuda satu tahun yang lalu.
Baru saja Sam akan melangkah, kehadiran orang di hadapan Nada membuatnya terpaku.
Sam sembunyikan buket bunga dan coklat yang di kemas dengan cantiknya di balik punggungnya.
Sungguh, keberanian Sam seakan luntur begitu saja saat Nada tersenyum. Hati semakin terasa diremas saat Nada bersama lelaki berbaju batik ASN berdiri di sampingnya. Senyum manis yang terlukis di bibir merah muda itu seakan menjadi terasa pahit baginya.
Sam berbalik badan tak kuasa melihat itu.
"Sam," ucap Royan dan Akmal bersamaan. Melihat wajah Sam memaksakan senyum membuat jiwa slengean mereka jadi berubah.
Mereka ikut merasakan kesedihan yang Sam alami.
Sam berjalan kembali ke mobilnya setelah pamit pada Royan dan Akmal, jika ia akan menjemput kedua orang tuanya.
Sam melihat tempat sampah lalu memutar kepala melihat ke arah Nada.
"Om minta coklatnya, dong!"
Senyum merekah perlahan di bibir penuh milik Sam. Ia melihat seorang anak kecil yang berdiri mendongak ke arahnya. Ia membungkuk menyamai tinggi anak itu dan membisikkan sesuatu. Setelah anak tersebut paham, Sam memberinya satu bungkus coklat dari sakunya. Ia berpesan pada anak itu agar memberikan buket pada Nada. Buket yang tadinya akan ia buang menunjuk pada Nada yang masih berfoto bersama teman-teman yang makin bertambah banyak mengintarinya.
"Ke kakak yang pakai jilbab pink itu, ya!"
...***...
...Note: Nada yang biasa di panggil Buna di sekolah, akan tetap aku sebut Nada saat bukan di lingkup sekolah lagi ya! Jadi, jangan bingung, ya man teman🙏...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Widya Ekasari
hpy graduation
2023-03-25
0
Tatananika_Sazenka
Sam, jangan sedih
2023-02-07
1
Miss Ayyyu_ptr
jangan di buang sam..buat aku aja
2023-01-06
0