Shanonku Telah Kembali

"Hati yang harus kau jaga? Apa maksudmu, Arsen?"

"Bukankah tadi malam aku sudah mengatakan padamu kalau aku sudah menemukan dia," jawabku pada Chelsea.

"Jadi kamu udah bener-bener nemuin dia?"

"Apa tadi malem aku kaya lagi boongin kamu? Aku selalu serius sama perkataanku, Chelsea."

Chelsea yang mendengar perkataanku pun tampak terdiam. "Arsen, bolehkah aku bertemu dengan wanita itu? Apa aku boleh bicara sama dia?"

"Untuk apa?"

"Bicara dari hari ke hati, sebagai sesama wanita."

"Kau jangan bercanda, Chelsea."

"Aku tidak becanda, Arsen. Aku hanya ingin bertemu dengan orang yang menjadi satu-satunya wanita dalam hidupmu. Bahkan aku yang sudah mengenalmu sejak dulu pun tidak pernah bisa merebut hatimu darinya. Aku ingin tahu sehebat apa wanita itu, apa dia lebih cantik dariku? Ataukah lebih pintar dariku?"

Aku pun tersenyum kecut mendengar perkataan Chelsea. "Suatu saat nanti kau juga akan tahu, Chelsea. Tapi bukan sekarang, belum waktunya kau bertemu dengannya. Lagipula, cinta itu masalah hati, saat kau jatuh cinta, kau tidak perlu banyak alasan untuk jatuh cinta padanya. Maaf Chelsea, lebih baik kamu pulang sekarang. Aku sedang sibuk, kamu tahu kan Kak Ethan lagi di Finlandia, jadi aku yang harus urus perusahaan papa."

Mendengar perkataanku, Chelsea tampak menundukkan kepalanya, sambil meneteskan air matanya. Sebenarnya aku merasa kasihan padanya, memang aku kejam. Tapi bagiku masalah hati memang selamanya tidak akan bisa dipaksakan. Jika saat ini aku menerima cinta dari Chelsea, pasti hanya akan membuatnya semakin terluka karena terjebak dalam hubungan tanpa balasan cinta dariku, dan aku yakin itu pasti menyakitkan.

Aku kemudian menggenggam tangan Chelsea. "Chelsea, kau cantik. Suatu saat nanti kau pasti bisa bertemu dengan laki-laki yang benar-benar tulus mencintaimu, tapi itu bukan aku. Kau berhak hidup bahagia dengan laki-laki yang mencintaimu dengan sepenuh hati, dan sayangnya itu bukan aku."

Mendengar perkataan dariku, Chelsea lalu menatapku dengan tatapan tajam. "Kamu jahat, Arsen! Lihat aja, suatu saat nanti aku pasti akan temuin wanita itu!" bentak Chelsea, dia kemudian bangkit dari atas kursi meja makan, lalu meninggalkanku begitu saja.

Melihat kepergiannya, aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar, Chelsea masih sama seperti Chelsea yang dulu. Saat dulu aku menolak cintanya, dia pun marah dan meninggalkanku begitu saja, sama seperti saat ini.

Tak mau larut pada masalahku dengan Chelsea, aku pun ikut beranjak dari kursi meja makan. Aku kemudian berdiri di depan pintu kamar Shanon, cukup lama aku berdiri, melihat sikapnya sebenarnya aku ingin membuka pintu kamar itu lalu memeluk tubuhnya erat seraya mengatakan kalau aku begitu mencintainya. Namun, aku memilih mengurungkan niatku, dan mencoba meredam egoku. Aku pun beranjak dari depan kamar Shanon dan masuk ke dalam kamarku, dan memutuskan untuk mandi. Ya, mungkin guyuran air dingin bisa sedikit meredam emosi yang menggebu di dalam hatiku.

Setelah selesai mandi, kudengar ponselku pun berbunyi. Aku lalu mengangkat panggilan telepon itu yang berasal dari mata-mataku.

"Halo Max."

Cukup lama aku mendengar penjelasan dari Max, kini aku tahu alasan mengapa Shanon kemarin menangis dalam pelukanku. Dia pasti mulai curiga pada Kak Ethan karena orang tuanya sudah pulang ke rumah, sedangkan dia saat ini masih berada di Finlandia, dengan alasan yang tidak jelas baginya. Tentu saja Kak Ethan belum pulang, karena saat ini dia sedang mencari programer hebat di Eropa untuk menandingiku, tapi aku yakin semua itu pasti percuma. Aku pun tidak peduli dengan semua itu, kerena untuk saat ini aku sedang sangat menikmati permainanku, saat melihat Kak Ethan kewalahan dan Shanon mulai membuka hatinya untukku.

Waktu pun beranjak siang, aku merasa kerongkonganku begitu kering dan berniat mengambil air minum di bawah. Dan di saat aku membuka pintu kamarku, lagi-lagi aku berpapasan dengan Shanon.

'Mungkin kita jodoh,' batinku di dalam hati. Sebut saja aku jahat karena berniat merebut istri dari kakakku, tapi aku tidak peduli. Ya memang cinta sudah membuatku kehilangan kewarasanku.

"Sha!" panggiku pada wanita cantik itu yang wajahnya kini tampak begitu sendu. Dan aku yakin, dia jadi seperti ini pasti ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi.

"Sha, tunggu dulu!" cegahku lagi padanya.

Aku kemudian menatap wajah sendunya. "Ada apa lagi? Kenapa kamu masih di sini? Bukannya kamu mau pergi sama pacarmu itu?"

"Siapa yang mau pergi? Tadi aku belum melanjutkan kata-kataku, tapi kamu udah pergi gitu aja, kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan, Sha."

"Aku cuma pingin cepat-cepat mandi, bukan karena kalian. Kalian nggak ada hubungannya sama aku."

Aku pun terkekeh. "Kamu selalu aja gini, Sha. Tapi aku juga selalu suka sikap cemburu kamu," celotehku yang pasti membuatnya terkejut.

"Kenapa kamu malah senyum-senyum gitu? Jangan sembarangan ngomong deh!"

"Suatu saat kamu juga pasti tahu, saat ini aku cuma ngrasa bahagia, kalau Shanonku ternyata nggak berubah," balasku yang tentunya pasti membuat Shanon semakin bingung.

"Apa maksud kata-katamu Arsen? Aku nggak ngerti, dan satu lagi yang harus kamu ingat, aku sama sekali nggak ngrasa cemburu sama kalian berdua!"

"Benar kamu nggak cemburu? Kalau gitu sekarang aku pergi sama Chelsea aja! Aku tinggal hubungin dia terus ngomong berubah pikiran."

Mendengar jawabanku, Shanon pun tampak semakin panik dan kesal yang membuatku semakin gemas oleh sikapnya, dan aku yakin sebenarnya dia sedang cemburu. Tapi dia tak mengakuinya, karena aku tahu pasti tidak mudah baginya mengakui perasaan ini padaku karena saat ini posisinya sudah menjadi istri dari Kak Ethan. Aku kemudian menarik tubuhnya masuk ke dalam kamarku lalu menghempaskan tubuhnya ke tembok dan mengunci tubuhnya dengan mencengkram tangannya agar tidak bergerak.

"Kamu cemburu?" tanyaku saat melihat Shanon yang terlihat begitu kesal.

"Jawab aku, Sha? Kamu cemburu kan?" tanyaku kembali.

"Kamu cemburu kan, Sha?" ucapku, lalu mencium bibirnya karena sudah tidak sanggup lagi menahan hasrat yang sudah begitu menggebu. Awalnya, dia hanya diam, namun tak berselang lama, dia mulai membalas paguttan bibirku, dan tak hanya itu dia pun mulai mengalungkan tangannya di leherku. Seketika aku pun merasa begitu bahagia, Shanonku telah kembali, dan takkan kubiarkan dia menjadi milik yang lain. Cukup lama kami berciuman, hingga kecapan dan dessahan yang mulai keluar dari bibir kami menggema di seluruh sudut kamar.

"Sha, aku cinta sama kamu!"

Bersambung....

NOTE:

Naxt episode, udah pake POV Author ya, thanks 🤗😘😍

Terpopuler

Comments

Linda Purwanti

Linda Purwanti

lanjuuuuut ka weny tetap semangat up nya

2022-12-17

0

Tiahsutiah

Tiahsutiah

arsen shanon awas ke bablasan nanti 😂🤭
semoga shanon cepat sembuh ingatan nya,

2022-12-16

0

Muhammad Adam

Muhammad Adam

lanjutt Thor.. yg terselindung itu yg 🔥 hot & mncabar adrenaline 😁.

sokong Arsen n Shanon ❤️🙂

2022-12-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!