Sejak saat itu aku merasa hidupku begitu hancur dan berantakan, rasanya aku tidak mempunyai semangat dan alasan untuk hidup di dunia. Aku menjalani hari-hariku dengan keputusasaan. Setiap hari aku hidup layaknya mayat hidup yang hanya menjalani aktivitas tanpa ada harapan dan semangat, tatapan mataku kosong, dan tubuh ini bergerak seperti tanpa tenaga.
Bahkan rasanya aku tidak memiliki alasan untuk hidup, Shanonku telah pergi, lantas untuk apa aku hidup di dunia? Bahkan berulang kali, aku nekat mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan yang begitu tinggi berharap tubuh ini menabrak sesuatu yang keras hingga tubuhku hancur seperti hancurnya hatiku saat ini. Namun, di saat itu pula aku merasakan ada sebuah suara yang memanggilku, suara yang sangat kukenal seperti milik Shanon yang selalu memintaku untuk menunggu sama, seperti janji kami dulu.
Setelah itu aku pun hanya bisa berteriak sambil berulang kali memanggil namanya, berharap ada keajaiban dimana masa itu akan tiba, saat aku bisa bertemu dengan Shanon, satu-satunya wanita yang sangat kucintai.
Selama dua tahun aku menjalani hidupku yang begitu berat. Hingga akhirnya menjelang kelulusanku di bangku sekolah menengah atas, mama mendatangiku dan berbicara empat mata denganku.
Sore itu, saat aku sedang duduk di balkon kamar, menatap langit senja yang begitu menyesakkan dada. Ya, memang senja terasa begitu menyesakkan dada ini, tapi entah mengapa aku selalu menyukai suasana senja. Dulu aku selalu berharap, senja akan menjadi saksi cintaku dengan Shanon, tapi nyatanya senja yang menjadi saksi perpisahanku dengannya.
Saat itulah tiba-tiba mama datang mendekat padaku, duduk di sampingku sambil menatapku dengan tatapan hangatnya, seraya menggengam tanganku.
"Arsen, mama tahu selama dua tahun terakhir ini kau menjalani hidupmu yang begitu berat, tanpa kau cerita padaku, mama tahu kau mengalami patah hati yang begitu dalam. Meskipun mama tidak tahu bagaimana detailnya, tapi mama tahu ini sangat berat bagimu."
Mendengar perkataan mama, rasanya dada ini kembali sesak, tapi aku hanya diam. Kuakui aku ternyata begitu rapuh, di balik tubuhku yang kekar, di balik kecerdasan otakku, ternyata aku begitu lemah saat berhadapan dengan cinta, ya serumit inikah cinta? Cinta yang tak pernah bisa dipahami dengan logika.
"Arsen lihat mata mama!"
Aku kemudian memandang mata mamaku, mata hitam dari wanita paruh baya itu terlihat begitu sayu. "Arsen, sejak aku menikah dengan papamu, kau sudah kuanggap sebagai putraku, dan aku menyayangimu tanpa syarat, kau sama seperti putraku kandungku, Ethan." Kulihat mata mama berkaca-kaca saat mengucapkan itu.
"Hidup ini memang rumit, dan terkadang hidup tidak seperti yang kita inginkan. Namun, kerumitan itu merupakan potongan kecil perjalanan yang harus dilalui oleh manusia walaupun terkadang kehidupan ini menyeret ragamu pada situasi yang membuatmu merasa begitu hancur. Tapi, ketahuilah semesta ini sangat luas dan kehidupan ini begitu singkat, apapun yang terjadi pada hidupmu, kehidupan harus tetap berlanjut. Meski kau harus melangkah dengan kaki yang berdarah-darah, karena setiap luka pasti akan sembuh. Percayalah suatu saat nanti kau pasti bisa tersenyum, setelah melalui badai kehidupan ini. Relakan apa yang sudah terjadi, karena sejatinya bukan semesta yang jahat tapi semesta sedang membimbingmu untuk menjadi kuat. Arsen, jangan pernah menyerah, teruslah berusaha untuk orang yang kau sayangi, meskipun saat ini mereka tidak melihatmu, tapi jadikan mereka semangat untukmu agar mereka pun bisa merasa bangga melihat betapa kuatnya dirimu, berjuang di saat kau sedang rapuh."
Mendengar perkataan mama, spontan aku pun memeluk tubuhnya. Mama Larasati, mama tiriku yang dulu sangat kubenci, kini dia lah yang membangkitkan semangatku, dan harapanku. Aku memeluk tubuhnya erat seolah ikut membagi rasa sedih dan hancurnya hatiku selama dua tahun terakhir ini, dan dia mendengarkan semua keluh kesahku, dan menasehatiku dengan kata-kata lembut yang penuh kasih sayang.
Perbincangan kami di sore itu membuatku mengambil keputusan untuk meninggalkan semua kesedihanku. Aku akan mencoba menjalani hidup dengan semangat baru, hingga suatu saat aku bisa berharap bertemu dengan Shanonku, meskipun aku tahu rasanya sulit, keberadaan Shanon dan keluarganya bahkan bagaikan hilang ditelan bumi.
Aku pun melanjutkan kuliahku ke luar negeri, tepatnya di Cambridge University agar aku bisa fokus menjalani pendidikanku. Berharap bisa memulai kehidupan baru dan menutup luka dan kenangan buruk masa lalu. Aku sengaja mengambil dua program study, agar aku sibuk sehingga tidak ada waktu lagi memikirkan Shanon, tapi nyatanya kemampuan otakku memang berbeda, semua tugas kuliahku tetap saja mudah bagiku. Di sela waktu luangku, aku tetap berusaha mencari keberadaan Shanon, meskipun hasilnya nihil.
Selama kuliah, aku memang tidak pernah pulang ke Indonesia. Aku pulang saat kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan mobil. Hatiku hancur, ini untuk yang ketiga kalinya aku kehilangan orang yang kusayangi, tapi aku tidaklah serapuh dulu. Kini aku sudah dewasa untuk memahami arti kehidupan, dan sudah paham apa arti dari keikhlasan.
Seminggu setelah proses pemakaman papa dan mama aku langsung kembali untuk melanjutkan melanjutkan progam masterku di universitas yang sama. Hingga menjelang akhir masa studyku, aku dikejutkan sebuah kabar saat Kak Ethan akan menikah dengan seorang wanita yang merupakan anak rekan bisnisnya, rekan bisnis barunya itu merupakan pengusaha yang sudah lama menetap di Jepang. Aku pun berjanji untuk menghadiri pesta pernikahannya tersebut.
Namun saat aku melihat foto pre-wedding Kak Ethan, sontak aku mengurungkan niatku menghadiri pesta pernikahan itu. Duniaku seakan kembali hancur, kepercayaan diri yang kubangun selama bertahun-tahun selama ini seakan runtuh.
Aku sempat membeku beberapa saat lamanya ketika melihat foto gadis itu, berbagai macam perasaan seketika menggumpal di dalam dadaku. Dalam waktu yang bersamaan, rasa rindu, tak percaya, hancur, sekaligus bahagia, memenuhi hatiku. Aku merasakan bahagia sekaligus sedih yang bersamaan. Saat aku tahu bahwa wanita yang aku cintai masih hidup, di saat ku itu pula aku harus kehilangan dirinya. Ya, saat ini aku harus menyadari jika Shanonku telah menjadi milik orang lain, dan ironisnya orang itu tak lain adalah kakakku, Kak Ethan.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Chusnoel Cahassputt
kasian arsen
2023-11-12
1
Cantika Fitri Fie
duhhh kasian arsen
2023-04-01
0
Alena Kimmy Kimberly
lanjut thor.....
2022-12-13
0