Sebelum Terucap

"Ya, namaku Shanon. Kamu siapa?" tanya gadis itu padaku, gadis yang begitu cantik dengan sikapnya yang menurutku sangat menggemaskan di awal pertemuan kami.

"Hai kok kamu diem aja sih? Nama kamu siapa?" tanya gadis itu kembali yang semakin membuat jantungku berdegup begitu kencang.

"A-Arsen," jawabku kemudian.

"Arsen nama yang bagus," balasnya sambil menyunggingkan senyum di bibir tipisnya, yang terlihat begitu menggoda. Aku pun ikut tersenyum sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal, menyembunyikan rasa gugup yang ada di dalam hatiku. Kuakui baru kali ini aku merasa gugup saat berhadapan dengan seorang wanita.

"Ya udah Arsen, aku ke kelas dulu ya."

"Iya Sha."

Dia kemudian pergi berjalan meninggalkan aku yang masih termenung menatap kepergiannya.

"Shanon," ucapku sambil tersenyum kembali.

***

Sejak pertemuan pertama kami, aku dan Shanon sering bertegur sapa. Tak dapat dipungkiri, jika dia adalah semangatku berangkat ke sekolah, rasanya aku begitu bahagia saat bisa melihatnya. Aku tak tahu rasa ini disebut apa, aku pun sering bertanya-tanya, apakah ini yang disebut cinta? Awalanya aku ragu, hingga akhirnya aku tidak lagi bisa membohongi perasaanku jika aku telah jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada pandangan pertama.

Beberapa bulan setelah itu, aku memberanikan diri untuk lebih intens mendekatkan diri padanya. Sering kali, aku mengajaknya pulang bersama dengan membonceng motorku, ya masa-masa itu aku begitu bahagia, karena kami sangatlah dekat. Tak hanya itu, Shanon sering kali membawakan makanan untukku, dia mengatakan kalau makanan yang dibawa olehnya itu adalah masakannya. Sebenarnya, Shanon sering kali membawakan berbagai macam makanan, tapi dari semua makanan itu yang paling kusuka adalah nasi goreng buatannya. Memang, masakan itu sederhana tapi entahlah jika Shanon yang memasaknya, rasanya begitu berbeda.

Mendapat perhatian dari orang yang kucintai, tentunya aku merasa sangat bahagia, aku pun merasa yakin jika Shanon juga menyukaiku. Apalagi, dia acap kali merasa kesal jika ada wanita lain yang sedang mendekatiku. Ya, dengan kepintaran serta ketampanan yang kumiliki, siapa wanita yang tidak tertarik padaku, tapi hatiku sudah terpaut pada Shanon. Saat ada wanita lain yang mendekat padaku, Shanon seringkali mengusir mereka dengan ketus, dan setelah itu dia marah-marah padaku, tapi semua tingkahnya itu justru membuatku merasa gemas padanya.

"Maaf, Arsen sedang sibuk, dia udah ada janji mau bantuin aku belajar, jadi mending kalian pergi dulu ya, kalo nggak nunggu di pojokan nomer antrian kalian seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan," ucap Shanon jika ada wanita yang mendekat padaku.

Memang, selama setahun ini, kami begitu dekat. Saat di sekolah, kami sering kali menghabiskan waktu bersama, dan setelah pulang sekolah pun kami sering kali pergi ke mall ataupun hanya sekedar nonton.

Saat itu bisa dibilang kami terlihat seperti sepasang kekasih, meskipun pada kenyataannya belum ada kata cinta yang terucap dariku. Bukannya aku tidak berani mengatakannya, aku tidaklah sepengecut itu yang tidak berani mengatakan cinta pada gadis yang dicintainya. Hanya saja, aku sedang menunggu momen yang tepat yaitu setelah penerimaan raport kenaikan kelas, aku yakin Shanon pun sedang menunggu saat itu. Dan untungnya dia mau sabar menantiku menunggu saat-saat itu.

Akhirnya saat yang ditunggu pun tiba. Setelah penerimaan raport, aku menarik tangan Shanon ke sebuah sudut di sekolah kami. "Sha, nanti sore kamu ada waktu nggak? Aku mau ajak kamu pergi ke suatu tempat."

"Memang kita mau kemana? Ke mall? Ke bioskop?"

Aku pun menggelengkan kepala."Nggak, Sha. Kita nggak pergi ke situ." Shannon pun tampak mengerutkan keningnya.

"Terus kita mau kemana, Arsen?"

Aku pun mendekatkan wajahku padanya lalu menyibak rambut yang ada di wajahnya dan meletakkannya ke belakang telinga, agar bisa menatap wajah Shanon seutuhnya. Hari ini entah mengapa aku ingin menatap wajah cantik itu, rasanya seperti ada kerinduan yang begitu dalam padanya.

"Kita pergi ke suatu tempat, suatu tempat dimana cuma ada aku sama kamu."

Mendengar perkataanku, wajah Shanon pun tampak merona. Dia kemudian menundukkan kepalanya sambil tersenyum, mungkin dia merasa malu saat aku tiba-tiba bersikap sedikit romantis padanya.

"Gimana Sha, nanti sore kamu ada waktu kan buat aku?"

Shanon kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya Arsen, kita bisa ketemu nanti sore."

"Aku jemput kamu ya."

"Nggak usah aku berangkat sendiri aja."

"Tapi Sha..."

"Arsen, kita ketemu disana aja. Biar kesannya beda, kalo berangkat bareng, ga asik, please," rengek Shanon sambil mengerucutkan bibirnya.

"Ya udah kalo gitu, nanti sore aku tunggu di sana."

"Iya Arsen, tunggu aku. Kamu akan selalu menungguku kan?'

"Iya Sha, aku akan selalu menunggumu."

"Ya udah kalau gitu kita pulang sekarang."

"Ya," jawab Shanon sambil menganggukkan kepalanya.

Saat kami melangkahkan kaki kami ke garasi sekolah, aku selalu menggenggam tangan Shannon. Dia mungkin sudah tahu apa arti genggamanku, dan apa yang akan kukatakan padanya nanti sore. Tapi dia bersikap tenang, mungkin itulah caranya menungguku, menunggu menyatakan cinta padanya.

Akhirnya sore pun tiba, aku keluar dari rumah dengan perasaan yang begitu bahagia sambil membawa sebuket bunga mawar warna merah untuknya, lalu mengendarai motorku ke tempat kami akan bertemu, yaitu di sebuah cafe tepi pantai yang disinari cahaya senja.

Aku ingin indahnya cahaya senja menjadi saksi cinta kita. Berulang kali aku menyugar rambutku untuk mengurangi rasa gugup, namun setelah hampir tiga jam menunggu Shanon tidak juga kunjung datang. Aku berulang kali menghubungi ponselnya, tapi ponselnya juga tidak aktif. Pikirku mungkin Shanon tidak jadi datang karena dilarang oleh orang tuanya. Aku pun begitu cemas dan merasa sangat khawatir sesuatu terjadi padanya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, aku yang merasa begitu penasaran akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Shanon. Sesampainya di rumah Shanon, rumah itu tampak begitu sepi. Aku pun nekat mengetuk pintu rumah itu, hingga seorang pembantu rumah tangga membuka pintu rumahnya, dan ketika aku menanyakan tentang Shanon, jawaban dari pembantu rumah tangga itu benar-benar membuat tubuhku terasa begitu lemas.

"Non Shanon, tadi sore mengalami kecelakaan," begitu jawab pembantu rumah tangga itu, seketika aku pun merasa begitu hancur, rasanya aku merasa sangat bersalah karena sudah membiarkan Shanon pergi sendiri.

Dengan perasaan yang begitu kacau, akhirnya aku pun pergi dari rumah itu, apalagi pembantu rumah tangga itu tidak memberi tahu dimana rumah sakit tempat Shanon dirawat. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan Shanon, bahkan hari-hari berikutnya aku pun merasa begitu kacau karena tidak tahu bagaimana keadaan Shanon yang sebenarnya, bahkan teman-teman dekatnya pun juga tidak tahu bagaimana keadaan Shanon. Hanya dari penjelasan pembantu rumah tangga di rumahnya, aku tahu jika keadaan Shanon sangat parah, sehingga keluarga tidak menghendaki ada yang menjenguknya.

Waktu berlalu begitu cepat, hari sudah berganti bulan, tapi aku juga tidak pernah mendengar lagi bagaimana keadaan Shanon. Hari ini, hari pertama masuk sekolah lagi, dan Shanon belum juga berangkat ke sekolah ini, begitupula hari-hari berikutnya, tapi aku tetap menunggunya, meskipun aku menunggu dalam ketidakpastian. Aku sangat merindukan senyum wanita cantik berkucir ekor kuda.

Hingga akhirnya suatu hari, aku secara tidak sengaja mendengar perbincangan beberapa orang guru kalau hari ini Shanon keluar dari sekolah ini untuk menjalani perawatan di luar negeri. Hatiku benar-benar hancur, dan dipenuhi tanda tanya, separah itukah kondisi Shanon? Aku pun bergegas mengambil sepeda motorku meskipun jam pelajaran hari ini belum berakhir, aku tak peduli.

Dengan kecepatan begitu tinggi, aku mengendarai sepeda motorku pergi ke rumah Shanon, tapi ternyata aku terlambat. Rumah itu sudah kosong, hanya ada beberapa pembantu yang berjaga di rumahnya.

Aku hanya bisa menangis dan berteriak menyebut nama Shanon berulang kali, hari ini untuk kedua kalinya aku mengalami hari terburuk sepanjang hidupku, setelah kehilangan mama, aku juga harus kehilangan cinta pertamaku, Shanon.

Shanonku telah pergi, cinta pertamaku telah pergi, pergi sebelum kata cinta itu terucap.

"Shanon, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu...."

Bersambung....

NOTE:

Mampir juga ya ke karya bestie othor ibu peri kita tercinta, Rini Sya. Dijamin kalian bakal jadi ibu peri kaya dia 😍😘😅🤗

Terpopuler

Comments

Nami chan

Nami chan

iya kan amnesia /Sob/

2023-11-30

0

Marlina Ryn

Marlina Ryn

oohh,,pantesan shanon tak kenal sama arsen..mungkin karena kecelakaan itu dia jadi hilang ingatan

2022-12-12

0

Tiahsutiah

Tiahsutiah

jadi shanon amnesia dong, makanya ga ingat arsen, semoga aja lekas sembuh ya shanon ingatan nya

2022-12-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!