Monopoli

Aku tahu saat itu sebenarnya Arsen sedang menatapku, mungkin dia sedang menertawakan kebodohanku. Ya, aku akui aku memang bodoh tapi biar saja, untuk saat ini aku benar-benar tak peduli. Aku tetap melanjutkan langkahku masuk ke dalam kamar, lalu menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidurku dan membenamkan kepalaku di bawah bantal. Entah mengapa rasanya hati ini begitu sakit.

Mungkinkah kedua kakak beradik itu memang sama saja suka mempermainkan perasaan wanita, ah aku tidak mau memikirkan semua itu. Aku hanya ingin melupakan rasa sakit hatiku dengan memejamkan mataku secepatnya. Mungkin jika aku tidur lalu bermimpi, aku bisa mendapatkan kebahagiaan dalam mimpiku. Untuk saat ini aku hanya ingin merasa bahagia, meskipun kebahagiaan itu kudapatkan di dalam mimpi.

****

Keesokan Harinya...

Aku terbangun saat sinar matahari masuk melalui celah gorden pada jendela kamarku. Cahaya mentari pagi ini terasa begitu hangat menimpa wajahku yang membuat kelopak mataku terbuka. Aku kemudian melihat jam di atas nakas yang ternyata sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi.

"Astaga ini sudah siang?" gumamku, lalu duduk di atas tempat tidurku. Jujur saja aku baru pernah bangun sesiang ini, mungkin karena tadi malam aku tidak bisa tidur, awalnya aku memang ingin cepat tidur saat masuk ke dalam kamar, tapi memejamkan mata ini nyatanya begitu sulit saat hati ini sedang tidak baik-baik saja.

'Saat ini aku seperti sedang berdiri diantara ketulusan dan kepalsuan, rasanya aku bahkan begitu takut jika ternyata kenyataan sangat menyakitkan. Aku takut jika jika selama ini yang kucintai hanyalah topengmu saja,' batinku. Aku terdiam sejenak, namun aku tidak mau larut dalam kesedihanku dan pikiran burukku, ya aku memang bukan tipe manusia yang seperti itu.

Aku kemudian bangkit dari atas ranjang lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahku. Sejenak aku menatap wajahku pada cermin di atas wastafel, wajah ini terlihat begitu sembab dan lengket penuh dengan sisa-sisa air mata yang telah mengering. Aku kemudian menghambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannyan, namun rasanya masih sama seperti tadi malam, sakit.

"I'm okay. Sha, kamu baik-baik saja," ucapku bermonolog pada diriku sendiri. Aku kemudian mencuci wajahku, setelah itu aku menatap kembali wajahku yang saat ini terasa lebih segar. Tiba-tiba sesuatu hal terlintas di kepalaku. "Astaga kenapa aku bersikap seperti ini? Dimana akal sehatku yang sudah menuduh begitu saja pada suamiku. Bukankah seharusnya aku bertanya dulu pada Mas Ethan apa yang sebenarnya terjadi? Dan mencari bukti bukannya malah mengambil kesimpulan sendiri? Oh Sha, kenapa kau bodoh sekali?"

Bergegas aku keluar dari kamar mandi lalu mengambil ponselku, dan mencoba menghubungi Mas Ethan yang ternyata sudah puluhan kali menelponku. Namun, saat aku menghubunginya, ternyata ponselnya tidak aktif, jadi untuk sementara pagi ini aku hanya mengirimkan pesan padanya.

Mas Ethan:

[Maaf Mas kemarin ponselku terselip, jadi aku tidak membaca semua pesan dan tidak menjawab panggilan darimu.]

Setelah mengirimkan pesan pada Mas Ethan, aku pun keluar dari kamarku. Saat melewati kamar Arsen tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, sebenarnya aku merasa begitu kesal padanya, tapi entah mengapa bukannya aku menjauh darinya, tubuhku malah diam terpaku, bahkan mataku tak bisa berpaling dari wajahnya. Mata kami pun tertaut pada satu titik, dan saat ini aku hanya bisa diam sambil menatap lekat mata hazel itu.

"Sha, kamu kenapa?" tanya Arsen sambil mendekat padaku.

"Gapapa," jawabku ketus. Saat aku melangkahkan kakiku, berniat meninggalkan Arsen, tiba-tiba Arsen mencekal tanganku.

"Gapapa gimana? Wajah kamu sebab gitu kok. Kamu habis nangis? Kenapa tadi malem kamu ninggalin kita gitu aja, Sha?"

"Bukan urusanmu! Lagipula aku nggak mau ganggu orang yang lagi pacaran."

"Tetep jadi urusanku, Sha. Kamu penting banget buat aku."

Aku kemudian menatap Arsen dengan tatapan tajam. "Kamu sama kakak kamu emang sama aja! Suka mempermainkan perasaan wanita!"

"Mempermainkan perasaan gimana, Sha? Aku bener-bener nggak ngerti."

"Ga usah pura-pura bodoh, Arsen. Apa kamu nggak sadar saat tempo hari kamu bilang ke aku kalau kamu suka sama aku. Kamu harusnya sadar diri aku siapa! Aku kakak iparmu! Padahal kamu udah punya pacar, apa kamu ga mikir gimana perasaan pacar kamu?"

"Pacar? Pacar yang mana, Sha?"

"Jangan pura-pura bodoh, Arsen! Semua orang di rumah ini juga tahu kalo kamu pacaran sama Chelsea kan?"

"Apa? Pacaran sama Chelsea? Aku nggak pacaran sama Chelsea kok."

"Alah, kamu nggak usah ngelak lagi. Mana ada seorang wanita yang tiap hari datang ke rumah laki-laki lalu masuk ke dalam kamarnya kalo nggak punya hubungan khusus."

"Jadi kamu pikir aku pacaran sama, Chalsea? Hahahahaa..."

Melihat Arsen tertawa aku benar-benar merasa dongkol, tega sekali dia bersikap seperti itu padaku. Padahal saat ini aku begitu kesal padanya, dan yang membuatku semakin tidak habis pikir, dia seperti tidak ada rasa bersalah bahkan semakin mendekatkan tubuhnya padaku, aku pun hanya memundurkan langkahku hingga langkah ini terhenti saat tubuhku sudah menempel pada tembok.

"Ka-kamu mau apa, Arsen?"

"Jadi kamu cemburu, Sha? Kamu cemburu sama Chelsea?"

"Ga usah kepedeen deh!"

"Nyatanya emang kaya gitu kan, Sha? Kamu cemburu? Dengerin aku, Sha! Liat mataku!"

Aku hanya bisa menatap mata Arsen sambil menelan salivaku dengan kasar. "Chelsea bukan pacarku, dia emang suka sama aku sejak dulu tapi aku selalu nolak dia. Dia tiap hari dateng ke sini karena kami emang punya project, Sha."

"Ga usah bohong, kamu pikir aku tuli? Tadi malem jelas-jelas dia ngomong cape main sama kamu."

"Hahahahahaha..., hahahahaha..."

Bukannya menjawab pertanyaanku, tapi Arsen malah menertawakanku lagi. Dia memang adik ipar yang kurang ajar. "Ternyata kamu bener-bener cemburu, Sha. Kemarin kami main monopoli sampe dia ketiduran. Kalo kamu nggak percaya tuh liat kamarku, liat sikap kamu tadi malem aku sampe lupa beresin monopoli itu."

Mendengar perkataan Arsen entah mengapa rasanya hatiku begitu lega, dan tentunya bahagia hingga membuat wajahku saat ini merona merah. Aku pun begitu malu, ingin rasanya aku menyembunyikan rona merah di wajahku ini. Apalagi saat ini Arsen tengah menatap lekat wajahku begitu dalam hingga dia tampak mendekatkan wajahnya padaku. Namun tiba-tiba di saat itu juga, sebuah suara terdengar mengagetkan kami berdua.

"Arsen, kamu dimana?"

NOTE: Othor pake POV 1 dulu ya, biar kalian penasaran. Kalo udah sampe episode balasan baru pake POV Author, wkwkkwkwk 😅😅

Terpopuler

Comments

Deviastryveads_

Deviastryveads_

oh megot tak kirain main anu eh ternyata main monopoli toh🤣🤣🤣.

2022-12-10

0

Deviastryveads_

Deviastryveads_

kalo masalah topeng2, aku teringat akan fynn😭, oh bang fynn kau knp Hilang bagaikan ditelan bumi di Samudra Atlantik 😭😭😭🤣🤣🤣🤣

2022-12-10

0

Tiahsutiah

Tiahsutiah

lanjuttt🤗

2022-12-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!