Ada Apa Dengan Diriku?

Cukup lama aku menangis dalam pelukan Arsen, dan selama itu pula dia balas memelukku sambil mengusap punggungku, berusaha menenangkanku melalui bisikan-bisikan lirihnya di telingaku. Sejenak, aku pun melupakan kekesalanku dan ketakutanku padanya, entahlah yang jelas, untuk saat ini aku merasa begitu nyaman berada di dalam pelukannya.

Setelah cukup lama menangis di dalam pelukannya, dan merasa sedikit lebih tenang. Aku kemudian menarik tubuhku dari atas dada bidangnya. Detik itu juga aku merutuki diriku sendiri yang malah hanyut ke dalam pelukan hangat itu, padahal aku sangat membenci laki-laki yang baru saja kupeluk dan sialnya berhasil menenangkan diriku. Rasa cemas pun merasuk ke dalam hatiku, aku merasa khawatir jika sikapku membuatnya jadi besar kepala.

"Maaf," ucapku padanya, dengan sedikit salah tingkah. Bibir Arsen pun melengkung sambil menatapku dengan tatapan hangatnya. Seketika itu juga, aku semakin menyesali kebodohanku yang baru saja memeluknya dan mencurahkan kesedihanku padanya.

'Benar dugaanku, pasti saat ini dia merasa besar kepala karena sikapku padanya tadi. Oh Sha, kenapa kau bodoh sekali. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu,' batinku.

"Sha, kamu kenapa?"

"Gapapa, aku cuma lagi sedih aja, kangen sama kakak kamu."

"Bener kamu gapapa?"

Aku pun menggelengkan kepalaku. "Aku mau ke belakang dulu, Arsen."

"Iya Sha."

Aku kemudian melangkahkan kakiku berjalan menjauhi Arsen. Di saat itu juga tiba-tiba langkahku terhenti saat mendengar suara bel yang berbunyi, Arsen kemudian membuka pintu itu. Dan, benar saja seperti dugaanku jika yang datang adalah Chelsea. Dia kemudian masuk ke dalam rumah sambil bergelayut manja pada tangan Arsen, entah mengapa tiba-tiba aku tidak menyukai itu. Bahkan saat Chelsea melempar senyumnya padaku pun hanya kubalas dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Halo Kak Shanon?"

"Halo Chelsea, emh Chelsea bukankah kita seumuran? Bagaimana kalau kau panggil aku Shanon saja?"

"Apa? Shanon? Tidak Kak, kau kakak ipar Arsen, jadi aku harus memanggilmu dengan sebutan Kak karena mungkin sebentar lagi kau akan menjadi kakak iparku," jawabnya sambil tersenyum dan melirik pada Arsen. Arsen pun ikut tersenyum, sedangkan aku, entah mengapa aku sedikit tidak suka mendengar jawaban Chelsea. Aku pun hanya diam hingga suaranya membuyarkan lamunanku.

"Kak Shanon, kalau begitu kami ke kamar dulu," ucap Chelsea. Aku pun menganggukkan kepakaku sambil mengulaskan sebuah senyuman yang lagi-lagi dipaksakan. Lalu, aku pun berjalan mengikuti mereka hingga mereka berbelok ke kamar Arsen. Setelah pintu kamar itu tertutup, aku pun beridiri sejenak di depan pintu itu, entah mengapa tiba-tiba aku bersikap seperti ini, aku pun tak tahu. Rasanya aku sungguh merasa kesal dengan kehadiran Chelsea saat ini. Aku kemudian menggelengkan kepalaku, dan mencoba kembali pada kewarasanku.

'Astaga, kenapa aku jadi seperti ini?' batinku sambil berjalan menuju ke halaman belakang, berniat untuk melanjutkan aktifitasku tadi yang sempat tertunda, merawat tanaman di belakang rumah. Ya, aku memang sangat suka tanaman, mungkin sejenak aku bisa menghilangkan rasa sedih di hatiku. Untuk saat ini, aku tidak ingin memikirkan suamiku, meskipun berulang kali dia dia menghubungiku, aku tak peduli.

Sejenak aku pun hanyut dalam aktifitasku, hingga tak terasa waktu berganti. Aku pun baru menyadari itu saat Bi Ijah pamit pulang padaku.

"Nyonya Shanon, saya permisi pulang dulu, Nyah. Saya udah masakin makan malem buat Nyonya sama Tuan Arsen."

"Iya Bi, terima kasih."

Setelah Bi Ijah pulang, aku pun masuk ke dalam rumah, dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku meredam tubuhku pada bathtub yang sudah kucampur dengan cairan aromatherapy. Meskipun tidak sepenuhnya efektif menghilangkan rasa sedih di hatiku. Tapi paling tidak, bisa membuatku sedikit merasa nyaman.

Cukup lama aku mandi, hingga saat aku keluar dari kamar, langit sudah gelap. Aku kemudian berjalan ke arah meja makan untuk menyantap makan malam yang sudah disediakan oleh Bi Ijah. Tapi saat melihat makanan yang sudah dingin, aku pun berinisiatif untuk menghangatkan makanan itu.

Saat aku sedang berkutat di dapur, tiba-tiba dua buah lengan kekar melingkar di pinggangku. Aku yang tersentak, lalu memalingkan wajahku ke arah belakang dan melihat Arsen berdiri di belakangku, jarak kami sangat dekat, bahkan dadanya hampir saja menempel di punggungku.

'Apa yang akan dia lakukan?' batinku sambil menelan salivaku dengan kasar.

"Sha, kalo masak pake apron," ujarnya dengan begitu santai sambil memasangkan apron pada tubuhku, padahal jantung ini sudah hampir copot dibuatnya.

"Ta-tapi, aku cuma mau manasin makanan."

"Aku mau dimasakin kamu, Sha. Malam ini aku nggak mau makan masakan Bi Ijah, aku maunya dimasakin sama kamu."

"Bukannya kamu ga suka masakanku?"

"Tapi hari ini aku mau makan masakan kamu, Sha."

"Kamu mau dimasakin apa?"

"Nasi goreng, aku rindu makan nasi goreng buatan kamu, Sha," jawabnya yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak.

"Me-memangnya aku pernah masakin kamu nasi goreng?"

"Pernah."

"Kapan?"

"Lupa," jawabnya datar yang membuatku merasa kesal. Aku pun hanya bisa menghela nafas, tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu pada bagian belakang tubuhku, ya ada yang memegang rambutku, dan dia adalah Arsen. Dia menyatukan rambutku, lalu mengikatnya.

"Inget Sha, kalo lagi masak rambutnya diiket," ucapnya di dekat telingaku hingga nafas hangatnya begitu terasa di kulitku.

"Ya udah, aku bikinin kamu nasi goreng dulu ya," ucapku sambil menjauh darinya yang saat ini masih berdiri di belakangku. Arsen kemudian keluar dari dapur, dan duduk di meja makan. Setelah aku selesai masak nasi goreng untuknya, aku kemudian membawa masakanku sekaligus masakan Bi Ijah yang sudah aku hangatkan ke atas meja makan.

"Ini nasi gorengnya," ucapku pada Arsen.

"Makasih, Sha."

Aku pun ikut duduk di kursi meja makan, yang letaknya berhadapan dengan Arsen. Namun saat kami sedang asyik menikmati makan malam, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat.

"Arsen, aku ketiduran abis kita main tadi. Kamu kok ga bangunin aku sih," protes Chelsea, lalu duduk di samping Arsen sambil bergelayut manja padanya. Melihat tingkah Chelsea, entah mengapa rasanya aku merasa begitu kesal dan kehilangan selera makanku. Aku pun bergegas menyudahi makan malamku, lalu beranjak dari tempat dudukku.

"Permisi, aku sudah selesai. Aku ke atas dulu," pamitku pada mereka berdua, lalu melangkahkan kakiku menuju ke kamarku. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan mereka, air mataku kembali menetes.

"Oh Tuhan, ada apa dengan diriku?"

Terpopuler

Comments

Nami chan

Nami chan

amnesia apa ya

2023-11-30

0

Dewi Rohmawati

Dewi Rohmawati

ntu km lma sha...cmburu..0

2022-12-10

0

Deviastryveads_

Deviastryveads_

pas qta menjalin kasih sha😭😭😭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2022-12-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!