Saat aku berdiri, aku dikejutkan oleh kehadiran Chelsea yang tiba-tiba sudah mendekat padaku. "Arsen, bukannya tadi kamu bilang mau tidur? Kok malah berdiri si sini sih?"
"Oh gapapa, tadi cuma denger Shanon teriak. Kupikir dia kenapa, ternyata cuma lagi nonton film."
"Oh, ya udah aku mau ambil tas di kamar kamu ya. Sekalian aku beresin monopolinya dulu."
Aku menggangukkan kepalaku, lalu mengikuti Chelsea yang masuk ke dalam kamarku untuk mengambil tas miliknya. Namun, saat dia akan keluar dari kamarku tiba-tiba Chelsea mencium bibirku, yang sontak membuatku terkejut.
Cup
"Chelsea!" pekikku, sambil menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Arsen, aku suka sama kamu. Kamu tahu kan sejak dulu aku udah suka sama kamu, dan sampe sekarang aku belum bisa ilangin rasa cintaku buat kamu. Apa sampai saat ini kamu belum bisa buka pintu hatimu buat aku?"
"Maaf Chelsea, kamu udah tahu jawabannya."
Chelsea tampak tersenyum kecut mendengar jawabanku. "Kau masih berharap pada wanita itu?"
Aku pun menganggukan kepalaku. "Kau sudah gila, Arsen! Dia sudah menghilang begitu saja darimu dan kau masih berharap padanya? Cinta macam apa ini Arsen? Kau harus kembali pada logikamu dan kembali pada kenyataan kalau dia udah pergi ninggalin kamu."
"Chelsea, dia pergi karena ada alasannya. Dan itu semua bukan murni keinginan darinya, dan sekarang aku sudah menemukannya kembali."
Mendengar jawabanku mata Chelsea pun tampak berkaca-kaca. "Jadi ini artinya sudah tidak ada kesempatan buat aku, Arsen?"
Aku pun menganggukan kepalaku perlahan. "Maafkan aku Chelsea, aku..."
"Sudah cukup!" bentak Chelsea sambil berjalan keluar dari kamarku. Sementara aku hanya menatap kepergiannya. "Maafkan aku, tapi bukankah cinta memang tidak bisa dipaksakan? Maafkan aku, Chelsea, tapi inilah cinta. Cinta yang begitu naif tanpa mengenal logika."
****
Keesokan Harinya...
Aku membuka mataku saat ponselku beberapa kali berbunyi. Aku kemudian mengambil ponsel yang kuletakkan di atas nakas, dan di layar ponsel itu kulihat nama Chelsea yang meneleponku. Tapi aku mengabaikan begitu saja panggilan darinya, setelah perbincangan kami tadi malam, rasanya saat ini aku malas bicara padanya.
Karena diabaikan olehku, tak berapa lama dia mengirimkan pesan padaku dan saat aku membaca pesan itu, ternyata dia meminta maaf atas sikapnya tadi malam padaku. Namun, rasanya aku masih enggan untuk membalasnya, jadi kubiarkan saja dan aku memilih keluar dari kamar untuk sarapan. Saat aku keluar dari kamar, kulihat Shanon juga sedang berjalan melewati kamarku. Aku pun langsung memanggilnya.
"Sha, kamu kenapa?" tanyaku sambil mendekat padanya.
"Gapapa," jawabnya ketus. Saat dia melangkahkan kakinya, aku pun mencekal tangannya.
"Gapapa gimana? Wajah kamu sebab gitu kok. Kamu habis nangis? Kenapa tadi malem kamu ninggalin kita gitu aja, Sha?"
"Bukan urusanmu! Lagipula aku nggak mau ganggu orang yang lagi pacaran."
"Tetep jadi urusanku, Sha. Kamu penting banget buat aku."
"Kamu sama kakak kamu emang sama aja! Suka mempermainkan perasaan wanita!"
"Mempermainkan perasaan gimana, Sha? Aku bener-bener nggak ngerti."
"Ga usah pura-pura bodoh, Arsen. Apa kamu nggak sadar saat tempo hari kamu bilang ke aku kalau kamu suka sama aku. Kamu harusnya sadar diri aku siapa! Aku kakak iparmu! Padahal kamu udah punya pacar, apa kamu ga mikir gimana perasaan pacar kamu?"
"Pacar? Pacar yang mana, Sha?"
"Jangan pura-pura bodoh, Arsen! Semua orang di rumah ini juga tahu kalo kamu pacaran sama Chelsea kan?"
"Apa? Pacaran sama Chelsea? Aku nggak pacaran sama Chelsea kok."
"Alah, kamu nggak usah ngelak lagi. Mana ada seorang wanita yang tiap hari datang ke rumah laki-laki lalu masuk ke dalam kamarnya kalo nggak punya hubungan khusus."
"Jadi kamu pikir aku pacaran sama, Chalsea? Hahahahaa..."
"Ka-kamu mau apa, Arsen?"
"Jadi kamu cemburu, Sha? Kamu cemburu sama Chelsea?"
"Ga usah kepedeen deh!"
"Nyatanya emang kaya gitu kan, Sha? Kamu cemburu? Dengerin aku, Sha! Liat mataku!"
"Chelsea bukan pacarku, dia emang suka sama aku sejak dulu tapi aku selalu nolak dia. Dia tiap hari dateng ke sini karena kami emang punya project, Sha."
"Ga usah bohong, kamu pikir aku tuli? Tadi malem jelas-jelas dia ngomong cape main sama kamu."
Mendengar perkataan Shanon, jelas sekali dia cemburu pada Chelsea. "Hahahhaha...."
"Ternyata kamu bener-bener cemburu, Sha. Kemarin kami main monopoli sampe dia ketiduran. Kalo kamu nggak percaya tuh liat kamarku, liat sikap kamu tadi malem aku sampe lupa beresin monopoli itu," ucapku sambil membuka kamarku. Shanon yang melihat kamarku yang berantakan pun tampak malu sudah menuduh yang tidak-tidak padaku. Dia pun tampak menundukkan kepalanya, mungkin untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Raut wajahnya yang tampak memerah terlihat begitu menggemaskan bagiku, dan semakin membuatku tidak tahan untuk menyentuhnya. Perlahan, aku pun mendekatkan tubuhku padanya, namun saat kami makin dekat, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan kami berdua.
"Arsen, kamu dimana?"
Spontan aku pun menjauhkan tubuhku dari Shanon, hingga suara yang memanggilku mendekat ke arah kami berdua.
"Halo Kak Shanon? Selamat pagi," sapa Chelsea.
"Selamat pagi, Chelsea. Hari ini kau cantik sekali."
"Tentu saja karena aku mau bertemu dengan Arsen, jadi aku harus terlihat cantik," jawab Chelsea dengan tingkah manjanya sambil melirik padaku.
"Maaf aku ke bawah dulu, aku mau sarapan," jawab Shanon. Namun, sebelum dia pergi aku buru-buru mencekal tangannya.
"Mau kemana Shanon? Kita sarapan di bawah bersama saja."
"Iya benar Kak, kebetulan aku juga belum sarapan," timpal Chelsea yang membuat Shanon sepertinya merasa tidak nyaman.
"Kalau begitu, kita ke bawa sekarang!" ucapku pada mereka berdua.
"Iya," jawab Chelsea.
Kami kemudian menuruni anak tangga menuju ke meja makan. Chelsea tampak berjalan di depan sedangkan aku dan Shanon mengikuti di belakangnya. Saat berjalan ke arah meja makan, aku memang sengaja menggengam tangan Shanon, mungkin dia terkejut dengan sikapku. Tapi nyatanya dia tidak menolak. Begitupula saat kami sarapan, aku tidak pernah melepaskan genggaman tanganku pada jemarinya, dan dia pun tampak nyaman dengan genggaman tangan dariku.
"Arsen, maukah hari ini kau pergi menemaniku?" tanya Chelsea.
"Pergi? Pergi kemana?"
"Aku lagi pingin pergi ke tempat yang romantis denganmu, hanya berdua saja. Bagaimana kalau kita ke pantai atau ke gunung? Aku ingin liburan berdua saja denganmu, Arsen. Bukankah project kita sudah selesai? Anggap saja ini perayaan untuk keberhasilan kita," ucap Chelsea dengan begitu manja. Aku tahu sebenarnya Shanon merasa kesal pada tingkah Chelsea, tapi aku sengaja memanfaatkan situasi itu agar membuat Shanon cemburu.
"Emh, pergi berdua saja Chelsea?"
"Ya, memang apa salahnya pergi berdua? Anggap saja ini juga sebagai kencan, bagaimana? Kau mau kan?"
"Sepertinya itu ide yang bagus, Chelsea..."
"Permisi, aku mau naik ke atas dulu. Aku mau mandi," ucap Shanon sambil meninggalkan kami berdua.
'Astaga, dia benar-benar cemburu dan marah padaku!' batinku sambil menatap kepergian Shanon ke kamarnya.
Aku kemudian menatap Chelsea yang masih menikmati sarapannya di depanku. "Chelsea, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa ikut pergi denganmu karena ada hati yang harus kujaga."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Nami chan
jangan sampe aja chelsea ada hub ma ethan jg buat mata2in arsen
2023-11-30
0
Tiahsutiah
shanon walau pun amnesia, tp cinta nya ke arsen lebih besar di banding ke Ethan,
2022-12-16
0
Linda Purwanti
lanjuuuuut ka weny
2022-12-16
0