Apa-apaan Ini?

"Apa? Suka?"

Aku pun membalikkan tubuhku kembali dan melihat Arsen yang masih tidur dengan begitu lelap, diiringi dengkuran halus yang keluar dari bibirnya. "Ah dia masih tidur. Oh tidak, aku pasti salah dengar, atau jangan-jangan kamar ini ada hantunya?" ucapku sambil menggigit bibir bawahku. Tiba-tiba bulu kudukku pun berdiri. "Astaga benar, jangan-jangan kamar ini ada hantunya!" pikirku kemudian bergegas keluar dari kamar itu lalu masuk ke dalam kamarku, menutup pintu dengan begitu rapat diiringi nafas yang begitu menderu.

***

Malamnya...

Aku mengutak-atik ponselku, sebenarnya aku merasa sedikit kesal pada suamiku, entah mengapa sejak tadi sore dia tidak membalas pesanku. Bahkan sekarang ponselnya tidak aktif, aku pun menghembuskan nafas panjangku sambil menatap benda pipih yang kumainkan dia atas tempat tidurku, pikirku pasti Mas Ethan sibuk sehingga lupa mengisi baterai ponselnya. Tiba-tiba perutku berbunyi, aku pun melihat jam di ponselku, yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Astaga ini sudah pukul sepuluh malam? Pantas saja perutku sangat lapar," ucapku sambil berjalan keluar dari kamar. Ya, sejak tadi siang aku memang belum makan. Aku sengaja mengurung diri di kamar agar tidak bertemu dengan Arsen. Tapi aku benar-benar tak menduga jika ternyata aku ada di kamar ini sampai jam sepuluh malam. Mungkin saja, sejak tadi aku sibuk memikirkan Mas Ethan hingga membuat waktuku begitu banyak terkuras.

Selain itu, setelah semua kejadian yang kualami tadi siang seolah membuatku semakin merasa enggan bertemu dengan adik iparku itu. Dan sekarang, sudah pukul sepuluh malam, pasti Arsen sudah tidur jadi kupikir aku bisa bebas keluar tanpa bertemu dengannya. Namun, ternyata dugaanku salah, saat sedang asyik menyantap makan malam, tiba-tiba Arsen turun dari lantai atas dan berjalan ke arah dapur. Aku pun begitu gugup saat dia mengambil bubur buatanku, lalu duduk di sampingku.

"Arsen, tanganku sakit. Kamu makan sendiri ya!"

"Emang mau makan sendiri kok, ga usah kepedeen deh!"

Aku pun kembali melongo mendengar perkataannya. "Kenapa diem, Sha? Buruan makan, ini udah malem! Ntar ada hantu loh!"

'Sial, apa dia sedang meledekku? Jangan-jangan dia tahu saat tadi siang aku mengatakan kalo di kamar dia ada hantunya,' batinku sambil meneruskan kembali makan malamku. Sesekali aku melirik ke arahnya yang sedang memakan bubur buatanku.

"Ga usah liatin terus, ntar lama-lama naksir loh!"

"Siapa yang lagi liatin, cuma mau mastiin kalo kamu udah sehat kan?" tanyaku sambil menahan perasaan yang begitu kesal. Tapi, sepertinya aku harus bisa mengendalikan rasa kesalku dan mencoba beradaptasi dengan semua tingkah absurdnya itu.

"Menurut kamu gimana, Sha?"

"Udah sehat, jadi besok mau dibikinin bubur lagi nggak?"

"Ga usah, tapi tolong besok kamu yang masak ya, Sha. Aku mau makan masakan kamu, udah lama aku nggak makan masakan kamu!" jawab Arsen yang membuatku kembali tertegun. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia katakan, bukankah aku baru pernah bertemu dengannya sekarang. Tapi kenapa dia selalu bersikap seolah-oleh sudah pernah bertemu sebelumnya denganku, dan dia sudah dua kali bersikap seperti ini padaku, aku sampai berfikir jika adik iparku ini benar-benar tidak waras.

"Udah lama gimana sih? Kita aja baru pernah ketemu," tanyaku akhirnya memberanikan diri.

"Ya udah lama aja, udah lama kan aku ga makan masakan Indonesia," jawabnya dengan begitu santainya, seolah tanpa dosa padahal kata-katanya tadi benar-benar membuatku jantungku hampir saja copot. Aku pun balas menatapnya dengan tatapan sinis.

"Kenapa liatin aku gitu, Sha? Bukannya aku udah ngomong jangan liatin terus nanti bisa-bisa kamu naksir."

"ARRRRSENNN...."

KLONTANG.....

Belum selesai aku menegur Arsen, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sebuah suara yang berasal dari arah belakang. Aku dan Arsen pun saling berpandangan, seketika nyaliku pun menjadi ciut.

"A-Arsen, siapa di belakang? Bukannya di rumah ini cuma ada kita kan? Pak satpam masih ada di depan rumah kan?" ucapku dengan begitu panik, lidahku pun seakan tercekat.

"Sebentar Sha, kamu di sini aja ya. Jangan kemana-mana!" Aku pun menganggukkan kepalaku, sambil menatap Arsen yang berjalan ke arah belakang rumah.

***

Setengah jam kemudian...

Sudah hampir setengah jam, Arsen belum juga kembali. Aku pun semakin panik karena di luar hujan mulai turun dengan derasnya. Suasana pun terasa begitu mencekam, apalagi petir dan kilat mulai menyambar.

JEDERRRR

JEDERRRR

JEDERRRR

"AAAAAAAA!!!!" teriakku saat petir yang begitu besar mulai menyambar bersamaan dengan seseorang yang tiba-tiba memegang bahuku.

"Sha, kamu kenapa?" ucap sebuah suara yang ada di belakangku, mendengar suara itu seketika membuatku merasa tenang. Aku pun membalikkan tubuhku dan melihat Arsen yang berdiri di belakangku. Namun, detik itu juga aku merasa begitu terkejut saat melihat darah yang keluar dari pelipis Arsen.

"Arsen, kamu kenapa?"

"Gapapa, Sha. Lebih baik kamu masuk ke kamar!"

"Tapi Arsen, pelipis kamu berdarah. Aku obati dulu ya!"

"Ga usah, Sha. Lebih baik kamu masuk kamar aja terus kunci pintunya. Tunggu sampe Kak Ethan pulang!" sahut Arsen, sambil berjalan menjauhiku, lalu naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya.

Aku yang masih merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, sampai pelipis Arsen berdarah kemudian mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamarnya, dan untungnya pintu kamar itu belum dikunci, jadi aku bisa langsung masuk ke dalam kamar itu, lalu menghampiri Arsen yang saat ini sedang duduk di kursi kerjanya.

"Arsen, kamu belum jelasin ke aku apa yang sebenarnya terjadi."

"Gapapa Sha, ga ada apa-apa. Mending sekarang kamu masuk aja ke dalam kamar, lalu kunci pintunya rapat-rapat!"

Mendengar jawaban Arsen aku pun merasa begitu kesal, rasanya kesabaranku sudah habis menghadapi sikapnya yang seolah-olah menyepelekan aku dan selalu bersikap semaunya padaku, akhirnya aku pun menumpahkan segala rasa kesalku.

"ARSEN, KAMU SEBENERNYA KENAPA SIH? KENAPA KAMU SELALU BERSIKAP KAYA GINI SAMA AKU! KAMU SELALU BERSIKAP SEMAUMU TANPA MIKIRIN ORANG LAIN! KAMU GA PERNAH HARGAIN AKU SEBAGAI KAKAK IPAR KAMU! AKU CAPE! KALO AJA KAMU BUKAN ADIK KANDUNG MAS ETHAN UDAH KUCABIK-CABIK WAJAH KAMU, ARSEN! KENAPA KAMU SELALU BERSIKAP KAYA GINI SIH?"

Mendengar bentakkanku Arsen terlihat begitu tenang. Dia hanya menatapku dengan tatapan datarnya seperti biasa sambil berjalan ke arahku.

"Karena aku suka sama kamu, Sha," ucap Arsen yang seketika membuatku tertegun. Aku pun hanya bisa termenung, dan mencoba mencerna perkataan adik iparku. Namun, saat aku belum kembali pada kewarasanku, tiba-tiba Arsen menggendong tubuhku lalu mendudukkan tubuh ini ke atas meja kerjanya dan mencium bibirku. Astaga, ya saat ini dia benar-benar telah mencium bibirku, mellumat habis bibir ini, dan sialnya aku diam saja bahkan mulai menikmati permainan lidahnya yang menari begitu lincah di dalam mulutku.

'Oh shittt, aku harus mengakhiri semua ini!' batinku sambil melepas ciuman itu.

"APA-APAAN INI ARSEN!"

PLAKKKKKKKK PLAAAKKKKKK

Terpopuler

Comments

Tiahsutiah

Tiahsutiah

wah sha jangan kencang2 nampar nya, kasihan tuh muka arsen nanti ada gambar lima jari😂

2022-12-07

0

Alena Kimmy Kimberly

Alena Kimmy Kimberly

pipi ku merah thor , tanggung jawab 😆😆😆😆

2022-12-07

0

Deviastryveads_

Deviastryveads_

waoooow itu baru permulaan sha🤣

2022-12-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!