Saat aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, aku langsung menghubungi Kak Ethan, memberitahu kalau aku akan pulang, dan memintanya untuk menjemputku, serta menemaniku ke pemakaman orang tua kami.
Akhirnya hari yang dinanti itu pun tiba, hari saat aku pulang dan memulai perjuangan ini, aku sebut ini perjuangan karena aku akan memperjuangkan peninggalan papa, sekaligus cintaku. Saat pertama kalinya melangkahkan kakiku di negri ini, tubuhku rasanya begitu bergetar, aku sangat gugup saat aku akan bertemu dengan Shanon.
Shanon, sebuah nama yang menjadi alasan bagiku pergi dari negara ini, sekaligus sebuah nama yang menjadi alasan untukku kembali. Saat itu aku pergi dengan membawa sejuta luka dan berharap akan menemukan kebahagiaan di tempat yang baru, tapi nyatanya saat aku kembali ke negeri ini, aku juga harus membuka luka itu lagi. Namun, dibalik luka yang kubuka kembali itu, aku yakin ada sebuah harapan besar untuk masa depanku selanjutnya.
Cukup lama aku menunggu Kak Ethan dan Shanon datang menjemputku, aku menunggu mereka dengan perasaan yang begitu tak menentu. Akhirnya setelah satu jam menunggu, mereka pun datang. Saat melihat Shanon, rasanya aku begitu bahagia tapi juga sakit.
Melihat wanita itu, rasanya aku ingin menarik tubuh Shanon ke dalam pelukanku dan mendekap tubuhnya erat, agar dia tidak pergi lagi dariku. Tapi, aku harus berhadapan dengan kenyataan jika saat ini dia bukanlah milikku.
Namun pada pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun tak bertemu, aku merasakan sesuatu yang aneh pada diri Shannon. Aku begitu terkejut saat Shanon pertama kali bertemu denganku, dia seperti tidak mengenalku, bahkan dia memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya padaku. Tentu saja aku tidak membalas uluran tangan darinya karena aku sudah mengenal Shanon sejak dulu, jauh sebelum Kak Ethan mengenalnya, karena bagiku istri Kak Ethan adalah Shanon-ku. Shanon, wanita yang sangat kucintai di separuh hidupku ini.
Melihat sikap Shanon yang tidak mengenalku, aku yakin dampak kecelakaan itu pasti begitu besar padanya. Dan detik itu juga aku dapat mengambil kesimpulan kalau Shanon pasti mengalami amnesia sehingga dia tidak mengenalku.
Saat aku sedang asyik mengamati Shanon yang tampak kesal karena sikapku, tiba-tiba ponsel Kak Ethan berbunyi, dia kemudian menjawab telepon dan menjauh dari kami berdua. Spontan aku mendekat ke arahnya. "Kita sudah lama tidak bertemu, Shanon," bisikku padanya, lalu berjalan ke arah mobil.
Bukannya tanpa alasan aku masuk ke dalam mobil, di mobil sebenarnya aku sedang mengamati tingkah Kak Ethan saat aku berhasil meretas situs website perusahaan kami, aku tahu sebenarnya Kak Ethan merasa panik tapi dia menyembunyikan semua itu dari kami.
Tinggal di rumah dengan wanita yang kucintai, tapi saat dia sudah menjadi istri dari orang lain, tentu bukan hal yang mudah bagiku. Bahkan di hari pertama aku tinggal di rumah ini, setengah mati aku harus meredam perasaanku yang begitu berkecamuk saat mendengar suara mereka yang sedang melakukan ritual di malam hari. Dadaku rasanya semakin panas, dan kepala ini rasanya seakan pecah, akibatnya aku begadang semalaman. Sungguh saat itu, rasanya aku ingin pergi dari rumah ini. Tapi tentu tidak mungkin kulakukan karena itu sama saja akan menggagalkan rencanaku, dan untuk meredam rasa sakit hatiku, aku sengaja membatasi diriku dengan Shanon.
Setelah kepulanganku, aku memang melihat Kak Ethan tampak kewalahan. Dia seringkali berangkat pagi dan pulang malam. Memang aku yang sudah membuat dia kewalahan, akhir-akhir ini aku sengaja mengacaukan akses perusahaan kami sehingga sangat sulit dikendalikan olehnya seorang diri. Tak hanya tentang perusahaan kami, aku juga menyelidiki bagaimana perusahaanku dan perusahaan orang tua Shanon mengadakan kerjasama. Ternyata dulu aku memang salah besar, dulu aku memang sangat labil dan tidak bisa berpikir jernih saat mencari Shanon.
Pikirku, Shanon akan dibawa ke negara Eropa, tapi ternyata aku salah. Orang tua Shanon ternyata membawa Shanon pergi berobat ke Jepang karena memang kakek Shanon berasal dari Jepang. Seketika aku pun menyadari kebodohanku yang tidak bisa berpikiran jernih dan hanya mengandalkan emosiku saat itu. Tentu saja aku tidak menemukan Shanon selama bertahun-tahun di Eropa, padahal aku sudah menyusuri seluruh dataran Benua Eropa dan mencarinya ke kedutaan besar yang ada di negara-negara Eropa tersebut, tapi hasilnya nihil karena ternyata Shanon dan keluarganya pindah ke Jepang. Aku pun hanya bisa merutuki kebodohanku.
Setelah bertahun-tahun menetap di Jepang, akhirnya keluarga Shanon memutuskan untuk pindah kembali ke Indonesia karena Shanon memang menderita alergi dingin. Ya, sejak dulu dia memang menderita alergi dingin sehingga pasti sangat sulit untuknya hidup di negeri sub tropis seperti itu. Dan, setelah kepindahan keluarga Shanon ke Indonesia, perusahaan milik orang tua Shanon bekerjasama dengan perusahaan kami. Dan mungkin itulah yang menyebabkan Kak Ethan mengenal Shanon, tapi apakah hanya sekedar itu? Aku pun tak tahu, dan aku akan menyelidiki semua ini.
Sekuat apapun aku menegarkan hatiku, jika berhadapan Shanon aku menjadi laki-laki yang sangat rapuh. Selama satu minggu terakhir aku benar-benar tidak bisa tidur saat membayangkan Shanon sedang bercinta dengan laki-laki lain tepat di samping kamarku. Meskipun Kak Ethan sudah memasang peredam suara di kamar tapi tentu saja sekelumit bayangan itu masih menari dalam benakku, yang membuatku sulit tidur hingga akhirnya aku sakit.
Saat aku sakit, aku merasa begitu beruntung karena ternyata yang merawatku adalah Shanon, tapi sayangnya di malam hari, ada sedikit masalah di rumah kami. Saat itu, aku tengah makan malam dan tiba-tiba mendengar barang yang jatuh dari arah belakang rumah, dan saat aku mencari tahu ada apa di belakang rumah, tampak seorang sosok misterius baru saja keluar dari rumah kami.
Aku pun mengejarnya, namun tiba-tiba dia melempar kepalaku dengan salah satu pot yang ada di belakang rumah kami. Aku yang terkejut, tentu saja tak bisa mengelak, hingga pot itu melukai pelipisku.
Dan sialnya karena luka di pelipis itu, Shanon yang mungkin merasa panik melihat pelipisku yang berdarah akhirnya berulang kali menanyakan penyebab luka itu. Namun, aku tidak mau menjawabnya karena aku tidak ingin Shanon panik. Meskipun pada akhirnya Shanon merasa marah dengan sikapku.
Aku yang gemas melihat sikap Shanon, akhirnya mengungkapkan perasaanku padanya sekaligus menciumnya, hingga membuatnya merasa begitu marah padaku, dan menampar pipiku.
"APA-APAAN INI ARSEN!"
PLAKKKK PLAKKK PLAKKK
Setelah menaparku, dia meninggalkan aku begitu saja. Namun, tanpa dia tahu, sampai dini hari aku berjaga di depan kamarnya sampai Kak Ethan pulang, karena aku takut sosok misterius itu masuk lagi ke rumah kami. Sosok misterius yang awalnya kupikir seorang maling, setelah kutarik benang merahnya ternyata bukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Nami chan
aku dr awal curiga itu ethan
2023-11-30
0
Cantika Fitri Fie
penasaran sm ssosok misterius
2023-04-01
0
Tiahsutiah
kalau bukan maling, siapa dong sen, apa itu suruhan ethan atau nungkin ethan sendiri🤔
2022-12-15
0