Mendengar jawabanku dan jawaban Arsen yang seolah-olah menolak tinggal dalam satu rumah bersama, Mas Ethan pun sepertinya merasa curiga. Dia tampak memandangku dan Arsen secara bergantian sambil mengerutkan keningnya.
"Kalian kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian? Apa kalian sedang bermusuhan?" tanya Mas Ethan beberapa saat kemudian, diiringi tatapan penuh tanda tanya.
"Nggak!" jawabku dan Arsen secara bersamaan. Seketika aku pun menatap Arsen karena terkejut kami melontarkan jawaban yang sama. Aku menatap mata warna hazel miliknya yang begitu indah tapi, tatapan mata itu juga seolah begitu mengintimidasi.
"Ada apa sebenarnya, Sa? Ada apa sebenarnya Arsen? Hubungan kalian baik-baik saja kan?"
"Nggak apa-apa, Mas. Kami baik-baik aja, aku cuma kaget jadi spontan pengen pulang, kangen Mama sama Papa."
Mas Ethan pun mengacak-acak rambutku. "Manjanya mule kumat nih," ledeknya yang mau tak mau terpaksa membuatku tersenyum. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Arsen.
"Arsen, gimana?"
"Iya Kak, kami baik-baik saja, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit sungkan tinggal dalam satu rumah bersama kakak iparku selama satu atau dua minggu, dia juga sepertinya merasa tidak nyaman dan sedikit keberatan tinggal bersamaku."
"Arsen dia kakak iparmu, aku yakin Shanon tidak akan keberatan tinggal bersamamu. Jadi tolong, selama aku pergi, kau yang bertugas menggantikan kewajibanku untuk menjaganya. Tolong kau jangan pergi, dan jaga kakak iparmu baik-baik."
"Tapi Kak, aku tidak ingin Shanon merasa tidak nyaman kalau kita tinggal dalam satu rumah dengan jangka waktu yang relatif lama. Dan aku juga tidak ingin Shannon pulang ke rumahnya karena merasa tidak nyaman denganku. Jadi sebaiknya aku saja yang pergi dari sini."
Mendengar jawaban Arsen, kulihat Mas Ethan pun tersenyum lalu megang bahunya. "Tidak Arsen, dia pasti tidak keberatan, lagipula apa kau sudah lupa orang tua Shannon adalah rekan bisnisku. Jadi, Shanon juga tidak bisa pulang ke rumah karena orang tuanya pun ikut pergi bersamaku ke Finlandia," ucap Mas Ethan yang membuatku tertegun begitu mendengar jawabannya. Detik itu juga aku baru menyadari jika orang tuaku adalah rekan bisnis Mas Ethan. Jadi sudah sewajarnya mereka juga ikut pergi melakukan perjalanan bisnis yang sama dengan suamiku.
Aku pun hanya bisa menghela nafas sambil menutup kedua mataku, ya kenapa aku baru menyadari jika orang tuaku adalah rekan bisnis Mas Ethan? Dan sialnya situasi ini membuatku benar-benar sulit. Mau tidak mau, aku harus mengikuti perkataan suamiku. Aku harus tinggal dalam satu rumah dengan adik iparku yang tidak waras itu.
Aku pun memejamkan mataku sambil memijit pelipisku, entah mengapa tiba-tiba kepalaku pusing saat melihat kenyataan yang harus kuhadapi. Tidak hanya kepalaku, tapi juga hatiku. Rasanya ada beban yang mengganjal di dalam hatiku, sempat terlintas juga di dalam benakku saat melewati hari-hari berat bersama adik iparku, yang membuat kepala ini semakin berdenyut begitu kencang.
"Sha!" Panggilan dari Mas Ethan pun membuyarkan lamunanku.
"Kamu kenapa, Sha? Kok diem? Kamu juga nggak keberatan kan tinggal sama Arsen selama aku pergi?"
Aku pun menarik kedua sudut bibirku, sambil mengangguk perlahan. "Iya gapapa, Mas," jawabku lirih. Aku tahu saat itu sebenernya Arsen menatapku, tapi kubiarkan saja, aku benar-benar tidak peduli padanya.
"Mas, ngantuk. Bobo yuk!"
"Iya, Sayang. Arsen kita naik dulu ya."
"Iya Kak." Kami kemudian beranjak dari meja makan, aku tahu sebenarnya pandangan Arsen tidak pernah lepas dari kami berdua, tapi aku tidak peduli.
***
Keesokan Harinya...
Aku memeluk tubuh suamiku begitu kencang, rasanya begitu berat melepas kepergiannya selama berminggu-minggu. Jujur saja, saat dia sedang lembur saja aku merasa sangat merindukannya, apalagi harus berpisah dalam waktu yang cukup lama.
"Mas cepet pulang!"
"Iya kalo semuanya udah selese, aku pulang secepatnya, Sayang. Jangan sedih lagi dong, kalau sedih nanti cantiknya ilang," jawab Mas Ethan sambil mencubit pipiku. Melihatku yang mulai tersenyum, Mas Ethan kemudian mengecup keningku, lalu turun ke bibirku. Arsen yang berdiri tak jauh dari kami pun tampak membuang mukanya saat melihat adegan mesra kami berdua, aku tidak peduli jika dia merasa tidak nyaman ataupun kesal pada kami.
"Aku pergi dulu, Sayang."
"Aku pergi dulu, Arsen. Tolong jaga Shanon baik-baik."
"Iya Kak."
Aku pun menganggukkan kepalaku, sambil menatap punggung Mas Ethan yang berjalan meninggalkanku dan masuk ke dalam mobil. Ya, Mas Ethan memang pergi ke bandara dengan diantar sopir pribadinya. Sebenarnya dia mengajakku ikut mengantarnya pergi ke bandara, tapi aku tidak mau. Entah mengapa rasanya begitu menyesakkan dada saat melihat orang-orang yang kita sayangi pergi bersama dan meninggalkan aku sendiri.
Setelah mobil Mas Ethan tak lagi terlihat, aku pun membalikkan tubuhku untuk masuk ke dalam rumah. Namun, baru saja aku melangkahkan kakiku, tiba-tiba atensiku tertuju pada deru mobil yang baru saja memasuki halaman rumah ini. Aku pun membalikkan tubuhku kembali, dan melihat sebuah mobil sedan warna hitam berhenti di depan rumah ini. Aku pun merasa begitu penasaran pada sosok yang ada di dalam mobil itu.
Aku mengurungkan niatku pergi ke dalam rumah, dan tetap berdiri tak jauh dari Arsen sambil menunggu sosok yang ada di dalam mobil itu. Beberapa saat kemudian, pintu mobil itu pun terbuka. Sosok wanita cantik tampak turun dari mobil itu lalu setengah berlari mendekat ke arah Arsen, kemudian memeluknya. Seketika aku pun begitu terkejut, apalagi saat ini Arsen juga membalas pelukannya.
"Aku kangen banget sama kamu, Arsen."
"Aku juga," balas Arsen. Aku pun hanya bisa termenung melihat keduanya. Wanita itu pun tampak menatapku.
"Arsen, siapa dia?"
"Kakak iparku, istri dari Kak Ethan," jawab Arsen sambil tersenyum kecut.
"Oh, hai Kak kenalin aku Chelsea," ucapnya ramah padaku, sambil mengulurkan tangannya.
"Shanon," jawabku dengan suara yang sedikit tercekat sambil membalas uluran tangannya.
"Udah yuk, kita ke kamar aja sekarang!" perintah Arsen pada Chelsea.
"Iya, kamu pasti udah ga sabar kan?"
Arsen pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Kak Shanon, kami ke kamar dulu," pamit Chelsea padaku, aku pun hanya tersenyum sambil melihat mereka berdua yang berjalan masuk ke dalam rumah.
'Dasar messum!' batinku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Bintang
𝚌𝚛𝚊𝚣𝚢 𝚞𝚙 𝚍𝚘𝚗𝚔 𝚝𝚑𝚘𝚛𝚛☺︎︎
2022-12-09
0
Linda Purwanti
itu cewek apa akal'an arsen aja biar shanon cemburu
2022-12-09
0
Deviastryveads_
oiii itu mau apa ke dalam kamar, jangan bilang mau anu yah😒
2022-12-07
0