Mendengar suara itu, spontan Arsen menjauhkan tubuhnya dariku. Setelah itu kami tampak diam mematung, dengan begitu canggung. Arsen pun tampak menggaruk kepalanya yang mungkin saja tak gatal, sedangkan aku hanya menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan rona merah di wajahku.
Keheningan diantara kami berdua pun akhirnya berakhir saat sebuah suara yang memanggil Arsen, kini mulai mendekat ke arah kami. Tanpa menoleh pun aku tahu jika pemilik suara itu, adalah Chelsea. Entah mengapa saat sosok itu mendekat ke arah kami, tiba-tiba rasa kesal kembali merasuk ke dalam hatiku. Rasanya aku begitu malas bertemu dengan Chelsea, bahkan menyapanya saja pun aku begitu enggan. Namun bagaimanapun juga, aku harus tetap berpura-pura bersikap ramah padanya. Apalagi selama ini dia selalu bersikap baik padaku. Aku tidak ingin sikapku membuat Chelsea merasa kecewa dan berfikiran yang tidak-tidak padaku, padahal hubungan kami baik-baik saja.
"Halo Kak Shanon? Selamat pagi."
"Selamat pagi, Chelsea. Hari ini kau cantik sekali."
"Tentu saja karena aku mau bertemu dengan Arsen, jadi aku harus terlihat cantik," jawab Chelsea dengan tingkah manjanya yang membuatku merasa kesal. Aku pun lebih memilih menghindar dari mereka.
"Maaf aku ke bawah dulu, aku mau sarapan," ucapku pada Chelsea dan Arsen. Namun, saat aku akan melangkahkan kakiku tiba-tiba Arsen mencekal tanganku.
"Mau kemana Shanon? Kita sarapan di bawah bersama saja."
"Iya benar Kak, kebetulan aku juga belum sarapan," timpal Chelsea yang semakin membuatku merasa kesal, karena niatku untuk menghindar dari mereka ternyata malah gagal.
"Kalau begitu, kita ke bawa sekarang!" sambung Arsen. Kami kemudian menuruni anak tangga menuju ke meja makan. Chelsea tampak berjalan di depan sedangkan aku dan Arsen mengikuti di belakangnya. Dan, yang tak bisa kumengerti, entah mengapa saat berjalan Arsen tidak melepaskan tanganku. Cekalan tangannya pada lenganku kini turun ke jemariku, dan menggenggamnya begitu erat.
Arsen baru melepaskan genggaman tangannya saat kami sudah sampai di meja makan. Dan anehnya bukannya duduk di samping Chelsea seperti biasa yang dia lakukan, tapi dia lebih memilih untuk duduk di sampingku. Saat kami memulai sarapan, tiba-tiba ada yang bergerak di tanganku. Ya, saat itu juga aku baru menyadari jika Arsen telah bergerilya di tanganku dan mulai menggenggam jariku kembali dengan begitu erat di bawah meja makan. Astaga, apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh adik iparku ini? Kenapa dia begitu gila, semua sikapnya membuat diriku seakan kehilangan kewarasanku.
Namun, meskipun perasaanku begitu campur aduk, aku tetap berusaha tenang dan menikmati sarapanku. Apalagi di depan kami ada Chelsea, aku tidak ingin dia melihat tingkah aneh kami berdua. Aku kemudian melirik pada Arsen yang melahap sarapannya dengan begitu tenang, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi pada kami. Ya memang begitulah adik iparku, sangat menyebalkan dan sulit dimengerti.
"Arsen, maukah hari ini kau pergi menemaniku?" tanya Chelsea.
"Pergi? Pergi kemana?"
"Aku lagi pingin pergi ke tempat yang romantis denganmu, hanya berdua saja. Bagaimana kalau kita ke pantai atau ke gunung? Aku ingin liburan berdua saja denganmu, Arsen. Bukankah project kita sudah selesai? Anggap saja ini perayaan untuk keberhasilan kita," ucap Chelsea dengan begitu manja sambil memainkan bibir sensualnya. Melihat tingkah Chelsea, benar-benar membuatku merasa begitu muak. Apalagi Arsen sama sekali tidak menunjukkan penolakan. 'Begitulah laki-laki, suka mengambil kesempatan,' batinku.
"Emh, pergi berdua saja Chelsea?"
"Ya, memang apa salahnya pergi berdua? Anggap saja ini juga sebagai kencan, bagaimana? Kau mau kan?"
"Sepertinya itu ide yang bagus, Chelsea..."
Belum selesai Arsen menyelesaikan kata-katanya, aku pun berdiri dari bangku meja makan sambil menghentakkan tangan Arsen yang sedang menggenggam jariku, agar jari ini terlepas. Rasanya aku sudah tidak tahan bersama mereka.
"Permisi, aku mau naik ke atas dulu. Aku mau mandi," ucapku sambil tersenyum. Lalu berjalan meninggalkan mereka dan menghiraukan jawaban Chelsea. Aku tahu, Arsen sedang menatapku, tapi aku mengabaikannya begitu saja. Saat ini aku benar-benar malas berinteraksi dengan mereka, entahlah perasaan ini disebut apa, yang jelas aku tidak menyukai kebersamaan mereka. Aku pun masuk ke dalam kamar, lalu merendam tubuhku di dalam bathtub menggunakan cairan aromatherapy.
Untuk saat ini, aku sudah tidak peduli pada Arsen dan wanita itu, kalaupun mereka mau pergi berlibur, itu bukan urusanku. Mereka sudah sama-sama dewasa dan aku tidak perlu mengatur manusia dewasa seperti mereka.
Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar berniat ke halaman belakang mengurus tanamanku. Namun, lagi-lagi saat aku berjalan melewati kamar Arsen, tiba-tiba kamar itu terbuka. Melihat Arsen yang keluar dari kamarnya, aku sebenarnya merasa terkejut sekaligus bahagia karena itu artinya dia tidak pergi bersama Chelsea. Meskipun sebenarnya perasaan ini juga membuatku merasa bingung.
Tak mau larut dalam situasi canggung yang kurasakan kembali, aku memutuskan meneruskan langkahku untuk pergi ke halaman belakang. Tapi, baru saja aku melangkahkan kakiku, tiba-tiba Arsen sudah mencekal tanganku kembali.
"Sha, tunggu dulu!"
Aku pun menatapnya. "Ada apa lagi? Kenapa kamu masih di sini? Bukannya kamu mau pergi sama pacarmu itu?"
"Siapa yang mau pergi? Tadi aku belum melanjutkan kata-kataku, tapi kamu udah pergi gitu aja, kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan, Sha."
"Aku cuma pingin cepat-cepat mandi, bukan karena kalian. Kalian nggak ada hubungannya sama aku."
Arsen pun terkekeh. "Kamu selalu aja gini, Sha. Tapi aku juga selalu suka sikap cemburu kamu," celetuk Arsen sambil terkekeh.
Mendengar perkataan Arsen, tentunya aku merasa kesal, bisa-bisanya dia mengatakan seperti itu padaku. Bisa-bisanya dia mengambil kesimpulan kalau aku cemburu padanya. Bukankah aku tidak ada hubungan apapun dengannya, kenapa aku harus merasa cemburu.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum gitu? Jangan sembarangan ngomong deh!"
Arsan pun mengulas senyum tipis di bibirnya. "Suatu saat kamu juga pasti tahu, saat ini aku cuma ngrasa bahagia, kalau Shanonku ternyata nggak berubah."
"Apa maksud kata-katamu Arsen? Aku nggak ngerti, dan satu lagi yang harus kamu ingat, aku sama sekali nggak ngrasa cemburu sama kalian berdua!"
"Benar kamu nggak cemburu? Kalau gitu sekarang aku pergi sama Chelsea aja! Aku tinggal hubungin dia terus ngomong berubah pikiran."
Aku pun merasa semakin kesal, tapi aku hanya bisa menatap wajahnya dengan tatapan tajam. Melihat tatapan tajam dariku, Arsen pun tersenyum lalu tanpa aba-aba, dia menarik tubuhku masuk ke dalam kamarnya, kemudian menghempaskan tubuhku ke dinding sambil menutup pintu kamarnya.
Dia mendekat padaku yang masih begitu terkejut melihat sikapnya. "Kamu cemburu?" tanya Arsen sambil menatapku dengan tatapan yang begitu dalam, namun aku hanya diam. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
"Jawab aku, Sha? Kamu cemburu kan?" tanya Arsen kembali sambil mendekatkan wajahnya padaku. Wajahnya saat ini tepat berada di depanku, hingga hembusan nafas hangatnya pun begitu terasa di wajah ini.
"Kamu cemburu kan, Sha?" tanya Arsen lagi. Namun, aku tetap diam sambil memalingkan wajahku, dan tepat di saat itu juga Arsen memegang wajahku agar kembali menatapnya dan mulai mencium bibirku, memaggut bibir ini dengan begitu lembut, dan sialnya aku mulai membalas paguttannya itu.
'Oh, damnnnnn!'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Cantika Fitri Fie
gk jls adik ipar pun mau jg dy.gk mikirin suaminya
2023-04-01
1
Dewi Rohmawati
🤣🤣🤣 tnggl blng y cemburu...hbs perkara...lnjut thor...bwt 10 bab...Semangat💪😇💖💖❤
2022-12-13
0
Tiahsutiah
jawab aja shanon iya aku cemburu arsen, puas kamu🤣🤣🤣
2022-12-11
0