Suka Sama Kamu

"A-apa maksudmu?" tanyaku yang begitu terkejut mendengar jawaban Arsen, saat itu juga aku merasa begitu menyesal telah bertanya hal seperti itu pada adik iparku yang menyebalkan itu. Namun, bukannya menjawab pertanyaanku, tapi Arsen malah membuka mulutnya lagi.

"Cepat suapi aku, aku lapar Sha. Apa kamu mau aku tambah sakit?"

Astaga, aku benar-benar merasa semakin kesal setelah mendengar perkataannya, bukannya menjawab pertanyaanku tapi dia mengabaikannya begitu saja dan malah memerintahkan aku untuk menyuapinya lagi. Terpaksa aku pun menyuapkan bubur itu lagi sampai habis.

"Udah, sekarang kamu minum obat ya. Habis itu istirahat!" perintahku sambil memberikan obat padanya. Namun, Arsen malah menatapku kembali dengan tatapan datarnya.

"Kenapa? Kok kamu malah liatin aku gitu sih?"

"Aku sakit gara-gara kamu, kamu harus tanggung jawab dong!"

Mendengar perkataan Arsen, aku benar-benar ingin mengumpat, tapi aku mencoba bersabar menghadapinya karena aku merasa sungkan pada Mas Ethan jika hubungan kami memburuk. Aku takut jika dia berfikir aku egois dan tidak bisa beradaptasi dengan adik iparku, ya benar kata Arsen, orang tua mereka sudah meninggal, dan yang mengantikan peran orang tua bagi Arsen adalah kami.

Aku menghela nafasku pelan, lalu kembali menatap Arsen. "Terus aku harus gimana? Emangnya aku salah apa sih sampe bikin kamu sakit gini?" tanyaku sambil mencoba berusaha untuk tetap tenang.

"Kok nanya lagi sih? Bukannya udah aku kasih tau ya? Aku keganggu gara-gara suara kalian kalo malem-malem."

"Loh, bukannya di kamar udah dikasih peredam suara? Ga mungkin kan suara kami kedengeran sampe keluar? Apalagi sampe ke kamar kamu!"

"Emang udah nggak, tapi suara serak kamu malem itu bikin kebayang-bayang terus! Bikin ga bisa tidur kalo malem, sakit kepala tau!"

Aku pun melongo mendengar perkataan Arsen. "Jadi kamu bayangin aku? Dasar messum!" teriakku sambil memukulnya dengan menggunakan bantal.

BUGHHHH

"Loh kok gitu sih? Aku cuma inget suara serak aja! Bukan bayangin kamu! Ga usah kepedeen! Ga usah GR deh!" balasnya yang membuatku semakin meradang.

"Apa bedanya? Itu sama aja kamu bayangin aku! Jangan-jangan kamu jadiin aku fantasi kamu lagi!"

"Eh dibilang ga usah kepedeen, orang cuma inget suara seraknya doang! Udah deh ga usah kebanyakan protes! Yang jelas aku kaya gini itu gara-gara kamu! Sekarang waktunya kamu tanggung jawab karena kamu yang udah bikin aku jadi gini!"

"Tanggung jawab apaan? Emangnya aku hamilin kamu?"

"Hamil? Kamu mau aku hamilin?"

"ARSENNNNNN!" Emosiku pun begitu memuncak mendengar semua perkataannya, mungkin sekarang aku harus merubah pola pikirku, ternyata Arsen bukan sekedar laki-laki dingin yang menyebalkan. Tapi di balik sikap dinginnya itu, dia menyimpan hasrat yang menjijikan. Hah, rasanya aku merasa sangat menyesal saat memutuskan untuk merawatnya, dan masuk ke dalam kamar ini tak ubahnya masuk ke dalam kandang buaya. Lebih tepatnya buaya darat, ya aku baru menyadari itu ternyata adik iparku ternyata seorang buaya darat yang sudah begitu berani meledek istri dari kakaknya.

"Kenapa sih? Gitu aja marah? Jadi cewek sensi banget!" gerutu Arsen dengan begitu cueknya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Kamu udah keterlauan, kamu nggak sopan banget sama aku tau!"

"Kamu aja yang sensi, kepedeen."

"Kamu nyebelin!"

"Udah deh daripada kamu marah-marah terus bikin aku tambah sakit mending kamu tanggung jawab, rawat aku sampe sembuh! Apa kamu udah lupa, kakak itu pengganti orang tua yang udah meninggal loh! Kepalaku sakit banget tau, Sha!"

Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas dan mencoba bersabar menghadapi adik iparku ini, mau bagaimana lagi? Faktanya memang yang dia katakan itu benar, dan untuk saat ini tidak ada Bi Ijah di rumah ini, hanya aku yang bisa merawatnya.

"Ya udah minum obat dulu, nanti aku pijitin."

Arsen pun akhirnya meminum obat yang kuberikan, setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Sini Sha, naik ke atas!"

"APA KAMU GA SALAH NGOMONG? KAMU SURUH AKU NAIK KE ATAS RANJANG KAMU GITU? SEMBARANGAN BANGET SIH!"

"Kamu GR banget sih jadi cewe! Bukannya tadi kamu yang ngomong kalo kamu mau pijitin aku? Emangnya salah kalo aku suruh kamu duduk di tepi ranjang aku? Gimana sih!"

Aku kembali menghembuskan nafas panjangku, rasanya memang percuma berdebat dengan adik iparku ini, semua yang kukatakan seolah-olah salah, sedangkan semua sikap absurdnya itu benar, dan sialnya saat ini aku tidak bisa menghindar darinya, dan dengan sangat amat terpaksa harus mengikuti semua kata-katanya. Perlahan, aku pun duduk di tepi ranjang Arsen, tapi saat aku baru saja menempelkan bokongku di atas ranjang ini tiba-tiba Arsen sudah meletakkan kepalanya di atas pahaku.

"Arsen! Apa-apaan sih? Kenapa kamu tidur di sini?"

"Katanya mau dipijitin, emangnya aku harus gimana, Sha? Kaya gini kan?"

Aku pun mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba melepaskan amarah yang rasanya sudah begitu menyesakkan dada. Demi apapun, aku sangat membenci adik iparku ini, namun aku bisa apa? Hanya bisa pasrah mengikuti semua kemauannya. Aku kemudian mulai memijit kepalanya yang saat ini ada di atas pahaku. Dia pun tampak begitu nyaman mendapat pijatan dariku, melihat wajah polosnya yang ada di atas pangkuanku, entah kenapa seketika emosi di dalam hatiku pun memudar. Wajah tampan itu seolah begitu menarik atensiku, tak terasa aku pun seolah hanyut pada ketampanan adik iparku ini.

"Kenapa liatin terus, Sha? Aku ganteng ya?" ucap Arsen sambil terus memejamkan matanya.

"Ga usah kepedeen!"

Arsen pun terkekeh mendengar jawabanku, namun saat dia akan menjawab perkataanku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku kemudian mengangkat panggilan telepon itu yang ternyata berasal dari suamiku.

[Ya, halo Mas. Ada apa?]

[Sha, nanti malem kayaknya aku lembur lagi deh. Kamu ga usah nungguin aku ya. Habis makan malem, kalo kamu udah ngantuk, mending kamu bobo aja ya, Sayang?]

[Kamu lembur lagi, Mas?]

[Iya maaf ya, Sayang. Aku janji weekend ini aku habisin waktu sama kamu.]

[Iya Mas, gapapa.]

Aku pun menutup panggilan telepon itu dengan perasaan sedih, sudah satu minggu berturut-turut Mas Ethan selalu lembur, tentu saja aku merasa sangat merindukannya. Namun, bagaimanapun juga aku harus mengerti posisinya, memang akhir-akhir ini dia begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku kemudian mengalihkan pandanganku pada Arsen yang ternyata saat ini ternyata sudah tertidur, aku lalu meletakkan kepalanya di atas bantal, dan beranjak dari tempat tidurnya. Namun, saat aku akan melangkahkan kakiku, sebuah gumaman lirih sayup-sayup terdengar dari mulutnya.

"Aku suka sama kamu, Sha."

Terpopuler

Comments

Tiahsutiah

Tiahsutiah

thor,, Ethan itu beneran lembur kerja, apa lembur yg lain🤔

2022-12-07

1

Deviastryveads_

Deviastryveads_

sama aku suka kamu jga sen, 🤣🤣🤣

2022-12-06

0

Deviastryveads_

Deviastryveads_

🤣🤣🤣 astagaaaaaa ngakak aku

2022-12-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!