Curiga

Aku pun mengikuti langkah Arsen dan Chelsea masuk ke dalam rumah, dan benar saja mereka memang masuk ke dalam kamar Arsen. Aku menghembuskan nafas panjangku, saat menyadari jika adik iparku memang benar-benar lelaki buaya darat, pantas saja dia berani mengatakan jika dia mencintaiku tanpa sedikitpun rasa sungkan jika aku adalah kakak iparnya.

Selang beberapa jam kemudian, saat aku keluar dari dalam kamar untuk memasak makan siang, aku melewati kamar Arsen dan mendengar suara gelak tawa dari dalam kamar itu. Aku benar-benar bersyukur akan kehadiran Chelsea, setidaknya aku merasa perhatian Arsen teralihkan padanya. Hari ini memang Bi Ijah ijin untuk menemani putranya yang beberapa saat yang lalu mengalami kecelakaan untuk melakukan kontrol ke rumah sakit.

Setelah satu jam lamanya berkutat di dapur, akhirnya aku pun selesai memasak. Awalnya kupikir siang ini aku akan makan siang sendiri seperti hari-hari sebelumnya. Tapi saat aku duduk di meja makan, tiba-tiba Arsen dan Chelsea turun dari lantai atas dan mendekat ke arahku.

"Kakak lagi makan siang?" tanya Chelsea padaku.

"Iya, ayo makan bareng!" jawabku pada mereka.

"Arsen, kita makan bareng Kak Shanon aja ya!"

Arsen pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka duduk tepat di hadapanku. Namun, saat Arsen melihat masakanku yang ada di atas meja, dia tampak menunjukkan ketidaksukaannya, dia tampak meringis sambil mengangkat salah satu alisnya, disertai decakan lirih dari bibirnya. Chelsea yang menyadari itu pun tampak menatapnya.

"Kau kenapa Arsen? Kenapa tiba-tiba wajahmu seperti itu?"

"Chelsea, sepertinya aku tidak cocok dengan masakan ini. Tidak sesuai dengan seleraku," ucap Arsen dengan tatapan datarnya yang membuatku merasa kesal karena sudah menghina masakanku.

"Memangnya kenapa? Sepertinya ini enak."

"Tapi aku tidak suka, Chelsea. Lebih baik kita makan di luar saja, lagipula aku juga sedang ingin berdua denganmu. Aku tidak ingin ada yang menggangu kita, membuatku kehilangan nafsu makanku saja!" balas Arsen yang rasanya begitu menohok hatiku.

"Kak Shanon, maaf kami tidak jadi makan siang denganmu."

"Tidak apa-apa," jawabku sambil tersenyum kecut. Mereka kemudian pergi dari rumah ini, meninggalkanku yang merasa begitu kesal pada tingkah Arsen yang membuatku kehilangan selera makanku. Aku pun akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamar, lalu merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur. Meskipun Mas Ethan baru saja pergi, rasanya aku benar-benar merindukannya. Setidaknya saat dia ada di rumah, setelah melihat tingkah menyebalkan Arsen, mood yang berantakan kembali membaik. Aku pun memilih tidur, daripada mengingat semua sikap menyebalan adik iparku itu.

Saat aku membuka mataku, aku pun merasa begitu terkejut karena di luar langit sudah gelap, ternyata aku sudah tidur begitu lama, dan tentu saja perutku terasa begitu keroncongan. Detik itu juga aku mengingat masakanku yang belum sempat aku makan tadi malam. Bergegas, aku pun keluar dari kamar dan menuju ke meja makan, lalu mengambil masakan itu untuk menghangatkannya di dapur.

Setelah selesai menghangatkan masakanku, aku pun duduk di kursi meja makan. Tapi saat aku baru saja menyendokkan sesuap nasi ke mulutku, tiba-tiba aku melihat Arsen masuk ke dalam rumah, dan berjalan mendekat padaku. 'Sial,' batinku. Tapi ternyata dia hanya berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum, kemudian melewatiku begitu saja.

"Tidak sopan!" gumamku saat dia sudah naik ke atas kamarnya. Aku pun melanjutkan makan malamku tanpa memedulikan dia lagi.

****

Satu Minggu Kemudian...

Sudah satu minggu lamanya Mas Ethan pergi, aku sebenarnya begitu merindukannya, rasanya sangat membosankan hidup di rumah ini tanpa kehadirannya. Apalagi saat melihat tingkah Arsen saat bersama dengan wanita itu, yang semakin membuatku kesal. Rasanya aku benar-benar ingin pergi dari rumah ini, tapi tidak mungkin karena orang tuaku pun tak ada di rumah. 'Astaga, kesal? Kenapa aku harus kesal melihat Arsen dengan wanita itu?' batinku sambil menghembuskan nafas panjangku.

Sebenarnya aku ingin menghubungi Mas Ethan untuk menanyakan kapan dia pulang. Bukankah saat itu dia mengatakan jika dia pergi selama satu atau dua minggu, dan sekarang sudah satu minggu dia pergi. Mungkin saja urusan mereka sudah selesai, aku pun mencoba menghubungi Mas Ethan, tapi sayangnya nomernya tidak aktif. Memang, selama dia pergi waktuku untuk berkomunikasi dengan Mas Ethan sangatlah terbatas, sesekali aku memang melakukan video call dengannya dan kedua orang tuaku.

Aku kemudian keluar dari kamar menuju ke halaman belakang, berniat untuk menyiram tanaman di halaman belakang rumah ini. Dan saat aku baru saja keluar dari rumah, tiba-tiba aku mendengar ponselku yang berbunyi. Aku pun mengangkat panggilan itu yang ternyata berasal dari mama.

[Halo Ma.]

[Halo sayang, bagaimana keadaanmu?]

[Baik, aku baik-baik saja di sini, Ma.]

[Oh syukurlah, mama lagi ada dimana?]

[Oh mama baru saja sampai di rumah, Sayang.]

[Benarkah, jadi mama dan papa sudah sampai di rumah?]

[Iya, Nak. Kami urusan kami sudah selesai.]

[Jadi itu artinya Mas Ethan juga pulang Ma?]

[Sepertinya begitu, sejak selesai meeting kami memang tidak bertemu dengan Ethan. Kemarin dia tiba-tiba pergi begitu saja untuk menemui temannya, sedangkan kami langsung pulang.]

Mendengar penjelasan mama, dalam benakku, aku berpikir jika Mas Ethan sedang ada di pesawat karena ponselnya tidak aktif.

'Oh mungkin Mas Ethan lupa tidak menghubungku atau ingin memberi kejutan. Sejak tadi aku menghubungi ponselnya tapi tidak aktif, mungkin saat ini dia ada di dalam pesawat. Iya benar, mungkin sekarang Mas Ethan sedang ada di pesawat,' batinku.

[Sha, mama istirahat dulu ya, Sayang.]

[Iya Ma.] jawabku kemudian menutup panggilan telepon dari mama. Saat aku baru saja melangkahkan kakiku kembali, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku pun melihat kembali layar ponselku dan melihat nama Mas Ethan yang mengirimkan pesan padaku. Aku pun begitu bahagia saat menerima pesan itu, mungkin saja saat ini Mas Ethan mau memberitahuku kalau saat ini dia sudah sampai di Indonesia. Namun, senyum yang awalnya terukir di bibirku harus memudar saat membaca pesan dari Mas Ethan jika saat ini urusan bisnisnya belum selesai.

Entah mengapa hatiku rasanya tiba-tiba sangat hancur, apa yang dikatakan mama kenapa berbeda dengan kenyataan yang kuhadapi saat ini. Rasa curiga pun merasuk ke dalam hatiku, yang saat ini terasa begitu campur aduk. Aku begitu sedih dan ingin berteriak, namun hanya butir demi butir air mata yang jatuh membasahi pipiku. Tak tahan menahan rasa sakit di dalam hatiku, aku pun berlari masuk ke dalam rumah. Namun, saat akan berjalan menaiki tangga, aku menubruk tubuh Arsen begitu saja.

Melihat air mata yang membasahi wajahku, Arsen pun tampak mengerutkan keningnya. "Sha, kamu kenapa?" tanya Arsen, tapi pertanyaan mudah itu sangat sulit kujawab. Aku pun berdiri di depannya sambil terisak, melihatku yang terisak, Arsen hanya menatapku dengan tatapan yang begitu dalam. Dia kemudian mengangkat daguku hingga kami bertatapan begitu lama, entah rasa apa yang merasuk ke dalam hatiku tiba-tiba aku memeluk tubuhnya begitu saja. Lalu, aku menangis di dada bidangnya dan hanyut dalam pelukan itu, sebuah pelukan yang terasa begitu hangat.

Terpopuler

Comments

Tiahsutiah

Tiahsutiah

pasti si ethan selingkuh,,,sabar ya shanon semoga kamu kuat dan bisa melewati ujian rumah tangga mu amiin

2022-12-09

1

arunikha prameswari

arunikha prameswari

yah si ethan

2022-12-09

0

Deviastryveads_

Deviastryveads_

kok aku jadi curiga yah sama si ethan

2022-12-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!