"Anggap saja apa yang hari ini terjadi, adalah bagian dari sebuah kisah yang harus kau jalani."
- Coretan di meja belajar Author.
•
•
•
"Mas! Mas Danu!" teriak Diajeng menepuk-nepuk pipi Danu yang sudah tidak sadarkan diri.
Diajeng hendak bangkit untuk membuka pintu tapi kakinya terasa keram yang membuat dia tidak berdiri.
Diajeng hanya bisa menangis sembari terus memeluk Danu, memastikan dirinya tidak kedinginan yang lebih parah.
"Mas!"
Diajeng menangis sehingga membuat air matanya jatuh membasahi wajah Danu, perlahan mata Danu terbuka yang membuat Danu menatap Diajeng.
"Kamu kenapa?"
"Mas yang kenapa? Hah! Aku bilang jangan tidur dulu!" jelas Diajeng masuk menyapu wajah Danu penuh kehangatan.
BRAK!
"Tuan Artonegoro! Nyonya Diajeng!" teriak Glen saat ia berhasil mendobrak pintu ruangan tersebut bersama seorang satpam.
Melihat itu Diajeng merasa lega, Glen dan satpam itu langsung memapah tubuh Danu keluar sementara Diajeng dibantu oleh seorang staf kantor lainnya keluar dari sana.
Sesampainya diluar, Danu dan Diajeng kemudian hendak dilarikan ke rumah sakit, apalagi kondisi Danu yang kian parah.
"Aduh! Kenapa disaat seperti ini sih!" keluh satpam yang ditugaskan mengendarai mobil Glen menuju rumah sakit.
"Ada apa, Pak?" tanya Glen pada satpam tersebut.
"Mobilnya mogok, Pak," jawab satpam itu. "Gamau distarter."
Glen mengusap kepalanya bingung, dia berjalan ke mobil Danu namun dia tidak bisa masuk karena kunci mobil Danu berada di Danu.
"Nyonya, Kunci mobil Tuan Artonegoro dimana? Mobil saya mogok," tanya Glen pada Diajeng yang sudah agak baikan.
Diajeng tampak mengingat sesuatu, bahwa kunci mobil Danu berada di ruangan kerja Danu. "Ada diruangan kerja."
Glen hendak naik ke lantai dua kembali tapi Diajeng menghalanginya. "Glen! Sudah tidak sempat."
Glen menghentikan langkahnya dan menatap Diajeng. "Maksudnya, Nyonya?"
Diajeng tampak melihat sekitar dan melihat sebuah motor salah satu staf, melihat itu Diajeng kemudian meminta kunci motor itu kepada staf dan berniat membawa Danu menggunakan motor.
"Apa bisa?" tanya Glen saat membantu Danu naik ke jok belakang motor.
"Bisa! Glen kamu urus kantor dulu," jawab Diajeng menyalakan mesin motor.
Diajeng mengalungkan tangan Danu ke lehernya dan menyandarkan kepala Danu di bahunya sebelum menjalankan motor tersebut meninggalkan kantor.
"Diajeng?"
"Mas? Mas Danu sudah sadar?"
"Sa-saya udah di surga yah?" tanya Danu lemas. "Saya lelah."
"Gak, Mas gak boleh lelah dulu, ada banyak hal yang Mas harus lakukan," jawab Diajeng fokus mengendarai motor sembari menjaga keseimbangan karena membonceng Danu dalam kondisi setengah sadar.
"Apa? Saya rasa saya tidak berguna."
"Siapa bilang? Mas itu adalah orang paling berguna yang pernah ada, mungkin memang Mas merasa bahwa diri Mas gak berguna, tapi sebenarnya, Mas lebih dari apa yang Mas kira," jelas Diajeng pada Danu.
"Saya tadi mimpi, kamu cium saya, kamu cium saya?"
Diajeng diam, kenapa harus ada pertanyaan seperti ini disaat seperti ini, apalagi mungkin ciuman saat mereka terjebak tadi karena Danu dalam kondisi tidak benar-benar sadar.
"Saya, ngantuk," bisik Danu pelan.
"Jangan tidur dulu! Tuh lihat Mas ada gajah terbang," ujar Diajeng mencoba mencari obrolan acak agar kesadaran Danu tidak hilang sepenuhnya.
"Mana?"
"Diatas, coba aja liat," jawab Diajeng padahal dia juga tidak yakin ada gajah terbang diatas sana.
"Harusnya kamu sadar, yang bisa terbang itu kerbau, kamu kebanyakan makan coklat," jelas Danu memeluk Diajeng yang sedang mengendarai motor dengan kecepatan sedang.
"Aduh! Iya Mas apapun itu boleh terbang, yang penting kita sampai rumah sakit dulu dan Mas harus tetap sadar," jawab Diajeng saat ia merasakan kepala Danu tersandar di bahunya.
•
•
•
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
moomsq
konyol
2023-03-22
0
pembaca 🤟
ada gajah terbang di atas awan,,macan kartunnya kesukaan anakku,, Diajeng bisa z,😀
2023-03-22
0
yukmier
ngakak so hard tenan ini,,,dua2nya sama2 konyol...
2023-02-27
0