..."Apalah arti sebuah cerita tanpa alur yang jelas."...
...- Anonymous -...
•
•
•
08.34 - Ruang Akad.
Diajeng dan Danu duduk disebuah kursi didepan meja dengan penghulu di hadapan mereka, semuanya sudah di persiapkan dengan baik.
Tentunya dengan kehadiran Rusdi juga yang akan menjadi wali nikah dari Diajeng karena sudah di bayar oleh Renata.
Renata duduk di kursi yang tersedia diantara kursi tamu, yang menghadiri akad nikah ini hanya pihak rekan kerja dan kerabat terdekat karena memang acaranya tiba-tiba.
Sungguh sangat sulit dipahami bagaimana bisa akad nikah dipersiapkan dalam hitungan jam? Tapi Renata bisa membuatnya menjadi uang yang berbicara.
Renata memang selalu mengandalkan uangnya dalam segala kondisi bahkan ratusan juta sangat kecil baginya, satu pesan orang tua Renata dan Danu dahulu.
"Kalau nanti kamu memiliki banyak materi, tetaplah merasa rendah hati walau kamu mengandalkan materi itu, jangan pernah merasa Akbar apalagi lupa kalau ALLAHUAKBAR!"
Begitulah pesan yang masih terbersit di pikiran Renata, dia memang sudah agak jauh dari agama tapi dia tidak menyalahi pesan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggalkan dia dan kakaknya.
Setelah semua di rasa siap dan berada di posisi masing-masing, penghulu tersebut kemudian segera memberikan mic kepada Rusdi untuk mengucapkan akad yang akan dibalas oleh Danu.
"Bismilah, silakan Pak Rusdi," bisik penghulu tersebut.
"Saudara Ardanu Halim Artonegoro bin Halim Hartawan, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan anak saya, Diajeng Putri Dreantama binti Rusdi Dreantama dengan mas kawin berupa ... Dan seberapa alat sholat dibayar tunai!"
"Saya-"
"TUNGGU!"
Suara teriakan seorang pria membuat semua seisi ruangan itu menghadap ke arahnya, terutama Diajeng terkejut bukan main.
"Mas Damar?"
Rusdi berdiri, dia berjalan ke arah Damar dengan wajah marah. "Mau apa kamu kesini?"
"Diajeng! Mas mau bicara sama kamu!"
"Tidak! Diajeng tidak bisa bertemu kamu, dia sudah akan menikah dengan pria lain."
"Itu karena Pak Rusdi dibayar kan? Apa bedanya dengan kejadian tadi malam ini sama saja dengan Pak Rusdi menjual Diajeng!" teriak Damar.
Rusdi yang mendengar itu seketika naik pitam, dia hendak mengayunkan bogeman mentah kepada Damar tapi tidak jadi karena Diajeng tiba-tiba saja berdiri.
"Pak! Jangan!"
Diajeng berlari kecil ke arah Damar dan menghalang pertikaian keduanya, Diajeng menghadap ke arah Damar.
"Mas, ini bukan salah Bapak, ini keinginan ku sendiri Mas, maafin aku," ujar Diajeng menundukkan kepalanya.
Semilir angin yang entah darimana menyapu wajah Diajeng dan Damar di ruangan itu, Diajeng mengangkat kepalanya menatap kedua manik mata Damar yang sudah berkaca-kaca.
"Dan kamu melupakan semua hal tentang kita? Lima tahun dalam penantian tapi nyatanya bukan Mas yang mengucap akad atas nama kamu," lirih Damar.
Air mata Diajeng jatuh, seolah semua takdir sudah bertumpuk padanya yang dimana takdir ini tidak berpihak padanya.
"Ja-jangan menangis Diajeng, harusnya mas tahu bahwa tidak selamanya ketika kita mencintai seseorang kita harus bersamanya, Mas anggap semua ini sudah terjadi dan tidak ada lagi hal yang bisa mas perjuangkan."
"M-Maaf Mas."
"Mas ikhlas Diajeng, walaupun didalam hati kamu masih ada Mas tapi kamu harus menulis nama Danu sebagai penggantinya, anggap saja Mas disini menjaga jodoh untuk orang lain, dan asal kamu tahu, apapun kondisi kamu, Mas akan tetap jadi orang pertama yang akan bersama kamu," timpal Damar mengusap kepala Diajeng.
Damar kemudian meninggalkan ruangan itu, langkah berat dengan hati yang tak tuntas menjadi hal terberat dalam hidupnya saat ini dan sekarang dia tidak melakukan apa-apa.
Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?
•
•
•
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
moomsq
kasian damar
2023-03-19
0
Dwi ratna
ka ridz ini lanjutanny selepas akad yah?
2023-03-16
0
Endah Pratiwi
halim sama agnes ceritanya udah meninggal ini ya??
2023-01-02
0